Siang itu, entah untuk ke berapa kali Lula keluar dan masuk ke kamar mandi karena mual-mual hingga merasa lemas. Wajahnya sudah tampak memucat. Kehamilan ini cukup menyiksanya.
Setelah membasuh wajah dengan air, berpegang pada wastafel. Menatap pantulan dirinya melalui cermin.
Sangat menyedihkan! Pernikahan dengan Dirga tak lantas membuat hidupnya bahagia. Justru sebaliknya, ia merasa dibuang.
Dengan langkah lemah, ia hendak keluar dari kamar mandi. Namun, tanpa sengaja kakinya tersandung. Lula pun terjatuh hingga perutnya terbentur ke lantai.
"Argh! Sakit sekali!" pekik Lula menahan rasa sakit di perut.
Matanya terpejam, tangannya mengepal mencengkram ujung pakaiannya. Berusaha berdiri, namun terjatuh lagi.
Hingga beberapa saat berlalu, ia hendak berdiri namun detik itu juga merasakan sesuatu yang mengalir di bagian bawah tubuhnya.
"Apa itu?" Lula lantas meraba pakaian bagian belakang dan mendapati cairan berwarna merah di sana. Sontak ia menjadi sangat panik.
"Da-darah?" ujarnya terkejut.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia berjalan menuju ruang TV tempatnya tadi duduk dan meletakkan ponsel di meja. Ia harus segera menghubungi suaminya demi mendapat pertolongan, karena di rumah itu, Lula tinggal seorang diri.
Sambil menunggu panggilan itu tersambung, ia terus meringis menahan rasa sakit di bagian bawah perut.
"Kenapa, Lula? Aku sedang sibuk, tolong jangan hubungi aku dulu!" Ucapan Dirga seolah menggores luka yang dalam. Ia bahkan tak bertanya apa yang membuat Lula menghubunginya.
"Ma-Mas, tolong aku. Aku berdarah, Mas! Perutku sakit," rintih Lula.
Mendengar suara Lula mendesis, Dirga pun menjadi sangat panik dan langsung berdiri dari duduknya. "Kamu kenapa, Lula?"
"Tolong, Mas! Cepat!"
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Dirga bergegas keluar dan segera menuju rumah Lula yang tak begitu jauh dari kantornya. Dirga sengaja membeli sebuah rumah yang jaraknya tak begitu jauh dari kantor, agar mudah mengunjungi istri rahasianya itu jika sesuatu terjadi.
Hanya butuh waktu lima belas menit perjalanan, Dirga telah tiba. Begitu memasuki rumah minimalis itu, ia melihat Lula sedang bersandar di kursi dengan bercak darah di lantai.
"Lula!" teriak Dirga. Ia mempercepat langkahnya.
Kepanikan kian bertambah tatkala Lula mulai kehilangan kesadarannya.
"Lula, bangun!" pekik Dirga menepuk lembut pipi istrinya.
Melihat darah yang menempel di pakaian bagian belakang Lula, Dirga pun menggendongnya menuju mobil, ia harus segera membawa istrinya ke rumah sakit.
***
Mobil milik Dirga berhenti tepat di lobby rumah sakit. Dirga menatap Lula yang masih tak sadarkan diri di sebelahnya.
Tanpa disadari Dirga, di saat yang bersamaan, Alika juga baru tiba di rumah sakit. Hari ini ia ada jadwal konsultasi dengan dokter kandungan. Langkah Alika seketika terhenti kala menyadari sosok yang berada tak jauh darinya.
"Itu kan mobil Dirga. Kenapa ada di rumah sakit?" gumam Alika dengan alis berkerut ketika melihat mobil suaminya berada di lobby.
Keterkejutannya kian besar kala melihat suaminya menggendong seorang wanita keluar dari mobil dan memasuki unit ibu dan anak.
"Siapa yang dia bawa ke rumah sakit?" gumam Alika penuh tanya.
Dibelenggu rasa penasaran, diam-diam Alika mengikuti Dirga dari belakang. Pertanyaan itu semakin membelenggunya tatkala membaca gurat kepanikan yang semakin menjadi-jadi di wajah suaminya. Dirga bahkan terlihat sangat frustrasi. Namun, Alika tak lantas menyapa Dirga dan memilih memantau dari jarak aman.
Irama jantungnya semakin berpacu saat menyadari siapa wanita yang diantar suaminya ke rumah sakit.
"Itu kan Lula? Bekas karyawanku yang berhenti bekerja beberapa waktu lalu? Bagaimana Dirga mengenal Lula?" Alika semakin curiga.
Tak lama berselang, pria dengan jas putih tampak masuk ke dalam ruangan itu. Seorang perawat segera menarik tirai sehingga pandangan Alika terhalangi.
Ia hanya dapat melihat Dirga yang menunggu dengan panik di balik tirai. Kadang berdiri, berjalan bolak-balik dan kadang duduk dengan gelisah.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Dirga bisa membawa Lula ke rumah sakit?"
Hingga kurang lebih setengah jam berlalu, dokter terlihat muncul dari balik tirai. Dirga segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Dirga.
Bagai disambar petir, tubuh Alika bergetar hebat.
Istri? Siapa yang dimaksud Dirga istri? Apa Lula? Tapi bagaimana mungkin? batin Alika bertanya.
"Istri Anda mengalami pendarahan akibat benturan. Tapi syukurlah, jalan lahir masih menutup, jadi janin masih dapat dipertahankan," jawab sang dokter dengan seulas senyum.
Dirga pun menghela napas lega, namun tak lantas menghilangkan gurat kekhawatiran yang tersirat di wajahnya.
"Syukurlah ... terima kasih banyak, Dokter."
"Sama-sama. Pasien sudah sadar, tapi masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan. Selain itu perlu terus dipantau. Silakan daftarkan pasien lebih dulu di bagian pendaftaran."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah kepergian dokter, Dirga pun memasuki ruangan itu. Lula tampak terbaring dengan tatapan kosong, di pergelangan tangannya sudah terpasang jarum infus.
Meskipun tak menunjukkan bentuk perhatian berlebihan, namun Dirga tetap menghampiri istrinya. "Kamu bagaimana bisa pendarahan?"
"Maaf, Mas. Tadi aku mual terus dan bolak-balik kamar mandi. Aku tidak sengaja terpeleset."
"Oh ..."
Hanya 'oh'. Mendengar itu manik hitam Lula seketika digenangi cairan bening. Namun ia segera tersadar untuk tak berharap lebih. Menegaskan dalam hati bahwa Dirga menikahinya hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Tidak lebih.
Di sisi lain, Alika mematung setelah mendengar pembicaraan Dirga dan Lula. Seluruh tubuhnya pun terasa meremang. Sendi-sendinya mendadak terasa lemas sehingga tanpa sengaja menjatuhkan botol minuman yang ada di genggamannya. Lula dan Dirga pun reflek menoleh ke ambang pintu.
"A-Alika ..." Dirga diam mematung di tempatnya berdiri. Tak menyangka bahwa Alika akan berada di sana. Sedangkan Lula terdiam. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Apa maksud semua ini, Dirga?" tanya Alika menatap suaminya dengan menuntut.
"Al, aku bisa jelaskan."
"Penjelasan apa yang harus aku dengar dari kamu? Bahwa kamu sudah menikah lagi di belakang aku?" teriak Alika.
Bola matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap Lula dengan penuh kebencian. Berjalan menghampiri Lula dan memberinya sebuah tamparan keras.
Dirga berusaha menenangkan Alika dengan memeluknya. "Maafkan aku, Alika. Aku yang salah, bukan Lula."
Alika mendorong Dirga sekuat tenaga hingga mundur. "Kamu masih membela dia?"
"Aku bukan membela dia, Al. Aku cuma mengatakan yang sebenarnya. Lula hanya korban."
"Korban kamu bilang? Dia sudah merayu suami orang."
"Al ..."
"Jangan halangi aku, biarkan aku beri dia pelajaran." Ia menunjuk Lula. "Wanita macam apa kamu yang tega merebut suami dari wanita lain? Kamu tidak lebih dari seorang pela*cur!" teriaknya berapi-api.
Sakit menggores luka menganga ketika mendengar hinaan itu. Lula teringat pada malam Dirga melecehkannya. Di bawah pengaruh mabuk, Dirga terus bergumam meluapkan kekecewaannya pada Alika dan melampiaskan kepada dirinya.
Lula menarik napas dalam.
"Lalu istri macam apa yang lebih mementingkan karier dan kesenangan dibanding suaminya sendiri, sampai suaminya menjadikan wanita lain sebagai pelampiasan naf*sunya?" balas Lula meluapkan sakit di hatinya. Meskipun ia bersuara pelan, tetapi cukup menusuk.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
bagus lula jgn mau kalah, jgn mau d salahkan dan d injak2 harga diri mu
2024-12-05
0
Nur Hidayah
ok pembelaan yg jitu
2024-11-23
0
C2nunik987
ayo Lula kuat lawan Alika km hrs bisa membentengi dirimu sendiri....berjuanglah demi anakmu yg tdk berdosa💪💪💪💪😍😍😍
2024-07-07
1