Pagi hari Alika terbangun. Masih dalam balutan selimut, ia meraba pembaringan di sebelahnya.
Kosong. Dirga sudah tak ada di sisinya. Ia menatap pintu kamar mandi yang terbuka, menandakan suaminya tak berada di sana.
"Apa Dirga sudah berangkat sepagi ini?"
Alika meraih ponsel di atas meja nakas dan mencoba menghubungi sang suami, tetapi tak dijawab. Ia lantas mengenakan jubah piyamanya, lalu keluar kamar dan menuju lantai bawah. Tampak Mbok Darmi sedang menata makanan di meja.
"Mbok, suami saya ke mana, ya?" tanya Alika.
"Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya. Tuan juga tidak sarapan, katanya nanti di kantor."
Alika termenung sesaat. Ia semakin merasa Dirga sangat aneh sejak kemarin. Ia bahkan menghindar saat Alika mencoba merayu dengan manja. Padahal selama ini, Dirga tak pernah sekali pun mengabaikannya.
Ada apa dengan Dirga?
"Aduh ... Auh!" Alika larut dalam lamunan, namun tiba-tiba meringis seraya memegangi perut bagian bawah. Hampir saja terjatuh jika tidak berpegang pada sandaran kursi.
"Nyonya kenapa?" tanya Mbok Darmi begitu melihat majikannya meringis.
"Tidak tahu, Mbok. Akhir-akhir ini perut saya sering sakit."
"Nyonya tidak periksa ke dokter?"
"Nanti saya akan membuat janji dengan dokter." Ia lalu duduk di kursi. Mbok Darmi meletakkan segelas air putih ke hadapannya. Alika meneguknya perlahan.
Tiba-tiba ponsel milik Alika berdering. Ia mendengus saat melihat nomor yang tertera pada layar. Lalu beranjak meninggalkan dapur untuk menerima panggilan itu.
"Halo."
"Maaf, Bu. Saya ganggu pagi-pagi. Tapi ini sangat penting."
Alika tampak kesal. Ia sudah menduga apa yang membuat karyawan WO menghubunginya sepagi itu.
"Ada apa lagi?" tanya Alika setengah membentak.
"Beberapa customer komplain pelayanan kurang memuaskan. Selain itu, mereka menuntut pengembalian dana yang sudah ditransfer ke rekening Ibu. Jadi saya harus bagaimana, Bu?"
Bagaimana ini, aku sudah gunakan semuanya untuk bersenang-senang di Bali waktu itu.
"Kamu jelaskan dong ke mereka, kalau pembatalan sepihak itu berarti seluruh DP yang masuk akan hangus," Jawab Alika kesal.
"Tapi mereka membatalkan karena kesalahan dari pihak kita, Bu. Katanya Ibu janji akan memberi free gaun untuk resepsi. Tapi sampai sekarang gaunnya belum dipesan ke butik. Sementara resepsi tinggal dua hari."
"Ya sudah, saya akan cari jalan keluarnya." Alika memutus sambungan telepon. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Apa aku minta sama Dirga saja ya? Selama ini kan dia selalu memberi apa yang aku minta.
***
Di kantor ...
Dirga sedang disibukkan dengan berkas-berkas yang telah menumpuk di hadapannya. Sejak tadi ia tak dapat berkonsentrasi bekerja. Bayang-bayang Alika terus menghantuinya, rasa bersalah pun semakin merasuki hatinya.
"Bagaimana kalau nanti Alika tahu aku sudah mengkhianatinya dengan menikahi wanita lain? Dia pasti akan sangat sedih dan kecewa. Apa dia bisa memaafkan aku?"
Ia bersandar di kursi, memikirkan bahwa bukan hanya Alika yang akan ia sakiti. Ada Lula, istri rahasia yang tengah mengandung anaknya. Lula lah yang akhirnya paling tersakiti dengan hubungan ini. Meskipun di antara mereka telah ada kesepakatan untuk bercerai setelah kelahiran anaknya, tetapi hati kecil Dirga berkata yang dilakukannya ini salah.
Ceklek!
Lamunan Dirga seketika membuyar saat seorang pria memasuki ruang kerjanya. Ia hanya menoleh sekilas, lalu kembali terfokus pada berkas di hadapannya.
"Ada apa, Jeff?" tanya Dirga.
"Pak, saya menerima Lembar Tagihan kartu kredit Bu Alika."
Dirga menghela napas kasar, membuat Jeff merinding. "Terus kenapa kamu harus laporan sama saya? Kamu kan tinggal bayar."
Jeff tampak meragu. Selama beberapa saat ia terdiam seolah mencari kalimat yang tepat. Karena jika sedang sibuk dengan pekerjaan, Dirga terkadang tidak suka diganggu dengan alasan apapun.
"Tapi tagihan kartu kredit Bu Alika membengkak dalam jumlah yang tidak wajar, Pak." Walaupun ragu, namun Jeff memberanikan diri menggeser Lembar Tagihan kartu kredit Alika ke hadapan tuannya.
Sontak bola mata Dirga membulat saat membaca nominal jumlah tagihan yang tertera.
"Apa-apaan ini, Jeff?" pekik Dirga dengan mata melotot.
"Bu Alika melakukan beberapa kali transaksi, berupa pembelanjaan dan penarikan tunai dalam jumlah yang sangat besar, Pak."
Dirga pun membaca rincian transaksi yang dilakukan Alika selama sebulan terakhir. Jumlah yang sangat fantastis baginya.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Jeff.
Memijat pangkal hidungnya, Dirga kembali bersandar dengan frustrasi. Ia memang memberi Alika kebebasan untuk menggunakan kartu kredit yang diberikannya. Tetapi tidak pernah menyangka akan seperti ini.
"Blokir semua kartu kredit Alika. Saya akan bicara dengan dia nanti."
"Baik, Pak."
_
_
_
Siang itu Alika sedang berkumpul bersama beberapa teman di sebuah kafe ternama. Meja telah berantakan oleh piring dan gelas bekas makanan yang tadi mereka nikmati.
Inilah yang selama ini dilakukan Alika, bersenang-senang di belakang suaminya. Wedding Organizer miliknya seolah hanya sebuah topeng untuk menutupi kelakuannya. Nyatanya, Alika tak pernah mengurus WO itu dan hanya mengandalkan karyawan saja.
"Al, kamu mau ikut ke Singapura, tidak? Kita-kita lagi mau ke Singapura," tanya Yeni menyeruput minuman miliknya.
"Singapura?" Wajah Alika seketika berbinar. Ia sangat suka berbelanja dan Singapura adalah surga bagi mereka yang suka berbelanja. "Boleh deh. Aku akan minta izin Dirga dulu."
Ia melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Siang ini ia ada janji dengan seorang dokter untuk memeriksakan kondisinya yang kerap mengalami sakit di perut.
"Kalian info saja kapan mau berangkat. Aku sedang buru-buru. Ada janji dengan dokter siang ini."
Alika menautkan tas di lengan, mereka lalu bergegas menuju meja kasir untuk melakukan pembayaran.
"Meja enam belas tolong dihitung semua," ucapnya seraya menyerahkan sebuah kartu.
"Baik, Bu."
Alika mengobrol sebentar dengan teman-temannya sambil menunggu. Hingga beberapa saat, kasir wanita itu menatapnya.
"Maaf, Bu. Kartu ini tidak bisa digunakan."
"Oh, coba kartu yang satu." Ia memberikan lagi dua kartu lain.
"Maaf, Bu. Yang ini juga tidak bisa."
Alika terkejut. Ia menatap teman-teman dan kasir kafe dengan wajah memerah.
Dirga memblokir semua kartu kredit aku?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
ferdi ferdi
dirga masih terlalu bodoh, hanya karna cinta sampai tidak melihat seperti apa alika
2024-11-13
0
Nur Hidayah
hadiah yang mengejutkan
2024-11-23
0
C2nunik987
bagus Dirga ksh pljrn buat istri cantikmu ituuu.....lagian CEO kok begooo ksh donk bodyguard bayangan jd tau kegiatan diluar ngapain istrinya ituuu🙈🙈🙈
2024-07-07
1