Alika mengusap wajahnya yang mendadak berubah memucat, ia lantas menunduk dan tak berani lagi menatap mertuanya itu. Seakan tubuhnya terbelah menjadi dua bagian, tatapan Mama Diana begitu tajam.
Mama Diana melangkah dan berhenti tepat di hadapannya. Menatap pot antik miliknya yang pecah setelah ditendang Alika.
“Maaf, Ma. Aku tidak sengaja memecahkan pot bunga antik Mama.”
Tak mengindahkan permintaan maaf menantunya, tatapan Mama Diana masih begitu mengintimidasi. Membuat Alika mati kutu dibuatnya.
“Hari ini hanya pot bunga yang kamu pecahkan. Mungkin besok-besok kamu akan memecah keutuhan keluarga Mahendra juga,” ujarnya dengan nada menyindir. “Tapi mama tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Alika memberanikan diri menatap sang mertua, menantang tatapan permusuhan itu. “Maksud Mama apa? Mama mau menuduh aku berencana mengacaukan keluarga, begitu?”
“Memang itu kan niat kamu menikah dengan Dirga sejak awal?”
Alika membuang pandangannya ke arah lain. Kemarahan yang tertahan terlihat jelas di matanya yang mendadak tergenang oleh cairan bening. “Mama kenapa sih, aku tahu Mama tidak pernah menyukai aku sejak awal menikah dengan Dirga dan malam ini Mama dengan sengaja menyindir aku karena belum juga bisa memberi penerus untuk keluarga Mahendra. Apa sebenarnya yang Mama inginkan?”
“Hanya satu yang mama mau dari kamu ...” Mama Diana menjeda ucapannya dengan tarikan napas. “Lepaskan Dirga!”
Rasanya Alika tak percaya mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Tangannya terkepal hingga gemetar. “Apa? Mama minta aku meninggalkan suami aku?”
Mama Diana lantas mengangguk. “Karena kamu tidak tulus mencintai Dirga. Kamu sudah mengikat dia dengan janji yang tidak bisa dia ingkari. Kamu membuat Dirga membayar kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. selain itu—”
“Mama, stop! Tolong jangan teruskan.” Dirga tiba-tiba hadir dan membuat perdebatan itu terhenti. Alika menatap Dirga yang menghampirinya.
“Aku mau pulang, Dirga! Kamu lihat sendiri mama yang tidak pernah bisa menerima aku di keluarga kamu. Mama bahkan tega meminta aku meninggalkan kamu.” Alika menatap Mama Diana dengan derai air mata. “Padahal kalian semua tahu, aku hanya korban dari kakak kamu yang bejat itu!”
Alika mengusap air mata, lalu beranjak pergi meninggalkan Dirga dan Mama Diana. Menuju mobil dan masuk lebih dulu menunggu Dirga. Sementara Dirga menatap Mama Diana.
“Mah ... Aku mohon jangan menekan Alika seperti itu. Aku tahu Alika banyak melakukan kesalahan, tapi dia itu korban dari perbuatan bejat Kak Azka.”
“Dan kamu rela membayarnya seumur hidup sampai menutup mata dan telinga, begitu? Sedangkan Alika menggunakan dosa Azka untuk menekan kamu!”
“Mah ... Anggap saja itu kompensasi untuk Alika. Dia sudah hancur karena perbuatan Kak Azka.”
Mama Diana mengusap ujung matanya yang berair. tak ingin berdebat semakin jauh dengan putranya. “Sudahlah, Dirga ... Lebih baik kamu susul saja istri kamu itu. Percuma juga mama bicara.”
Dirga mengangguk pelan, meskipun rasa bersalah tersirat di wajahnya. “Maafkan aku, Mah.”
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Alika terus menangis terisak. Dirga sesekali menatapnya dan mencoba menenangkan, tetapi Alika semakin tersedu.
“Sudah, Al. Jangan menangis lagi.”
“Bagaimana aku tidak menangis, kamu lihat sendiri bagaimana mama memperlakukan aku.”
“Kamu dan mama hanya saling tidak mengenal lebih dekat. Aku yakin mama tidak bermaksud seperti yang kamu pikirkan.”
"Kamu membela mama?" ucap Alika kesal.
"Bukan, Al. Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya tidak mau salah paham antara kamu dan mama berkepanjangan."
Alika meraih selembar tissue dan mengusap air matanya. "Aku hanya takut kamu akan meninggalkan aku. Kamu dengar sendiri tadi mama bilang apa kan? Dia mau aku meninggalkan kamu. Kalau mama tahu tentang Lula, dia akan meminta kamu menceraikan aku dan memilih Lula. Apa lagi sekarang Lula sedang hamil."
Dirga terdiam dan fokus pada jalan di depan.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku demi Lula kan?" ucap Alika penuh harap. "Azka sudah menghancurkan aku dan kamu berjanji akan menebus kesalahan Azka."
"Tolong jangan ungkit tentang Kak Azka lagi. Bukankah aku sudah berjanji atas nama Kak Azka, kalau aku yang akan menanggung semua kesalahannya? Apa itu tidak cukup?"
Alika membungkam.
Melewati sebuah jalan yang cukup padat, Dirga memperhatikan keadaan sekitar. Melajukan mobil dengan pelan. Tiba-tiba sosok yang berdiri di sisi jalan membuatnya terpaku.
“Lula?” gumam Dirga membuat Alika menoleh. Wanita itu pun mengikuti arah yang ditatap suaminya. Benar saja, di sisi jalan tampak Lula sedang berdiri di depan sebuah swalayan dengan paper bag di tangannya. Sepertinya ia baru saja berbelanja kebutuhan dapur.
Dirga menepikan mobil, terdiam sebentar menatap Lula melalui kaca spion. Menyadari itu, Alika pun terlihat sangat kesal.
“Al ... Tidak apa-apa kan, kalau Lula satu mobil dengan kita.”
Alika tampak enggan, terlihat dari mimik wajahnya. “Dia kan bisa naik taksi, Dirga.”
“Ini sudah malam dan tidak baik kalau dia pulang sendirian. Ayolah Al ... Jangan keras hati begitu.”
“Baiklah, lagi pula kamu sudah berjanji akan menceraikan dia setelah anaknya lahir kan?”
Dirga tak menyahut. Ia segera membuka pintu mobil dan turun.
***
Lula baru saja akan memesan taksi online melalui ponsel ketika Dirga tiba-tiba hadir di hadapannya. Ia cukup terkejut melihat suaminya ada di sana, sehingga selama beberapa saat mereka diam dan saling tatap satu sama lain. Lula lantas menundukkan pandangan, merasa tatapan Dirga kali ini berbeda dari biasanya. Tangannya yang menggenggam ponsel perlahan bergerak turun.
“Kamu habis belanja ya?” tanya Dirga setelah melihat isi paper bag yang berada di sisi Lula.
Lula mengangguk pelan, masih dengan tatapan yang tertuju pada jalan dan respons dingin itu mampu membuat Dirga merasa merinding. Lula tak pernah menunjukkan sikap berlebihan di hadapannya, tak pula terkesan berharap dicintai. Dingin dan acuh tak acuh seperti biasanya.
“Setelah ini kamu mau ke mana lagi?”
“Pulang.” Sebuah jawaban singkat yang membuat tubuh Dirga terasa meremang.
“Aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik kalau kamu pulang sendiri di malam seperti ini.”
Lula mengalihkan pandangannya dari jalanan dan kini menatap Dirga. “Kamu mengerti kalau pulang sendirian itu berbahaya untuk aku. Padahal selama ini aku tinggal seorang diri tanpa siapapun. Jadi apa yang harus aku takutkan?”
“Lula, please!” ujar Dirga. “Ayo aku antar pulang.” Ia meraih paper bag di sisi Lula dan berjalan menuju mobil yang terparkir di sisi jalan.
Sementara Lula mengikuti di belakangnya, melihat Dirga yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang.
“Ayo naik.”
Tatapan Lula terfokus kepada sosok wanita yang duduk di depan. Walaupun tak melihat wajahnya, namun ia dapat menyakini bahwa wanita itu adalah madunya. Lula pun naik ke mobil dan meletakkan tas di sisinya.
Mobil perlahan melaju menerobos padatnya lalu lintas. Lula harus menjadi penonton tingkah manja Alika yang terus merayu memanja kepada Dirga, seolah sengaja memperlihatkan bahwa dirinyalah pemilik tubuh itu.
"Lula, maaf ya ... Karena Dirga menghabiskan waktunya hanya untuk aku, padahal kamu juga istrinya."
Lula membuang pandangan ke sisi kanan ketika Alika hendak mencium pipi kiri Dirga, meskipun Dirga tampak menghindari ciuman itu.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak mengharapkannya," jawab Lula dingin.
Dirga seketika melirik Lula melalui pantulan kaca spion yang menggantung di langit-langit mobil. Ucapan frontal itu terasa menyesakkan dada.
***
Hai teman-teman tersayang ... Karena ini adalah karya lomba, jadi aku menulis sesuai outline. Maafin kalau bikin emosi naik turun kayak anuu. wkwkk
Jadi akan waktunya kedok Alika terbongkar oleh perbuatannya sendiri layaknya bom waktu yang meledak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Aku mengucapkan sangat banyak terima kasih kepada teman-teman yang tetap menunggu kelanjutan ceritanya. Maafkan segala kekurangan yang terdapat dalam cerita ini, baik alur, karakter tokoh, penulisan maupun segala typo.
Salam sayang untuk kalian semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Usmi Usmi
kenapa sih laki2 pinter berbisnis tapi kadang2 bodoh tidak bisa membedakan mana yg baik dan yg buruk Kessel
2024-11-10
0
Sulis Tyawati
aq suka sikapmu lula... 😘
2024-12-05
0
Normila Aspul Anwar
selidiki lagi Dirga,,barangkali Azka TDK slh,,namun di manufulasi oleh slika
2024-09-06
0