Setelah memeriksa dan memastikan keadaan Lula sudah membaik, akhirnya dokter mengizinkannya untuk pulang hari ini. Di dalam kamar, wanita itu tengah melipat beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam koper kecil. Tak lama pintu kamar terbuka. Tampak sosok Dirga di ambang pintu.
"Kamu sudah siap?"
Lula menoleh sekilas, tanpa menjawab pertanyaan suaminya, ia menurunkan koper ke lantai dan menarik gagangnya.
"Sini aku saja yang pegang." Dirga menarik gagang koper milik Lula. "Aku akan antar kamu pulang."
"Tidak usah, Mas." Lula merebut kembali gagang kopernya dari tangan Dirga. "Aku bisa pulang sendiri. Kamu urus saja istri sah kamu. Lagi pula dia akan marah kalau tahu kamu mengantar aku pulang."
Dirga terdiam. Ia memang sembunyi-sembunyi mendatangi Lula untuk mengantarnya pulang. "Tapi aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri. Setidaknya kalau kamu tidak mau aku yang antar, di depan ada sopir. Aku akan memintanya mengantarmu."
"Tidak, aku akan naik taksi online. Permisi, Mas."
Lula menarik kopernya keluar meninggalkan Dirga. Sementara Dirga yang tak ingin istrinya pulang sorang diri, berusaha mengejar. Namun, Lula sudah masuk ke dalam lift lebih dulu.
Tiba di lantai bawah, Lula mempercepat langkahnya hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Lula membungkukkan badan. Membantu memunguti barang milik seorang pria yang baru saja ditabraknya.
"Tidak apa-ap--" ucapan pria itu menggantung ketika menyadari siapa yang telah menabraknya. Ia menatap wajah Lula dengan intens.
"Lula? Kamu Lula kan?" tanyanya.
Lula balas menatap pria itu. Ia pun menunjukkan reaksi keterkejutan yang sama.
"Kamu ... Hito?"
"Iya. Kamu masih ingat aku?" Senyum lebar terbit di wajah pria tampan itu. Seolah sangat senang karena Lula masih mengingat dirinya.
Ya, ia adalah Hito Alexander, seorang pria seusia Dirga yang dulu merupakan tetangga lama Lula saat tinggal di rumah lama, sebelum ibu Lula meninggal. Namun sejak pindah, Lula tak pernah lagi bertemu dengan tetangganya itu.
Lula berdiri, diikuti dengan Hito. Wanita itu lantas melirik ponsel milik Hito yang terjatuh ke lantai setelah bertabrakan dengannya.
"Em ... Hito, maaf hape kamu retak." ujarnya ragu-ragu seraya mengembalikan ponsel kepada pria itu. "Aku benar-benar tidak sengaja menabrak kamu. Aku akan membayar biaya perbaikannya.
Hito tertawa kecil. "Kamu masih sama seperti dulu. Panikan."
Lula terdiam.
"Tidak apa-apa, Lula," ucapnya dengan senyuman ramah. "Aku senang bertemu kamu setelah sekian lama. Kamu sedang apa di rumah sakit?"
"Aku baru akan pulang. Seminggu ini aku dirawat."
Kening Hito berkerut, menatap ke sekitar. Ia tak melihat siapapun yang menemani Lula.
"Kamu sakit apa sampai dirawat? Dan siapa yang menemani kamu selama beberapa hari ini?"
"Aku sendiri."
Hito menatap prihatin. Ia tahu Lula tidak punya siapa-siapa lagi sejak ibunya meninggal.
"Oh, ya ... Kamu tinggal di mana? Apa boleh aku antar pulang?"
Lula menggelengkan kepala pelan. "Tidak usah, Hito. Aku akan pulang dengan taksi online. Lagi pula aku tidak mau mengganggu waktu kamu."
"Tidak apa-apa, aku ke sini cuma untuk menjenguk temanku yang sedang sakit." Ia menarik gagang koper milik Lula. "Ayo, aku antar saja."
"Tapi Hito, aku--"
"Lula tunggu!" Belum sempat Lula menyelesaikan kalimatnya, sudah terdengar panggilan dari lift yang baru terbuka.
Dirga segera menghampiri Lula. Alisnya berkerut ketika menatap seorang pria yang sedang mengobrol bersama istrinya.
"Hito?" ucap Dirga terkejut.
Hito pun menatap penuh tanya terhadap Dirga dan Lula. Apa lagi, reaksi datar yang ditunjukkan Lula setelah kedatangan Dirga.
"Ayo, Lula. Aku antar kamu pulang," ucap Dirga.
Hito semakin dibuat bertanya-tanya. Apa lagi dengan sikap Dirga yang langsung merebut koper milik Lula dari tangannya. Seolah tak senang jika dirinya dekat-dekat dengan wanita itu.
"Lula, dia siapa kamu?" tanya Hito penasaran.
Dirga menatap tajam pada Hito yang merupakan saingannya dalam dunia bisnis. Ia kemudian menatap Lula setelahnya.
"Kamu tidak jelaskan ke dia aku siapa kamu?" tanya Dirga seolah menuntutnya dengan jawaban.
Lula lantas menatap Hito yang berdiri di sampingnya. Ia dapat melihat ketegangan antara Hito dan Dirga.
"Kamu kenal dia?" tanya Lula pada Hito.
"Lumayan kenal. Kami pernah bekerja sama dalam proyek pembangunan jalan tol. Oh, ya ... kamu belum jawab. Dia siapamu?"
Lula terdiam beberapa saat, lalu tanpa menatap Dirga ia menjawab, "Bukan siapa-siapa aku."
Dirga tampak sangat terkejut sekaligus marah mendengar jawaban Lula yang tak mengakui status Dirga sebagai suaminya.
"Apa-apaan kamu, Lula? Bagaimana kamu bisa bilang aku bukan siapa-siapa kamu?" kesal Dirga menikam Lula dengan tatapan. Ia menggenggam pergelangan tangan Lula dengan erat.
Lula pun menatap Dirga. Sama seperti biasanya, datar tanpa ekspresi.
"Jangan mempermalukan diri kamu sendiri, Mas. Kamu yang minta status kita dirahasiakan dari semua orang. Hari ini ... Kalau aku bilang kamu bukan siapa-siapaku, kenapa kamu harus keberatan? Bukankah itu yang kamu minta dari aku?"
Seketika Dirga terdiam. Jawaban menohok yang diberikan Lula seolah memberinya sebuah tamparan keras.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Inaherlinasofia
makanya klo ngomong jangan enak sendiri aja di jawab begitu kamu kenapa jd marah
2024-12-03
0
Flower Layu Layu
good job Lula .biar tau rasa dirga sakit hatikan
2024-12-27
0
Sulis Tyawati
mantab lula,,, lawan trs
2024-12-05
0