Alika menghunus tatapan kebencian saat melihat pintu ruangan itu terbuka. Lula muncul di sana dengan Dirga di belakang punggungnya. Tangannya mengepal mencengkram ujung pakaian demi mengurai rasa marah yang seakan mampu meledakkan hatinya.
Sedangkan di barisan kursi sebelah tampak Hito yang masih duduk tenang dengan koran di tangannya. Namun, sesekali mengarahkan pandangannya kepada Lula. Ia melipat koran dan meletakkan kembali ke rak di sebelahnya.
“Al ... Aku akan mengantar Lula pulang. Kamu kan masih tunggu antrian. Aku akan kembali sebelum giliran kamu.”
“Kamu akan meninggalkan aku sendirian di sini?” Alika tampak tak terima. Namun, ia masih sadar sedang berada di keramaian sehingga berusaha menahan amarahnya. Lagi pula ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. “Bukannya dia kemari dengan laki-laki itu?” ucapnya seraya menunjuk ke arah Hito. “Suruh saja dia pulang dengan orang yang mengantarnya kemari.”
“Tidak usah mengantarku, Mas.” Lula menyela dengan cepat. “Aku bisa pulang sendiri seperti saat aku ke sini tadi. Lagi pula ... Apa kamu tidak takut kalau dia mengancam mau bunuh diri lagi?”
Dirga terdiam, sementara Alika menatap penuh kemarahan mendengar ucapan Lula-- yang seakan sengaja menguji kesabarannya. Tak terima dengan sikap istri muda suaminya itu, ia mendorong Lula dan menarik rambutnya. Keributan pun tak terhindarkan. Perhatian semua orang tertuju kepada mereka.
"Apa-apaan kamu, Alika!" Dirga menghempas tangan Alika dengan kasar.
“Kamu membela perempuan tidak tahu malu ini?!” maki Alika seraya menjambak, mencakar dan mendorong tubuh Lula hingga nyaris terjerembab ke belakang. Beruntung Dirga dengan cepat menangkap Lula yang tak membalas dan memilih melindungi perutnya.
Tak puas, Alika ingin menyerang lagi, akan tetapi Dirga menghalangi dengan menarik Lula ke belakang punggungnya. Alika pun memukul-mukul dada Dirga sekuat tenaga. "Kamu jahat sama aku, Dirga! Kamu jahat!"
"Cukup, Alika!" bentak Dirga memeluk Lula demi melindunginya dari serangan Alika. Sedangkan Lula terlihat meringis mengusap bagian tubuhnya yang menjadi sasaran empuk Alika.
Beberapa petugas keamanan rumah sakit pun segera menuju ke sumber keributan. Memposisikan diri ke tengah-tengah Alika dan Dirga.
"Maaf, ini rumah sakit. Tolong jangan membuat keributan di sini," ucap salah satu pria berseragam biru navy itu.
"Maaf, Pak," ucap Dirga.
Tanpa memerdulikan Alika, Dirga merangkul Lula meninggalkan tempat itu. Alika yang tak terima segera menyusul. Begitu pun dengan Hito.
Hingga tiba di parkiran mobil, Alika masih terus mengejar.
"Dirga tunggu!" Alika menarik lengan Dirga. "Kamu tega meninggalkan aku hanya demi dia?"
"Karena kamu sudah keterlaluan, Al. Kamu tidak memikirkan Lula sedang hamil!"
Alika menatap penuh kebencian terhadap Lula. Matanya memerah menggambarkan rasa marah dan benci yang menyatu.
"Walaupun dia sedang hamil tapi aku adalah istri sah kamu, Dirga. Sedangkan dia hanya orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kita!"
Dirga menarik napas dalam-dalam demi mengurai rasa marah. Terlebih saat melihat Hito berada di antara mereka.
"Lula mungkin orang asing bagi kamu. Tapi tidak bagiku. Dia istriku ... ibu dari anakku."
Lula seketika mendongak menatap Dirga. Ada cairan bening yang menggenang di bola matanya. Lula juga dapat merasakan betapa eratnya Dirga memeluk bahunya.
Alika yang tak terima dengan pembelaan Dirga kembali berusaha meraih tubuh wanita itu, tetapi Dirga tak memberi celah sedikit pun.
"Kamu tega sama aku, Dirga! Sekarang kamu pilih aku atau ..."
"Stop, Al! Jangan memintaku memilih. Karena kamu akan tahu jawabannya."
Dirga membuka pintu mobil dan membantu Lula masuk. Sementara Alika mematung di tempatnya berdiri.
"Dirga!" teriak Alika ketika mobil milik suaminya telah menjauh pergi meninggalkannya.
*
*
Sepanjang jalan pulang, tidak ada pembicaraan antara Dirga dan Lula. Keduanya saling diam satu sama lain.
Jika Dirga terfokus pada jalan di depannya, di sisi lain Lula hanya menatap keluar jendela. Sesekali ia terlihat mengusap-usap lengan dan leher.
Setibanya di rumah, Dirga mendudukkan Lula di sofa dan berjongkok di hadapannya. Dengan panik ia memeriksa beberapa bagian tubuh istrinya. Alika mengamuk membabi buta dan mencakarnya di beberapa bagian.
"Kamu tidak apa-apa?" Sambil memeriksa beberapa bagian tubuh. Tampak kemerahan di sekitar lengan. Dirga pun mengusap wajah Lula yang terlihat bergaris merah. "Apa ini perih?"
Lula mengangguk.
"Kotak obatnya di mana? Biar aku obati."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
g sabar nunggu kedoknya alika kebuka,,, jgn2 sebenarnya alika yg jebak azka
2024-12-05
0
ferdi ferdi
ich jadi gregetan ke Alika pingin tak tak tampar pake sandal jepit/Panic//Panic/
2024-11-14
0
Adhe Ayori
Dirga terlalu lembek jg laki2,cinta ,taik, mkn tu cintamu k Alika dn lepas , ceraikan Lula itu LBH baik dr pd GK tegas bela anak.oon bnget jdi suami ,kaya raya tpi begok...
2024-10-28
0