“Jadi karena kamu sudah punya istri lain, makanya semalam kamu menolak aku?” Alika mendorong dada Dirga hingga laki-laki itu mundur. “Sekarang kamu blokir semua kartu aku juga karena dia?” tuduh Alika dengan menunjuk Lula. Melampiaskan kemarahan yang meluap-luap.
Dirga semakin frustrasi rasanya. Walaupun masih ada sisa kekecewaan dalam hati setelah menerima laporan penggunaan kartu kredit Alika yang di luar batas--hingga Dirga memutuskan memblokirnya, namun ia tak ingin mempermalukan Alika di hadapan istrinya yang lain.
“Aku blokir semua kartu kamu tidak ada hubungannya dengan Lula.”
“Terus apa alasan kamu blokir kartu aku kalau bukan karena termakan hasutan dia." Wanita itu mengusap air mata yang mengalir. "Pasti dia kan yang meminta kamu melakukan itu.”
"Cukup, Al!" Tanpa sengaja Dirga membentak, membuat air mata Alika semakin deras. "Lebih baik kita bicara berdua di tempat lain. Jangan di sini. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan berdua."
Dirga meraih pergelangan tangan Alika, namun wanita itu menghempasnya dengan kasar.
"Aku tidak mau bicara di tempat lain. Aku mau kita selesaikan masalah ini sekarang juga," ujarnya menahan kemarahan.
"Penyelesaian apa yang kamu inginkan, Alika?"
Alika menghunus tatapan menikam kepada madunya itu. Seolah ingin menerkamnya. Kemudian menatap Dirga.
"Aku minta sekarang juga kamu memilih antara aku atau dia!"
Dirga terdiam, menatap Alika dan Lula bergantian. "Ini bukan saatnya untuk memilih antara kamu atau pun Lula. Maaf, aku tidak bisa memilih."
"Kenapa?" pekik Alika. "Karena kamu tidak mau kehilangan dia? Karena dia mengandung anak kamu? Begitu kan maksud kamu?"
Alika ingin kembali menyerang Lula, namun Dirga menghalangi, hingga Alika meronta-ronta untuk menjangkau Lula.
Sementara Lula hanya menatap mereka dengan ekor mata, datar dan nyaris tanpa ekspresi.
“Bisakah kalian tidak membuat keributan di sini!" ucap Lula. "Soal Mas Dirga blokir kartu kredit Bu Alika, itu bukan urusan saya. Dan Mas Dirga tidak perlu repot-repot memilih, karena saya yang akan mundur. Maaf, tolong kalian keluar dari sini dan selesaikan masalah kalian berdua saja. Saya butuh istirahat.”
Dirga terhenyak. Tak tahu harus berkata apa.
"Al, ayo kita keluar." Ia menarik pergelangan tangan Alika walaupun istrinya itu terus memberontak.
"Lepaskan aku, Dirga!"
Saat mendekati pintu, wanita itu kembali merasakan sakit di perut. Kali ini lebih sakit dibanding sebelumnya. Detik itu juga tubuhnya ambruk. Beruntung, Dirga segera menangkapnya. Alika tak sadarkan diri lagi.
"Alika ... Bangun, Alika!" teriak Dirga berusaha membangunkan dengan menepuk wajahnya.
Lula hanya menatap Dirga yang terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya. Sesak, namun ia berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Suster, tolong!" pekik Dirga.
Beberapa orang suster tampak mendekati, sementara seorang lainnya menarik sebuah brankar pasien. Mereka berlalu dengan tergesa-gesa membawa Alika.
Sementara Lula terdiam menatap kepergian suaminya.
***
Dirga duduk melamun di sebuah kursi panjang. Menunggu dan menunggu. Tak berselang lama, seorang dokter tampak keluar dari ruangan itu. Dirga segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Alika?"
"Mari kita bicara di ruanganku saja," sahut sang dokter.
Melihat raut wajah dokter yang tak biasa, Dirga telah mampu menebak dalam benak bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi pada Alika.
“Maaf, aku harus menyampaikan ini, Dirga,” ucap dokter kandungan yang juga merupakan teman Dirga itu.
“Ada apa, Allan? Apa yang terjadi dengan Alika? Dia sakit apa?” tanya Dirga was-was.
Raut wajah sang dokter terlihat penuh penyesalan. Ia menarik napas dalam sebelum berkata, “Ada tumor di rahim Alika dan harus dilakukan operasi secepatnya. Selain itu, rahim Alika juga harus diangkat. Kalau tidak, itu akan membahayakan kesehatannya.”
Dirga tersentak. Lidahnya mendadak terasa kaku dan tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, bersamaan dengan bola matanya yang berkaca-kaca. Pupus sudah harapannya untuk memiliki seorang anak dari Alika dan memberi pewaris pada keluarga Mahendra, meskipun kini ada Lula yang tengah mengandung benihnya.
Tak pernah membayangkan sebelumnya oleh Dirga, bahwa semuanya akan serumit ini. Yang ada di pikirannya kini hanya Alika yang pasti akan sangat terluka jika mengetahuinya. Terlebih, baru kemarin Alika berkata ingin memiliki seorang anak.
"Apa tidak ada cara selain pengangkatan rahim?" tanya Dirga.
"Maafkan aku. Tapi ini jalan satu-satunya."
Dirga terdiam selama beberapa saat. Bukan hal mudah untuk menerima kenyataan pahit ini.
"Baiklah. Tolong lakukan yang terbaik untuk Alika," ujarnya dengan pasrah.
Dirga bimbang, tak tahu harus bagaimana memberitahu Alika tentang ini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
ayo lula pergi jauh saja, jgn sampai kamu d manfaatkan alika atas kondisinya
2024-12-05
0
Inaherlinasofia
lebih baik klo udah sehat lula menjauh dulu untuk memenangkan dirinya,, itu karma bagi Alika karena td nya dia tidak mau punya anak dan sering minum2an beralkohol mungkin itu sebabnya yg menjadikan tumor
2024-12-03
1
Trisna
apa luka akan tetap bertahan?
bagaimana pun tidak ada istri yang mau di madu
walaupun Alika kurang memperhatikan suaminya
tapi hatinya pasti ttp sakit
2024-10-17
0