“Dirga!” Mama Diana mengguncangkan lengan putranya pelan, setelah selama beberapa menit terdiam menatap pintu rumah yang tertutup. Dirga tersadar dari lamunan singkatnya, menatap Mama Dian dan tersenyum.
“Eh, Mama ... Kenapa tadi?”
Wanita itu tampak menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkah putranya. “Kamu ini kenapa, Nak? Dari tadi melamun.” Ia menatap rumah minimalis itu. “Sebenarnya kita mau kemana?”
“Ma-maaf, Mah. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini.”
Dirga menyalakan mesin mobil untuk segera pergi. Namun, seketika terhenti ketika matanya menangkap sosok Hito keluar dari sebuah mobil tak jauh dari lokasinya berada. Dirga dan terdiam dan mengamati.
Itu kan Hito. Mau ke mana dia? batin Dirga bertanya.
Sorot matanya menyala memancarkan api kemarahan saat menyadari Hito sedang beranjak menuju rumah Lula. Laki-laki itu tampak menekan bel dan menunggu beberapa saat. Kemarahan Dirga kian memuncak ketika melihat buket mawar merah di tangan Hito yang disembunyikan di belakang punggung.
Kurang ajar. Jadi dia mau mendekati Lula? Padahal dia tahu Lula itu istriku.
Jemari Dirga mencengkram kuat setir mobil hingga urat-urat di tangannya terlihat menonjol, alisnya saling bertaut dengan mata melotot tajam. Mama Diana yang duduk di sisinya tampak heran, tetapi tak begitu menghiraukan gelagat putranya dan memilih terfokus dengan ponsel di tangannya. Ia sedang berkirim pesan dengan para kerabat di grup WhatsApp keluarga.
Pintu terbuka, membuat Dirga menatap intens wanita yang muncul dari balik pintu. Sayangnya ia tak dapat mendengar obrolan dua orang itu karena terhalang jarak. Sehingga Dirga hanya dapat menebak-nebak.
“Hito?” Lula tampak heran ketika membuka pintu dan mendapati Hito di sana.
“Hai Lula. Apa kabar?” sapa Hito dengan senyum ramah. Ia menyodorkan buket mawar merah di tangannya, membuat Dirga merasa panas bagaikan dibakar api dan melampiaskan dengan memukul setir mobil dengan kesal.
“Brengsek!” maki Dirga sehingga Mama Diana menatapnya.
“Kamu kenapa? Siapa yang brengsek?”
“Ti-dak apa-apa, Mah. Ini Jeff tidak balas pesan,” ujarnya berasalan seraya menunjuk ponsel di pangkuannya.
Dirga menatap kembali Lula yang masih berdiri di ambang pintu. Lula hanya terdiam menatap bunga pemberian Hito, namun tak menerima, tak pula mempersilahkan Hito masuk ke rumah.
“Apa ini? Kenapa kamu kasih aku bunga?” tanya Lula menatap bunga di tangan Hito.
“Aku pikir kamu pasti suka bunga, jadi aku membawakannya untuk kamu.”
“Tapi kamu tahu dari mana rumahku?” Lula terheran, sebab ia merasa tak pernah memberitahu Hito di mana alamatnya.
“Waktu itu kamu tidak mengizinkan aku mengantarmu pulang, padahal aku sangat ingin tahu kamu tinggal di mana. Jadi aku diam-diam mengikuti.” Hito menatap Lula lekat. “Jadi aku tidak boleh masuk? Kamu juga tidak terima bunga pemberian aku.”
Lula menundukkan kepala seolah enggan menatap laki-laki di hadapannya. “Maaf, Hito. Aku rasa sudah jelas waktu itu, aku tidak bisa menerima tamu laki-laki di rumahku. Apa lagi suamiku sedang tidak ada di rumah. Dan maaf, aku juga tidak bisa menerima bunga pemberian kamu.”
Kekecewaan terlihat di wajah Hito karena penolakan itu, tetapi berusaha ditutupinya dengan senyum.
“Maaf, kalau aku sudah lancang.” Tangannya perlahan bergerak turun. “Tapi bukannya waktu itu istri pertama Dirga bilang—”
Belum selesai Hito mengucapkan sesuatu, Lula sudah memotongnya. “Tentang apapun yang dikatakan istri pertama suamiku, itu adalah urusan kami. Tolong jangan melewati batasmu. Aku sudah menikah dan tidak pantas kalau kamu menemui istri orang. Jadi tolong pulanglah.” Tanpa menatap Hito, Lula menutup kembali pintu rumahnya.
Hito tampak cukup kecewa dengan penolakan itu. Ia bahkan belum beranjak dan masih berdiri mematung di depan pintu dengan bunga di tangannya. Melihat itu, Dirga bersorak dalam hati. Meskipun tak dapat mendengar pembicaraan antara Lula dan Hito, tetapi ia sudah menebak jika Hito baru saja mendapat penolakan dari Lula.
“Dirga ... Kita ngapain di sini sih? Kepala mama pusing ini.” Mama Diana memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dua belas jam di pesawat membuatnya cukup lelah.
“Syukurin kamu!” ujar Dirga dengan senyum penuh kebanggaan.
“Bilang apa kamu barusan?” pekik Mama Diana membuat Dirga terlonjak. Gelagapan, dengan gerakan refleks membungkam bibirnya dengan jari.
“Bu-bukan Mama. Aku ... cuma sedang memikirkan sesuatu."
Mama Diana menghembuskan napas panjang, menatap putranya penuh selidik. “Kamu kok jadi aneh begini, Nak? Tidak biasanya kamu seperti ini. Apa yang sudah dilakukan Alika kepada kamu?”
Bukan Alika, Mama. Tapi Lula!
“Maaf, mah. Aku sedang tidak bisa berkonsentrasi. Banyak masalah di kantor.” Ia tersenyum getir menatap Mama Diana.
“Ya sudah cepat pulang, mama mau istirahat.”
“Iya, Mah.” Ia melirik Hito yang telah menjauh dari rumah Lula dan naik ke mobilnya. Dirga tersenyum senang, lalu melajukan mobil meninggalkan rumah Lula.
Sementara Mama Diana yang cukup heran melihat gelagat aneh putranya hanya berdecak heran, sambil sesekali menatap rumah tak jauh dari tempat Dirga berhenti tadi.
Setibanya di rumah Mama Diana, Dirga membantu menurunkan koper-koper. Seorang pria juga tampak menyambut dan membawa koper masuk ke rumah.
Mama Diana meraih sebuah koper kecil di kursi penumpang belakang, lalu menyeretnya memasuki rumah.
Dirga mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menghubungi seseorang.
“Halo Jeff. Saya boleh minta tolong?” ucap Dirga sesaat setelah panggilan itu terhubung.
“Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?”
“Tolong kamu hubungi yayasan, minta mereka kirim seorang asisten rumah tangga ke rumah Lula. Satu lagi, kirim orang untuk mengawasi Lula. Saya mau laporan dia ke mana dan siapa saja yang menemuinya.”
“Baik, Pak.”
Sambungan terputus, Dirga tersenyum senang. Di tempat lain, Jeff tampak heran setelah menerima panggilan dari sang bos.
"Kan aneh, Bu Lula yang tidak macam-macam diawasi, sedangkan Bu Alika yang kelakuannya tidak benar malah dilepas bebas."
***
Malam ini Mama Diana mengadakan makan malam di rumah dengan mengundang kerabat terdekat. Dirga dan Alika juga telah tiba, meskipun tadi di rumah Dirga harus beberapa kali memaksa, sebab Alika enggan bertemu dengan mama mertuanya itu. Bahkan di meja makan, Alika lebih banyak diam seolah menghindari pembicaraan dengan Mama Diana.
Wajah Alika menekuk sesekali melirik Mama Diana yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki dari salah satu kerabatnya. Ia melirik Dirga yang tengah berada tak jauh darinya, sedang mengobrol penuh canda dengan kerabat lain.
“Lucu sekali anak kamu ini, Giany. Berapa bulan usianya?” tanya Mama Diana mencubit gemas pipi bayi itu.
“Empat bulan, Tante,” jawab wanita itu dengan ramah.
“Uh, lucunya. Allan pasti sangat bahagia, ya. Sekarang punya dua anak yang lucu-lucu.” Mama Diana melirik Dirga. “Dirga, kapan ya mama bisa gendong cucu? Lihat deh, Aby lucu kan,” ucap Mama Diana penuh harap—membuat Dirga tersedak makanan.
Tangan Alika terkepal di bawah meja. Sejak tadi ia merasa mama mertuanya itu sedang mengibarkan bendera perang. Ia bahkan sengaja meminta cucu dari Dirga di hadapan seluruh keluarga.
“Maaf, aku ke depan sebentar.” Tak tahan dengan sikap mertuanya, Alika berjalan keluar meninggalkan semua orang. Mendengus marah, menendang pot antik milik Mama Diana hingga pecah.
Wanita itu berusaha mengatur napasnya yang memburu. Menjambak rambut dan menghempas tangannya ke udara sebagai pelampiasan kekesalan.
“Arrghh! Dasar perempuan tua. Dia pikir aku senang apa diundang kemari. Dia pakai singgung-singgung tentang anak segala. Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan padanya!”
“Memang apa yang mau kamu lakukan terhadap Mama, Alika?”
Kelopak mata Alika melebar mendengar Suara Mama Diana yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
“Ma-Mama?”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Galih Pratama Zhaqi
nah iya itu bos mu memang orng yg aneh bin ajaib jeff 🤭
2024-11-27
0
Asngadah Baruharjo
lempar Alika ke pasar loak aja
2024-07-12
1
C2nunik987
kirim Alika ke neraka mama 😂😂😂
2024-07-07
0