Bab 16

Bima bisa melihat kemarahan tertahan di wajah Linna kepada Kiki. Sang mama tiri menatap putri kandungnya dengan tajam. Bima tidak perduli. Dia beranjak dari duduknya dan hanya pamit kepada sang papa. Langkahnya terasa ringan setelah menolak dengan tegas perjodohan itu dan bahkan sudah menyarankan sang papa yang menikahi Lola.

Bima terus melangkah walau suara papa Yuda terdengar memanggil namanya. Dia masuk ke dalam garasi dan mengeluarkan motor matic milik salah satu pelayan di rumah itu. Setelah memastikan tidak ada yang melihat. Bima menyuruh supirnya untuk membawa mobil keluar dari halaman rumah itu. Sedangkan dirinya keluar dengan mengendarai motor matic. Bima menuju perusahaan milik papanya tempat Ella bekerja. Bima mengirimkan pesan kepada Ella bahwa dirinya sudah menunggu di luar dari gerbang besar kantor itu.

Beberapa menit kemudian. Ella keluar dari kantor. Sebenarnya jam istirahat masih sepuluh menit lagi. Ella terpaksa korupsi waktu supaya tidak ada yang melihat dirinya dijemput oleh putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Ella mengedarkan pandangannya ke arah parkiran. Tidak ada mobil Bima di sekitar parkir itu. Kemudian Ella melangkahkan kakinya keluar setelah membaca pesan dari Bima bahwa Bima menunggu di luar gerbang.

Ella mengedarkan pandangannya lagi. Di luar gerbang perkantoran itu juga tidak ada mobil yang berhenti. Ella mengerutkan keningnya ketika Bima yang duduk di atas motor melambaikan tangan ke arahnya. Bima memang memakai helm full face. Ella tidak bisa langsung mengenali Bima tetapi dia juga memberanikan diri mendekat. Bima membuka helm nya sebentar.

"Kenapa tertawa Ella?" tanya Bima sambil memakai kembali helm itu. Bima juga memberi isyarat kepada Ella untuk naik ke

"Bapak seperti pengendara ojek online," kata Ella sambil duduk di belakang Bima. Ella terpaksa duduk menyamping karena dirinya memakai rok. Ella tiba tiba terkejut dengan tangan Bima yang meraih tangannya dan meletakkan di pinggangnya.

"Pegangan supaya kamu tidak terjatuh."

Ella ingin mengatakan sesuatu tetapi kata kata yang ingin dia keluarkan harus tertahan di tenggorokan. Bima sudah melajukan motor itu dengan sangat kencang. Bima bahkan sudah menyalib beberapa mobil. Mencari setiap celah diantara mobil supaya mereka cepat sampai di tujuan. Tidak ingin terjatuh. Ella semakin mengeratkan tangannya di perut Bima. Tubuhnya juga tidak berjarak lagi dengan tubuh Bima.

Ella menarik nafas lega ketika mereka akhirnya berhenti di depan swalayan. Dia langsung turun dari motor dan memandang Bima sedikit canggung. Ella malu karena mendekap tubuh calon suaminya padahal mereka belum resmi suami istri.

Bima juga turun dari motor itu. Dia masuk ke dalam swalayan hanya sebentar. Kemudian menarik tangan Ella berjalan menjauhi sepeda motor matic yang mereka kendarai tadi. Bima membuka pintu mobil yang baru saja berhenti di hadapan mereka. Dan mendorong tubuh Ella untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian Bima juga melakukan hal yang sama.

"Motornya bagaimana pak?" tanya Ella heran setelah mereka sudah duduk bersisian di bangku penumpang. Tanpa menjawab pertanyaan Ella. Bima mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di layar ponsel itu.

"Pak, apa bapak mendengar pertanyaan aku?" tanya Ella.

"Kamu lupa siapa aku Ella?. Tentang motor itu. Adalah urusan kecil bagiku."

"Tidak lupa pak. Hanya saja aku senang karena kita sekarang baik mobil. Tadi jantungku sudah hampir copot karena bapak tiba tiba berubah menjadi pembalap liar," kata Ella lega. Naik motor dengan Bima adalah pengalaman pertama naik motor ugal ugalan baginya. Dia memang sudah terbiasa naik motor di kota besar itu. Dia selalu berhati hati dan penuh perhitungan jika berkendara. Bukan seperti Bima tadi yang seperti cari mati.

"Dan jantung kamu masih di tempatnya kan?" tanya Bima enteng.

"Masih di tempatnya memang pak. Tapi sekrup sudah longgar."

Bima terkekeh tanpa menoleh ke Ella. Bima membuka kaca mobil ketika mereka sudah berada di pos satpam sebuah perumahan elite. Bima berbicara kepada sang satpam untuk mengenali wajah Ella dan membiarkan dirinya masuk jika dia sesekali Ella akan datang ke kompleks itu. Ella mencerna dalam hati pembicaraan Bima dan satpam itu. Dia menahan diri untuk bertanya.

Mereka turun di depan sebuah rumah mewah. Bima mengeluarkan kunci gerbang rumah mewah itu. Dia mendorong sendiri gerbang rumah itu dan menyuruh Ella masuk ke dalam. Ella dengan sedikit ragu melangkahkan kakinya. Dia menyadari jika rumah itu sepertinya tidak berpenghuni.

"Masuklah Ella!, jangan takut," kata Bima mendahului langkah Bima. Gerbang tinggi yang berkawat diri di atasnya juga sudah dikunci.

"Pak, mobil tadi?" tanya Ella heran. Ella jelas melihat jika Bima tidak membayar sang supir. Dari tadi Ella berpikir jika mobil yang mereka tumpangi adalah taksi online. Karena mobil itu memang mobil biasa bukan seperti mobil mewah milik Bima.

"Setelah menikah, kamu akan mengetahui semuanya. Sekarang kita masuk untuk membahas pernikahan kita," jawab Bima lagi. Pria itu terus melangkah terus hingga mencapai pintu rumah sedangkan Ella masih berdiri dan memperhatikan sekitar. Rumah itu dikelilingi dengan tembok tinggi dan juga pagar besi dengan lilitan kawat duri di atasnya.

Ella bergidik nyeri membayangkan jika Bima berbuat jahat kepadanya di rumah ini. Tidak ada celah untuk kabur. Ella masih bertahan berdiri di tempatnya. Prasangka buruk akan Bima sudah memenuhi otaknya. Jika Bima membahas tentang pernikahan dengannya. Mereka bisa membicarakan itu di kafe atau di restoran dengan private room. Tapi Bima justru membawa dirinya ke sebuah rumah besar yang tidak berpenghuni.

Ella menjadi ragu. Dia menoleh ke gerbang yang sudah tertutup rapat itu.

"Mengapa tidak masuk Ella."

Hanya hitungan detik di menoleh suara Bima sudah sangat dekat di kupingnya.

"Pak, jangan macam-macam ya. Walau tembok itu tinggi dan pagar besinya dililit kawat duri. Aku pasti bisa kabur dari sini jika bapak berniat jahat," kata Ella sambil merubah cara berdirinya seperti hendak menyerang. Bima kembali terkekeh karena melihat Ella sedikit kewalahan untuk memasang kuda-kuda karena memakai rok span.

"Macam macam seperti apa maksud kamu. Apa kamu kira kau seorang penjahat?" tanya Bima sambil tersenyum. Ella masih posisi seperti hendak menyerang. Dia belum percaya dengan perkataan Bima.

"Pegang kuncinya. Supaya kamu yakin," kata Bima lagi sambil melemparkan kunci kepada Ella. Ella berhasil menangkap kunci itu. kemudian dia berjalan menuju gerbang.

"Kamu mau kemana?. Kita belum berbicara?" tanya Bima. Ella sudah memposisikan kunci ke gembok besar gerbang itu.

"Hanya memastikan jika kunci yang bapak berikan ini asli pak," kata Ella sambil memutar kunci. Ella merasa lega karena memang gembok besar itu bisa terbuka. Ella kembali mengunci gerbang itu dan berjalan ke arah Bima. Bima tersenyum dalam hati. Ella memang benar benar orang yang tepat baginya untuk melakukan pernikahan untuk mencapai tujuannya.

"Kamu sudah yakin?" tanya Bima.

"Aku bisa yakin jika keluar dari rumah ini dengan selamat tanpa sehelai rambut terjatuh," jawab Ella sambil mengikuti Bima. Dia menyimpan kunci itu ke dalam tasnya.

Terpopuler

Comments

Yuli Yuli

Yuli Yuli

dgn senang hati papanya Bima dsruh nikahi Lola apa LG dpt ratu dr kdua anaknya ya kn papa Yuda 🤣🤣🤣

2024-09-04

1

Utit Dewisetyowati

Utit Dewisetyowati

lanjut kan /Good/

2024-06-22

3

Utit Dewisetyowati

Utit Dewisetyowati

lanjut kak semangat

2024-06-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!