Bab 20

Ella terbangun dari tidurnya. Begadang tadi malam sampai jam 1 tidak membuat Ella bangun terlambat. Kebiasaan bangun subuh seperti sudah mendarah daging baginya. Ella menyingkapkan selimut itu dengan pelan. Bima yang tertidur pulas di dalamnya tidak terganggu sama sekali.

Sama seperti di rumah Zico. Pagi ini juga Ella memulai aktivitasnya dengan membersihkan dirinya terlebih. Kemudian berkutat di dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi mereka. Rasa sakit di bagian tubuhnya tidak menghalangi Ella untuk membuat nasi goreng untuk suaminya.

Sebenarnya bisa saja Ella tidak bersusah payah membuat nasi goreng pagi ini. Stok roti di kulkas masih banyak. Tapi aktivitas tadi malam membuat Ella sangat lapar. Dia sadar, memakan roti tidak akan sanggup mengganjal perutnya hingga siang hari nanti. Dia tidak terbiasa sarapan roti di pagi hari. Sebagai masyarakat biasa, memakan makanan yang berat di pagi hari itu sudah hal biasa.

"Masak apa sayang, wanginya sampai ke kamar."

Ella terkejut mendengar perkataan suaminya ditambah dengan sepasang tangan sudah melingkar di perutnya. Bima memeluk Ella dari belakang dengan dagunya berada di bahu Ella. Kata sayang yang terucap dari mulut suaminya sanggup menggetarkan hati Ella. Sejak tadi malam entah sudah berapa kali Bima memanggil dengan kata sayang. Ella tersipu dan tangannya terus mengaduk nasi goreng.

"Nasi goreng pak," jawab Ella tanpa berusaha menolak pelukan Bima. Ella semakin membulatkan matanya karena Bima mencium pipinya.

"Aku sangat lapar sayang. Bisakah nasi gorengnya dipercepat?.

"Sebentar lagi juga matang pak. Bapak bisa menunggu di meja makan."

"Menunggu begini saja. Lebih seru," kata Bima sambil merapatkan tubuhnya ke bagian belakang tubuh Ella. Ella dapat merasakan sesuatu yang keras menyentuh bokongnya. Ella juga merasakan tubuhnya bereaksi atas pelukan bahkan sentuhan benda keras itu.

"Kamu dapat merasakannya?" tanya Bima dengan suara yang mulai serak. Ella mengangguk. Bima sudah mengumpulkan rambut Ella dan memegang rambut tersebut dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih melingkar di perut Ella. Sedangkan bibirnya sudah berkelana di leher dan di bagian belakang kuping milik Ella.

Sungguh, Ella tidak bisa mengabaikan semua apa yang dirasakannya saat ini. Ella mematikan kompor kemudian berbalik. Entah siapa yang menyambar duluan, kini keduanya sudah berciuman panas di dapur mewah itu. Bima sangat menyukai permainan istrinya. Dia menyukai wanita yang berani mengekspresikan keinginan tanpa pura pura tidak menginginkan atau munafik. Dia bisa melihat itu dalam diri Ella. Ella, wanita pemberani, tegas dan ternyata mempunyai libido yang tinggi.

Yang membuat Bima semakin kagum. Walau Ella mempunyai libido yang tinggi tapi wanita itu mampu menjaga harga dirinya. Termasuk dari suami pertamanya.

"Di kamar saja pak," bisik Ella sambil menengadah kepalanya ke atas karena Bima sedang bermain di leher bagian depan milik Ella. Tidak ingin membuang kesempatan, Bim langsung menggendong istrinya ke kamar mereka.

"Tetap disini," kata Bima setelah mereka selesai bercinta. Ella menutupi tubuh dengan selimut sedangkan Bima bangkit dari ranjang. Bima mengenakan pakaiannya kembali dan memungut pakaian milik Ella. Ella tersenyum malu-malu ketika Bima membantu Ella mengenakan pakaiannya.

"Selalu tunjukkan senyummu di hadapan aku Ella. Kami makin terlihat cantik bila tersenyum," kata Bima. Dia sudah turun dari ranjang dan mengisyaratkan Ella untuk duduk di ranjang itu. Ella kembali tersenyum menurut apa yang diinginkan oleh suaminya. Bima membalas senyuman itu dengan tersenyum manis

Perlakuan Bima sepanjang malam hingga pagi ini seperti perlakuan suami yang sesungguhnya. Hal yang tidak pernah di dapatkan oleh Ella dari Zico. Kebersamaan ini sudah menancapkan harapan di hati Ella. Tapi Ella cepat sadar dan mengingat jelas tujuan mereka menikah.

Ella memandang punggung Bima yang sudah menghilang di balik pintu. Jika boleh berharap, Ella ingin bahagia seperti ini selamanya. Bersama Bima, Ella sudah mendapatkan kebutuhan batin dan dihargai. Ella akan berusaha mengikuti takdir dan pasrah apapun yang terjadi akhirnya nanti.

"Kita sarapan sayang," kata Bima. Di tangannya sudah ada sepiring nasi goreng. Bima meletakkan piring tersebut di pangkuan Bima. Kemudian Bima meletakkan gelas kaca besar berisi air putih di atas nakas.

Bima menyuapi nasi goreng itu ke mulut Ella terlebih dahulu.

"Enak," kata Bima setelah satu sendok nasi goreng sudah masuk ke dalam mulutnya. Dia tidak terbiasa makan nasi goreng di pagi hari. Tapi karena ingin menghargai Ella. Bima akhirnya sarapan nasi goreng.

"Bapak tidak terbiasa ya. Sarapan berat seperti ini?" tanya Ella. Bima hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan satu sendok nasi goreng ke mulut Ella.

"Tapi untuk hari hari selanjutnya. Mungkin akan terbiasa," kata Bima santai. Ella tidak terlalu banyak mengharap akan jawaban suaminya.

"Astaga pak. Sudah jam delapan. Bagaimana ini?" kata Ella panik sambil bergerak ingin turun dari ranjang. Bima langsung menangkap tangan istrinya.

"Ada apa?.

"Aku terlambat ke kantor pak," kata Ella panik. Dia bangkit dari ranjang dan mengamati tasnya yang terletak begitu saja di sudut kamar itu. Ella mengambil ponsel dari dalamnya. Dan benar saja. Sudah banyak panggilan dan pesan dari para marketing yang harus dia briefing setiap pagi. Ella merasa cemas.

"Santai saja Ella. Aku sudah menghubungi Andi dan mengajukan cuti kamu selama seminggu. Untuk sementara biarkan yang lain yang menghandle pekerjaan kamu," kata Bima tenang. Tadi ketika dirinya mengambil sarapan ke dapur. Bima terlebih dahulu menghubungi Andi, atasan Ella di kantor.

"Satu minggu pak?" tanya Ella tidak percaya.

"Nanti malam kita akan berangkat bulan madu. Sekarang katakan, bulan madu seperti apa yang kamu mimpikan. Jika aku mampu. Aku akan mewujudkannya," kata Bima sambil menggerakkan tangannya menyuruh Ella untuk kembali duduk di ranjang.

Ella kembali terkejut. Dia tidak menyangka akan dibawa bulan madu oleh Bima. Dia pernah membayangkan bulan madu ke daerah pantai lebih tepatnya ke Bali. Bergandengan tangan dengan suami di tepi pantai sambil bercanda dan menikmati keindahan alam. Duduk bersebelahan di hamparan pasir putih sambil menunggu matahari terbenam. Impian itu yang pernah tertanam di hatinya sebelum menikah dengan Zico.

Tapi jangankan impian itu terwujud. Justru penderitaan, penghinaan dan pengkhianatan yang dia terima. Tapi hari ini, Bima sang suami kedua ingin membawanya bulan madu. Ella tentu saja senang dan bahagia. Tapi membayangkan satu minggu tentu saja itu menjadi beban pikiran bagi Ella. Dia juga punya kewajiban sebagai istri Zico untuk memasakkan makanan untuk suami pertamanya itu.

"Dalam atau luar negeri?" tanya Bima menuntut jawaban secepat mungkin dari Ella.

"Terserah bapak saja," kata Ella akhirnya. Setelah terdiam beberapa saat. Ella berpikir harus secepat mungkin juga membalaskan sakit hatinya kepada Zico dan Karina. Dan Ella berpikir jika perjalanan bulan madu mereka bisa membuat Zico dan Karina menerima pembalasan dari dirinya.

Terpopuler

Comments

Endng 369

Endng 369

mantapp

2024-12-09

0

Meike Rumagit

Meike Rumagit

Lanjut dong Thor . . . Jangan bikin sy penasaran yaaa

2024-10-23

0

Sarah Yuniani

Sarah Yuniani

cerai sama Zico dulu lah thor .. merinding aku .. 😅

2024-10-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!