"Ceraikan aku sekarang mas. Sekarang juga," kata Ella pelan. Dia sebenarnya ingin berteriak hanya untuk mengatakan itu. Tapi Ella masih berusaha tenang dan menghormati Zico. Bagaimanapun Zico masih sah suaminya walau sang suami tidak menganggapnya.
Zico tertegun. Ini bukan pertama kalinya Ella meminta cerai darinya sejak berpoligami. Ini yang ketiga kalinya. Pria itu berusaha tenang menyembunyikan kemarahannya.
""Aku serius mas. Pernikahan kita sudah jelas tidak sehat. Jadi untuk apa dipertahankan lagi," kata Ella lagi. Zico semakin menatap Ella dengan tajam.
"Kenapa kamu keras kepala untuk bercerai. Apa kamu selingkuh?" tanya Zico sengit. Zico tidak mampu lagi untuk menyembunyikan kemarahannya. Ella yang tadinya menunduk seketika menoleh ke Zico. Ella tertawa sinis. Pertanyaan yang tidak seharusnya terlontar. Karena tanda tanda jika Ella berselingkuh sama sekali tidak ada.
"Seharusnya kamu tidak menanyakan itu mas. Aku meminta cerai karena alasannya jelas. Aku orang paling tersakiti di pernikahan poligami ini."
Zico tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu dari perkataan Ella. Zico melangkah mendekati Ella. Tatapannya juga masih fokus menatap Ella yang masih duduk. Makanannya belum habis dibiarkan terletak begitu saja di atas meja. Selera makannya juga sudah hilang.
"Aku kira kamu baik baik saja. Setelah aku menikah kembali. Ternyata kamu bisa sakit hati juga ya. Aku tidak akan menceraikan kamu Ella. Itu karena aku masih mempunyai hati terhadap papa kamu. Aku akan menceraikan kamu jika pria penyakitan itu menemui ajal. Jadi tetaplah menjadi istri setia dan yang patuh bagiku," kata Zico marah. Dia lupa, jika dirinya yang memaksa Ella untuk menandatangani surat persetujuan dirinya menikah kembali. Zico juga lupa, waktu itu Ella juga menangis dan menyatakan tidak mau dimadu. Tapi gertakan Zico berhasil. Dengan berurai air mata dan hati yang hancur akhirnya Ella menyetujui dirinya dimadu.
"Hidup ada di tangan yang Kuasa mas. Ajal tiba bisa kapan saja. Jika yang Kuasa berkehendak, kita bercerai belum tentu papaku langsung menemui ajal," jawab Ella tidak mau kalah.
"Dasar manusia egois kamu. Ini yang paling tidak aku suka dari kamu Ella. Asal kamu tahu. Melihat keras kepala kamu. Aku jadi berubah pikiran untuk tidak menceraikan kamu kapanpun. Aku akan menghukum kamu dengan cara seperti ini. Selamanya kamu tidak akan bisa bahagia dengan laki laki manapun," kata Zico marah. Ella terkejut. Dia tidak menyangka jawaban Zico semakin menyakiti hatinya.
"Mas, aku mohon," kata Ella lagi.
"Apa kamu tidak mempunyai hati mas?. Kamu memberikan madu yang jahat kepadaku. Kamu memberikan jatah bulanan yang berbeda dan memperlakukan aku tidak adil. Kamu sangat mencintai Karina. Sedangkan aku. Apa yang aku dapat dari pernikahan ini. Hanya tatapan sinis dan penghinaan. Dan kalian juga menganggap aku tidak ada dengan sembarangan bermesraan di ruang tamu bahkan di meja makan. Jadi adakah alasan aku untuk bertahan dalam pernikahan ini mas?" teriak Ella marah. Akhirnya Ella mengeluarkan semua beban pikirannya. Mendengar perkataan Zico yang amat egois. Rasa hormatnya terhadap Zico hilang seketika.
"Jawab mas. Coba beri aku alasan untuk bertahan di pernikahan ini selain kondisi papaku," kata Ella menuntut Zico berbicara. Zico jelas mendengar semua apa yang diucapkan oleh Ella. Semua itu kebenaran yang tidak dapat disangkal.
"Kalau karena kondisi papaku yang kamu takutkan mas. Kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada papaku. Aku yang kehilangan papa. Bukan kamu," kata Ella lagi. Nadanya sudah terdengar biasa tanpa kemarahan. Zico tidak menjawab. Dia berbalik tetapi secepat kilat Ella berdiri dan menangkap tangan Zico.
"Mas, aku mohon. Aku tidak sanggup lagi bertahan di pernikahan ini. Tolong ceraikan aku," kata Ella terus memohon suaminya untuk menceraikan dirinya. Zico menoleh tapi kemudian menghempaskan tangan Ella dengan kasar sehingga Ella tersungkur dan terduduk di lantai.
"Tidak akan Ella. Ingat itu. Tidak akan," kata Zico tegas tanpa berniat membantu Ella untuk berdiri. Setelah mengucap kata kata itu. Zico berlalu dari ruang tamu itu tanpa menoleh hingga tidak terlihat lagi.
Ella menangis. Air mata itu tumpah membanjiri pipinya. Hatinya sakit mengingat setiap perkataan Zico. Dia hanya tidak ingin berdosa mengkhianati pernikahannya dengan Zico dengan menikah dengan Bima. Tapi apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Zico bahkan sudah mengatakan tidak akan menceraikan dirinya sampai kapanpun. Andaikan perkataan Zico itu ketika status mereka tanpa madu si Karina. Ella masih bisa bersabar menunggu suaminya berubah.
Ella memegangi dadanya yang terasa sesak. Ella menangisi takdirnya yang sangat menyakitkan. Demi apapun. Sejujurnya Ella sungguh tidak sanggup lagi menjalani pernikahan ini.
"Kamu jahat mas," kata Ella terisak ketika melihat Zico kembali ke ruang tamu. Lagi lagi pria itu diam. Di melewati tubuh Ella. Dan duduk santai di sofa. Dari caranya duduk seakan akan tidak ada yang terjadi. Ella semakin muak. Ella mengepalkan tangannya. Tidak ingin melihat dan berduaan di ruang tamu akhirnya Ella masuk ke kamarnya.
Besok paginya. Ella sudah siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasanya Ella memasak terlebih dahulu tanpa menikmati masakan tersebut.
"Ella, kemari!" panggil Zico ketika Ella sudah menutup pintu kamarnya. Ella melangkahkan kakinya malas menuju meja makan.
"Ada apa mas?" tanya Ella tidak bersemangat. Perdebatan tadi malam masih jelas terekam di otaknya.
"Makan dulu sebelum berangkat bekerja," tawar Zico. Ella mengernyitkan keningnya. Zico berbicara lembut dan tidak menatapnya sinis. Ini pertama kalinya Zico bersikap lembut dan perhatian sepanjang pernikahan mereka.
"Terima kasih mas. Tapi aku buru buru," kata Ella menolak perhatian suaminya. Ella berbalik hendak melangkah kakinya meninggalkan Zico. Tapi Zico menyusul Ella bahkan mendahului langkah Ella.
"Kita berangkat bareng Ella," kata Zico ketika sudah di depan pintu. Ella semakin bingung dengan perubahan sikap Zico. Ella menoleh ke dalam rumah. Tidak ada tanda tanda Karina akan menyusul Zico ke depan pintu untuk mengantar suami mereka berangkat kerja.
"Tidak perlu mas. Aku bisa berangkat sendiri," tolak Ella lagi. Dia sebenarnya ingin bertanya tentang Karina. Tapi Ella mengurungkan pertanyaan itu. Dia tidak ingin mencampuri urusan Zico dengan Karina.
Ella melangkahkan kakinya menuju gerbang sementara Zico mengeluarkan mobil dari garasi.
"Ella, masuklah," kata Zico. Ella sudah keluar dari gerbang. Ella mendengus kesal. Zico bersikap seolah olah hubungan mereka baik baik saja padahal Ella sudah sampai memohon untuk bercerai.
"Mas, tolong jangan seperti ini. Jangan sok perduli dengan aku. Kemarin aku kesusahan karena motorku rusak. Apa kamu ada niat untuk membantu?. Jangan jangan kamu sok baik kepadaku karena istri tercinta kamu tidak di rumah. Berhenti mengajak aku untuk naik ke mobilmu," jawab Ella ketus. Perubahan sikap dan sok perhatian dari Zico tidak langsung membuat Ella luluh. Yang ada Ella semakin muak.
"Ella maafkan aku. Tapi mulai hari ini. Ada Karina atau tidak. Aku akan bersikap adil untuk kalian berdua," kata Zico. Ella menatap Zico sinis. Permintaan maaf dan pernyataan bersikap adil dari Zico sudah terlambat.
"Maaf mas. Aku sudah memesan taksi online dan aku bukan tipe manusia yang sesukanya membatalkan orderan. Terima kasih atas tawarannya," kata Ella sambil menunjuk sebuah mobil yang semakin mendekat ke arah gerbang rumah mereka. Sebenarnya dia tidak memesan taksi online. Ella mengatakan itu karena mengenali mobil yang sudah berhenti itu adalah mobil Bima. Ella meninggalkan Zico yang terpaku di mobilnya. Ella masuk ke dalam mobil sebelum sang supir menyuruhnya masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
𝐝𝐞𝐰𝐢
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐜𝐞𝐫𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐥𝐚
2024-12-11
0
Endng 369
AQ cm bisa menyimak dulu alur ceritanya
2024-12-08
0
Yuen
Tolong ajari Si ella surella cara menghargai diri sendiri, hebat apaan di mata bima,,, melempem gak ada kekuatan lawan manusia ini,
2024-10-12
1