Part 06
_______
William sedang duduk di sofa dalam sebuah kamar sambil memandangi wajah Arista yang sedang tertidur pulas di sebuah kamar tamu milik Rossa.
William berjalan mendekati ranjang Arista dan duduk di tepian ranjang sambil menatap wajah gadis yang masih polos.
Tidak terasa kamu telah tinggal bersamaku selama 7 tahun lamanya.
Gadis berusia 10 tahun dengan wajah yang kumuh di dalam sudut lorong kini berubah menjadi gadis remaja yang sangat cantik.
Aku masih belum tahu banyak tentang diri kamu dan kenapa Ibu kamu menyembunyikan kamu.
Sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya pun ia tetap tidak memberitahu siapa pun.
Kecuali Raja Vampir dan Aku.
Batin William dengan tangan yang di letakkan di rambut Arista.
William berdiri dari duduknya dan melangkahkan kedua kakinya berjalan keluar dengan tangan yang menutup pelan pintu kamar.
William terus berjalan menuruni anak tangga.
“Apakah gadis imut yang cantik itu sudah tertidur pulas.” Tanya Rossa yang diam-diam sudah berdiri di bawah tangga memperhatikan kedatangan William.
Dengan langkah kaki yang terus berjalan menuruni anak tangga William menjawab, “Sudah.” William menghentikan langkah kakinya tepat di depan Rossa.
Rossa yang sudah mengganti pakaiannya menjadi baju piyama yang cukup transparan dengan kedua tangan memegang masing-masing cangkir yang di dalam cangkir tersebut terlihat hawa asap dari secangkir teh yang masih panas.
Rossa mengulurkan tangan kanannya memberikan sebuah cangkir yang berisikan teh hangat kepada William.
“Minumlah ini, supaya tubuh kamu hangat dan tidak kedinginan lagi.”
William mengambil gelas teh yang masih hangat dari tangan Rossa dan meminumnya.
Entah apa yang sedang di pikirkan Rossa, yang jelas ia sedang tersenyum manis saat William meminum teh buatannya.
“Apa minumannya enak.” Tanya Rossa dengan wajah yang terlihat senang.
William menatap wajah Rossa dengan tubuh yang mulai sempoyongan.
“Kenapa kamu banyak sekali.” Tanya William sambil mengucek kedua matanya.
10 menit kemudian William tumbang dengan cepat Rossa menampung tubuh William. Rossa menyelipkan kedua tangannya di balik ketiak William.
Rossa membawa tubuh William dan masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuh William di atas ranjang.
Rossa tersenyum menatap wajah William, “Kapan lagi ada momen seperti ini, dan kapan lagi aku bisa mencicipi rasa dari seorang pria yang sangat tangguh.” Rossa menaiki ranjang dengan tangan yang bereaksi melepaskan pengait tali pinggang milik William.
Tangan Rossa menjalar kebagian tubuh William dengan sangat lincah dan ahli. Kemudian tangan Rossa berhenti di sebuah titik tempur yang masih tertutup namun sudah menegang dan siap untuk memainkan perannya.
Saat Rossa hendak membuka perlahan penutup tutup tempur tersebut. Tiba-tiba tangan Rossa di genggam erat oleh tangan William.
“Aku sudah bilang, kamu tidak akan bisa tidur denganku.” William menarik tangan Rossa dan membuatnya terjatuh di bidang tubuh William yang kekar dan sangat berkarisma.
Rossa mendekatkan wajahnya, “Bibir kamu memang berkata tidak, tapi tubuh kamu berkata mau dan seperti ingin menikmatinya. Apakah kamu akan menolak sebuah kenikmatan gratis yang sedang aku tawarkan.” Dengan bibir yang sangat dekat dengan wajah William.
William menatap bibir Rossa, “Kenapa kamu sangat ingin tidur denganku, apa sebenarnya yang akan kamu rencanakan dari mengambil kenikmatan sesaat dengan orang yang tidak ingin melakukannya.” Dengan tatapan yang sangat serius menatap wajah Rossa.
Rossa membenarkan posisinya, ia duduk di samping tubuh William yang kala itu masih terbaring.
“Karena aku ingin memberikan kamu sebuah informasi yang sangat penting, dan aku juga tidak akan tahu setelah aku memberikan sebuah informasi ini hidupku mungkin tidak akan lama lagi.”
Mendengar perkataan itu William duduk dengan wajah yang cukup serius menatap wajah Rossa. “Tapi perbuatan ini salah, karena aku tidak menyukai kamu. Jika kamu ingin memberitahu sebuah informasi kepadaku beritahu saja, aku akan membayar berapa pun yang kamu mau. Bukan itu saja, aku akan melindungi kamu.” tegas William.
Rossa menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak perlu berbuat apa pun, karena mungkin kamu tidak akan bisa menahan serangan tersebut. Kalau begitu aku akan memberitahu kamu sebuah rahasia yang dimana orang lain tidak mengetahuinya.” Rossa memutar arah duduknya menatap wajah William.
“Aku cuman ingin memberitahu kepada kamu, 7 tahun lalu saat peperangan terakhir terjadi. Ada seorang pemuda yang melihat kamu sedang berbisik kepada salah satu selir Raja Vampir, ia mendengar jika wanita tersebut telah melahirkan sebuah keturunan murni dari Raja Vampir.”
“Bukan itu saja, selir itu ternyata bukan seorang manusia biasa. Ia ternyata seorang manusia setengah Vampir yang memiliki sebuah kekuatan yang sangat hebat. Aku juga mendengar jika kamu telah di cari oleh kaum Vampir dan kaum lainnya.”
William memotong pembicaraan Rossa, “Kenapa mereka mencariku.” Tanya William dengan wajah yang cukup serius.
Rossa menaikkan kedua bahunya, “Karena mereka ingin membalaskan dendam akibat Raja dan kaum lainnya kamu habisi tanpa ampun.” Rossa memegang tangan William, “Aku tidak begitu tahu banyak hal, hanya itu yang aku ketahui kamu harus berhati-hati karena aku sangat yakin cepat atau lambat kamu pasti akan di ketemukan oleh mereka.”
William memeluk tubuh Rossa, “Kamu juga harus hati-hati.”
Saat William memeluk Rossa dengan tubuh yang tidak memakai baju atasan dengan kancing tali pinggang dan kancing celana terbuka.
Arista membuka pintu kamar Rossa. Arista membesarkan kedua bola mata indahnya, “Paman.” Ucapnya yang kaget melihat William seperti itu dengan pikiran yang sudah sangat kacau.
Arista berlari cepat masuk ke dalam kamar dengan tangan yang mendorong tubuh Rossa, “Aku sudah menebaknya jika kamu sedang merencanakan sesuatu hal buruk kepada Paman.” Ucapnya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Rossa tertawa, “Hahaha! Kamu tahu apa anak kecil, bukannya aku sudah katakan jika kamu tidak perlu mengurusi urusan orang dewasa.” Rossa berdiri dengan kaki yang berdiri tegak di samping Arista.
William yang masih duduk di atas ranjang hanya menepuk dahinya pelan.
Arista mendekati William, “Paman jahat.” Ucapnya kemudian berbalik badan berlari meninggalkan William yang masih bingung harus menjelaskan apa padanya.
...Di dalam kamar....
...✨✨...
Arista yang duduk di tepian ranjang tertunduk dengan air mata yang terus menetes membasahi gaun yang di kenakannya.
“Paman jahat, kenapa Paman tega melakukan itu dengan wanita jahat.” Dengan kedua tangan yang mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Klik!
Pintu kamar terbuka.
William berjalan masuk, “Ia. Paman memang jahat, jadi kamu tidak boleh melawan kepada Paman. Kalau tidak Paman akan menghukum kamu.” sahut William sambil melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati ranjang Arista.
Arista menatap wajah William dengan tetesan air mata yang tertinggal di pipinya. “Kenapa Paman berbuat seperti itu, apa tidak ada wanita lain selain dia.” Tanya Arista dengan wajah yang terlihat sedih.
William tertegun menatap wajah Arista.
Tatapannya kenapa seperti menyayat hati.
Dia pasti sudah salah paham tentang apa yang kami lakukan tadi saat di atas ranjang.
Kalau di jelasin juga percuma, pasti dia tidak akan mengerti.
Batin William kemudian duduk di samping Arista.
William menatap wajah Arista, “Kamu sudah mau menjadi wanita dewasa, jadi hal seperti itu wajar saja jika suatu saat terjadi. Apa lagi Paman adalah seorang pria dan tidak akan mungkin bisa menahan semuanya secara lama.” Ucap William memberitahu Arista.
Arista mengerutkan dahinya menatap wajah William, “Maksud Paman jika suatu saat ada seorang pria yang ingin melakukan seperti itu kepadaku, aku tidak akan menolaknya karena itu hal yang wajar.”
Arista meletakkan jari telunjuk di dagunya dengan kedua bola mata yang melihat ke atas, “Kalau begitu aku akan mencari pria tampan untuk aku ajak tidur bersama, mungkin itu sangat mengasikkan. Bukan begitu Paman.” Arista menurunkan pandangannya melirik wajah William yang berubah menjadi kesal.
Arista menatap secara dengan dengan tatapan polos, “Paman. Wajah kamu kenapa menjadi suram seperti ini, apa perkataan aku ada yang salah.” Dengan jari telunjuk yang terus menyentuh pipi William.
Wajah William semakin memerah.
Bagaimana bisa dia berpikir akan tidur dengan pria lain saat di depanku.
Bagaimana cara menjelaskan hal yang tidak baik kepadanya.
Aku bukan seorang ibu.
Aku hanya seorang pria yang hanya tahu berperang dan melawan monster.
Gumam William di dalam hati.
“Salah, yang aku katakan tadi itu salah. Jangan pernah berpikir bisa tidur dengan pria lain saat masih bersamaku, karena aku tidak akan mengijinkan siapa pun bisa mendekati kamu.” teriak William dengan wajah yang cukup kesal di depan wajah Arista.
Arista menyengir dengan tangan kanan yang di letakkan di belakang kepalanya, “Oh! Salah ya?” sahutnya singkat dengan wajah yang polos.
William berdiri, “Jangan pernah berpikir tentang hal dewasa lainnya, sekarang kamu harus fokus untuk melatih diri.” William melangkahkan kedua kakinya dengan wajah yang terlihat suram.
Arista merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar, “Paman sungguh aneh, sifatnya tidak mudah di tebak.”
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Ana Yulia
like thor 👍❤️
2022-01-22
0