PPFC 20 - Tipu Muslihat Wanita
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, akhirnya Fei Chen dan Hua Ying terlihat lebih akrab. Bahkan Hua Ying selalu dibuat kagum dengan setiap aksi Fei Chen, hanya saja dimata gadis itu sosok Fei Chen tetaplah seorang bocah.
Untuk memulihkan titik-titik meridiannya yang lumpuh, Hua Ying belajar Seni Napas Naga dari Fei Chen. Walau belum menguasai, tetapi setidaknya Hua Ying dapat mengolah Seni Napas Naga secara bertahap.
Setelah merasa cukup, akhirnya Fei Chen dan Hua Ying singgah di hutan dekat sebuah kota.
“Apa aku harus melepaskan seluruh pakaianku?” Ucap Hua Ying malu-malu.
“Ya, aku akan mengalirkan aura dan tenaga dalamku. Aku akan merangsang titik-titik meridianmu yang telah lumpuh. Saat proses pemulihan, Senior Hua harus mengolah Seni Napas Naga.” Fei Chen menatap wajah Hua Ying yang merah merona.
“Ba-baiklah...” Hua Ying mulai melepaskan satu demi satu pakaiannya, ‘Kenapa aku harus melakukan ini? Dan mengapa aku bisa malu? Dia itu bocah, ingat bocah kecil yang memiliki ilmu tinggi, hanya itu saja!’
Hua Ying menenangkan dirinya, tak lama sentuhan jari-jari Fei Chen yang dipenuhi aura dan tenaga dalam bersentuhan dengan kulitnya yang mulus.
Fei Chen hanya menyentuh punggung Hua Ying secara langsung, sebelum aura tubuhnya dan tenaga dalamnya menyebar membungkus seluruh badan Hua Ying.
“Ini cukup mudah, kau tidak perlu merasa khawatir, Senior Hua...” Fei Chen mengolah pernapasan dan mulai menggunakan kemampuan Raja Neraka untuk menyerap Racun 1001 Malam, “Aku akan menyerap racun ini, dengan itu kau tidak perlu takut akan kematianmu lagi.”
Hua Ying melebar matanya saat seluruh tubuhnya merasakan kehangatan. Sekarang dirinya dapat kembali merasakan aura tubuhnya maupun melepaskan tenaga dalamnya.
Hua Ying tersenyum sumringah dan menatap Fei Chen tidak percaya.
“Senior Hua, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Fei Chen bertanya sambil memperhatikan Hua Ying yang tengah kegirangan tanpa sehelai benangpun.
Saat menyadari Fei Chen menatapnya, Hua Ying melempar batu ke arah mata Fei Chen dengan keras, “Bocah cabul!”
Fei Chen memejamkan matanya dan menghindari batu tersebut, “Apakah begini caramu berterimakasih?!”
“Maaf...” Hua Ying segera memakai pakaiannya saat melihat Fei Chen berbalik, “Apa yang ingin kau tanyakan, Chen?”
Fei Chen menghela napas panjang dan menatap bebatuan, “Kenapa nama margamu bukan Guan? Bukankah kau anak...”
“Dia memang ayah kandungku, tetapi dia tidak ada saat ibuku mengandung dan melahirkanku...” Hua Ying menjawab sendu dan tertawa sangat pelan, “Dan, Ibuku mati karena kakak iparnya mencoba melecehkannya. Aku tidak akan pernah memaafkannya!”
Fei Chen merasa bersalah telah menanyakan sesuatu yang sangat sensitif pada Hua Ying sehingga dia meminta maaf, “Maaf...”
“Tidak apa, justru aku terkejut karena kau penasaran dengan masa laluku.” Hua Ying tersenyum dan menatap Fei Chen.
“Chen, apakah kau baik-baik saja setelah menyerap Racun 1001 Malam? Aku tidak ingin kau terluka karena mencoba menyelamatkanku?” Hua Ying terlihat khawatir dan memperhatikan tubuh Fei Chen yang terlihat kelelahan.
“Senior Hua tidak perlu khawatir.” Fei Chen tersenyum dan tidak mengatakan pada Hua Ying jika efek samping dari menyerap Racun 1001 Malam membuat tubuhnya melemah.
“Aku akan istirahat-” Saat Fei Chen hendak beristirahat, tiba-tiba tubuhnya tidak dapat bergerak bahkan Pedang Raja Neraka yang tersarung rapi dipinggangnya jatuh bersamaan dengan dirinya.
Fei Chen batuk darah dan tentunya saja Kucing Manis segera mengecek kondisi tubuh Fei Chen.
‘Chen, apa kau bodoh? Kenapa kau berbuat sejauh ini?’ Kucing Manis tidak menyangka Fei Chen akan menyerap Racun 1001 Malam hingga membuat kondisi tubuhnya melemah.
“Aku memang bodoh, hanya karena Senior Hua membuat masakan yang rasanya hampir sama dengan mendiang Ibuku. Aku jadi ingin menolongnya.”
Mendengar ucapan Fei Chen, Kucing Manis tidak dapat berkata apapun. Bahkan Hua Ying yang akan meninggalkan Fei Chen begitu saja menjadi menangis.
Sejak awal Hua Ying memang telah berniat akan meninggalkan Fei Chen dan mengkhianati kepercayaan bocah itu setelah kondisi tubuhnya pulih, namun ucapan Fei Chen benar-benar menggetarkan hatinya.
Hua Ying menatap Fei Chen yang tertidur setelah mengatakan hal tersebut, “Terimakasih, Chen dan maafkan aku...”
Hua Ying mengecup kening Fei Chen, lalu menatap elang peliharaannya sebelum memberikan suatu tugas pada elang itu.
Hua Ying menyelipkan sepucuk surat dipakaian Fei Chen sebelum pergi meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 378 Episodes
Comments
XiaoAriya
Ini sifat mcnya kek mana? kalo bocah ya bocah, jangan campur2 jadi ga enak dibacanya.
2024-07-12
1
Prefix13
ggwp
2023-03-30
0
glanter
sedikit colekan mgk akan terasa lebih khidmat...😂😂😂
2022-12-17
3