Zizi dan Shane yang tersedot pusaran angin tiba-tiba terhempas ke atas daun yang sangat lebar, Zizi merosot ke bawah dan nyaris jatuh ke air jika saja Shane tak segera melesat menangkap tubuhnya dan kemudian melompat ke atas tanah yang kering.
Sejenak Zizi tampak menghela nafas, ia celingak-celinguk begitu turun dari gendongan Shane.
"Kak Seng, kita di mana?"
Tanya Zizi.
"Yang jelas bukan di London, Nona."
(Iyalaah Shane, apalagi di Bumiayu, bukan banget)
Zizi menatap ke atas, terlihat tanaman-tanaman yang tumbuh sangat tinggi itu bentuknya menyerupai bunga-bunga yang ada di rumahnya dan di dalam pot, tapi kenapa di sini terlihat sangat besar seperti pohon.
Zizi menarik tangan Shane, mereka mendekat ke air yang tadi Zizi nyaris jatuh.
Air yang seperti genangan namun untuk Zizi seperti rawa-rawa itu membentuk telapak kaki besar, Zizi mengurut kening, apa sebetulnya yang terjadi, dunia apa ini di dalam cermin?
Zizi dan Shane masih berusaha mencari jalan untuk mereka bisa keluar dari hutan bunga tersebut manakala Zizi mendengar seperti suara mbak pocong.
Zizi celingak-celinguk lagi, mencari asal suara Mbak Pocong yang meminta tolong.
"Tunggu di sini Nona."
Kata Shane sigap.
Vampire itu melesat cepat naik ke atas daun-daun yang lebar dan tinggi, saat kemudian Shane melihat seorang mahluk gempal dan sangat besar membawa mbak pocong di bahunya.
Mbak pocong terlihat berusaha terlepas, tapi sudah tahulah bagaimana sulitnya ia menjalani hidup dengan kostum demikian.
Shane segera turun untuk kemudian menarik tangan Zizi ke atas.
"Di sana."
Kata Shane.
Zizi yang melihat Mbak Pocong dibawa mahluk gempal itu jelas saja langsung marah.
Tak ada yang boleh membulli hantu selain Zizi, itu aturannya.
Zizi tanpa bicara apa-apa lagi langsung melompat dengan lincah dan cepat dari satu daun ke daun lain diikuti oleh Shane.
Zizi terus bergerak mengikuti mahluk gembul itu yang menuju keluar hutan dan kemudian terlihat berjalan menuju seperti istana tua yang lebih mirip kastil Ruthven.
"Mbak Pocong."
Panggil Zizi begitu mereka sudah cukup dekat.
Mbak Pocong yang mendengar panggilan Zizi langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari suara Zizi, dan...
"Ah Nonaaaaaa."
Mbak Pocong yang merupakan fans bucin Zizi tentu saja langsung senang bukan main begitu melihat Zizi menyusulnya.
Namun, yang mendengar suara Zizi ternyata bukan hanya mbak pocong, melainkan mahluk gempal itu juga.
Mahluk gempal itu menghentikkan langkahnya, dan menoleh ke arah Zizi dan Shane yang terlihat sangat kecil kini berlari ke arahnya.
"Siapa kau?"
Geram mahluk itu.
"Itu Nona Zizi tahu, dasar dodol, kuper, tidak aptudet."
Omel mbak pocong di bahu mahluk gempal itu.
"Zizi apa? Mahluk apa dia? Kurcaci atau peri?"
Tanya mahluk gempal itu.
"Dia manusia, yang satunya itu vampire."
Mbak pocong malah memberikan informasi.
"Apa? Manusia?"
Mahluk gempal itu melempar mbak pocong seketika, yang langsung terpelanting jatuh ke bawah dan memantul-mantul.
"Hahaha... Akhirnya aku bisa makan manusia lagi."
Mahluk gempal itu terlihat sangat senang melihat Zizi, ia langsung tangannya mencoba menyambar tubuh Zizi yang kecil, semacam manusia dengan kucing.
Namun Zizi tentu saja tak semudah itu di tangkap, ia melompat menghindar.
"Kurang ajar, kamu mau main-main rupanya hah?!"
Gertak mahluk itu.
Shane menarik Zizi agar berdiri di belakangnya.
"Biar saya saja yang hadapi Nona, anda baru saja mengurus masalah hantu di dalam lukisan."
Kata Shane.
Dan tanpa menunggu Zizi menjawab, Shane dengan cepat melompat ke arah mahluk itu.
Dengan kukunya yang runcing dan tajam, Shane mengincar wajah mahluk gempal yang semula akan membawa mbak pocong.
Kuku Shane menyobek kulit dan sebagian daging wajah mahluk gempal itu hingga menyisakan luka yang cukup dalam.
Mahluk itu mengerang, belum cukup Shane menendang dada mahluk itu dan meninju rahangnya beberapa kali.
Mahluk itu terhuyung, di saat ia terhuyung, Zizi melompat menendang kedua lutut mahluk gempal itu hingga jatuh berdebum di atas tanah.
Shane melesat naik ke atas perut mahluk gempal yang kini terkapar, Shane menancapkan kelima jarinya ke atas perut mahluk itu, merobeknya hingga isinya terburai.
Zizi juga ikut naik ke atas mahluk gempal yang kini tak bergerak lagi, mereka memastikan mahluk itu sudah benar-benar mati.
"Mahluk apa ini?"
Gumam Zizi.
Shane menggeleng.
"Entahlah, ia hidup tapi tak ada darahnya."
Kata Shane.
Mbak Pocong tiba-tiba memantul ke arah mereka.
"Nona, Tuan, lega sekali kalian akhirnya masuk ke sini."
Kata mbak pocong dengan tawa sumringah seperti makan permen mint.
"Kau sudah bertemu Ali?"
Tanya Zizi pada mbak pocong.
"Belum."
"Haiihs sial."
Zizi mendesis.
"Tapi tadi ada seorang gadis cantik yang rumahnya di dekat hutan ini, aku dan Maria tadi jatuh di atas atap rumah gadis itu."
"Gadis?"
Zizi heran.
"Maksudmu ada manusia lagi hidup di sini?"
Tanya Zizi.
Mbak Pocong terdiam, ia tak yakin gadis itu manusia atau bukan, karena tadi baru lihat langsung ditendang dan akhirnya ditemukan mahluk gempal itu, dan dibawa pergi karena dikira ulat jenis baru.
"Berarti kemungkinan Aunty Maria ada di rumah gadis itu sekarang?"
Tanya Zizi pada mbak Pocong.
"Ya sepertinya ia ada di sana Nona, mustahil ada manusia yang akan menendangnya kan? Dia tak sesabar aku."
Lirih Mbak Pocong, antara curhat dan juga mengasihani dirinya sendiri.
"Baiklah kita ke sana dulu, nanti kita urus istana ini, sepetinya ada yang mencurigakan di dalam sana."
Kata Zizi.
"Ayo Nona, aku tunjukkan jalannya, kita mantul-mantul di atas daun dan bunga saja, di bawah akan sulit melihat jalan."
Kata Mbak pocong.
Mbak pocong kemudian memantul ke atas daun dari tanaman pertama dari hutan bunga.
Zizi kembali ditarik Shane agar bisa naik ke atas tanaman dengan ukuran besar-besar itu.
Setelah di atas daun, Zizi terlihat melompat lagi dari satu daun ke daun yang lain, dari bunga ke bunga yang lain mengikuti mbak pocong.
Sambil bergerak dengan lincah, Zizi mencoba memikirkan kenapa mereka harus masuk ke dunia dalam cermin ini, ada apa sebetulnya?
Kata Mama ini bukan kebetulan karena cermin itu sudah ada di rumah kakek dan neneknya selama lebih dari empat puluh tahun.
Sepertinya ada misi yang harus dilakukan Zizi di sini, entah apa Zizi belum tahu, tapi apapun itu, asal Zizi bisa membawa Ali kembali pulang, Zizi tak masalah.
"Itu rumahnya, yang atapnya dari jerami."
Kata Mbak Pocong begitu hampir keluar dari hutan bunga dan tak jauh dari mereka kini terlihat rumah dari kayu-kayu tua dengan atap jerami.
**---------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Loh si mbak pocong mo jadi santapan raksasa kali ya🤔😂
2022-10-09
1
Alexandra Juliana
Klo yg di Bumiayu mah orang tuanya Mbak Ning atuh Thor...😄😄
2022-09-27
0
Diana Dwiari
wkekwk ulat jenis baru....krna ga bisa bangun trs jalannya kayak.ulat ya
2022-03-11
1