Mereka sudah kembali bekerja seperti biasa, kesibukan yang melanda mereka di hari senin.
Membuat Damian pusing, apalagi dia belum mendapat asupan nutrisi.
Makannya sedari tadi dia marah-marah aja.
"Aku heran, Pak Damian ganas banget hari ini"
Telinga tajam Queenze tak sengaja mendengarnya, baru saja Queenze hendak keluar dari toilet, tapi dia malah mendengar gosip dari karyawan lain.
Jadi Queenze memilih untuk diam dan mendengarkan. "Iya tuh, mungkin karena hari ini hari senin kali ya" Celetuk yang lain.
Queenze tanpa sadar mengangguk, Damian sangat benci hari senin. Karena hanya dihari senin Damian tak akan mendapat jatah nutrisi.
Itu sudah perjanjian.
"Eh tau gak, ada 1 karyawan baru yang agak gila" Oke, Queenze penasaran karyawan seperti apa yang mereka bilang gila. Apa perempuan kegatelan kurang belaian?.
Gosip semakin memanas. "Oh ya? Gila gimana?" Tanya yang lainnya. Wanita tadi bersiap untuk memberikan beritanya.
"Dia karyawan laki-laki, tau kenapa aku bilang dia agak gila, itu karena dia sering berteriak tiba-tiba lalu jatuh" Queenze kira karyawan perempuan.
Tak lama para penggosip itu keluar, dan Queenze juga ikut keluar "Kalau seperti itu, bukan gila. Bisa jadi kan dia indigo" Gumam Queenze.
Kalau anak indihome itu kan memang begitu, suka teriak tiba-tiba karena kaget. Atau jatuh karena menghindari hantu atau setan, bisa jadi kan.
Queenze berjalan keluar dari kamar mandi, dan menuju lift pribadi milik Damian.
Tangannya mengetikan pesan pada Damian agar jangan marah-marah, nanti cepat keriputan.
Tak melihat jalan, membuat Queenze menabrak sesuatu. Seketika dia mendongak.
"Maaf" Ucapnya seketika dan mengambil jarak.
Pemuda lugu, yang berwajah teduh itu hanya tersenyum ramah dan mengangguk "Gapapa buk, ini juga salah saya" Ucapnya pelan.
Queenze memandang lekat wajah pemuda itu, terlihat asing. "Kamu karyawan baru ya" Ujar Queenze, pemuda itu mengangguk sekali.
"Berarti kamu itu yang tadi digosipkan. Katanya kamu suka teriak tiba-tiba ya" Ujar Queenze lagi, lebih baik dia tanyakan langsung sama orangnya.
Pemuda itu menunduk, wajahnya terlihat gugup. "M-maaf kalau itu mengganggu.." Cicitnya, Queenze langsung mengibaskan tangan kanannya.
"Ah bukan buat saya, tapi karyawan lain terganggu. Nanti saya ajukan pada Pak Damian untuk memindah tugaskan anda, agar karyawan lain tidak terusik" Ini solusi yang baik.
Queenze bisa melatih pemuda ini untuk menjadi asisten Sekretarisnya.
Jaga-jaga agar suatu saat Pemuda ini bisa menggantikan Queenze.
"Tapi...sa...ya..gak dipecatkan?" Tanya Pemuda itu dengan suaranya yang bergetar dan napas yang memberat. Ho...dia menahan tangisnya.
Mirip sama Damian ya, cengeng.
Queenze menggeleng sekali "Enggak kok, nanti kamu saya panggil lagi ya. Bereskan barang kamu dan saat istirahat nanti datang ke ruang Pak Damian. Siapa nama kamu?"
"Jerome Gewildan" Ucapnya pelan. Queenze mengangguk dan menepuk bahu Jerome 2 kali.
"Semangat Rom, mungkin nantinya hantu-hantu itu gak bakal ganggu kamu"
Jerome mendongak dan menatap Queenze tak percaya "Ibuk tau soal saya?" Tanya Jerome sedikit senang.
Queenze menggeleng "Saya hanya menebak saja."
Jerome sedikit kecewa, tapi dia bahagia karena ada yang berbaik hati padanya dan tak takut dengan kelebihannya.
"Makasih Buk" Ucapnya lembut diselingi senyum manisnya.
Queenze terpaku, dia benar-benar mirip Damian. Lucu ih, gemes Queenze jadinya "Yasudah, saya dulu ya" Ujarnya kemudian berjalan kembali.
Jerome mengangguk dan berbalik, memandang lekat punggung Queenze disertai senyum rahasianya.
Sedangkan Damian saat ini tengah bingung, dia harus membawa Queenze pergi berobat. Penyakit Queenze bukan main-main bahayanya.
"Queen...kenapa kamu gak bilang sama aku.." Lirih Damian seraya menelusupkan wajahnya di lipatan tangan di meja.
Bahunya bergetar, dan isakan tertahan terdengar. Dia tak mau kehilangan Queenze, hidupnya akan hancur jika itu terjadi.
Dan cara yang bisa dia tempuh tak lain adalah menyusul Queenze. Mau bagaimanapun caranya.
...........
Suasana di dalam ruangan Damian terasa dingin dan mencekam.
Pasalnya Queenze baru saja meminta seorang karyawan Divisi lain untuk menjadi Asistennya.
"Nah Pak Damian, kenalin dia adalah Jerome dari Divisi 4." Ucap Queenze memperkenalkan Jerome. Damian hanya diam bersidekap dada dan menatap penuh permusuhan pada Jerome.
Sedangkan Jerome pucat, bukan takut pada Damiannya. Melainkan pada hantu dibelakang Damian "Mohon kerja samanya Pak" Ucap Jerome pelan kemudian membungkuk.
Queenze menepuk bahu Jerome 2 kali, membuat si bayi besar melotot tidak percaya "Heh! Apaan tuh sentuh-sentuh" Sengitnya.
Matanya memicing tajam, membuat Queenze maupun Jerome tertawa kikuk "Ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya, tenang aja. Disana gak ada hantunya" Ucap Queenze.
Jerome mengangguk "Terima kasih Buk" ujarnya sopan.
"Uda kan? Yaudah. Queen ambilkan aku kopi hitam" Damian memerintah dengan nada ketus dan sebalnya. Bibirnya sedikit mengerucut melihat kedekatan antara kekasihnya dan parasit baru.
Queenze memiringkan kepalanya dan menatap bingung Damian. "Tapi anda kan gasuka ko-"
"Halah! Uda cepat ambilin"
Queenze mendengus kesal, dengan cepat dia berjalan menuju pintu dan keluar. Meninggalkan kedua pria tampan berbeda jabatan yang saling mengeluarkan aura tak mengenakan disana.
Damian berjalan mendekati Jerome, pria itu yang awalnya memasang wajah penuh keluguan dan ketakutan, kini memandang datar Damian "Cih, pake topeng ternyata" Sinis Damian.
Jerome menunduk, dengusan menjengkelkan terdengar. "Haha," tawanya pelan kemudian mendongak, menyugar rambut kepirangannya itu dan menatap remeh Damian.
Damian melebarkan seringainya, sudah lama Damian yang sebenarnya tak muncul. Selama ini Dami selalu mendominasinya, ya itu semua dilakukan agar Queenze tak takut padanya.
"Pak Damian, saya hanya ingin memperingati anda" Ujar Jerome santai. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana, dia mendapatkan kelemahan terbesar Damian.
Damian sendiri menaikan sebelah alisnya "Aku tak perlu peringatan darimu" Ujarnya datar. Jerome tak perduli, karena ini menyangkut hidup dan matinya Queenze.
"Tapi, anda akan menyesal seumur hidup anda. Sebab ini menyangkut dengan Buk Queenze yang sangat saya kagumi" Sepanjang Jerome berbicara, binar gelora penuh gairah muncul saat menyebut nama Queenze.
Damian terdiam, apapun yang menyangkut tentang Queenze adalah hal penting. "Katakan" Jerome tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi ini tidak gratis Pak" Jerome berjalan perlahan menjauhi Damian, kini kedua tangannya berada di balik punggungnya.
Damian mendecih, sudah pasti ada harga dibalik apapun itu. "Berapapun akan kubayar" Ucap Damian dingin.
Oke, Jerome sudah mendapat kartu emas. Dia tak berbalik dan memunggungi Damian "Anda sering membunuh orang kan" Ujarnya santai seraya sedikit menoleh dari punggungnya.
DEG!
Damian menegang, bagaimana Jerome tau. Selama ini tak ada yang mengetahui rahasia itu selain anak buah Damian "Bagaimana kau tau" sentak Damian emosi.
Jerome tertawa pelan sampai bahunya naik turun "Saya bisa melihat, banyak roh di belakang anda. Salah satunya adalah roh seorang gadis dengan dendam yang amat besar" Ingatan Damian dipaksa bekerja.
Damian...pernah membunuh seorang gadis dimasa sekolahnya dulu. Penyebabnya tak lain adalah karena gadis itu sudah membuat tangan Queenze berdarah.
Damian menggunakan alat untuk pahat kayu, dan menggunakannya di seluruh tubuh gadis itu. Seakan dia sedang memahat di sebuah kayu.
Jerome dapat merasakan aura gelap yang sangat besar pada roh itu. Keadaannya mengenaskan dan mengerikan, berulang kali Jerome melihat roh itu menatap tajam pada Queenze.
"Lalu..apa yang harus aku lakukan" Bisik Damian, sepertinya permasalahan tentang penyakit Queenze harus tergeser. Ini lebih bahaya.
Pertanyaan itu melebarkan senyum Jerome. "Anda, harus menjaga jarak dari Buk Queenze. Jika anda terus berdekatan dengan Buk Queenze, roh gadis itu akan semakin ganas dan berakhir dengan kematian"
Mendengar kata kematian, membuat Damian gemetar. Air mata sudah tergenang, membayangkan kematian yang sudah pasti tertuju pada Queenze.
"Kematian..." Bisiknya penuh kekosongan. Jerome mengangguk penuh dan berbalik, seringai disertai tatapan penuh gairah terbentuk "Yahhh, kematian Buk Queenze akan terjadi. Dan penyebabnya,"
Jerome menyentuh dagu Damian, dan mendongakan wajahnya. Air mata Damian sudah turun, mata penuh kepedihan bertemu dengan mata penuh gairah.
"Tak lain adalah kau, Damian Aelion. KAU AKAN MENJADI PENYEBAB KEMATIAN QUEEN!!"
"Aak..Q-Queen..a-aku..penyebabnya..ti-tidak..hiks.."
Yah, mental Damian sudah jatuh. Ini memudahkan Jerome untuk melangkah ke rencana selanjutnya. Yaitu menarik Queenze menjauh dari penyebab kematiannya sendiri.
®^^®
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Iky Rizky
Wihh,,, cerita nya keren.. Gk nisa ketebak!!! 👍👍👍
2021-12-24
0
Nailul Asyifa
dr bucin,psiko ma horor y...
2021-12-18
0
WD
kenapa jd horor thor
2021-12-05
0