Kejadian 2 hari yang lalu sudah dilupakan, dan Damian berjanji untuk tidak melempar barang ketika mengamuk.
Dan akibat rasa bersalah yang besar, membuat Damian sakit.
Dia demam, muntah, merengek dan menangis terus menerus. Tak mau ditinggal Queenze barang 1 menit, kemanjaan meningkat 100 kali lipat.
"Queen, kepala Dami pusing. Pijitin" Dia merengek, mendusel di perut rata milik Queenze yang tertutupi kemeja berwarna putih gading.
Queenze memeras kain putih yang basah akan air dingin.
Kemudian menempelkannya di dahi Damian, menghalau poni lepek Damian terlebih dahuluh.
"Dikompres dulu ya, biar panasnya turun" ujar Queenze. Damian menggerutu hal yang tidak jelas, kemudian bergerak untuk menatap Queenze dari bawah.
Tangannya dengan nakalnya masuk ke dalam kemeja Queenze.
Dia memberikan kode dengan tatapan melasnya, Queenze menghela napas lelah melihat itu.
"Kamu demam, jangan banyak tingkah" tegurnya tenang. Damian melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Susu" ucapnya pelan.
"Nanti aku buatin" jawab Queenze tak acuh.
Damian semakin melengkungkan bibirnya, air mata tergenang dari kedua onix gelapnya.
"Susu..Dami mau susunya" lirih Damian.
Queenze tak kuasa, Damian menggemaskan sekali disaat seperti ini.
Alis yang ditekuk, bibir melengkung ke bawah dan air matanya.
Tapi untuk sekarang Queen kuat, dia kuat menghadapi serangan ini.
"Enggak Dami, Queen gamau sebelum Dami minum obat" Queenze melanjutkan acara kompresannya.
Tak memperdulikan wajah melas Damian, dia kembali memeluk perut Queenze dan menangis disana.
"Hiks..Queen gak sayang Dami lagi..hiks..mau susu aja gak dikasih." isak Damian.
Menggemaskan sih, tapi tetap saja tak boleh.
Queenze mengelus rambut basah Damian, jujur jika dibilang Queenze sayang atau tidak pada Damian, maka jawabannya iya.
Queenze sangat menyayangi Damian.
"Nanti ya, Dami mau susu" paksa Damian yang terhalang perut Queenze.
Anggukan samar yang Queenze berikan menjadi jawabannya.
"Ya, nanti kalau kamu sehat ya"
Damian menggeram, dia mencubit pinggang Queenze sampai membuat wanita itu meringis.
"Sakit tau" gerutu Queenze, Damian tak perduli, dia kembali mendusel di perut Queenze.
Damian memang aneh kalau lagi sakit, bahkan sangat aneh. "Gimana kalau aku beliin kamu empeng, Jadi gausah nyusu lagi" usul Queenze.
Damian diam, kemudian melepas pelukannya dan kembali menatap Queenze dari bawah.
"Berani kamu, aku tarik ke kamar ya, awas aja" ancam Damian dengan suara beratnya, tatapannya tidak bercanda. Dia serius dengan ucapannya.
"Apaan sih"
"Lagian kamu, aku kan maunya nyusu! Bukan mau empeng!"
Queenze mengedikan bahunya, kemudian kembali mengelus rambut Damian.
"Potong rambut ya Dami, uda panjang nih" Ucap Queenze. Damian mengangguk, dia akan melakukan apa yang Queenze katakan.
Kecuali mengganti nimple Queenze dengan dot, selamanya tak akan terkabul. "Di botakin aja-"
"GAMAU!! NANTI AKU JELEK TERUS KAMU TINGGALIN!!" Damian langsung mengamuk dan mencubit pinggang Queenze lagi.
Queenze tertawa pelan, Damian paling anti dengan rambut botak. Itu sama sekali tidak keren, bisa saja Queenze meninggalkannya.
"Bercanda sayang"
"Hump!"
Beginilah kelakuan Damian, mood yang sangat cepat berubah. Dan keinginan untuk ***** yang sangat menggebu.
.........
Queenze mengelus kepala Damian, pria kesayangannya itu sudah tertidur dengan nyenyaknya setelah Queenze beri minum Parachetamol.
Dia harus segera pulang, Mom dan Dad nya sudah merongrongnya untuk pulang. Wajar saja karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam lewat 36 menit.
Memberikan kecupan singkat di bibir Damian, baru setelahnya dia berjalan keluar kamar.
Serta membawa tas miliknya.
Suasana hening menyapanya begitu berjalan di lorong. Menuruni tangga dengan perlahan.
"Kamu mau pulang Ze?" Queenze menoleh dan langsung menyalami Amira.
"Iya tante, soalnya uda disuruh pulang" jawab Queenze sopan.
"Kenapa gak nginep aja?"
"Em..gausah deh Tan, soalnya masih ada kerjaan yang belum selesai"
Amira mengangguk, dia merasa gagal menjadi seorang ibu karena Putranya sendiri menyusahkan orang lain.
"Maafin tante kalau uda ngerepotin kamu, hati-hati ya" lirihny sedih.
Queenze mengangguk disertai senyum manisnya. Kemudian berjalan menuju pintu rumah.
"Besok kamu ke sini lagi kan Ze?" Amira memastikan. Dia hanya takut jika Putranya mengamuk saat tak menemukan kekasihnya.
Queenze menimbang sebentar, kemudian mengangguk. "Tapi Queen datangnya agak siangan, soalnya mau ketemu klien di kantor Tan"
Amira paham, pasti sangat susah mengatur waktu. Harus ke kantor dan harus mengurus Damian "Langsung istirahat ya. Jangan sampai sakit" Pesan Amira.
Queenze mengangguk patuh, dia membuka pintu dan keluar.
Berjalan dengan tenang menuju mobilnya yang terparkir apik di halaman.
Belum juga dia sempat Queenze masuk ke mobilnya, teriakan cetar nan membahana sudah masuk ke telinganya.
Brak!
"NOOOOOOO QUEEN GABOLEH PULAAAAAAANG!!"
Queenze menghela napas pendek dan berbalik. Dia melihat Damian berlari tergopoh ke arahnya, dengan bye-bye fever di dahinya.
Wajahnya berkeringat dan air mata bercucuran.
Begitu sampai dia langsung menerjang Queenze dengan pelukan eratnya.
"Queen gaboleh pulang! Gaboleh-gaboleh-gaboleh!! Hiks...Queen gak sayang Dami lagi huhuuu...Queen jahat..hiks..Queen gak sayang Dami lagi" racauan memekan telinga terdengar.
Queenze mengelus rambut Damian dan memberikan 1 ciuman di pipinya.
"Kamu kebangun ya, bobok lagi yuk" bujuk Queenze lembut.
"Gak! Nanti kalau Dami bobok Queen pulang! Dami gamau bobok!!"
Ini akan menjadi malam yang panjang bagi Queenze, dia mengelus punggung Damian sampai membuat pria itu tenang.
"Queen gaboleh pulang.." lirihnya. Damian memejamkan matanya di bahu Queenze.
"Hm..Queen gak pulang, ayo balik ke kamar" bisik Queenze. Damian mengangguk dan melepaskan pelukannya.
Queenze memegang kedua bahu Damian dan menunggu pria itu sadar dari ngantuknya.
Damian mengucek matanya dan menguap. Kemudian memegang tangan kanan Queenze dan menariknya pelan.
"Ayo, Queen harus bobok juga" Bisiknya, matanya sayu dan berair. Efek mengantuk yang semakin merajainya.
Queenze tersenyum gemas, dia ikut saat Damian menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
Di dalam para maid dan kedua orang Damian berdiri dengan panik.
"Damian! Kamu jangan kebiasaan deh" Ucap Ziyel kesal. Pasalnya kelakuan putranya agak diluar nalarnya.
Damian tak acuh dan terus berjalan dengan Queenze di sebelahnya.
"Nanti aku mau susu, please.." Mohon Damian pada Queenze. Kenapa harus minta nyusu lagi disaat seperti ini.
Queenze meremat balik tangan Damian sampai membuat pemiliknya kaget.
"Hiks..sakit.."
"Maaf, aku gak sengaja" gumam Queenze dan mengendorkan rematannya lagi.
Damian melengkungkan bibirnya ke bawah, datang bulan yang Queenze alami sangat menyebalkan.
Damian tidak suka, Queenze jadi lebih galak. Seperti Ibu Tiri:(.
Keduanya sampai ke kamar, Damian langsung naik ke kasur, sementara Queenze sibuk membuat Susu Damian di pantry yang ada di kamar Damian.
Kalau katanya udah susu, pasti itu terus yang dia minta nantinya.
Gak berhenti-berhenti sebelum dapat.
®^^®
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
gr
.
2023-03-11
0
Iky Rizky
Untung si Queenza nya sabar,,, klo aku yg jdi pacar nya si Damian.. Lsg darah tinggi trus struk dech.. 😂😂😂
2021-12-24
0
WD
Thor jangan d buat ga normal Napa...klu masalah bucin aku seneng tp jangan kaya sakit jiwa...kasian Damian😁
2021-12-05
7