Saat ini Lula tengah berada di sebuah food court yang berlokasi tak begitu jauh dari rumahnya. Perubahan hormon di masa kehamilan membuatnya merasakan keinginan makan di luar kebiasaan. Bahkan kadang terpaksa keluar di malam hari demi memenuhi keinginan makan yang timbul secara tiba-tiba.
Sebenarnya, Lula bisa saja memesan melalui aplikasi ojek online, mengingat hari sudah malam. Namun, keinginan makan yang terkadang berubah membuatnya pergi dan memilih sendiri.
"Sepertinya enak-enak ya." Sambil tersenyum, ia mengusap-usap perutnya. Berjalan memperhatikan beberapa makanan berbeda dari setiap kedai yang berjejeran. Kemudian berhenti di sebuah stand makanan setelah menjatuhkan pilihan pada beberapa menu yang menggugah selera.
"Mbak, pesan ini satu porsi untuk makan di sini, terus satu porsinya untuk dibungkus ya," ucap Lula menunjuk menu yang tertera pada sebuah buku menu.
"Baik, Bu," jawab wanita yang berada di dalam kedai.
Lula duduk di meja setelah memesan beberapa menu, menunggu sembari membuka ponsel demi memastikan tidak ada pesan masuk. Tadi, sebelum keluar rumah, ia telah meminta izin kepada Dirga. Tetapi hingga kini, tak ada balasan pesan dari suaminya itu.
"Dibaca saja tidak, lalu apa yang kamu harapkan, Lula?" gumamnya menatap nanar layar ponsel.
Sebagai seorang wanita yang tengah berbadan dua, terkadang naluri kemanjaannya mendominasi. Tetapi, Lula telah melindungi hatinya dengan benteng yang kokoh, agar tak terluka lebih dalam bila Dirga menceraikannya nanti.
Tak lama berselang, seorang pelayan datang dengan membawa beberapa menu yang dipesan Lula. Baru menyesap aroma dari makanan itu saja sudah membuatnya membayangkan betapa lezat rasanya.
"Terima kasih, Mbak!" ucapnya dengan senyuman ramah.
"Sama-sama, Mbak. Selamat makan."
Lula baru saja akan menyantap menu yang tadi dipesan, namun kehadiran seseorang tiba-tiba mengagetkannya. Lula mendongakkan kepala untuk menatap sosok itu.
"Hito? Kamu sedang apa di sini?"
"Sama seperti kamu, aku juga mau makan." Tanpa meminta izin, ia meletakkan nampan makanan ke meja yang sama dan duduk di hadapan Lula.
"Tapi kamu kan bisa duduk di meja lain."
"Kamu tidak lihat, semua meja penuh?" balas Hito seraya melirik sekeliling stand makanan itu.
Pandangan Lula pun menyapu area food court. Memang benar, semua meja telah dipadati pengunjung. Lula baru tersadar, ini adalah akhir pekan sehingga pengunjung cukup ramai.
"Iya kan, penuh. Lagian cuma makan bersama, apanya yang salah, Lula?"
*
*
*
Di sisi lain, malam itu ... Dirga sedang lembur di kantor bersama Jeff untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Karena terlalu sibuk, ia bahkan mengabaikan ponsel yang telah berdering beberapa kali.
Dirga melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Beberapa waktu belakangan, ia jarang di rumah dan memilih menghabiskan waktu dengan bekerja.
"Kamu pulang duluan saja, Jeff. Biar saya yang selesaikan ini," ucap Dirga merapikan beberapa berkas yang telah selesai ia periksa. Menyusun dengan rapi tumpukan berkas di atas meja.
"Tidak apa-apa, Pak. Lagi pula saya tidak ada keperluan lain." Jeff melirik sang bos yang tampak berkonsentrasi membaca beberapa berkas. Sejak tadi ia lumayan terganggu dengan deringan ponsel sang bos. "Hape Bapak sejak tadi terus berdering."
"Biarkan saja. Paling Alika," ujarnya santai.
"Tapi bagaimana kalau itu dari Bu Lula?"
Dirga menatap Jeff dan tampak memikirkan sesuatu selama beberapa detik. Kemudian meletakkan kembali berkas ke atas meja.
Tangannya terulur meraih ponsel di dalam saku jas yang menggantung pada kursi yang didudukinya. Dahinya berkerut saat membaca nama yang tertera pada layar ponsel.
"Leon. Kenapa dia hubungi saya?"
Jeff seketika menatap Dirga. "Leon kan orang kita yang saya tugaskan mengawasi Bu Lula, Pak. Mungkin ada informasi tentang--"
Belumlah Jeff selesai berucap, Dirga sudah menggeser simbol hijau dengan tergesa. Mendekatkan ponsel ke telinga.
"Ada apa dengan istri saya?" tanya Dirga sesaat setelah panggilan itu terhubung.
Melihat ekspresi sang bos, Jeff hanya mengatupkan bibir demi menahan tawa. Karena tentunya ia tak akan berani tertawa di hadapan Dirga.
Ada apa dengan istri saya? Sudah diakui toh? Berlagak tidak peduli, tapi begitu dapat info langsung panik. Terserah Bapak saja lah.
"Bu Lula sedang berada di Festival kuliner nusantara, Pak! Sepertinya sedang makan. Barusan ada seorang pria yang duduk bersamanya," lapor Leon di ujung telepon.
Raut wajah Dirga mendadak berubah. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang sialnya tak mampu ia tutupi dengan sikap acuh tak acuh seperti biasanya.
"Terus awasi sampai saya datang!"
"Baik, Pak!"
Panggilan terputus, Dirga membuka pesan bergambar yang telah dikirim Leon sebelumnya.
Jemari Dirga terkepal melampiaskan kemarahan. Ia sudah menduga sebelumnya bahwa pria yang bersama istrinya adalah Hito.
"Brengsek!" Tanpa sadar ia membanting ponsel ke lantai hingga berhamburan, membuat Jeff terlonjak karenanya. Ia menatap ponsel milik sang bos, yang telah berserakan di lantai.
"Ada apa, Pak?"
"Lanjut besok saja kerjanya, saya ada urusan penting." Tanpa mengulur waktu lagi, laki-laki itu langsung berdiri dan menyambar jas yang menggantung di kursi. Meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Urusan dengan Bu Lula?"
"Bukan urusan kamu!" Tanpa menghiraukan Jeff, ia melangkah keluar. Namun kemudian berhenti saat telah di ambang pintu.
Dirga menoleh dan menatap Jeff. "Kalau Alika hubungi kamu dan tanya saya di mana, bilang saya lembur!"
"Ba-baik, Pak!" balas Jeff menganggukkan kepala.
Setengah berlari, Dirga memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Sepanjang perjalanan menggerutu kesal karena Hito seakan mengibarkan bendera perang dengan terus mendekati istrinya.
"Gila ya, sudah tahu istri orang masih terus didekati!" gerutunya.
Beruntung, lokasi keberadaan Lula sekarang tak begitu jauh dari kantor, sehingga hanya dalam beberapa menit perjalanan, Dirga telah tiba.
Ia bergegas turun dari mobil. Melirik kesana-kemari demi menemukan sosok Lula di antara pengunjung yang memadati stand makanan itu.
*
*
*
"Maaf, Hito. Sepertinya aku akan makan di rumah saja."
"Tapi kenapa, Lula?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih suka makan di rumah." Baru saja Lula akan berdiri, Hito sudah lebih dulu mencegah dengan meraih pergelangan tangannya dan meskipun Lula berusaha melepas, namun rupanya genggaman itu cukup erat.
"Hito, tolong lepaskan aku! Jangan seperti ini!"
"Kamu ini aneh, deh. Aku tidak bisa bertamu ke rumah kamu. Sekarang bertemu di sini, kamu juga keberatan. Apa salahnya kita makan bersama, lagi pula di sini ramai dan banyak orang. Bukan kita berdua saja."
"Aku tahu. Hanya saja aku benar-benar tidak nyaman." Ia berusaha melepas tangan Hito.
Tanpa disadari oleh Lula, sepasang mata tengah menatapnya dengan penuh kecemburuan. Dirga mendekati meja tempat Hito dan Lula berada.
"Lepaskan istri saya!" Dirga menghempas tangan Hito dengan kasar.
***
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
ecieeee.... istri saya 🤣😀
2024-12-05
0
Galih Pratama Zhaqi
cieee diakui ni istrinya bang ,,🤣
2024-11-27
1
Asngadah Baruharjo
hadeehhhhhhh
2024-07-12
1