Tuan tua memperhatikan Stella yang baru saja turun bersama dengan Kendra, diam-diam Tuan tua mendengus. Vivian yang ada disampingnya dan masih sibuk menata makanan tentu saja menyadari hal ini, menurut Vivian perilaku kakeknya ini agak kekanakan, dan itu lucu sampai dia ingin tertawa.
Ayah Vivian memperhatikan interaksi kakek dan cucu tersebut, sehingga dia diam-diam tersenyum dan berpikir bahwa dia sudah membuang terlalu banyak waktu di pekerjaannya, sehingga tidak memiliki waktu untuk memperhatikan Vivian yang semakin hari sudah semakin bertumbuh.
Ayah Vivian jadi teringat dengan mendiang istrinya, Vivian tumbuh menjadi gadis yang cantik, wajahnya begitu mirip dengan Ibu Vivian, apa lagi pada bagian mata dan cara mereka ketika tersenyum. Menyadari ayahnya melamun, Vivian mendekat dan ikut duduk di kursi tepat di sampingnya.
Vivian menyentuh pergelangan tangannya ayahnya, tersenyum lalu berkata; “Ayah, ada apa? Apakah makanya tidak sesuai selera ayah? Aku bisa memasak lagi kalau begitu, Ayah katakan saja apa yang ingin Ayah makan?”
Alexis menoleh pada putrinya, dan menemukan wajah khawatir Vivian. Kemudian dia tersenyum dan hanya berkata; “Tak apa, ayah hanya memikirkan pekerjaan saja.”
Tepat di seberang meja adalah tempat Excelo, ketika mendengar perkataan adiknya itu langsung membuatnya mengernyit. Pekerjaan kantor baik-baik saja, jadi dia tahu kalau adiknya berbohong.
Alexis selama ini terlalu sibuk kerja sejak kematian istrinya. Sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan Vivian, memikirkan hal ini dan pembicaraan mereka di rumah sakit dulu, dia akhirnya berkata; “Ah, Vivian. Paman ingat ulang tahunmu sebentar lagi kan? Apa yang kamu inginkan untuk tahun ke tujuh belas mu?”
Vivian terkejut dan menatap pamannya, kemudian dia merasa sedikit kikuk karena merasakan tatapan panas dari seberang meja; “Paman ulang tahunku masih lama, masih ada dua bulan lagi. Aku juga merasa tidak membutuhkan apa-apa.”
“Ayo katakan saja, akan lebih baik jika mempersiapkannya dari sekarang, kita harus membuat pesta yang besar,” kali ini adalah suara Tuan Tua.
“Sebenarnya aku tidak membutuhkan perayaan ulang tahun, itu akan menghamburkan banyak uang. Jadi bagaimana kalau uang untuk perayaan ulang tahunku di ganti saja dengan sebuah tanah?”
Keluarga terkejut, kemudian Vivian mendengar Mario berisik padanya, ‘Untuk apa kau meminta tanah?’
“Apa kau memiliki sebuah rencana?” Tuan tua bertanya padanya.
Tersenyum, Vivian kemudian berkata; “Hehe, kakek aku mau belajar bisnis. Sebenarnya aku sudah berencana untuk membuka restoran, atau paling tidak rumah makan.”
“Aku mendukungmu Vian, Aku pasti akan membantumu berbisnis nanti, iya kan Nila?”
“Diam lah, mengapa kau ikut berbicara?”
Mario memandangnya dan berkata; “Aku hanya mengeluarkan pendapatku. Lagi pula makanan buatan Vivian, Memang sangat enak, citarasanya khas dan aku yakin membuka restoran akan memberikan banyak keuntungan untuk masa depannya dan masa depan keluarga Alisher.”
Bug!
Setelah satu pukulan mengenai kepala Mario, Nila pun berkata padanya; “Kau terlalu banyak bicara, kau tidak lihat kita sedang ada dimana? Ini di rumah utama, rumah utama!”
Tuan tua dan Vivian memperhatikan keduanya dan menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian Tuan Tua berkata; “Sudah kalian berdua, memang benar masakan Vivian sangat enak dan seharusnya dia terus mengembangkan bakatnya itu. Tetapi, dia juga masih pelajar terlalu lelah tidak akan baik untuknya.”
“Aku bisa mengatasi itu kakek, Lalu akhir pekan ku juga masih banyak kosong, Ayah bisa langsung mengajari aku tentang bisnis sehabis dari sana, aku juga bisa langsung ke kantor ayah saja. Jadi masih ada satu hari untukku beristirahat, sebelum sekolah di mulai.”
Paman Vivian memikirkan peluang baik untuk adiknya dalam hal ini sehingga dia pun ikut semakin memuji masakan Vivian, Ayah Vivian juga ikut mendukung pilihan putrinya, sehingga akhirnya Tuan Tua pun setuju.
Acara makan malam berlangsung dengan baik, sepanjang acara Stella tidak banyak berbicara karena meskipun dia suka menggangu Vivian, masakan Vivian memang enak dan Stella tidak bisa memungkiri itu, Kendra juga yang sedari tadi diam masih belum percaya semua makanan yang ada di meja adalah buatan tangannya.
Setelah acara makan malam selesai, Vivian dan Nila mulai membersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke tempatnya. Sejak tadi Mario tidak pernah memperhatikan keberadaan Kendra jadi dia tidak tahu jika Kendra adalah teman sekelasnya.
Sehingga Mario yang duduk tepat di depan Kendra, berkata; “Hei kau, ayo kemari dan bantu mereka. Jangan hanya tahu numpang makan sana.”
Stella menatap Mario dan berkata; “Ini, maaf dia tidak...”
“Aku tahu, dia seorang tamu. Aku juga seorang tamu, tahu makan harus tahu cuci piring.”
“Kau!”
“Tenanglah, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan istirahat, Aku juga sebentar lagi akan pulang jadi tidak masalah,” setelah berkata demikian Kendra mengikuti Mario untuk membantu Vivian. Selama tidak ada omega, Stella bisa tenang jadi dia menuruti perkataan Kendra.
Vivian dan Nila kaget melihat kedua Alpha ini datang ke dapur. Keduanya membawa piring sisa di meja makan tadi, melihat keduanya Vivian langsung tersenyum dan berkata; “Kalian berdua bisa meletakkannya di sana, lalu kembali ke ruang tamu.”
“Tidak, kami ingin membantu. Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku sering melihat mu di sekolah berurusan dengan dua omega.”
Pluk!
“Hei, kenapa kau jitak aku?”
“Aku rasa kepalamu bermasalah. Dia Kendra, teman sekelas kita. Ini sudah mampir dua minggu loh, kita sekolah disana.”
“Dia memang begitu, sulit untuk mengingat orang lain apa lagi jika dia tidak pernah mengobrol.”
“Hei, tidak udah menyudutkan aku seperti itu. Apa yang bisa aku lakukan?”
“Kau bantu Nila saja, sup ayam tadi sepertinya masih ada banyak atau cari Chihuahua, dia mungkin sudah tidur di suatu tempat.”
Mario yang memang suka makan, tentu saja memilih pilihan pertama kemudian dia berkata, “Bagaimana jika setelah ini, kita mampir berbelanja bulanan di supermarket untuk persediaan kedepannya?”
“Terserah kau, sekarang slesaikan dulu pekerjaan ini lalu kita pulang.”
Mario dengan bersemangat pergi membantu Nila memindahkan beberapa lauk yang masih ada. Kendra kebagian untuk menyapu, sementara Vivian mencuci piring kotor. Vivian merasakan sebuah tatapan dari belakang punggungnya, dia kemudian berhenti dan berkata; “Ada apa? Apakah kau juga tidak tahu menggunakan sapu?”
“Bukan, aku hanya ingin bertanya apakah kalian tinggal bersama?”
“Iya, kami tinggal bersama...”
Kendra terkejut mengetahui jika Vivian dan Mario tinggal di satu apartemen yang sama. Kemudian Vivian berkata lagi; “Jangan salah paham. Nila juga bersama kami, lagi pula kami berdua Alpha, Nila adalah Beta. Apa yang harus di khawatirkan tentang itu?”
Entah kenapa mendengar ini membuat perasaan Kendra jadi lega. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, itu sudah saatnya untuk Kendra untuk pulang setelah berpamitan dengan paman dan ayah Vivian.
“Tunggu sebentar,” mendengar suara Vivian, Kendra berbalik dan melihat Vivian menenteng Tupperware sehingga diapun mengernyit.
“Bawalah ini, berikan pada keluargamu. Di dalam juga ada note, itu adalah menu sehat untuk usia lanjut. Oh, iya. Jika ingin mengembalikan Tupperware kau boleh berikan pada kakakku saja, aku tidak menentu ada di rumah.”
Kendra menerima tas berisi Tupperware itu, tidak lupa dia mengucapkan terima kasih pada Vivian sebelum pergi. Dia tidak sangka jika Vivian adalah tipe orang yang banyak bicara, jadi tanpa sadar Kendra juga ikut tersenyum.
Gadis ini cukup menarik, sayang dia sudah bukan omega. Setibanya Kendra di rumah, Kendra memperhatikan Tupperware yang sudah ada di atas meja. Makanan yang di buat Vivian sangat enak bahkan berbeda dengan masakan resto, sehingga dia seperti tidak ingin berhenti. Kendra menemukan selain nota yang dikatakan Vivian tadi.
Lagi-lagi Kendra tersenyum cukup tipis membaca note di kertas kecil itu; “Jangan lupa dipanaskan ulang.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Andriana Rina
fighting!!!
2022-05-18
1
Q
semangat thorr💪💪💪💪
2021-12-26
2
valencia
NEXT KAK 💪 SEMANGAT YA KAK 💪👍🏆 SUKSES SELALU 🏆🏆💪💪
2021-12-26
4