Beberapa bulan kemudian ...
Dirga keluar dari kamar dengan terburu-buru, menyambar kunci mobil yang berada di atas meja dan mempercepat langkah kakinya.
“Bapak tidak sarapan dulu?” tanya Mbok Darmi begitu melihat majikannya keluar dengan tergesa-gesa.
Dirga menghentikan langkahnya saat telah berada di ambang pintu, menoleh pada wanita berusia 45 tahunan itu.
“Tidak, Mbok! Saya buru-buru,” jawabnya. “Bilang sama Alika saya tidak ikut sarapan. Saya ada urusan penting pagi ini.”
“Baik, Pak!”
Laki-laki itu tersenyum dengan ramah, kemudian menuju mobil. Leon baru saja memberi kabar bahwa Lula sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Hari ini, Lula dijadwalkan akan melakukan pemeriksaan kandungan dan Dirga ingin menemaninya. Karena selama beberapa bulan belakangan, Lula tak pernah mengizinkan Dirga menemaninya dalam hal apapun. Ia menutup diri setelah keributan yang dilakukan Alika di rumahnya beberapa bulan lalu, setelah mendapati Dirga di rumahnya.
Lula juga menolak semua fasilitas yang diberikan Dirga, selain rumah dan uang bulanan. Sebuah mobil dan sopir, bahkan seorang asisten rumah tangga yang ditunjuk Jeff untuk melayani Lula pun ditolak mentah-mentah.
“Dirga tunggu!”
Baru beberapa meter mobil melaju, suara panggilan Alika sudah terdengar. Dirga memukul setir sebagai bentuk kekesalan, diiringi dengan hela napas yang frustrasi. Alika selalu saja menghalangi setiap langkahnya.
“Ada apa, Al?”
Dirga membuka kaca jendela mobil. Ia terkesiap begitu melihat sang istri sudah berdandan rapi—lengkap dengan tali tasnya yang sudah tersemat di antara lengan dan ketiak.
“Hari ini aku mau kontrol ke dokter. Kamu bisa menemani aku?” tanya Alika yang tangannya sudah memegang gagang pintu mobil dan membukanya.
Dirga tampak terkejut, pasalnya Lula juga akan melakukan kontrol ke dokter kandungan dan kebetulan dokter yang menangani kedua istrinya adalah dokter yang sama.
“Bukannya jadwal kontrol kamu minggu depan ya?”
“Memang minggu depan sih, tapi beberapa hari belakangan aku merasa sering sakit perut. Jadi aku periksa hari ini.”
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Alika masuk ke mobil. Duduk dengan manis dan meletakkan tas di kursi belakang. Dirga terdiam beberapa saat dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Menyadari itu, Alika lantas menatapnya curiga.
“Kamu kenapa?” tanya Alika curiga.
“Tidak apa-apa.” Dengan raut muka malas, Dirga melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan Dirga terus diam. Tatapannya terfokus pada jalan, seolah tak ada Alika di sisinya.
“Mbok Darmi tadi bilang kamu ada urusan penting, makanya tidak sempat sarapan. Memang ada urusan penting apa?” Alika membuka suara setelah beberapa waktu saling diam.
“Kamu kan tahu aku banyak kerjaan di kantor. Pagi ini ada rapat penting,” Sahut Dirga ketus.
Mendengar nada bicara sang suami, Alika pun menatapnya. Tak terima jika Dirga bersikap dingin terhadapnya. “Kamu kenapa sih, sepertinya tidak senang mengantar aku.”
“Tidak usah terlalu mendramatisir segala sesuatu, Al. Pikirannya kamu itu selalu saja negatif.”
“Bagaimana tidak negatif kalau aku merasa kamu tidak senang mengantar aku.”
Dirga tak menyahut lagi. Sebab jika meladeni Alika yang kurang mampu mengontrol emosi, mungkin akan ada pertengkaran pagi ini di mobil. Maka Dirga memilih untuk diam.
****
Sambil membaca buku informasi seputar kehamilan, Lula duduk di antara pasien yang sedang mengantri. Senyum tipis terbit di bibirnya saat merasakan gerakan bayi yang aktif dari dalam sana. Ia meraba gerakan di perut yang tampak menonjol. Ya, usia kandungannya kini sudah memasuki bulan ke sembilan. Lula sedang berdebar-debar menantikan kelahiran buah hatinya.
“Berapa bulan usia kandungannya, Bun?” tanya seorang wanita yang juga sedang duduk di sebelahnya.
Lula tersenyum ramah menatap wanita itu. “Sembilan bulan, Mbak.”
“Wah sebentar lagi lahiran ya. Anak pertama?”
Lula menganggukkan kepala pelan.
“Wah kalau anak pertama itu biasanya suami jadi posesif ya, Bun. Dulu suami saya gitu waktu hamil pertama. Saya tidak boleh melakukan apapun,” ucapnya dengan sangat antusias. “Suami Bunda begitu juga, Nggak?”
Seketika senyum yang menghiasi wajah Lula meredup. Membayangkan biduk rumah tangganya yang diawali karena keadaan terpaksa . Hampir tak ada kenangan manis untuk dapat dikenang. Kehamilan ia lalui tanpa perhatian dari sang suami.
Dirga bukan tak ingin menunjukkan bentuk perhatian, Lula lah yang membatasi diri, karena sadar Dirga akan menceraikannya begitu anak dalam kandungannya lahir. Lebih buruk lagi, Dirga dan Alika mungkin akan menuntut hak asuh bayinya.
“Suami saya—” Ucapan Lula menggantung saat tatapannya tertuju kepada sosok yang baru duduk kursi antrian tak jauh darinya. Lula pun membuang pandangan ke sisi lain setelah menyadari Alika melayangkan tatapan permusuhan, sementara Dirga duduk di sisi Alika dengan tatapan tertuju pada Lula. Tangannya mengepal ketika menyadari beberapa kursi di belakang Lula ada Hito yang duduk santai dengan senyum penuh makna.
“Apa dia kemari diantar sama laki-laki itu?” bisik Alika sambil bersandar di bahu Dirga. Namun, Dirga memilih diam.
Lula memejamkan mata sesaat melihat betapa Alika berusaha memamerkan kemesraan di depan matanya. Sakit? Tentu saja. Alika seolah ingin menunjukkan bahwa Dirga miliknya seorang. Namun, Lula berusaha menutupi perasaannya dengan bersikap santai seperti biasanya. Seolah tak peduli, ia enggan menatap Dirga yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan darinya.
“Suaminya kenapa, Bun?” tanya wanita yang duduk di sisi Lula.
“Suami saya sibuk di kantor. Dia tidak bisa selalu menenami saya.”
“Oh ... Tapi tetap perhatian kan, Bun?”
Lula menghunus tatapan tajam ke arah Dirga, yang membuat laki-laki itu membeku.
“Perhatian. Dia juga rela melakukan apapun untuk istrinya, termasuk mengorbankan apapun,” jawab Lula dengan mengusap-usap perutnya.
Sesak kembali menghimpit di dada Dirga, seolah udara disekitar tak cukup baginya untuk bernapas. Setiap ucapan Lula bagai belati yang menghujam jantung.
Sementara Alika terus berusaha menambah panas suasana dengan bergelayut manja di lengan suaminya. Sebagai bentuk pembalasan kepada Lula yang kerap membuatnya naik pitam dengan sikap tenang seolah tak peduli, tetapi ucapannya sangat menohok.
“Ibu Lula Mariana!” Terdengar panggilan dari seorang perawat yang muncul dari balik pintu.
Lula menoleh ke sumber sumber suara, lalu meletakkan buku yang sejak tadi berada di pangkuannya ke rak buku. Berdiri dengan berpegangan pada kursi. Ukuran perut yang semakin membesar membatasi ruang geraknya. Ketika Dirga hendak berdiri untuk membantunya, Alika menarik lengan suaminya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Alika.
Dirga melirik Lula yang sudah berjalan masuk ke ruangan dokter.
“Aku harus menemani Lula.”
Tak terima jika Dirga menemani Lula, Alika menggenggam erat tangan suaminya dan memaksa Dirga untuk tetap di sana menemaninya.
“Tidak! Kamu tidak boleh menemani dia.”
Dirga menghempas tangan Alika dengan kesal.
“Jangan menguji kesabaran aku, Al! Sekarang lepaskan!”
****
Teman-teman tolong kasih tahu kalau ada typo yaaa... 🥰
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Krisna Dayu
cepet banget ya sdh sembilan bulan aja
2024-08-25
1
Asngadah Baruharjo
Dirga kesuwen
2024-07-12
1
Salma Suku
Dirga kurang tegas
2024-06-15
0