Alika belum dapat membendung tangisannya setelah mendengar sesuatu yang benar-benar meruntuhkan harapannya memiliki Dirga untuk dirinya seorang. Wanita itu baru saja tersadar setelah hampir dua belas jam tertidur pasca operasi.
Tumor rahim mengharuskan dokter memilih tindakan operasi untuk mengangkat tumor dan rahimnya.
“Aku tidak mau, Dirga! Kenapa kamu minta dokter mengangkat rahimku, kenapa!” teriak Alika dengan terisak-isak.
Dirga memeluknya demi menenangkan sang istri yang sejak tadi menangis histeris. “Aku mohon tenanglah Alika. Ini jalan yang terbaik untuk kamu. Kita hanya bisa bersabar.”
Bukannya tenang, Alika malah semakin menjerit, meronta-ronta hingga jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya tercabut.
“Kenapa kamu tidak minta persetujuan aku dulu?! Setelah rahimku diangkat, aku tidak akan bisa punya anak lagi. Kamu pasti akan meninggalkan aku dan memilih istri simpanan kamu itu. Apa lagi sekarang dia sedang hamil anak kamu.” Ia memukul-mukul dada Dirga dengan sisa tenaga yang dimilikinya, seolah mengabaikan rasa sakit yang berpusat pada bekas sayatan di perutnya.
Dirga mengeratkan pelukan, kemudian berbisik, “Itu tidak akan terjadi. Apapun kondisimu, aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Kamu bisa bilang begitu sekarang, tapi lama-kelamaan kamu pasti akan meninggalkan aku demi Lula.” Ia berapi-api meluapkan amarah dan kesedihannya dalam jeritan pilu.
“Aku mohon jangan bicara seperti itu, Al.”
Alika mendorong dada Dirga, lalu menyibak selimut tipis yang membalut tubuhnya. Dengan terseok-seok keluar dari ruangan menuju balkon rumah sakit. Dirga pun segera menyusulnya.
“Jangan Al!” teriak Dirga panik manakala di depan matanya sendiri, Alika memanjat pagar besi pembatas balkon.
“Jangan mendekat atau aku akan lompat ke bawah!” ancamnya dengan teriakan keras sehingga membuat orang-orang terkejut dan segera menghampirinya.
Alika pun membuat beberapa orang panik dengan aksi nekatnya. Ia berdiri di ujung balkon lantai sebelas dan hanya berpegangan pada pagar pembatas. Terdengar teriakan ketakutan dari orang-orang baik yang berada di balkon lantai sebelas, maupun yang melihat dari bawah.
Khawatir Alika benar-benar nekat melompat Dirga pun maju beberapa langkah.
“Al ... Aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik. Yang kamu lakukan ini salah,” bujuk Dirga.
“Aku tidak peduli. Aku lebih baik mati dari pada harus membagi suamiku dengan perempuan lain.”
Rasanya, seluruh tubuh Dirga meremang mendengar ucapan Alika. Ketakutan kian merasuk, ia sadar Alika adalah seseorang yang kadang berbuat nekat saat keinginannya tidak terpenuhi.
Suasana semakin panik, beberapa staf rumah sakit telah berada di balkon, salah satunya Dokter Allan. Di taman bawah sudah banyak orang yang menyaksikan aksi nekat Alika. Salah satu dari petugas keamanan mencoba mendekati, namun wanita itu langsung berteriak meminta laki-laki itu berhenti di tempatnya.
“Aku bilang jangan mendekat atau aku akan lompat!”
"Alika, tolong turun. Luka bekas operasi kamu bisa terbuka lagi," ucap Dokter Allan melihat adanya noda darah pada seragam pasien yang dikenakan Alika.
"Aku tidak peduli," balasnya berteriak.
Dirga melirik beberapa staf rumah sakit yang mencoba mendekati Alika, memberi isyarat dengan mengibaskan tangan kebawah—yang artinya, ia ingin membujuk Alika sendiri.
“Al, tolong dengarkan aku sekali ini saja,” bujuk Dirga berusaha melembutkan suaranya.
“Apa yang harus aku dengar dari kamu? Bahwa kamu sudah mengkhianati aku dengan menikahi wanita lain?” sindir Alika mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga membuat Dirga semakin dilanda perasaan takut. "Sekarang aku sudah tidak bisa punya anak, dan kamu akan meninggalkan aku."
Mencoba menenangkan perasaannya, Dirga menarik napas dalam-dalam. Kakinya secara perlahan bergerak maju dengan penuh keraguan. Ia lalu menatap Alika dengan intens.
“Aku mohon percaya sama aku, Al. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.”
“Aku perlu bukti itu.”
“Bukti apa lagi? Selama ini aku sudah memberi apapun yang kamu minta tanpa bertanya. Aku membebaskan kamu melakukan apapun sesuka kamu. Jadi tolong jangan melakukan tindakan seperti ini!”
“Kalau kamu memang mencintai aku, kamu harus berjanji satu hal!"
Dirga terdiam beberapa saat, ia sudah menebak dalam benaknya apa yang akan diminta oleh istrinya itu. Yang pasti sesuatu yang akan sulit dipenuhi oleh Dirga. Ia melirik Dokter Allan yang berdiri tak jauh darinya.
Sang dokter hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Lebih baik kamu iyakan dulu. Nanti setelah ini baru bicarakan baik-baik lagi."
Tak ingin Alika nekat, Dirga pun mengangguk setuju. “Baiklah aku berjanji. Apapun yang kamu minta akan aku penuhi.”
Alika menarik napas dalam sebelum berkata, “Kamu harus janji tidak akan pernah meninggalkan aku dan kamu akan menceraikan Lula begitu anaknya lahir. Dan satu lagi, aku mau kamu menuntut hak asuh anak itu setelah perceraian.”
Dirga tersentak. Sebelum menikahi Lula, memang sempat terbesit keinginan untuk menceraikan wanita itu setelah kelahiran anaknya. Tetapi kini, entah mengapa ia merasa berat dan seolah memiliki ikatan yang begitu kuat dengan Lula.
“Iya kan, kamu tidak bisa!” teriak Alika ketika melihat Dirga hanya diam. Ia melepas satu genggaman tangannya dari pagar pembatas balkon, membuat beberapa orang berteriak ketakutan.
“Jangan Al!” teriak Dirga dengan satu tarikan napas. “Baiklah, aku berjanji. Sekarang aku mohon, kamu turun dari situ.”
Akhirnya, Dirga menyerah karena tak ingin Alika benar-benar mewujudkan ancamannya dengan melompat ke bawah. Ia maju mendekat dan mengulurkan tangannya. Alika pun jatuh ke pelukan Dirga dengan menangis terisak-isak.
Semua orang yang berkerumun akhirnya bernapas lega. Tanpa Dirga sadari, Lula juga berada di antara kerumunan itu. Ia baru saja akan kembali ke kamarnya selepas menjalani pemeriksaan USG.
“Sus, tolong antar saya ke kamar,” pintanya dengan suara datar pada seorang perawat yang mendorong kursi roda.
“Baik, Bu.”
Sementara Alika menerbitkan senyum di balik isak tangisnya dalam pelukan Dirga. Sejak tadi ia menyadari keberadaan Lula di sana. Karena itulah ia ingin Lula mendengar semuanya.
Hanya aku yang boleh memiliki Dirga. Kamu sudah merebut apa yang menjadi milikku, jadi aku juga akan merebut apa yang paling berharga dari kamu.
****
Maaf ya, kalau alur sangat mengandung esmosiiii. 🤭
Ini adalah naskah lomba, sejak awal sudah ada outlinenya. Jadi aku minta maaf kalau alur, penokohan tidak sesuai keinginan man teman.
🙏🙏🙏
🤭
Ada beberapa teman2 yang sempat khawatir kalau novel ini aku pindahkan ke lapak lain.
Jawabannya adalah : Aku tidak menulis di lapak lain. NT adalah satu-satunya tempatku menulis. Jadi aku tidak akan pindah. Hehe.
Terima kasih untuk segala bentuk dukungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Soritua Silalahi
Dirga istrimu Alika itu sakit jiwa
2024-08-24
0
Krisna Dayu
kalau aku jadi suaminya...malah aku suruh lompat ke bawah...itu pilihan kan ?!?!?🤔🤔🤣🤣
2024-08-24
0
Ila Lee
Jaha si Alika tak sedar Allah sudah tarik nikmat menjadi ibu
2024-06-02
1