Lelaki bule itu masih menjepit hidung mancungnya Nadira dengan dua jarinya. Sementara Nadira masih berusaha membebaskan dirinya dari kejahilannya Justin.
Memang sedari kecil, Justin hanya nyaman berteman dengan Nadira yang ceria dan hiperaktif. karena dimata Justin, Nadira memang seorang yang tulus dalam hal persahabatan tanpa embel-embel apapun.
Hal ini sangat berbeda dengan teman-teman ceweknya yang lain, baik di sekolahnya dulu maupun di kampusnya. Yang Pastinya dari keseluruhannya hanya mau mendekati dirinya karena ada niat tertentu.
Nadira memang tidak pernah membedakan pertemanan. Makanya teman Nadira lebih banyak dibandingkan dengan Justin yang hanya memilih berteman dengan beberapa orang saja. Itupun bukan teman sebayanya, melainkan usianya rata-rata di atas usianya Justin.
Dikarenakan Nadira hanya bisa tembus di passing grade ke dua. Maka itu, mau tak mau Nadira harus berkuliah diluar kota, tepatnya di propinsi yang terletak di ujung pulau Sumatera. Berpisah dengan justin dan juga keluarganya untuk sementara waktu.
Akhirnya Justin lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, di depan buku dan laptop daripada lelaki itu mencari teman baru. Sehingga Justin lebih cepat menyelesaikan kuliahnya di bandingkan Nadira dan teman-temannya yang lain.
"Lepasin justin Jelek!" teriak Nadira.
Justin hanya tertawa melihat tingkah gemas sahabatnya itu. Ia pun melepaskan jepitan jarinya dari hidung Nadira hingga tampaklah hidung Nadira sedikit memerah membuat justin terkekeh. Lelaki usil itu membayangkan badut badut yang Ia jumpai di taman bermain anak anak.
"Aww .. sakit, " jerit Justin.
Ia meringis menahan rasa sakit saat Nadira membalas perbuatannya dengan mencubit lengan bahunya dengan keras.
"Rasain lu, bule. Bikin jengkel aja," ejek Nadira puas akan perbuatannya.
Nadira pun melepaskan cubitannya di lengan karibnya itu. Sedangkan justin hanya mampu mengusap-usap bekas cubitan Nadira tadi.
"Sadis amat jadi cewek," cibir Justin.
"Biarin!" ucap Nadira ketus sembari melirik Justin tajam.
Ia sengaja membalas apa yang didengarnya tadi. Justin menoleh ke Nadira langsung dan berkata;
"kamu itu jadi cewek jangan galak-galaklah. Nanti ga akan ada cowok yang mau sama kamu".
Sontak hal ini membuat Nadira melirik Justin dengan ujung matanya dan langsung mengajukan protes pada pria itu.
"Yang bikin akunya jadi jomblo seumur hidup itu ya kamu, Justin. Yang kemana-mana terus ngikuti aku. Ga sadar ya?" cibirnya.
Justin memelototkan matanya dan menoleh ke Nadira. Nadira langsung mengangkat tangan kanannya ketika tahu Justin akan membuka mulutnya sebagai bentuk protes.
"kamu lupa? Kalau selama di sekolah dulu yang mencoba menghalangi cowok-cowok mendekati aku. Bahkan sama kakak kelas pun kamu berani," ucap Nadira mengingatkan kelakuan Justin dulunya.
Justin terdiam. Lelaki itu teringat bagaimana terang-terangan melakukan sesuatu hal yang membuat Nadira tidak bisa di dekati oleh cowok manapun. Bahkan pada teman cewek saja Ia pun mencari banyak alasan agar Nadira tidak jadi pergi dengan mereka dan akhirnya hanya bermain bersama dengan dirinya saja.
Karena bagi Justin, teman bermain yang paling nyaman adalah bersama Nadira. Walaupun terkadang adik Nadira juga ikut bagian dalam permainan mereka. Karena bagaimanapun Ia belum rela saja jika harus kehilangan masa-masa bermain bersama dengan Nadira.
Justin tersenyum lucu mengingat hal itu. Lalu Ia berpaling menatap Nadira.
"Nad, entar kalo masing-masing dari kita ga laku-laku. Kita nikah berdua aja ya?" Saran Justin sembari tersenyum menampakan sederet giginya yang putih nan rapi.
Sementara Nadira hanya melongo mendengar pernyataan justin sembari melihat tampang bloon milik Justin. Lalu Ia menelan kasar salivanya dan menjulurkan lidahnya seperti mau muntah. Betapa enegnya Nadira saat mendengar kata-kata yang baru di lontarkan oleh Justin.
" Iss amit-amit. Ogah!" ucap Nadira menolak keras atas ajakan sahabatnya itu.
"Loh kenapa? memang apa yang kurang dari aku?" tanya Justin penasaran.
"Kamu itu kurang banyak" sahut Nadira singkat tetapi menimbulkan tanya di benaknya Justin.
"Kurang banyak apanya?" tanya Justin kembali penasaran.
"Semuanya" jawab Nadira singkat.
"Semuanya?" tanya Justin kembali dengan menautkan dua alis tebalnya.
"Iya, semuanya. Kamu itu kurang sabar, kurang supel, kurang ramah, kurang peka. Pokoknya semua yang ada sama kamu itu kurang" jelas Nadira.
"Oh ya?" pekik Justin sembari menatap Nadira tak percaya.
Nadira hanya menanggapinya dengan gumaman. Sebenarnya Ia malas berdebat dengan pria yang memang tak mau kalah dalam hal apapun kecuali pria yang ada dihadapannya ini memang benar-benar sudah kalah telak. Barulah sahabatnya itu mengakui kekalahannya.
Egois memang. Tapi itulah seorang Justin Kehl Ardiansyah, putra tunggal dari pewaris Kerajaan bisnis dari Kehl Ardiansyah. Wajar jika ada yang sulit bertahan untuk berteman dengan sahabatnya itu.
Hanya Nadira saja yang paling betah berada di sisi Justin. Mungkin karena pembawaan dari seorang Nadira yang santai dan lebih dewasa dari Justin. Karena itulah hanya Nadira yang mampu menghadapi Justin selain keluarganya.
"Memangnya tipe pria idaman kamu gimana sih?" tanya Justin tiba-tiba.
"Kepo" cibir Nadira.
"Yah, gitu dia," ujar Justin sembari memasang tampang kecewa.
"Yang pasti pria sholehlah. Pria yang bisa membimbing aku di dunia dan akhirat" ungkap Nadira setelah melirik Justin sekilas.
"Memang tipe wanita idaman kamu yang bagaimana?" tanya Nadira membalikkan pertanyaan pada pria yang di lihatnya tengah merenungi sesuatu setelah mendengarkan jawabannya barusan.
"Entahlah, aku ga tau. Belum pun kepikiran ke situ" jawab Justin ragu.
"Kamu kan tau teman cewek yang paling bikin aku nyaman selama ini cuma kamu Nad".
Keduanya terdiam sesaat.
"lu tulus Nad. Enggak cuma sama aku aja, tapi sama yang lainnya juga," ungkap justin sembari menatap Nadira.
Nadira tersenyum kecil. Lalu ia berkata "Aku doain suatu saat kamu dapat istri yang shaleha".
"Aamiin.. "ucap mereka bersamaan. lalu mereka tertawa.
"Kita pulang yuk. Entar akunya telat lagi ketemu sama dosennya" pinta Nadira.
"Bentar lagi lah. Baru juga jam segini. Mataharinya aja belum juga nongol" tolak justin.
Nadira hanya bisa pasrah menuruti kemauan Justin. Ia pun menunggu sesaat hingga mentari pagi di hari itu muncul setelah sinarnya mulai terlihat dari balik awan.
"Eh iya, tapi dulu kamu pernah loh nyumpahi aku nikah sama bocil tengil" lanjut Justin mengalihkan pembicaraan agar sahabatnya itu masih betah berada disini dengan dirinya.
Nadira pun mengernyitkan dahinya dan bertanya "yang mana?".
"Itu waktu sekolah dulu, setiap kitanya jumpa bocil kamu selalu nyumpahi aku begini. Awas ya ntar lu bakalan nikah ama tu bocah" jelas Justin sembari meniru gaya bicara Nadira yang dulu.
kali ini Nadira benar benar tak bisa membendung rasa gelinya. Ia tertawa lepas. Sedangkan Justin yang melihatnya semakin jengkel.
Nadira melihat wajah Justin yang masam. Akhirnya gadis itupun menghentikan tawanya meskipun rasa geli masih menggelitik di hatinya. Mengingat Justin tak pernah akur jika bertemu para bocah. Pria itu selalu terlihat sentimentil jika bertemu para bocah kecuali adiknya Nadira. Makanya Nadira selalu menyumpahi justin dengan kata-kata tersebut.
Nadira melihat justin dan tersenyum geli.
"Udah jangan manyun lagi, jelek tau. Aku cabut sumpahnya sekarang deh" ujar Nadira bernada bujukan.
"Aq janji deh bakalan doain kamu tiap hari biar bisa dapat jodoh yang sholeha" ucapnya bernada menghibur
"Bener?" tanya Justin untuk meyakinkan pernyataan sahabatnya itu.
"Janji ya?" tagih justin dengan kelingkingnya.
Nadira tersenyum dan mengikatkan kelingkingnya dengan kelingking justin.
"Ia aku janji doain kamu bakalan nikah dengan bocil sholeha" ucap Nadira sembari berlari kecil meninggalkan Justin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel ini berupa
like, vote, komen, rate dan fav. agar yang nulis
semakin semangat untuk nulis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sri. Rejeki
semangat kakak.. ceritanya menarik sekali..
2023-05-23
11