Malam itu Dirga sedang berada di sebuah kafe bersama seorang temannya, Dokter Allan. Seorang dokter ahli kandungan yang kebetulan menangani Lula dan Alika.
“Allan, bagaimana kondisi Lula sekarang? Kapan dia boleh pulang?” tanya Dirga.
“Lula sudah lebih baik. Besok boleh pulang.”
Dirga bernapas lega, tampak senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Syukurlah.”
“Kamu edan juga,ya. Ternyata punya dua istri.” Dokter Allan tertawa kecil. Ia cukup terkejut setelah mengetahui temannya itu memiliki istri selain Alika. “Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Alika setelah insiden tadi pagi?”
“Tidak apa-apa. Dia sudah lebih tenang,” jawab Dirga sambil mengaduk makanan di piring dengan sendok. Laki-laki itu tampak sedang tidak berselera makan. Terlebih sejak kejadian yang menghebohkan seisi rumah sakit itu.
Dokter Allan menatap Dirga dengan intens. Masih ada pertanyaan di benaknya yang haus akan jawaban.
“Apa kamu benar-benar akan mengabulkan permintaan Alika untuk menceraikan Lula dan menuntut hak asuh begitu anakmu lahir?”
Terdiam sejenak, Dirga meletakkan sendok dan garpu ke atas piring, kemudian meneguk air mineral. Pertanyaan Dokter Allan membuat selera makannya mendadak hilang.
“Aku tidak tahu. Di satu sisi aku merasa bersalah karena sudah mengkhianati Alika. Tapi di sisi lain aku merasa memiliki ikatan yang sangat erat dengan Lula. Kalau ditanya apa aku akan menceraikannya, aku benar-benar tidak tahu.”
“Aku mengerti. Kamu berada pada pilihan berat.”
“Aku harus bagaimana, Lan? Sejak awal Alika sudah mengikatku dengan sebuah janji yang tidak bisa aku ingkari.”
“Dan janji itu menyiksamu,” gumam Allan membuat Dirga meliriknya sekilas.
"Anggap saja sebagai bentuk kompensasi."
Allan balas menatap Dirga. “Terus bagaimana nasib Lula? Kamu akan menghancurkan dia? Menceraikan dan merebut anaknya. Apa kamu tidak merasa kalau itu terlalu jahat?”
Dirga tersentak. Mendadak udara di dalam ruangan luas itu seakan tak cukup baginya untuk bernapas. “Aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan lain. Kamu tahu sendiri bagaimana Alika. Kalau aku tidak meng-iya-kan, mungkin dia benar-benar akan melompat dari lantai sebelas.”
“Tapi bukan perasaan Alika saja yang harus kamu jaga. Justru seharusnya yang kamu utamakan adalah Lula. Dia sedang mengandung anakmu.”
.
.
.
.
Setelah menghabiskan waktu dengan Dokter Allan, Dirga kembali ke kamar perawatan Alika. Tampak istrinya itu sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya, yang kemudian ia sembunyikan di bawah bantal setelah menyadari kedatangan suaminya.
“Teman-teman kamu sudah pulang?” tanya Dirga. Sebab tadi saat meninggalkan Alika untuk ke kafe, ia sedang kedatangan teman-teman wanitanya. Sehingga Dirga memilih bertemu dengan Allan di sebuah kafe.
“Sudah pulang satu jam lalu. Kamu dari mana saja?” tanya Alika melirik arah jarum jam di dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh.
“Aku habis dari kafe bersama Allan.” Dirga menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Alika menatapnya lekat-lekat, terlihat jelas raut lelah di wajahnya. Beberapa hari belakangan ini, Dirga kurang istirahat karena pagi hari harus ke kantor dan malamnya menemani Alika di rumah sakit. Ia hanya pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
“Kamu tidak habis menemui wanita itu, kan?” Alika tampak curiga. “Aku hanya takut dia merebut kamu dari aku.”
“Kamu tidak usah pikir yang macam-macam. Lagi pula selama aku belum menceraikannya, dia juga masih berhak atas diriku.”
Alika tersentak mendengar ucapan Dirga. “Tapi Dirga kamu kan sudah janji sama aku untuk—”
“Maaf, Al. Aku sangat lelah hari ini. Aku mau istirahat.”
Alika baru akan mengatakan sesuatu, namun Dirga membaringkan tubuhnya membelakang.
Wanita itu merenung selama beberapa saat. Lalu kemudian meraih kembali ponselnya setelah meyakini suaminya telah lelap.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam ketika Dirga terbangun dari tidurnya. Ia duduk di sofa sambil mengusap punggung lehernya. Melirik Alika yang sudah terlelap dalam balutan selimut, ia berjalan menghampirinya. Kemudian beranjak keluar dari ruangan itu.
Dirga memasuki ruangan tempat Lula dirawat. Ia melangkah dengan sangat hati-hati agar suara hentakan kakinya tak terdengar.
Terlihat Lula pun sudah tidur. Dirga duduk di sebuah kursi di sisi pembaringan dan menatap wajah wanita itu. Tangannya terulur mengusap rambut.
Ia termenung, menatap wajah Lula hingga tanpa terasa waktu terus bergulir menuju fajar.
"Maafkan aku, Lula. Aku pasti sudah sangat menyakiti kamu. Seandainya aku punya pilihan lain, semua ini tidak akan terjadi."
Satu tangan Dirga mengusap perut yang masih rata itu. Membelainya dengan lembut.
"Maafkan ayah, Nak!"
Dirga melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Sebelum Alika terbangun, ia sudah harus kembali ke dalam kamar.
Ia menatap lekat wajah polos Lula, membelai dan mengecup kening dan perut Lula dengan sangat hati-hati agar Lula tak terbangun. Dirga pun membenarkan selimut yang membalut tubuh istrinya sebelum keluar dari kamar.
Selepas kepergian Dirga, cairan bening terlihat mengalir melalui ujung mata Lula. Ia membuka mata dan menatap pintu.
Sudah tiga hari ini ia menyadari kehadiran Dirga yang setiap malam diam-diam datang dan menemaninya hingga hampir pagi. Namun, Lula pura-pura tak menyadari.
.
.
.
.
Dirga terkejut saat memasuki ruangan Alika dan mendapati istrinya sudah bangun. Biasanya Alika tidak pernah bangun sepagi ini. Apa lagi di luar masih terlihat gelap.
"Kamu dari mana?" tanya Alika.
Bukannya menjawab, Dirga malah langsung duduk di sofa, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Kamu kenapa bangun sepagi ini?"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Dirga. Kamu dari mana?"
"Aku habis cari udara segar. Oh ya, mama barusan kirim pesan, katanya beberapa hari lagi akan kembali dari luar negeri," ucap Dirga membuat mata Alika membulat.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Normila Aspul Anwar
Dirga bodoh kuadrat
2024-09-06
0
C2nunik987
Dirga suami yg bodoh dikibuli Alika iahhh aja
2024-07-07
1
Ila Lee
pergi jauh2 lula di meraka
2024-06-02
0