“Lula, kamu tidak punya antiseptik ya?”
Suara panggilan Dirga dari arah dapur terdengar. Ia sedang mencari antiseptik di kotak obat namun tak kunjung menemukan. Akhirnya kembali keluar dengan membawa kotak itu di tangannya. Duduk di sisi Lula dan meletakkan kotak obat ke atas meja.
“Aku akan keluar sebentar mencari obat untuk kamu.”
Lula melirik dengan ekor matanya. “Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri, ini hanya luka lecet.” Ia mengusap wajahnya dengan jari. Perih terasa menjalar ketika luka goresan kuku itu tersentuh.
“Tapi ini harus diobati. Tunggu di sini.”
Dirga meraih kunci mobil yang diletakkan di atas meja. Sebelum keluar dari pintu, ia menoleh ke arah Lula yang masih duduk menunduk di sofa.
“Kunci pintunya dan jangan dibuka sebelum aku datang.”
Lula mengangguk dan berjalan menuju pintu. Ia terdiam beberapa saat menatap mobil milik Dirga yang mulai menjauh. Entah harus senang atau sedih, sebab ini adalah pertama kali Dirga memberinya perhatian lebih dan melindunginya dari Alika.
Baru saja Lula akan menutup pintu, sebuah mobil sudah terhenti tepat di depan rumah. Mengingat pesan suaminya, Lula pun langsung mengunci pintu rapat-rapat dan masuk ke kamar.
Suara teriakan dari Alika terdengar beberapa kali, namun Lula seakan tak peduli hingga akhirnya Alika pergi setelah lelah berteriak.
*
*
*
“Auh! Ssh!” Lula mengaduh dan mendesis ketika bekas goresan di wajahnya tersentuh oleh kapas yang telah diolesi antiseptik.
“Perih ya?” tanya Dirga yang kini berjongkok di hadapannya. Lalu meniup bekas luka itu dengan lembut, hingga Lula dapat merasakan hangatnya hembusan napas sang suami yang menerpa wajahnya.
Berdebar? Sudah pasti. Mereka belum pernah sedekat ini sebelumnya. Hal yang membuat Lula merasa malu untuk mengangkat kepala menatapnya. Entah kemana sikap galak dan judes yang selama ini ia tunjukkan di hadapan Dirga. Bahkan, terkadang Lula tak segan mengusirnya saat naluri kemanjaan yang tak tersalurkan itu meledak.
Hampir setengah jam terlewati. Dirga terus meniup bekas luka pada tubuh Lula yang telah diolesi obat. Dirga meletakkan kapas bekas di keranjang sampah dan merapikan kotak obat. Saat akan berdiri, sesuatu menarik perhatiannya. Ia terdiam pada posisinya dan tersenyum tipis saat melihat gerakan-gerakan kecil dari perut istrinya. Ingin sekali Dirga menyentuhnya.
"Dia bergerak!" Ia hanya menunjuk perut dengan takjub. “Apa boleh aku menyentuhnya?” Dirga menatap Lula penuh harap
Lula mengangguk sebagai jawaban, membuat Dirga memberanikan diri menyentuh bagian perut yang terlihat menonjol karena adanya gerakan aktif bayi. Seolah sedang bermain dengan anaknya, Dirga mengikuti kemana gerakan itu.
"Lucu sekali." Ia tersenyum. Entah dorongan dari mana, Dirga merapatkan telinganya ke perut, sementara satu tangan membelai bagian yang terdapat gerakan lain.
"Apa kamu merasakan saat dia bergerak seperti ini?"
Napas Lula tertahan. Tubuhnya meremang tatkala Dirga mengusap-usap dan menciumi perutnya.
"Iya. Sangat terasa."
"Sakit?"
"Tidak. Aku merasa lega dan bahagia saat dia bergerak."
Dirga membenamkan ciuman lagi pada permukaan perut yang terlihat menonjol.
"Kamu tidak pulang? Hari sudah menjelang sore. Istrimu pasti mencari."
Mendadak tampak kesedihan di wajah Dirga. Ia mengangkat kepala dan menatap Lula lekat. "Maafkan aku, Lula. Seharusnya aku memperhatikanmu sejak awal. Aku tahu kamu sedih dan menutupi lukamu dengan sikap dingin."
"Lalu aku harus apa, Mas? Haruskah aku menyambutmu dengan bahagia saat kamu datang? Sementara kamu sendiri sudah berjanji kepada istrimu yang lain untuk menceraikan aku."
Dirga terdiam. Teringat beberapa bulan lalu ketika dirinya mengucapkan janji kepada Alika untuk menceraikan Lula setelah kelahiran anaknya.
"Tanpa kamu sadari, kamu sudah menjatuhkan talak kepadaku."
Lula mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kelopak matanya mengerjap bersamaan air mata yang mengalir.
*
*
*
*
"Talak mudhaf!"
Dirga terhenyak mendengar ucapan Allan tentang talak. Ia membeku dalam pelukan rasa bersalah. Ingin rasanya menghukum dirinya sendiri atas kebodohannya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe setelah Dirga menghubungi sepupunya itu untuk bertemu dan menanyakan beberapa hal.
"Talak mudhaf?" tanya Dirga dengan kerutan tipis di kening.
"Ya. Lula benar, tanpa sadar kamu sudah menjatuhkan talak kepadanya. Saat kamu mengucapkan janji akan menceraikan Lula, maka telah jatuh talak mudhaf yang akan berlaku begitu anak kalian lahir. Jadi pada saat anakmu lahir nanti, status kalian sudah bukan lagi suami istri."
Sesal terlihat di wajah Dirga. Bola matanya tergenang cairan bening. "Aku harus apa, Allan? Aku tidak mau kehilangan Lula."
"Kamu mencintai Lula?"
Dirga mengatupkan bibirnya. Ia pun belum dapat memahami perasaan apa yang ia miliki kepada istrinya itu.
"Aku tidak tahu."
Allan menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya pun ikut kesal dengan Dirga.
"Kalau kamu benar-benar mau memperbaiki hubungan, pulanglah ke rumah Lula dan meminta maaf. Beri pengertian kepada Alika bahwa kamu tidak bisa menceraikan Lula. Kalau kamu tidak bisa melepas salah satu dari mereka, maka berbuat adil lah. Jangan berat sebelah."
Dirga membisu. Tatapannya kosong. Pikirannya dihantui oleh kesalahan selama beberapa bulan belakangan ini, yang tidak pernah berbuat adil kepada Lula.
"Tapi apa Lula mau memaafkan aku setelah semua ini?"
"Salah kamu sendiri," sambar ayah dua anak itu. "Karena itulah seorang suami tidak boleh sembarangan mengucapkan kata pisah, karena dapat berakibat fatal."
"Bagaimana cara membatalkan talak itu. Tolong aku, Lan! Hanya kamu satu-satunya di keluarga kita yang tahu tentang pernikahanku dengan Lula."
"Aku tidak bisa banyak membantu. Hanya kamu sendiri yang bisa menyelesaikan masalah ini. Bertanggungjawab-lah pada kesalahanmu."
Dirga mengangguk mengerti.
"Sebenarnya ada beberapa pendapat tentang ini. Ada yang berpendapat harus ijab kabul ulang, ada juga pendapat bisa langsung rujuk dengan kembali bersama."
"Eng?" Alis Dirga saling bertaut sehingga membuat wajahnya terlihat bodoh di mata Allan.
"Maksudku kalau Lula mau memaafkan dan menerima kamu, kamu bisa langsung rujuk dengannya. Bisa juga melalui perbuatan, misalnya berhubungan badan, mencium atau mencumbu dengan Syah*wat."
Glek! Terdiam beberapa saat, Dirga tak tahu harus berkata apa. Berbulan-bulan pernikahannya dengan Lula, namun ia belum pernah memberi nafkah batin kepada istrinya itu.
"Kenapa lagi?" gerutu Allan.
"Bagaimana caranya, ya?" Dirga menggaruk kepalanya membuat Allan melotot kesal.
"Ya tinggal kamu kelonin. Begitu saja repot kamu!"
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
astagaaa allan,,, sepupu yg satu itu emg rada2.. karena kelamaan d bodohin alika 😃
2024-12-05
0
Galih Pratama Zhaqi
🤣🤣🤣🤣🤣 dasar oonn dipelihara kasih tau dady Al dia benr2 oon kuadrat
2024-11-27
0
Inaherlinasofia
dasar Allan kadang somplak 🤣🤣🤣🤣
2024-12-03
0