Zizi sampai di rumah tepat saat Zia tampak keluar dari rumah dan diikuti mbak Ning dan dua mobil milik Mamanya dan pengawal sudah siap di depan rumah.
Zizi melompat turun dari mobil dan bergegas menuju Mamanya yang sibuk bicara di telfon.
"Tenanglah Kak Aisyah, kita akan segera berangkat, tunggulah."
Kata Zia menenangkan isteri kakak iparnya yang merupakan Ibunya Ali.
"Nah itu Zizi, sudah dulu Kak, kami akan berangkat."
Kata Zia.
Zia menutup telfonnya, lalu beralih pada Zizi.
"Berangkat sekarang saja Zi."
Zizi tanpa bertanya apa-apa mengangguk saja.
Ia menarik tangan Shane, pengawal pribadinya yang seorang vampire.
Hantu Maria dan mbak pocong ikut juga bersama Zizi, mereka selalu tak mau ketinggalan, terutama Mbak Pocong yang meskipun sering di buli tapi tetap saja mengekor pada Zizi dan teman-temannya, ya karena sekarang mereka adalah satu tim, begitu pikir Mbak pocong.
Zia menoleh pada Mbak Ning asistennya di rumah, yang merupakan isteri dari kepala pengawal kepercayaan keluarganya.
"Kami pergi dulu Mbak, nanti jika Arya pulang, katakan saja kami harus mengurus masalah Ali di Jepang."
Pesan Zia.
Mbak Ning mengangguk mengerti.
"Ya Nyonya, baik."
Kata Mbak Ning, yang kemudian mengiringi sang nyonya menyusul anaknya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil terlihat Shane sudah duduk bersama driver di depan, dan Zizi duduk di belakang bersama mbak Pocong.
Begitu Zia masuk, mbak pocong memilih duduk di bawah, ia cukup tahu diri. Hihihihi...
"Aunty Maria tak ikut?"
Tanya Zia pada anaknya.
Zizi menunjuk mobil pengawal yang kini bergerak keluar dari halaman rumah lebih dulu.
"Dia ikut mobil pengawal."
Jawab Zizi.
Zia menghela nafas.
Tak lama mobil mereka pun bergerak keluar dari halaman rumah, lalu melesat cepat meninggalkan rumah menuju bandara dengan di kawal mobil pengawal dari belakang.
Zizi tampak terus berbalas chat dengan Eva, kakak dari Ali yang merupakan putri sulung Paman Ziyan saudara kembar Papa Zizi.
"Semua sudah sampai di Jepang, pencarian atas Ali sudah mulai dilakukan besar-besaran."
Kata Zizi.
Zia mengangguk.
"Kemana anak itu? Siapa yang membawanya?"
Gumam Zia.
"Apa mungkin seperti kejadian saat dulu Arya di bawa siluman Kelabang?"
Lirih Zia seolah hanya gumaman saja dan tak perlu jawaban siapapun. Ia menatap jalanan kota Bogor yang mereka lewati.
Sementara Zizi terdiam di tempatnya, lalu tiba-tiba ia ingat sesuatu, segera Zizi mengirim pesan pada Eva.
[Ambilkan foto di dalam gudang]
Tulis Zizi.
Zizi menunggu dengan tak sabar, di putar-putarnya smartphone miliknya, hingga kemudian satu balasan dari Eva masuk.
Satu foto kondisi gudang di rumah Jepang.
"Cermin."
Kata Zizi saat melihat foto gudang yang kemudian dikirimkan Eva lagi.
Zia menoleh pada anaknya.
"Cermin apa Zizi?"
Tanya Zia.
Zizi menunjukkan layar hpnya, di mana ada foto yang dikirimkan Eva tentang kondisi gudang terbaru.
"Cermin tua milik kakek dan nenek yang di dalam gudang itu pintu ke dunia lain Ma."
Zia mengerutkan kening.
Zizi mengangguk.
"Saat dulu Zizi kecil, Zizi pernah petak umpet dengan Eva dan Ali, lalu Zizi masuk gudang, Zizi ingat sekarang, pasti cermin itu."
Zizi kemudian mengirim pesan lagi pada Eva, bukan hanya pada Eva, namun juga pada Papanya dan pada Paman Ziyan.
[Tutup gudangnya, jangan ada orang yang masuk gudang sampai Zizi tiba]
**-------------**
Flashback,
Jepang, musim dingin sepuluh tahun lalu...
Zizi, Eva dan Ali berlarian di dalam rumah kakek nenek mereka yang sudah menjadi milik Papa Zizi itu.
Mereka bermain kucing-kucingan, lalu akhirnya main petak umpet.
Ali yang kalah diminta menutup matanya, sedangkan Zizi dan Eva berlarian mencari tempat untuk sembunyi.
Eva berlari masuk ke dalam rumah dan memilih bersembunyi di kamar Mamanya, sementara Zizi yang selalu ekstrem memilih ke arah gudang di samping rumah.
Gudang yang dipenuhi barang bekas peninggalan kakek dan neneknya dahulu itu meskipun gudang namun tetap terlihat bersih dan rapih, tentu karena pelayan rumah yang bekerja di Jepang merawat nya dengan baik.
Zizi mengintip daro celah pintu gudang yang sengaja ia buka sedikit, terlihat dari tempatnya Ali mulai mencari keberadaan Zizi dan Eva kakaknya yang sudah bersembunyi.
Zizi cekikikan melihat Ali yang melihat sekeliling.
Zizi baru akan menepuk tangannya untuk memberi tanda di mana ia berada saat tiba-tiba Zizi seperti mendengar suara dentuman samar-samar yang diiringi suara pekikan dan lolongan aneh.
Zizi yang masih berusia sepuluh tahun itupun celingak-celinguk melihat ke sekeliling gudang.
Penasaran, Zizi akhirnya mencari asal suara itu, ia yakin suaranya ada di dalam gudang.
Hingga tiba-tiba saja, terlihat muka aneh melongok dari dalam cermin, muka nenek yang sangat jelek, dengan mata cekung, muka kurus dan hidung yang runcing.
Matanya yang cekung masih menutup, muka itu seolah berusaha keluar dari cermin.
Zizi mendekat ke arah cermin di sudut ruangan sambil tangannya iseng mengambil satu bantal yang di susun di atas kasur yang tak terpakai.
Muka nenek jelek itu masih berusaha keras keluar dari cermin, saat kemudian Zizi berdiri di depannya dan menabok muka itu dengan bantal.
"Aduh!"
Nenek itu membuka matanya, melihat Zizi yang dengan cepat tanpa bicara apa-apa mendorong muka nenek itu masuk lagi ke dalam cermin dengan bantal yang ia pegang.
"Hihihihi..."
Zizi cekikikan.
Setelah muka nenek itu masuk lagi ke dalam cermin, Zizi menatap cermin dalam gudang itu, di mana kini hanya bayangan wajahnya yang terpantul.
Namun, Zizi masih bisa mendengar suara-suara aneh dari dalam sana, suara seperti keributan, seperti sebuah perang atau apa Zizi tidak paham.
Zizi menatap cermin itu, ia mengulurkan tangannya ke arah cermin, namun cermin itu sudah menjadi selayaknya cermin biasa.
"Pintu ke dunia lain, kenapa cermin nenek jadi pintu ke dunia mahluk aneh?"
Gumam Zizi tak mengerti kondisi yang terjadi.
Zizi kemudian akan meninggalkan cermin itu lagi dan akan keluar dari gudang saja, manakala ia mendengar kata-kata yang hanya samar-samar.
"Kita tidak bisa sekarang, sudah menutup lagi, kita musti menunggu sepuluh tahun lagi."
Zizi menoleh pada cermin yang tampak bayangan Zizi seperti biasa.
"Siapa kalian? Jika hantu tunjukkan wujud kalian!"
Zizi jadi kesal.
Tapi tak ada jawaban.
Suasana kembali hening, seperti saat pertama kali Zizi tadi masuk untuk sembunyi.
Zizi menghela nafas.
Bersamaan dengan itu pintu gudang terbuka pelahan, dan Ali muncul di sana, tertawa senang karena telah menemukan Zizi.
"Kak Zizi kena."
Kata Ali.
Zizi menepuk jidatnya, ia lalu berjalan menuju Ali yang kini terlihat memandangi seluruh gudang di mana Zizi bersembunyi.
"Kau pasti merasakan energi asing bukan?"
Tanya Zizi pada Ali.
Ali menatap Zizi.
"Mereka bukan hantu, entah mahluk apa."
Ujar Zizi lalu menarik tangan Ali keluar dari gudang.
"Jangan pernah masuk gudang sendirian Ali, apalagi jika tidak ada Kak Zizi."
Pesan Zizi pada Ali yang mengangguk mengerti.
**----------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Oh seperti itu ceritanya tentang cermin yg ada di gudang🤔Penasaran....baca terus🙏😘
2022-10-09
1
Yunida Julianti
nah si ali lupa pesan zizi
2022-04-11
1
Yunida Julianti
jangan jangan itu neneknya si lori ya khaaan
2022-04-11
1