Malam itu hujan turun dengan deras disertai badai. Kilatan cahaya dari langit menyambar diiringi gemuruh petir yang menggetarkan Bumi.
Lula menatap keadaan di luar melalui kaca jendela, sejak tadi ingin pulang, namun diurungkan mengingat cuaca buruk. Tiba-tiba lampu padam disusul oleh suara petir bergemuruh.
“Aaaa!” pekik Lula menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Ia berjongkok di sisi sebuah lemari etalase sambil menangis. Gadis itu sangatlah takut dengan kegelapan yang mencekam.
“Kamu kenapa?” Sosok tangan menepuk pundak Lula yang membuat gadis itu terjingkat. Ia refleks menutup hidung dengan jari ketika bau alkohol menyeruak.
“Ba-Bapak mabuk ya?” tanya Lula menyadari suara berat Dirga.
“Tidak, saya hanya minum sedikit.” Dirga memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ini adalah pertama kali dirinya menyentuh minuman haram itu demi melupakan masalah rumah tangganya.
Ia berusaha berdiri, namun hampir saja terjatuh. Beruntung Lula memegangi tangannya.
“Kamu bisa bantu saya ke dalam. Kepala saya pusing.”
“Ba-baik, Pak.”
Lula akhirnya membantu Dirga kembali ke dalam ruangan pribadi Alika. Sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk beristirahat saat merasa lelah. Selama bekerja, Lula baru pertama kali menginjakkan kaki di ruangan itu. Sebab Alika tidak mengizinkan sembarang orang memasuki ruangan pribadinya.
"Duduk di situ aja, Pak!" Lula membantu Dirga duduk di tepi pembaringan. Ia hendak meninggalkannya dan segera keluar, namun Dirga menarik tangannya hingga jatuh ke pangkuannya.
Deg!
Jantung Lula terasa akan keluar dari rongga dadanya saat tatapan mereka saling bertemu. Sorot mata Dirga seolah menghipnotisnya.
Tangan laki-laki itu terulur membelai wajah Lula dan detik itu juga membenamkan ciuman di bibirnya. Bola mata Lula pun melebar karena terkejut.
“Ja-jangan, Pak!” pekik Lula berusaha melepas pangutan itu. Namun Dirga seakan tak peduli. Ia memeluk Lula erat, kemudian menghempasnya hingga terjerembab ke tempat tidur.
"Kamu keterlaluan, Alika!" gumam Dirga membuat mata Lula melotot. Ia merangkak ke atas tubuh mungil gadis itu.
“Jangan, Pak! Tolong jangan! Saya bukan Bu Alika, Pak!” Lula berusaha memberontak, namun tenaganya kalah jauh dari Dirga meskipun laki-laki itu sedang dalam keadaan mabuk.
Derasnya hujan dan sambaran petir seolah menjadi saksi malam nahas itu.
_
_
_
Perlahan hujan mulai mereda menyisakan gerimis. Tetapi tak dapat menghilangkan kesunyian yang mencekam. Hawa dingin pun merambat.
Di dalam sebuah ruangan, hanya ada isak tangis memilukan yang memenuhi setiap sudut ruangan.
Lula mariana adalah seorang gadis yatim piatu berusia 22 tahun, tidak pernah menyangka malam nahas itu akan menimpanya. Sejak ibunya meninggal beberapa bulan lalu, ia tinggal seorang diri dengan menyewa sebuah kamar kost. Boleh jadi Lula menyesali kejadian malam ini. Dirga yang sedang dalam keadaan mabuk tanpa sadar telah merenggut kesuciannya.
“Saya minta maaf, saya tidak sengaja,” ucap Dirga penuh sesal dengan sisa-sisa mabuk. Ia mengutuk perbuatan bejatnya dalam hati. “Saya akan ganti kerugian kamu berapa pun itu.”
Lula menyeka air mata dengan selimut putih yang membalut tubuhnya. Melirik pakaian mereka yang masih teronggok di lantai.
“Apa uang Bapak bisa mengembalikan kehormatan saya?”
Dirga memijat kepalanya yang terasa berdenyut. “Lalu pertanggungjawaban seperti apa yang kamu inginkan dari saya? Selain uang, apa yang bisa saya berikan? Saya tidak mungkin menikahi kamu, karena saya sudah menikah. Selain itu saya sangat mencintai Alika. Saya tidak mungkin bisa mengkhianati dia dengan menikah lagi.”
Perasaan Lula semakin hancur rasanya. Jika tidak berdosa dan terjerat hukum, ia pasti sudah membunuh Dirga saat itu juga.
“Lula ... Saya tahu, berapa pun jumlah uang saya tidak akan sanggup mengembalikan kesucian kamu. Untuk itu saya minta maaf. Tapi hanya itu yang bisa saya berikan kepada kamu.”
“Saya tidak butuh uang Bapak.”
Dengan menahan air mata, Lula menggulung selimut hingga batas leher, lalu beranjak dari tempat tidur. Meraih pakaian yang teronggok di lantai, kemudian masuk ke kamar mandi. Dirga pun seolah tenggelam dalam rasa lautan rasa bersalah.
"Bagaimana ini. Kalau Alika tahu, dia akan kecewa dan tidak akan memaafkan aku?" gumam Dirga.
"Maafkan aku, Alika."
*****
Suasana temaram yang gempita di balik keheningan malam, menjanjikan ilusi semu bagi penikmatnya. Remangnya membisikkan secarik dosa dalam hura-hura dan aroma alkohol. Dari sebuah kursi terlihat beberapa perempuan cantik dengan pakaian minimnya, menyajikan dada terbuka dan pa*ha mulusnya yang menggoda. Tak jarang mereka membuang malunya demi sebuah hasrat surgawi yang murah.
"Kamu mulai mabuk, Al!" ucap seorang wanita yang mencoba memperingatkan temannya, tanpa sadar bahwa dirinya pun dalam keadaan setengah mabuk.
"Memangnya kenapa kalau aku mabuk, Yeni? Di sini kita bebas!" balasnya seraya menuang minuman ke dalam gelas.
Alika baru tiba di Bali beberapa jam lalu. Ia langsung disambut oleh teman-temannya, sekelompok wanita kelas atas yang gemar berpesta dan menghamburkan uang dan bertolak menuju sebuah klub malam.
"Ngomong-ngomong kamu pakai alasan apa lagi untuk bisa melarikan diri?"
"Aku bilang mau ikut ajang Wedding Expo dan dia percaya," jawab Alika santai.
"Kalau suami kamu tahu, kamu ke Bali bukan untuk ikut ajang Wedding Expo malah clubbing di sini, kamu bisa digantung."
"Haha, itu tidak akan terjadi, karena Dirga itu terlalu mencintai aku. Lebih tepatnya ... bodoh!" Tawa renyah menggema bercampur alunan musik DJ. Alika begitu menikmati dunia gemerlap itu.
"Sebenarnya aku penasaran, kamu cinta tidak sih sama suami kamu itu? Dia ganteng dan kaya. Kalau kamu bukan temanku, mungkin aku sudah jadi pelakor."
Alika kembali tertawa seraya menenggak minuman. "Aku hanya mencintai uang keluarga Mahendra saja. Tentang Dirga aku tidak peduli."
"Jadi selama ini suami kamu tidak sadar kalau kamu hanya memanfaatkan dia untuk bisa hidup mewah?" tanya Yeni.
"Dia bahkan tidak curiga kalau Wedding Expo hanya sebuah alasan. Padahal aku ke Bali hanya untuk bersenang-senang."
"Memangnya kamu tidak takut kalau nanti Dirga selingkuh atau jatuh cinta dengan perempuan lain karena keseringan kamu tinggal?"
Seketika senyum yang menghiasi wajah cantik Alika meredup. Berganti menjadi raut penuh keraguan. Ia masih ingat beberapa jam sebelum keberangkatannya ke bandara, ia bertengkar hebat dengan Dirga.
"Jangan salahkan aku jika selingkuh!" ucapan itu terus terngiang. Namun, kepercayaan dirinya yang begitu tinggi telah melambungkannya.
"Dia tidak akan pernah bisa berpaling dari aku. Karena dia terlalu mencintai aku," ujarnya penuh keyakinan.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Adek Ar
wanita didunia bukan hnya satu,mau cinta gmnpun klo seorg istri tdk berlaku selayaknya seorg istri tdk peduli akan kewajibannya pasti laki² akan cari wanita lain..cinta tdk menjamin hidup adem ayem..,buktinya bnyk mrk yg menikah krn cinta bahkan kawin lari tpi ujung²nya cerai dn diselingkuhi.
2025-03-18
0
yellya
sok iye bngt anda alika, laqi mo ktnya bucin stngh mati ,kl kbutuhan biologisnya ga terpenuhi bakalan nyari yg lain tau 😏😏😏
2024-11-23
0
ferdi ferdi
buka mata kamu dirga, jangan terlalu bodoh
2024-11-13
0