Sejak kejadian malam itu, Lula mengundurkan diri dari Wedding Organizer milik Alika. Dirga juga beberapa kali menghubunginya karena rasa bersalah dan ingin menebus dengan memberikan kompensasi berupa sejumlah uang, namun Lula terus menolak karena tidak ingin harga dirinya terinjak oleh uang.
Dua bulan berlalu dengan cepat tanpa adanya komunikasi antara Dirga dan Lula. Lula seolah menghilang ditelan bumi. Selama itu pula Dirga terus dihantui rasa bersalah yang terkadang membawa dampak buruk dalam kesehariannya. Ia menjadi mudah marah dan banyak diam. Tak jarang hal itu menjadi pemicu pertengkaran dengan Alika.
Siang itu di sebuah gedung perkantoran ...
Dirga dan beberapa rekan kerja sedang berjalan menuju lobby. Siang ini mereka ada rapat penting dengan klien di sebuah restoran mewah. Namun, saat akan melewati pintu kaca otomatis, pandangannya teralihkan pada sosok gadis yang berdiri tak jauh darinya.
“Lula?”
Dirga mematung, begitu pun dengan Lula. Gadis itu menundukkan pandangannya.
Malu ....
Dirga melirik beberapa rekan kerja yang berdiri di sisinya. “Maaf, saya ada urusan sebentar. Kalian bisa berangkat lebih dulu, nanti saya menyusul.”
“Baik, Pak,” jawab salah seorang pria di antaranya.
Setelah kepergian beberapa rekan, Dirga pun mendekati Lula, yang mana membuat wanita itu menatapnya sekilas, lalu menunduk lagi. Terlihat beberapa orang yang berada di lobby saling berbisik satu sama lain seraya menatapnya penuh tanya.
“Ada yang perlu saya bicarakan, Pak.”
Dirga menganggukkan kepala. “Bisa ikut ke ruangan saya? Tidak enak di sini, banyak staf yang melihat.”
_
_
_
Lula belum dapat membendung luapan air mata sejak tiga puluh menit lalu. Tangannya gemetar mencengkram kuat bantalan kursi yang berada dalam pangkuannya. Betapa tidak, ia nekat mendatangi Dirga dengan membawa sesuatu yang sama sekali tak pernah ada dalam rencana.
Kehamilan ...
Malam nahas itu telah menumbuhkan bibit kehidupan baru dalam rahimnya. Bagaimana Lula bisa menanggungnya seorang diri, sementara ia hanyalah seorang gadis sebatang kara yang belum mendapatkan pekerjaan. Sebab setelah berhenti bekerja dari Wedding Organizer milik Alika, ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan lain.
“Lula ... Maaf kalau saya lancang. Tapi apa kamu yakin janin yang kamu kandung itu anak saya?”
Seolah Dirga telah menyiram air garam pada luka menganga, Lula merasakan perih tak terkira. Ia memberanikan diri menatap Dirga dengan berderai air mata.
“Maksud Bapak apa? Saya mau menipu Bapak, begitu?”
“Maaf, bukan begitu.”
Lula meletakkan bantal ke kursi dengan pasrah, lalu mengusap air matanya. “Saya juga tidak mau terjadi seperti ini. Lalu saya harus apa?”
Dirga mengusap wajahnya demi mengurai rasa frustrasi yang tiba-tiba melumpuhkan akal sehatnya. Ia memang menginginkan seorang anak, tetapi bukan dengan orang lain, melainkan dengan Alika yang merupakan istri sah-nya.
“Lula ... Kamu tahu saya sudah menikah dan saya sangat mencintai Alika. Tidak mungkin saya menikah lagi. Apa kamu bisa menggugurkan janin dalam kandungan kamu?”
Bagai tersambar petir, tubuh Lula semakin gemetar. Tidak ada yang dapat terucap dari bibirnya. Hanya air mata yang mampu melukiskan betapa hancur perasaannya.
“Kamu tenang saja, saya akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Uang, rumah, mobil, akan saya berikan semua untuk kamu. Tapi saya tidak bisa menikahi kamu.”
Lula mengusap air mata yang meleleh di pipinya, penolakan itu menciptakan rasa sakit bagai disayat belati tajam. Bukannya bertanggungjawab, Dirga malah memintanya menggugurkan janin dalam rahimnya.
“Maaf, Pak. Sepertinya saya melakukan kesalahan dengan datang kemari. Lupakan saja apa yang tadi saya katakan. Anggap saya tidak pernah kemari dan tidak pernah terjadi apapun di antara kita.” Ia berdiri dan beranjak keluar begitu saja dari ruangan itu. Dirga berusaha mengejarnya, namun dengan cepat Lula masuk ke dalam lift.
Tak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, ia mengejar dengan menggunakan lift lain. Tiba di lobby kantor, Dirga mempercepat langkah ketika Lula hendak keluar.
"Lula!" panggil Dirga membuat langkah Lula terhenti.
Dirga berjalan ke arah Lula, yang mana membuat tatapan beberapa staf mengarah padanya, namun kali ini Dirga tampak tak begitu peduli.
"Mari kita bicara, tapi jangan di sini."
_
_
_
Saat ini Dirga dan Lula tengah berada di
private room sebuah restoran mewah tak jauh dari kantor. Dirga memilih berbicara di tempat tertutup agar tak ada yang mendengarkan pembicaraan rahasia itu.
“Sebagai laki-laki yang bertanggungjawab, saya akan menikahi kamu.” Dirga membuka suara, membuat Lula memberanikan diri menatapnya.
Lula terdiam. Jari-jari tangannya saling meremas satu sama lain di bawah meja. Ia hanya menatap pria yang sedang duduk di hadapannya dengan datar tanpa ekspresi.
“Tapi saya ada satu permohonan dan saya harap kamu mengerti."
Lula masih diam.
"Saya hanya akan menikahi kamu secara siri dan status pernikahan kita tidak boleh diketahui orang-orang. Termasuk Alika dan keluarga besar saya,” ujarnya. "Maafkan saya, Lula. Kamu tahu saya sangat mencintai Alika dan saya tidak bisa menyakiti dia dengan pernikahan kita."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Meskipun lega, namun rasa bersalah yang membelenggu hati Dirga semakin besar terhadap Lula.
Melalui sebuah kesepakatan, Dirga pun menikahi Lula secara diam-diam tanpa seizin Alika dan keluarga besarnya.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika Dirga tiba di rumah setelah melakukan pernikahan rahasianya dengan Lula.
Satu hal yang mengejutkan Dirga, untuk pertama kali Alika menyambut kepulangannya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Alika.
"Aku ada rapat penting dan tidak bisa ditunda." Dirga melepas jas dan kemeja yang membalut tubuhnya, kemudian memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor, lalu masuk ke kamar mandi tanpa melirik Alika sedikit pun.
Alika pun merasa aneh dengan sikap dingin sang suami. Wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin. Sangat cantik dan se*xy dalam balutan lingerie tipis yang menampakkan lekuk sempurna tubuhnya.
Tak berselang lama, Dirga keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggang. Ia beranjak menuju lemari dan mengenakan setelan piyama.
Alika segera menghampiri dan memeluknya dari arah belakang.
"Aku setuju untuk punya anak," ucap Alika.
Dirga tercengang mendengar ucapan Alika, namun tak berani menatap matanya. "Aku pikir kamu tidak mau ada anak di antara kita."
"Sekarang aku menginginkannya, Dirga. Kamu benar, rumah tangga itu terasa hampa tanpa kehadiran seorang anak."
Paling tidak, dengan adanya anak di antara kita, aku bisa mengikat kamu selamanya. batin Alika.
Ia berjalan ke hadapan suaminya. Memeluk, menciumi pipi dan bibir berulang-ulang.
"Aku sudah siap," bisik Alika dengan mesra dan menggoda.
Dirga menarik napas dalam. Melepas tangan Alika yang melingkari tubuhnya.
"Maaf, Al ... Sekarang aku sangat lelah. Lain kali saja ya." Tanpa menunggu jawaban dari Alika, Dirga beranjak menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya membelakang. Menarik selimut hingga batas leher.
Menyadari gelagat aneh suaminya, Alika menatap curiga. Bahkan Dirga sama sekali tak tergoda dengan rayuannya. Sia-sia saja berdandan cantik dan menggunakan lingerie tipis.
Ada apa dengan Dirga? Ini pertama kalinya dia menolak aku.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nur Hidayah
sukurin dcuekin tar ditinggalin
2024-11-23
0
Lisa Agustina 09
ada apa dengan cinta
2024-11-17
0
ferdi ferdi
mudah2an cepat tumbuh rasa cinta ke lula biar cintanya ke alika habis tak tersisa
2024-11-13
1