Beberapa hari setelah Lula diizinkan pulang oleh dokter, akhirnya Alika pun diperbolehkan pulang ke rumah. Selama perjalanan, tak ada pembicaraan antara Dirga dan Alika, meskipun beberapa kali Alika mencoba bermanja-manja dengan bersandar di lengan Dirga yang sedang menyetir.
“Kamu kenapa sih, sejak tadi mendiamkan aku terus?” tanya Alika merajuk. Namun, Dirga tak menyahut seolah pikirannya melayang entah ke mana. “Dirga!”
“Please, Lula! Aku sedang menyetir!”
Mata Alika berkilat marah setelah mendengar suaminya salah menyebutkan nama. Helaan napas panjang pun terdengar menyiratkan kekesalan memuncak.
“Lula? Jadi sejak tadi memikirkan wanita itu sampai mendiamkan aku?”
Dirga terperanjat setelah menyadari salah menyebut nama. Gelagapan, ia melirik Alika sekilas, lalu kembali terfokus pada jalan di depan.
“Memangnya kenapa, Al. Aku cuma salah menyebut nama kamu sudah semarah itu. Apa aku tidak boleh salah sedikit saja?”
“Masalahnya kamu menyebut nama wanita lain. Istri mana pun akan marah kalau suaminya menyebut nama wanita lain.”
“Dia bukan orang lain. Lula adalah istriku,” ucap Dirga dalam batin.
“Aku minta maaf, Al. Aku tidak sengaja.” Meskipun telah meminta maaf, namun tak lantas membuat Alika berpuas diri. Ia tetap mengomel sepanjang jalan menuju rumah, melampiaskan kekesalannya.
Mobil memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu. Dirga langsung membuka pintu mobil dan turun. Mengeluarkan koper milik Alika yang ada di bagasi belakang. Alika lagi-lagi dibuat kesal ketika Dirga berjalan dengan santai menuju pintu dengan menyeret koper.
“Aku harus berbuat sesuatu. Dirga sekarang mulai berubah sejak mengenal Lula. Biasanya dia akan membukakan pintu mobil untuk aku. sekarang dia seperti melupakan aku.”
Alika menarik napas dalam demi memenuhi kebutuhan oksigen dalam paru-parunya. Perlakuan Dirga seakan menegaskan jika dirinya tak lagi menjadi ratu bagi suaminya itu. Alika lantas turun dari mobil, lalu mempercepat langkahnya menyusul.
“Dirga, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini aku merasa kamu sangat berubah sama aku. Bahkan tadi kamu tidak membukakan pintu mobil untuk aku.”
Meletakkan koper di dekat sofa, Dirga lalu berdiri menghadap Alika. “Maaf, Alika. Aku buru-buru. Mau jemput mama di bandara.”
Alika seketika membungkam. Ia hampir lupa bahwa hari ini mertuanya akan tiba dari luar negeri. Padahal jauh dalam lubuk hati, Alika berharap tak pernah lagi bertatap muka dengan ibu dari suaminya itu.
“Kenapa harus kamu yang jemput? Bukannya di rumah mama ada banyak sopir ya?”
“Memangnya kenapa kalau aku yang jemput mama?” tanya Dirga membalas tatapan Alika. “Kenapa aku merasa kamu tidak senang dengan kedatangan mama?”
Alika terperanjat, meraba punggung lehernya dengan gelagapan. “Aku bukannya tidak senang. Tapi kamu tahu kan, mama kamu tidak pernah menyukai aku sejak awal kita menikah.”
“Bukan mama. Tapi kamu yang tidak mau menjalin hubungan baik dengan mama.”
“Bagaimana aku mau menjalin hubungan baik dengan mama, kalau mama sendiri tidak pernah berusaha bersikap baik terhadap aku?” Alika lagi-lagi mendengus, membuang pandangannya ke arah lain seraya menyilangkan tangan di depan dada. Dirga yang sudah hafal dengan bahasa tubuh istrinya hanya dapat menggelengkan kepala.
“Al ... mama itu orangtua kita. Kamu sebagai anak yang seharusnya berusaha bersikap baik dan mengambil hati mama. Tapi yang kamu lakukan selama ini malah sebaliknya!”
Alika mendadak diam dan kehabisan kata-kata. Ia pasrah ketika Dirga meninggalkannya untuk menjemput mertuanya.
***
Di bandara ...
Dirga mencium punggung tangan Mama Diana sesaat setelah bertemu di lobi. Hampir enam bulan lamanya mereka tak bertemu karena mama Diana lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.
Bisnis keluarga Mahendra tersebar di beberapa negara di Asia dan Eropa, sehingga membuat mama Diana sibuk dan jarang berada di Indonesia.
“Mama apa kabar?” tanya Dirga tanpa melepas pelukan pelepas rindu itu.
“Baik, Nak. Kamu sendiri?”
“Baik, Mah.” Dirga melepas pelukan dan menatap mama Diana dengan senyuman.
Mama Diana kemudian melirik kesana-kemari seolah sedang mencari sesuatu. Namun tak juga menemukan. Raut wajahnya pun mendadak berubah datar. “Di mana istri kamu?”
“Di rumah,” jawab Dirga.
“Dia tidak tahu mama mau kembali hari ini?” tanya Mama Diana dengan nada ketus. Ia benar-benar ingin menunjukkan betapa dirinya tak menyukai menantunya itu.
“Tahu, tapi Alika sedang sakit. Jadi dia istirahat di rumah.”
"Selalu alasan sakit. Mama sudah hafal."
Dirga menundukkan kepala, ia pun tahu Mama Diana tidak pernah menemukan kecocokan dengan Alika.
"Maafkan Alika, Mah. Ayo kita pulang." Dirga kemudian menyeret koper milik Mama Diana menuju mobil yang berada di parkiran.
Sepanjang jalan mereka membicarakan banyak hal mengenai rumah tangga Dirga dengan Alika.
"Kamu itu kenapa sih, Nak. Kalau tidak bahagia kenapa tidak bercerai saja. Kamu juga butuh seorang istri yang bisa membahagiakan kamu. Lah, kalau istri model si Alika itu apa kamu bisa bahagia?"
"Mah ..." Sambil menyetir, Dirga sesekali melirik Mama Diana dengan pasrah.
"Kamu sudah terlalu banyak berkorban. kamu juga butuh bahagia, Nak."
"Aku bahagia, Mama," ucap Dirga pelan.
"Jangan bohong! Bibir kamu boleh berkata bahagia, tapi hati kamu bagaimana? Jangan bilang kamu mencintai Alika karena mama tahu itu tidak benar," sambar Mama Diana dengan menohok.
"Aku mencintai Alika. Awalnya memang berat, tapi sekarang aku sudah terbiasa."
"Terbiasa karena terpaksa. Begitu maksud kamu, kan?"
"Mah ..."
"Cukup Dirga!" Pekik Mama Diana. "Kamu jangan berusaha melakukan pembelaan lagi. Kamu sudah cukup menanggung kesalahan yang tidak kamu lakukan sampai menikahi wanita itu."
Dirga terdiam selama beberapa saat ketika tiba di persimpangan jalan. Menunggu lampu lalu lintas berganti warna.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah terikat janji dengan Alika dan tidak bisa mengingkarinya."
Cairan bening menggenang di bola mata Mama Diana, lalu dengan segera mengusapnya ketika air mata mulai menetes di pipi. Ia teringat kejadian setahun yang lalu. Yang mana membuat putra kesayangannya terjebak dalam sebuah situasi yang rumit.
"Seandainya Azka tidak mabuk-mabukan, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kamu tidak perlu menanggung beban kesalahannya."
"Mah, jangan bicara seperti itu. Kak Azka sudah tenang. Kita jangan ungkit-ungkit masa lalu lagi."
"Tapi masa lalu itu lah yang kamu tanggung sampai sekarang, Dirga!"
"Mau bagaimana lagi. Anggap saja ini bagian dari takdir."
Mama Diana meraih selembar tissue dan mengusap hidungnya. Derai air mata sudah terhenti, menyisakan suara isakan. Hingga beberapa saat kemudian, Mama Diana baru dapat mengendalikan kesedihannya.
"Ya sudah kalau kamu mau bertahan sama Alika. Mama bisa apa," ujarnya. "Apa belum ada tanda-tanda Alika hamil?"
Pertanyaan itu kontan membuat Dirga terhenyak. Tak tahu harus menjawab apa. Jika Mama Diana mengetahui rahim Alika diangkat, sudah pasti ia akan gencar meminta putranya menikah lagi dan Dirga sudah berjanji untuk menyembunyikan status Lula sebagai istri.
"Belum, Mah."
Keduanya diam selama beberapa saat. Baik Dirga maupun Mama Diana larut dalam pikiran masing-masing.
Tak lama berselang, mobil tiba di depan sebuah rumah minimalis. Kening Mama Diana berkerut saat menatap rumah itu.
"Ini rumah siapa, Dirga? Kenapa kita ke sini?" tanya Mama Diana.
Seketika Dirga terkejut dibuatnya. Tanpa sadar ia melajukan mobil dan berhenti di depan rumah Lula.
Loh kok malah ke rumah Lula sih? Bukannya tadi mau ke rumah mama ya? batin Dirga.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Galih Pratama Zhaqi
lahhh jd terlula lula kan km bkn cinta dg Alika tp km sdh jatuh cinta d ter lula lula 🤣
2024-11-27
0
Sulis Tyawati
hahahahahaha Dirga kata hatimu tak pernah salah menuju plg k rmh mu. lula adalah rumahmu
2024-12-05
1
Safitri Agus
mungkin dia sudah terLula Lula, sampai ga konsen 🤭😁
2024-10-13
0