Nhita meraung dan menangis. Ia benar-benar khawatir dengan tujuan Natha pulang. Wajahnya yang bermake up tebal luntur dan menjadi menyeramkan karena air mata.
Sonia menghela nafas berat, lalu mengusap kepala putrinya dan berkata, "Tidak akan, Nhita. Ibu tidak akan pernah membiarkannya."
Nhita mengangguk mendengar ucapan ibunya.
"Kita harus bersikap lebih baik kepada Natha hari ini. Kita harus lebih membujuknya agar selalu bersama pria cacat itu."
Nhita mengangkat kepalanya dan tersnyum cerah mendengar usulan ibunya. Dia lupa, Natha selalu luluh karenanya
"Oke, Bu!" Nhita manggut-manggut. Membayangkan penderitaan Natha, ia menyeringai seolah yang menangis sebelumnya bukan dia, "Lalu dia akan menderita di sana! hahaha.."
Namun sayangnya, Natha sudah tahu semua kemunafikan mereka.
Ting nong
Mendengar suara bel di luar, ibu dan anak itu saling lirik. Keduanya langsung beranjak. Sebelum pintu di buka, dengan cepat mengubah mereka memperbaiki ekspresi mereka menjadi tersenyum cerah seakan kedatangan Natha adalah hal yang paling di nantikan dan membahagiakan.
Setelah pintu terbuka, mereka melihat Natha yang tersenyum polos menatap mereka.
"Natha!" Sonia dan Nhita Langsung memeluknya antusias yang di balas oleh Natha seraya menahan rasa jijik yang tersembunyi.
"Natha! Apakah kamu tidak apa-apa?! Apakah mereka mengganggumu dan menyakitimu?! Ibu sangat khawatir, hiks.." Ocehan cemas Sonia hampir memecahkan gendang telinga Natha.
"Kakak! Aku minta maaf! Seharusnya aku tidak egois, Kak, hiks. Aku akan melakukan apapun untukmu, Kak, hiks," isak Nhita terdengar pilu.
Namun, di telinga Natha seakan tengah mendengar monyet mengoceh.
Natha masih mempertahankan senyum polosnya yang terlihat semangat dan riang, "Aku baik baik saja. Aku sangat bahagia tinggal di sana.."
Senyum di wajah Nhita dan Sonia langsung membeku. Kebahagiaan Natha memang terdengar tulus dan itu menghancurkan bayangan penderitaan Natha di benak mereka.
Nhita berusaha mempertahankan senyumannya. Bertanya dengan antusias, "Benarkah?!"
Sangat jelas, bahwa senyumnya terlalu kaku dan di paksakan. Melihat itu, Natha menyembunyikan seringaiannya dan mengangguk semangat.
Lalu, tiba-tiba wajah Natha berubah menjadi sedih membuat kedua orang di depannya mengernyit.
"Bu.. kata keluarga Grissham, aku bukan putrimu.."
Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Dengan mata melebar, wajah Sonia dan Nhita memucat.
Natha menyeringai diam-diam, melihat reaksi mereka.
Setelah menarik kesadarannya, Sonia yang panik tanpa sadar membentak, "Omong kosong apa yang kamu katakan?! Tentu saja kamu putriku!"
Natha sedikit mundur. Ekspresi Natha terlihat ketakutan. Matanya berkaca-kaca, "Kalau begitu.. kenapa kamu membentakku, Bu?"
Sonia gelagapan. Suaranya langsung melembut, "Ah, maaf! Ibu hanya kaget. Jangan dengarkan omong kosong mereka.."
"Iya, Kak! Tentu saja kamu kakakku dan putri ibu.." ujar Nhita ikut menambahkan.
Natha mengerjap polos, "Tapi.. aku mempercayai mereka. Karena mereka sudah menjadi keluargaku. Kalian bukan keluargaku lagi. Aku juga sudah tidak tinggal di rumah ini..."
Sonia semakin memucat. Apalagi mendengar 'Bukan keluargaku lagi'. Apakah usahanya selama 17 tahun akan sia-sia begitu saja? Tentu saja Sonia tidak akan membiarkannya!
"Bagaimana bisa begitu, Natha? Kamu bisa pulang kapan saja. Kamu juga masih keluarga kami," bantah Sonia sedikit putus asa.
Ketika mereka mendengar ucapan Galen hari itu, benar-benar membuat mereka gelisah. Namun, mereka masih bisa tenang karena Lexandra dan surat warisan Natha dan Lexandra masih ada di tangan mereka, dan kegelisahan mereka terhapus.
Hanya saja, saat Natha menyebutkan hal ini, kegelisahan Sonia menjadi bertambah besar. Ia takut, Natha tidak akan kembali lagi kerumah mereka untuk berurusan dengan mereka.
Natha hanya diam membuat Sonia semakin kalut. Dengan lembut, dia mengambil tangannya, "Ayo masuk dulu, kita bicarakan saat Ayah di sini. Ibu akan meneleponnya."
Natha mengangguk patuh. Dia masuk ke rumah itu dan duduk di ruang tamu.
Dengan tergesa Sonia langsung menelepon Andre.
Andre yang tengah bekerja, menerima telepon itu. Dengan panik ia langsung pulang hanya dalam beberapa menit.
Mereka mulai berkumpul di ruang tamu. Natha duduk di sofa yang hanya untuk satu orang. Nhita di sofa panjang kanan, sedangkan Andre dan Sonia di sofa panjang kiri.
"Sepertinya kita tidak bisa menutupinya. Keluarga Grissam sudah mengetahui bahwa dia bukan putri kita," bisik Andre kepada Sonia.
Natha yang ada di hadapan mereka hanya diam berpura-pura tidak mendengar. Padahal selain penglihatannya yang jelas, dia juga bisa mendengar suara sekecil pun walau beberapa meter jarak jauh darinya.
Natha hanya tersenyum dingin. Saat Nhita menoleh ke arahnya, senyumannya menjadi manis.
"Natha, bagaimana mereka mengetahui itu? Apakah kamu juga mengetahui sesuatu dan memberi tahu mereka?" tuntut Andre sedikit dingin.
Natha menyusut takut, bibirnya mengerucut, "Apakah ayah menuduhku? Kenapa? Bahkan aku sama sekali tidak tahu bahwa aku bukanlah putri kalian.."
Sonia mencubit keras pinggang Andre dan melototinya. Sonia berbisik tajam, "Kenapa kau malah mengatakan itu?"
Andre meringis kesakitan mendapat cubitan Istrinya. Setelah mengusap pinggangnya yang menjadi korban, Andre kembali menatap Natha dengan ekspresi bersalah, "Ah, bukan itu maksudnya. Ayah hanya ingin tahu saja."
Natha menghela nafas. Lalu menjawab asal, "Aku tidak tahu, Ayah. Mereka yang menebaknya sendiri."
Ketiga orang yang mendengar ucapan Natha menegang.
"Lalu, bagaimana sikap mereka terhadapmu? Apakah kamu tahu apa yang mereka rencanakan?" desak Andre.
Natha hanya diam tidak menjawab membuat kecemasan mereka menambah.
"Natha beritahu kami, apalagi yang mereka katakan?" Sonia semakin mendesaknya dengan panik.
"Ayah, ibu. Kalian benar-benar bukan orang tuaku, kan?" Natha malah bertanya yang lain.
"Kak! Kenapa kamu malah bertanya sesuatu yang tidak penting?! Orang tua kita bertanya! Kamu malah mengalihkan pembicaraan! Apakah keluarga Grissham akan melakukan sesuatu kepada kami?!" raung Nhita cemas dan kesal.
Mereka bertiga tidak tahu saja, Natha tertawa diam-diam melihat kecemasan ketiga orang itu. Sangat menyenangkan. Batinnya.
Dengan sengaja, Natha bertanya pertanyaan yang sama, "Kalian juga kenapa tidak menjawab? Ibu dan ayah bukan orang tuaku, kan?"
"Ya! Kami bukan orang tuamu! Kamu bukan putri kami! Puas kau?!" Andre kehilangan kendali karena kekesalannya.
Sonia dan Nhita kaget dengan mata melototi Andre.
Natha juga sedikit kaget karena pengakuannya. Namun tanpa terlihat, ia tersenyum kemenangan.
"Begitu, yah?" monolog Natha dengan kepala tertunduk untuk menutupi seringaiannya.
Natha kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap satu persatu wajah orang di hadapannya, "Kalau begitu, jika aku bukan putri ibu dan ayah, aku ingin mengambil hakku."
Andre mengerutkan kening. Firasatnya tidak enak, "Hak apa maksudmu?"
"Aku juga mendengar, keluarga Grissham mengatakan bahwa aku mempunyai sebuah surat warisan dari orang tuaku yang asli," jawabnya tanpa beban.
Ketiga orang di sana menegang dengan keringat dingin.
Sonia berusaha menstabilkan suaranya, "Surat warisan apa maksudmu?"
"Aku memilikinya 'kan, Bu?" tanya Natha lagi malah menambah kegelisahan mereka. Tanpa menunggu jawaban mereka, Natha melanjutkan, "... Jika iya, maka aku akan mengambilnya. Aku sudah dewasa dan sudah menikah. Aku juga sudah bukan keluarga kalian lagi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
sukurin biar mampus paman sama bibik nya gak tau diri
2025-03-07
0
Siti solikah
syukurin kau paman
2025-03-29
0
Ds Phone
apa kah meraka bagi
2025-03-21
0