Damian mendengkur dengan tenangnya, setelah di suntik dan minum obat tadi Damian terlelap dengan damai.
Queenze sendiri sedang membereskan pakaian kotor Damian.
Sudah 3 hari Damian dirawat, dan hari ini adalah hari ulang tahun Damian. Masih jam 9 pagi, sepertinya Queenze masih sempat untuk sekedar beli kue saja.
Kringgg.
Queenze merogoh sakunya begitu ponselnya bergetar. Ternyata pesan masuk dari Dokter Pribadinya.
...Dokter Risia....
Selamat ya, aku sudah dapat obat dari rekanku yang ada di amerika.
Kamu bisa mengambilnya sekarang di klinikku.
Akhirnya kamu gajadi mati:).
^^^Sebelumnya makasih Dok🙂✔️✔️^^^
^^^Tapi bagian terakhirnya gak mengenakan:)✔️✔️^^^
Yang penting gajadi meet up sama malaikat Munkar dan malaikat Nakir toh:).
^^^Nee in biar palli😌✔️✔️^^^
Queenze mendengus sebal dan menyimpan ponselnya, dia langsung mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kamar inap Damian.
Sebelumnya dia mencium dahi Damian terlebih dahulu.
"Aku pergi dulu ya. Cepat sembuh" bisiknya penuh kelembutan, mengelus sejenak rambut Damian kemudian melanjutkan langkahnya.
Banyak rencana yang sudah tersimpan di kepala Queenze.
Dia akan membeli kado dan bolu untuk Damian, lalu setelah Damian sehat Queenze akan pergi ke Rumah Sakit lain untuk check up terakhir.
Lalu setelahnya Queenze bisa menikmati waktu indahnya berdua dengan Damian.
"Beliin susu bubuk aja kali ya, dia kan gaboleh minum kopi" Gumam Queenze. Tenang aja itu bukan kado yang dimaksud kok.
Queenze berjalan di sepanjang lorong rumah sakit, jam 9 pagi masih ramai Perawat dan Dokter yang lalu lalang. Dan banyak sekali anak-anak kecil berlarian disana.
"Jangan lari-lari di lorong!" tegur seorang perawat yang ber bet namakan Ahniar Putridita, rekannya tertawa pelan melihat ucapan Niar.
"Jangan terlalu keras, mereka masih anak-anak" cetus perawat satu lagi, namanya Nay Nanami Nataniel. Perawat keturunan Jepang-Indonesia yang bekerja disana.
Queenze menggeleng melihat tingkah anak-anak itu, dia teringat sama Damiannya.
"Aku harus cepat, nanti Dami ngamuk kalau bangun pas sendirian" bisik Queenze kemudian mempercepat langkahnya.
Damian tidak sendiri sih, ada Alisyah yang menjaganya. Tapi tadi Alisyah lagi tidur, makannya Queenze merasa sedikit tenang meninggalkan Damian disana.
Queenze berjalan ke parkiran Rumah Sakit, dan mencari mobil Mercedez Benz milik Damian. Mobil Queenze Avanza, besar jadi Queenze sedikit malas menyetirnya.
Dia masuk dan langsung mengendarai mobil Damian, dengan lancar dan tenang dia keluar dari perkarangan Rumah Sakit. Melihat rute jalan yang ada di mobil, Toko Kuenya tak jauh dari sini.
"Kue coklat, susu bubuk, susu pisang, lasegar, agar-agar, heumm...****** ***** gambar Monokrobo? Ah..enggak deh. Ntar dia ngamuk lagi"
Pernah sekali Damian mengamuk, hanya karena Queenze tak sengaja membelikannya sebuah boxer bergambar babi hitam putih yang sering disebut monokrobo itu.
Setelah selesai mengingat apa saja hal yang ingin dia beli, kini pikiran Queenzs tertuju pada hal yang demit kemaren katakan.
"Heum, aku sudah cari sih. Demit itu mirip seseorang, tapi aku lupa dan gak nemu."
Queenze sudah mencari data orang hilang atau penculikan, tapi tak ada yang sama dengan wajah si demit kemarin.
"Itu setan, bukan roh. Yak bener, orang kan kalau mati langsung dibawa ke alam barzah. Itu mah pasti setan" Racau Queenze.
Dia berusaha menyangkal apa yang sudah jelas menjadi kenyataan. Kedua tangannya mencengkram kuat stir mobil.
"Yahh...itu tidak mungkin" Gumamnya dingin, Damian gak mungkin ngelakui hal itu.
Queenze hanya menepis apa yang menakutinya, berusaha positive thingking ditengah kubangan Nething itu rumit.
Bagai maju kena ya mundur juga kena coeg.
Mercedez benz berhenti parkiran toko roti bernamakan 'Clover🍀' toko roti yang 1 roti kecil saja bisa seharga ratusan ribu. Tapi bagi Queenze itu tak seberapa.
Queenze masuk ke dalam, dan langsung menemui pegawai toko.
"Mbak, tolong Black forest 2 tingkat, 1 mbak" Ucapnya langsung tak berbasa-basi. Pegawai yang tengah mengelap kaca itu sedikit kaget.
Dia langsung membungkuk dan pergi, Queenze berjalan mengitari isi toko. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Waw, Dami suka cheese cake gak ya" Gumam Queenze.
Saat tangannya hendak mengambil Cheese cake di etalase, tak sengaka vas bunga yang senagaja diletakan di atas etalase tingkat 2 jatuh.
Prang!
Dan hampir menimpa kaki Queenze "Halah..hampir aja" Lirihnya, kemudian segera menjauh.
Tak mau berlama-lama, Queenze segera mengambil pesanannya dan keluar dari toko. Sebelum itu dia menunduk dan mengutip selembar uang 50 ribu di jalan.
Ciiiiit!
Brak!
Queenze mengerjab sejenak, dia belakangnya.
Tempat dia tadi berdiri sebelum mengambil uang limpol tadi, ada sebuah motor yang melaju kencang dan langsung menabrak dinding kaca Toko roti.
Asap mengepul dari motor itu "Haih..apa ini ulah demit itu lagi?" Gumam Queenze, dia langsung berlari cepat menuju mobilnya dan masuk.
Ponsel di dashboardnya bergetar, pertanda panggilan masuk. Queenze mengeluarkan mobil dari parkiran dan melajukannya, baru setelahnya mengangkag telepon.
"QUEEN DIMANA!? KOK DAMI DITINGGAL!!"
"Queen lagi dijalan, oh ya nanti ada Dokter yang mau ambil darah kamu buat di periksa. Takutnya kamu kena Copid"
"GAMAU IH! AKU KAN UDA DI VAKSIN PAS BAYI!! JADI KEBAL!"
"Yakan kamu masih bayi ini, jadi harus di Vaksin lagi ya"
"Grrrr!! Gamau-gamau!!"
"Damian, demi kamu dan juga aku sayang"
"Gamau!! Hiks..Dami gamau!!"
"Dami anak baik kan~"
"ENGGAK!! DAMI ANAK NAKAL!! HIKS..DAMI GAMAUUUU DAMI ANAK NAKAL!!"
"Yaudah kalau gitu aku mati ajalah, kamu gamau nurut" Gerutu Queenze bercanda, tapi bagi Damian itu seperti ancaman yang mengerikan.
Wajahnya sudah pucat pasi disana, tangannya yang memegang ponsel pun gemetar.
"G-gak..j-jangan gitu..Queen..ngomongnya jangan gitu.." Cicit Damian takut.
Queenze menghela napas, sepertinya dia terlalu keras.
"Makannya nurut ya sayang, nanti aku kasih sesua-" Mata Queenzw terbelalak saat ada seorang gadis menyebrang di depan mobilnya.
Alhasil Queenze melempar ponselnya dan banting stir ke kanan, yang tak lain beralih ke jalan yang berlawan arus.
TIIIIN TIIIIIN!!
"Queen kenapa-"
"Dami maaf.." Queenze memejamkan matanya, truk besar melaju dari depannya. Sang sopir nampak tak bisa mengendalikan truknya.
Klakson mobil dan teriakan warga bergema.
TIIIIIIIIN!!!!
BRAK!!!
Nut..nut..nut..nut..
Damian...tak bisa berkata-kata, terdengar jelas di telinganya perkataan maaf Queenze, teriakan, klakson yang beradu dan benturan keras.
Air mata mengalir dari kedua matanya
"Hiks..QUEEEEEEEEEN!!"
Benar...dunia Damian sudah hancur kali ini, semoga Queenze baik-baik saja, semoga Queenze tidak apa-apa, semoga Queenze tak meninggalkannya.
Damian tak bisa berpikir rasional lagi.
®^^®
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Mariana Ana
thor..yang ini jangan mati ya....cz d autis boy udah mati masak cast utamanya yang ini mati lagi thorr
2022-04-16
0
Iky Rizky
Bikin penasaran...
2021-12-24
0
.
gemes banget aaaaa😫😫💘💘
2021-12-08
0