Tatapan Hito semakin menyelidik, namun Dirga seolah tak peduli. Hito dapat membaca raut cemburu di wajah Dirga. Terlebih, setelah mendengar ucapan Lula yang tak mengakuinya sebagai suami.
"Lepaskan tangan aku, Mas!" Lula berusaha melepas cengkraman Dirga, tetapi malah semakin erat Dirga menggenggamnya.
"Tidak, kamu akan pulang bersama aku."
"Dirga!" Baru saja Dirga menarik tangan Lula untuk meninggalkan lobi rumah sakit, suara panggilan dari Alika sudah menghentikan langkahnya.
Dirga dan Hito menoleh pada sumber suara, tampak Alika duduk di atas kursi roda dengan seorang perawat wanita di belakangnya. Sedangkan Lula dia membisu dan enggan menatap Alika. Ia menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Dirga.
Sang perawat lantas mendorong kursi roda hingga menciptakan jarak antara Lula dan Dirga.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alika menatap suaminya.
"Aku harus antar Lula pulang, Al."
Tak terima, Alika menggenggam tangan suaminya. Menatap penuh kebencian kepada Lula.
"Kamu mau meninggalkan aku hanya untuk mengantar dia pulang? Dia itu sudah sehat, Dirga. Aku yang lebih membutuhkan kamu!" pekik Alika membuat tatapan beberapa orang yang berada di lobi terarah pada mereka.
"Alika, aku tidak akan lama. Aku hanya mengantar Lula pulang," bujuk Dirga.
Alika menggelengkan kepala pertanda ia tak setuju jika Dirga sampai mengantar pulang istri sirinya itu.
"Kamu memang perempuan tidak tahu diri ya. Bukannya kamu sendiri yang waktu itu bilang kamu akan mundur. Tapi lihat sekarang kamu malah berusaha mendekati Dirga," makinya dengan kemarahan meluap-luap.
Lula tak menyahut dan memilih diam. Membuat Alika semakin terbakar oleh rasa marah.
"Mau kamu apa sebenarnya?" Alika berteriak dengan lantang.
Lula menarik napas panjang, lalu menatap Alika. "Pertanyaan itu sebenarnya lebih layak ditujukan kepada suami Ibu ini. Maunya apa sebenarnya?"
Kesal, Alika menatap Dirga. "Kamu lihat, Dirga? Seperti apa dia."
"Cukup, Al!" Dirga menatap perawat yang berada di belakang Alika. "Suster, tolong bawa istri saya kembali ke kamarnya."
"Aku tidak mau! Pokoknya kalau kamu memilih mengantar dia, jangan harap aku akan terima."
Lula membuang pandangannya ke arah lain, sedangkan Hito yang masih berada di antara mereka hanya menjadi penonton.
Lula menarik gagang koper dari tangan Dirga. Meskipun harus terjadi saling rebut.
"Akan lebih berguna kalau kamu mengantar dia ke kamarnya, dari pada mengantar aku pulang. Jangan sampai dia mengancam mau bunuh diri lagi dan membuat kamu mengucapkan janji yang lain."
Setelah mengucapkan kalimatnya, Lula berjalan membelakangi Alika dan Dirga tanpa peduli sedikit pun ekspresi wajah Dirga. Laki-laki itu hendak menyusul, namun dengan cepat Alika menarik tangannya.
Sedangkan Hito berjalan mengikuti Lula yang sudah lebih dulu melangkah.
"Lula, tunggu!" panggil Hito.
Langkah Lula seketika terhenti dan berdiri di depan pintu utama. "Maaf, Hito. Kamu harus mendengar pembicaraan yang kurang pantas."
Hito hanya menganggukkan kepala. Belum sanggup mengucapkan sepatah katapun setelah temuan mengejutkan.
"Jadi kamu dan laki-laki itu sebenarnya ada hubungan apa?"
"Setelah mendengar pembicaraan tadi, kamu pasti sudah bisa menebak ada hubungan apa antara aku dan dua orang itu, kan?"
Hito kembali mengangguk.
"Tebakan kamu benar. Jadi aku mohon jangan tanya apapun lagi."
Lula mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kemudian membuka aplikasi taksi online.
"Bagaimana kalau aku mengantar kamu pulang saja? Sekalian aku mau bertamu di rumah baru kamu."
"Maaf, Hito. Aku tidak bisa menerima tamu laki-laki di rumahku. Bagaimana pun juga aku masih istri orang."
****
Lula sedang dalam perjalanan pulang dengan taksi online. Meskipun Hito terus membujuknya agar mau diantar pulang, tetapi Lula sama sekali tak mengizinkan.
Tak lama berselang, ponselnya berdering tanda pesan masuk. Alis Lula berkerut menatap nama yang tertera pada pemberitahuan di layar ponselnya.
Mas Dirga kirim pesan? batin Lula bertanya-tanya.
Ia cukup terkejut, pasalnya, ini adalah pertama kali Dirga mengirimkan sebuah pesan. Padahal selama dua bulan belakangan menikah, tak pernah sekali pun Dirga memberinya perhatian, sekalipun hanya melalui sebuah pesan.
Lula pun membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Maafkan aku, Lula. Aku tidak punya pilihan lain." ~Dirga.
Lula memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang. Ia mengetikkan sebuah pesan balasan.
"Kamu bukan tidak ada pilihan, Mas. Hidup itu penuh dengan pilihan. Salah kamu sendiri yang memilih terjebak dalam pilihan yang salah." ~ Lula.
Setelah mengirimkan pesan balasannya, ia menonaktifkan ponsel. Memilih menenangkan diri.
Hanya butuh waktu dua puluh menit perjalanan, Lula telah tiba di rumah. Ia menyeret koper memasuki rumah.
Tanpa di sadari oleh Lula, Hito sejak tadi mengikuti dari belakang. Ia duduk di dalam mobil dan menatap dari jarak aman.
"Jadi kamu tinggal di sini, ya," ujarnya menatap rumah minimalis itu.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Inaherlinasofia
sebaiknya cepet pindah lula karena tidak baik kamu tinggal di situ seperti nya Hito jg bukan orang baik
2024-12-03
0
C2nunik987
kuatkan dirimu lula utk anakmu
2024-07-07
1
Ila Lee
bantu lula hito pergi jauh selamat kn lula dan anak nya
2024-06-02
0