"Cermin milik Ayah dan Ibu anda maksudnya Tuan Zion?"
Terdengar suara serak Paman Salim di kejauhan.
"Ya Paman, apa Paman tahu cermin itu dulu pesan di mana?"
Tanya Zion.
Ia telah mengirimkan foto cermin tua milik Ayah dan Ibunya yang ada di gudang lebih dulu tadi pada mantan pengawal yang kini telah pensiun.
"Ah ya, saya ingat."
Kata Paman Salim.
Zion menatap Ziyan, semua mendengarkan suara Paman Salim di telfon yang di loud speaker oleh Zion.
"Hari itu hujan turun sangat deras, kami baru pulang dari Tokyo untuk mengantar Ayah anda untuk menghadiri peluncuran mobil terbaru dari perusahaan sahabat beliau."
Paman Salim memulai ceritanya.
"Kami pulang ke rumah dan Ibu anda yang waktu itu tengah mengandung menunjukkan meja cermin tersebut kepada Ayah anda yang kami semua juga ikut melihat karena posisinya masih ada di ruang depan rumah."
Lanjut Paman Salim.
Semua terlihat masih mendengarkan dalam diam.
"Kata Ibu anda, sepasang kakek dan nenek menawarkannya untuk membeli cermin itu dengan hanya meminta satu kantong kecil beras."
"Satu kantong beras?"
Gumam Zion.
"Ya Tuan Zion, anda tahu kantong kecil milik orang-orang tua jaman dulu di Indonesia, yang sering mereka selipkan di celah pinggang?"
Zion mengerutkan kening, ia tampak menatap Zia yang kembali dari gudang karena penasaran dengan apa yang akan disampaikan Paman Salim.
Sedangkan Zizi dan Shane masih sibuk mencari cara masuk ke dalam cermin, Zizi terutama ia sudah benar-benar emosi.
"Sekantong kecil itulah kakek nenek itu meminta beras, waktu itu Ibu anda bercerita jika ia hendak memberikan uang lebih untuk membayar, beliau meminta Kakek nenek itu menunggu di ruang depan, sementara Ibu anda pergi ke kamar guna mengambil uang cash, namun ketika Ibu anda kembali, Kakek nenek itu sudah menghilang, dan yang ada hanya beras yang Ibu anda berikan pada sang Nenek di atas lantai rumah."
"Mereka hilang begitu saja Paman?"
Tanya Zia.
"Iya Nyonya, begitu Ibu Tuan Zion bercerita, kakek nenek itu hilang sementara beras yang ia berikan terlihat berceceran di dekat cermin."
Zia menghampiri Zion.
"Apa Paman mengingat ada sesuatu yang Ibuku katakan lain waktu itu?"
Tanya Zion.
Mata Zion terlihat menyapu ke seluruh ruangan di mana di sana keluarga Ziyan menatapnya.
"Ah yah, pintu, cermin adakalanya menjadi pintu untuk pulang dan pergi, begitu kakek nenek katakan pada Ibu anda saat menawarkan cermin tersebut."
"Pintu pulang dan pergi, apa mungkin..."
Zia bertatapan dengan Zion, setelah itu Zia bergegas keluar dari ruangan yang diikuti oleh semuanya.
Zia meminta pelayan mengambilkan beras sambil pergi ke gudang.
"Zizi..."
Zia memanggil anaknya.
Zizi yang duduk lemas karena rasanya kepalanya buntu tak bisa memikirkan jalan keluar menatap kedatangan Mamanya.
"Zizi dengerin Mama."
Kata Zia.
Zizi mengangguk.
"Pasti ada sesuatu di sana, cermin ini sengaja di letakkan di sini oleh dua orang asing sejak empat puluh tahun lebih, pasti ada maksudnya, Zizi bisa pegang janji akan hati-hati jika bisa masuk ke dalam?"
Tanya Zia.
Zizi jelas mengangguk yakin.
"Serahkan pada Zizi, Ma."
Kata Zizi.
Zia mengangguk, ia menoleh pada Shane.
"Bisa aku titip Zizi kan Tuan Shane?"
Tanya Zia.
Shane mengangguk.
Vampire tampan itu sama sekali tak ada keraguan menjawab permintaan Zia.
Zia kemudian berbalik sebentar untuk mencari pelayan yang tadi ia minta membawa beras.
Pelayan itu membawakan beras satu wadah besar.
'Haiiish, sedikit saja, kamu pikir mau masak-masakan atau bagaimana."
Zia geleng kepala, lalu mengambil sejumput saja dan sejenak Zia menatap cermin tua di dekat Zizi dan Shane.
Zia maju selangkah, dan menaburkan beras itu ke arah cermin yang tiba-tiba cermin itu menghitam, pusaran angin terasa berhembus kencang dari sana, angin itu membuat Zia dan yang lain terlempar.
Zizi dan Shane berusaha bertahan sekuat tenaga, bahkan berusaha melawan pusaran angin itu dengan semakin mendekati cermin.
Tubuh Zizi dan Shane kemudian tersedot masuk, keduanya berputar-putar di dalam pusaran angin yang kini semakin membawa mereka masuk ke dunia cermin.
**----------**
"Itu Meri."
Lori melompat senang saat ia mendengar suara Unicorn milik Belle.
Lori menjentikkan jarinya agar pintu rumahnya terbuka, dan terlihat Meri seorang nenek dengan wajah tirus, mata cekung dan hidung runcing berjalan tertatih-tatih memasuki rumah.
"Kenapa ada aroma manusia."
Kata Nenek.
Maria menatap kedatangan neneknya Lori yang bernama Meri itu.
Ah Meri, ku pikir ia berbentuk biskuit. Batin Maria.
Meri kemudian menatap Maria dan juga menatap Ali.
"Manusia tampan."
Meri terkekeh.
Lori sampai malu melihat kelakuan Neneknya yang sudah uzur masih tahu menggoda laki-laki.
Belle tak lama kemudian juga menyusul Meri memasuki rumah, aroma coklat panas menggodanya.
"Lori, kau minum coklat panas tanpaku, dan apa ini? Apa ini aroma kue madu juga?"
Tanya Belle.
Lori mendengus.
"Kita kedatangan tamu, apa salahnya memberikan hidangan yang lezat.'
Kata Lori.
"Ya, manusia sebaiknya diberi makanan yang banyak dan lezat, biar mereka gendut-gendut, dagingnya jadi banyak, itu akan sangat enak jika di jadikan santapan di pesta menyambut awal tahun peri."
Ujar Meri.
Apa, aku dikasih makan biar gendut? Enak sajam Batin Ali.
Apa dia tidak lihat aku sangat berotot seperti Ayah? Apa harus aku buka baju supaya dia tahu jika aku tak akan pernah mau jadi gendut dengan tubuh sesempurna ini. Kesal Ali dalam hati.
Lori menatap Ali dengan tatapan tak enak.
"Aku baru tahu peri makan manusia."
Kata Maria nimbrung.
Meri menatap ke arah Maria.
"Kau mahluk transparan, kenapa masuk juga ke alam peri?"
Tanya Meri heran.
Haiiish...
Maria jadi kesal karena semua peri di dunia itu bolot atau bagaimana, mereka malah tak tahu kenapa banyak mahluk lain masuk ke dunia mereka.
"Begini ya nenek hidung runcing.'
Maria turun dan melayang ke arah Nenek Meri yang kini berjalan ke arah Ali dan duduk di dekat Ali.
"Kami ini tiba-tiba masuk ke sini dan tidak tahu kenapa bisa masuk ke sini, tapi kalau kata Nona ku, dia pernah melihat mahluk tua jelek keluar dari cermin tua di rumah peninggalan kakek dan neneknya, aku tadi sedang melihat cermin dan itu lalu tersedot ke sini."
Maria menjelaskan.
"Apa? Cermin?!"
Meri begitu mendengar cermin tua langsung berdiri, ia menatap tajam ke arah hantu Maria.
"Kau yakin cermin itu sudah kembali terbuka?'
Tanya Meri antusias.
Maria jadi bingung, kenapa malah muka Meri jadi senang.
Meri kemudian menoleh pada Ali.
"Kau juga masuk lewat cermin itu?"
Tanya Meri.
Ali menggeleng, ia menoleh pada Lori sejenak, lalu kembali ke arah Meri.
"Aku mendengar suaranya, lalu aku melompat melewati kabut dan sampai di sini.'
"Ah... benar, berarti benar kata Oracle, kalian pasangannya, dan kita butuh satu pasangan lagi. Pasangan yang harus dari alam yang berbeda, yang bisa menyatukan energi untuk mengalahkan Birsha Dolores dan membebaskan kutukan desa-desa para peri."
Kata Meri.
"Hah, apa? Pasangan?"
Ali dan Lori saling berpandangan.
**-----------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
ic
mau pesta ini mah..
2023-01-21
0
Ray
Masalah yg harus diselesaikan lagi pastinya, satu pasangan lagi itu Zizi dan Shane 🤔
2022-10-09
0
Alexandra Juliana
What???? Apakah Ali akan dijadiin persembahan? Ho ho ho tdk semudah itu Meri, katahun sama Zizi ntar bukan bantal lg yg akan ngebejek² mukamu tp pedang Jayapada..🤭🤭
2022-09-27
0