Setibanya di kamar, perawat membantu Lula berbaring di atas ranjang pasien, lalu menggantung kantung cairan infus di tiang. Ia memperhatikan wajah Lula yang mendadak pucat setelah melihat kejadian di balkon lantai sebelas tadi.
"Suster, apa maksud pasien tadi, dia teriak-teriak tidak bisa punya anak lagi."
"Oh, itu Bu Alika. Dia habis menjalani operasi pengangkatan tumor kemarin. Kasihan, Bu ... Rahimnya juga harus diangkat."
Lula termenung. Ia baru tahu tentang Alika yang menjalani operasi, karena setelah pingsan tiga hari lalu, ia belum mendengar kabar apapun tentangnya dan tak pula menanyakan saat Dirga datang ke kamarnya.
“Oh ya, Sus ... kapan kira-kira saya boleh pulang?” tanyanya.
“Kalau untuk pulang harus konsultasi ke dokter dulu, Bu. Kalau memang keadaan Ibu sudah lebih baik, dokter pasti akan mengizinkan pulang.”
Lula mengangguk pelan. Setelah melihat kejadian tadi, ia merasa hatinya tak cukup kuat untuk menanggung beban itu.
Apakah Mas Dirga terlalu mencintai Bu Alika sampai tega mau mengambil anakku? Atau dia hanya terpaksa mengumbar janji karena Bu Alika mengancam mau bunuh diri?
.
.
.
Semua sudah lebih tenang sekarang. Dokter baru keluar dari ruang perawatan Alika setelah merawat sayatan bekas operasi yang mengeluarkan darah. Dirga pun menghampiri Alika dan duduk di sisinya.
“Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti tadi, aku mohon,” pinta Dirga.
“Aku tidak akan melakukannya selama kamu berjanji tidak meninggalkan aku. Tapi kalau kamu lebih memilih wanita murahan itu, maka lebih baik aku bunuh diri saja.”
Dirga memejamkan mata seraya menghela napas panjang. Lagi-lagi Alika melemparkan sebuah ancaman. Tetapi bukan lah ancaman itu yang membuatnya kesal. Entah untuk alasan apa, hatinya merasa tak terima Alika menyebut Lula sebagai wanita murahan. Toh, pada kenyataannya Lula bukan wanita seperti itu. Karena Dirga lah laki-laki pertama yang merenggut kesuciannya.
Wanita yang kamu sebut murahan itu masih suci, Al ...
“Al ... Aku minta maaf karena sudah menikah tanpa seizin kamu. Aku tahu kamu sakit hati dan kecewa. Tapi semua ini bukan salah Lula,” ujar Dirga mencoba menjelaskan.
“Kamu mau membela dia lagi? Wanita yang tega merayu suami orang, apa bedanya dengan seorang pela*cur?” kesal Alika menatap suaminya dengan menuntut.
“Cukup, Alika! Tolong jangan sebut Lula seperti itu,” ucap Dirga menekan, membuat Alika terdiam seketika. “Malam itu kita bertengkar hebat sebelum kamu pergi ke Bali. Aku berencana menginap di ruko kamu. Aku bukan mau membelanya, tapi Lula memang tidak merayu aku. Akulah yang brengsek karena mabuk dan tanpa sengaja melampiaskan kepada Lula.”
“Lalu bagaimana dengan semua kartu aku yang kamu blokir?”
“Aku blokir kartu kamu karena aku menerima tagihan yang membengkak dan itu sangat di luar batas. Kamu gunakan untuk apa uang sebanyak itu, Al? Kamu tahu, uang itu lebih dari gaji semua karyawan aku selama sebulan?”
Alika terperanjat. Tatapannya mengarah pada lantai seolah mencari jawaban di sana. Ia menggunakan kartu-kartunya dengan bebas selama ini, karena Dirga tak pernah menanyakan sebelumnya.
“Aku membeli tanah di bandung. Maaf kalau aku tidak memberitahu kamu sebelumnya. Aku juga membeli banyak gaun dan aksesoris untuk penunjang pekerjaan aku. Kamu tahu kan, aku butuh modal banyak untuk ikut Wedding Expo.”
“Baiklah, untuk kali ini aku maafkan. Tapi lain kali kalau kamu ada penggunaan sebesar itu, bicarakan dulu dengan aku.”
Alika menjawab dengan anggukan. Bernapas lega karena Dirga tampak tak curiga sedikit pun. “Aku mau kamu aktifkan kembali kartu-kartu aku.”
“Baiklah, aku akan minta Jeff mengurusnya.”
Alika mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia menggenggam jemari suaminya dengan erat, menatap dengan memelas. "Dirga ... Tolong rahasiakan ini juga dari keluarga kamu. Kamu tahu kan, mama tidak pernah menyukai aku. Kalau mama tahu aku tidak bisa lagi punya anak, mama pasti akan meminta kamu menceraikan aku. Dan kamu tidak akan bisa membantah perintah mama."
"Kamu tenang saja. Ini akan menjadi rahasia kita. Mereka tidak akan tahu tentang kamu."
"Terima kasih, Dirga." Ia memeluk lengan suaminya.
Setidaknya Alika bisa lega sekarang. Sebab sejak awal menikah, ia tak memiliki hubungan yang baik dengar mertuanya. Ibu Dirga bahkan sempat menentang pernikahan mereka. Tetapi Dirga tetap bertahan meskipun tak mendapat restu.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?” tanya Alika membuat Dirga mengangguk.
"Mau tanya apa?"
“Bagaimana perasaan kamu terhadap Lula? Apa kamu mencintai dia?”
Dirga seketika terdiam. Ia pun belum mengerti perasaan apa yang dimilikinya untuk istri sirinya itu. Ingatannya langsung tertuju pada Lula dan tanpa sadar mulai membandingkan Alika dan Lula. Alika penuh ambisi, mudah marah dan suka menuntut. Sementara Lula hanyalah wanita sederhana yang tidak banyak bicara. Pembawaannya tenang dan tidak gegabah. Dan entah mengapa berada di dekat Lula membuat perasaannya damai.
“Aku tidak tahu, tolong jangan tanyakan karena pada akhirnya kamu sendiri yang akan terluka.”
Alika tersentak setelah menyadari raut wajah suaminya.
Tidak! Aku tidak boleh membiarkan ini. Aku harus membuat Dirga membenci Lula sebelum semua terlambat.
Ia kembali menggenggam erat jemari suaminya dan menatap penuh harap. “Aku sangat mencintai kamu, Dirga. Aku tidak mau kehilangan kamu. Wajar kan kalau seorang istri menginginkan menjadi istri satu-satunya. Jadi tolong jangan pernah meninggalkan aku demi dia.”
Dirga hanya mengangguk. Meskipun tampak kesedihan di wajahnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Zerazat
Dirga kok kamu orang sukses kaya tapi oon
2024-10-18
0
Soritua Silalahi
baru nyadar ya kamu ga bisa tanpa dirga
2024-08-24
0
C2nunik987
menantu durjana km Alika 😡😡😡
2024-07-07
1