Lima tahun lalu,
Suara sirine ambulance terdengar memenuhi setiap sudut rumah peristirahatan tepi pantai rumah seorang janda kaya bernama Nyonya Rosita.
Tampak dari dalam rumah peristirahatan tersebut, tubuh seorang gadis cantik yang bersimbah darah di gotong keluar dan dibawa ke ambulance.
Nyonya Rosita menjerit histeris, memanggil nama putrinya yang sekarat karena mencoba bunuh diri.
Setelah ia dipaksa aborsi dan kemudian nyonya Rosita memaksanya untuk pindah ke Melbourne, anaknya bukannya pergi ke Melbourne malah lari ke rumah peristirahatan mereka untuk melakukan bunuh diri.
Veli, anak Nyonya Rosita hanyalah gadis rumahan yang pendiam, sejak Ayahnya menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat jurusan Singapura, Veli memang menjadi sangat tertutup.
Hingga kemudian ia berpacaran dengan seorang teman kampusnya, Nyonya Rosita yang sejak awal menentang hubungan itu karena alasan klasik perbedaan kelas ekonomi membuat Veli memberontak justeru dengan cara yang salah.
Ia merelakan dirinya pada pacarnya, hingga kemudian Veli dinyatakan hamil dan pacarnya melarikan diri tak bertanggungjawab.
Yang paling menyakitkan adalah, alasan sang pacar melarikan diri justeru karena ia sudah terlalu sakit hati dengan semua penghinaan Nyonya Rosita, maka apa yang kini ia torehkan pada Veli adalah jelas kesalahan Nyonya Rosita, bukan kesalahannya pada Veli.
Veli yang ditinggalkan dalam keadaan berbadan dua akhirnya mau tak mau menuruti Ibunya untuk menggugurkan kandungannya.
Janin yang digugurkan itu kemudian di kubur di dalam rumah peristirahatan milik Nyonya Rosita.
"Rumah ini akan jadi rumah anakmu."
Begitulah kata Nyonya Rosita pada Veli saat menguburkan janin yang diaborsi.
Sejak saat itu Veli dihantui rasa bersalah yang terlalu dalam, hampir setiap hari ia mendengar suara anak kecil memanggilnya Mama.
Terkadang panggilan itu juga disertai tangisan yang menyayat hati.
Dingin Mama...
Lapar Mama...
Aku ingin dipeluk Mama...
Hal itu membuat kejiwaan Veli terguncang.
Takut melihat anaknya nanti akan gangguan jiwa, Nyonya Rosita memutuskan untuk memindahkan Veli ke Melbourne, namun keputusan itu justeru kemudian membuat Veli makin terguncang dan akhirnya bunuh diri di dekat makam sang anak.
Yah...
Siapa sangka,
Malam itu, saat hujan turun membasahi kawasan Pelabuhan Ratu, rumah peristirahatan Nyonya Rosita yang masih belum sempat dibersihkan mengundang sesosok mahluk masuk ke dalamnya.
Aroma anyir darah bekas Veli bunuh diri yang masih tersisa membuat mahluk itu mendapatkan energi yang luar biasa istimewa.
Mahluk jelek itupun pelahan kemudian menjelma laksana Veli yang cantik.
Mahluk itu kemudian memanggil janin Veli dengan nama Nina.
"Nina, sekarang akulah ibumu, Ibu yang akan merawatmu, memberimu kasih sayang dan juga membalaskan sakitmu menjadi anak yang dibuang."
**------------**
Zizi menatap mahluk jelek di hadapannya, ia masih mengacungkan pedangnya ke wajah jelek itu.
"Kau yakin akan membunuhku? Padahal aku sudah berbuat baik pada anak itu."
Kata mahluk di hadapan Zizi.
"Jadi kau berada di lukisan rumah peristirahatan Nyonya Rosita karena rumah itu terhubung dengan lukisan ini."
Kata Zizi.
Mahluk itu menyeringai.
"Nyonya sengak dan sombong itu memang sudah seharunya melalukan itu untuk cucunya, lihatlah anak itu, apa kau tak kasihan melihatnya?"
Tanya si mahluk tersebut pada Zizi.
Tampak Zizi menoleh pada Nina, si hantu kecil yang dicekik Zizi.
Zizi melemparkannya menjauh.
"Di situ saja."
Hardik Zizi saat Nina seperti akan bergerak pergi.
"Wanita sombong itu ketakutan aku datangi bersama cucunya, ia membuat lukisan itu dan sengaja meletakkannya di sini karena saran seorang dukun agar aku dan cucunya mencari korban lain selain dirinya."
"Dan kau melakukannya!"
Kata Zizi.
Mahluk itu tertawa keras.
"Aku hanya mengambil tiga orang saja, itu karena mereka aromanya mirip Veli, aroma sensitif, aroma orang yang jiwanya lemah, aroma orang-orang kesepian."
"Tiga orang?"
Zizi memastikan lagi.
Pantas saja ia mendengar suara tiga perempuan.
"Dua adalah pelayan di rumah Nyonya Rosita sebelum lukisan ini dipindahkan, dan satu adalah gadis yang memiliki indra keenam tapi lemah itu, hahahaha..."
"Bedebah, sudah jelek jahat pula!"
Tung!!
Zizi memukul kepala mahluk itu dengan bagian sisi pedangnya yang tak tajam.
Namun tetap saja, energi jayapada yang begitu besar membuat mahluk itu mengerang seperti terbakar hebat.
Mahluk itu berguling dan tiba-tiba berusaha menyerang Zizi dengan cakarnya, namun Zizi yang siaga jelas saja langsung dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah mahluk itu.
Tebasan pedang Zizi pun mengenai mahluk dengan energi jahat itu, dua tubuhnya terbelah dan terbakar api jayapada, api yang membakar tubuh mahluk itu membumbung tinggi, menjilat plafon rumah peristirahatan dan kemudian menjalar ke seluruh sudut bangunan.
Zizi melompat ke arah hantu kecil Nina yang lemas.
Energi jahat yang disalurkan mahluk itu pada Nina menghilang seiring hancurnya tubuh si mahluk itu.
Zizi menggendong Nina keluar dari rumah peristirahatan sebelum api membakar bangunan rumah itu.
"Auntyyyyy... Auntyyyyy..."
Zizi berteriak memanggil Maria.
Zizi panik luar biasa melihat rumah itu dilahap api sedangkan Maria masih ada di sana tengah mencari keberadaan Sasi dan korban lainnya.
Hingga dari arah laut terlihat seperti ikan terbang (wkwkwkwk... Ku menangiiiiiiiis)
Di atas ikan itu tampak mbak Pocong naik dengan bahagia, mbak pocong memantul dari atas ikan terbang dan berguling ke arah Zizi.
"Aunty Maria ada di dalam."
Kata Zizi.
"Tenang Nona, ini urusanku."
Kata mbak pocong, dan...
Seerrrrr... seerrrrr...
Mbak pocong berputar seperti gangsing sambil masuk ke dalam rumah yang terbakar, dari gerakan memutar itu Mbak pocong seperti sedang mengeringkan diri karena airnya jadi keluar semua dan memadamkan api di sekitarnya.
Saat yang bersamaan, Maria melayang menarik tiga perempuan muda yang di antaranya adalah Sasi.
Zizi yang melihat tampak langsung lega, dan Zizi memeluk hantu kecil bernama Nina di sampingnya.
"Jika terlambat, mereka semua sudah menjadi budak para lelembut karena mati terseret."
Kata Maria.
Zizi mengangguk.
"Ah sekarang, kita harus segera keluar dari sini Aunty."
Ujar Zizi.
Hantu kecil Nina menggoyang tangan Zizi.
Matanya yang bulat mengerjap ke arah Zizi.
"Ikuti aku Nona, akan aku tunjukkan pintunya."
Kata hantu kecil itu.
**----------**
Di luar lukisan Shane tampak begitu panik, ia berulangkali mencoba masuk ke dalam lukisan, namun tubuhnya terus terpental dan tersungkur.
Hingga tiba-tiba sebuah gelombang energi yang besar tiba-tiba menyeruak dari lukisan itu, Shane belum sempat berdiri dari posisinya tersungkur, manakala dilihatnya Zizi keluar dari sana, tak lama berselang tampak pula keluar Mbak Pocong, Maria dan tiga gadis lain.
Bluk... Bluk... Bluk...
Semua menindih mbak pocong, Zizi yang pertama keluar memang langsung berguling ke pinggir hingga selamat dari ketindihan mbak pocong dan yang lain.
Zizi tertawa melihat mbak pocong jadi tipis.
**---------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Apes banget sih nasib mbak pocong😂🙏Crazy up dan selalu semangat💪🙏
2022-10-09
1
Siti Maghfiro
somplak..keren ..lucu bin ngakak
adeh perutku
2022-06-02
1
Angraini Anggraini
duhh kasian mbak pocong selalu sial hahaaj
2022-04-15
1