"Kami harus menyatu agar tak ada kejahatan manusia, jin, setan dapat berkuasa untuk berbuat kerusakan menggunakan Jayapada."
Suara terdengar seiring suara gemuruh di kaki langit yang gelap.
Angin yang semula berhembus lembut kini seolah mengamuk bergulung-gulung.
"Zia... Pastikan anakmu mengemban amanah ini, pastikan Jayapada akan bersih seluruhnya dari energi iblis yang mengundang mahluk jahat untuk ingin memilikinya pula."
Suara itu timbul tenggelam di tengah suara gelegar alam yang dahsyat.
Zia berpegangan pada pohon jati kokoh yang paling besar. Petir menyambar berkilat-kilat di atas sana.
Angin kencang yang berhembus bercampur dengan air hujan yang turun tiba-tiba dengan derasnya.
Nyi Retnoasih, Nenek moyang Zia yang kini mawujud sebagai cahaya kehijauan membungkus jayapada yang membumbungkan api yang sangat dahsyat.
Zia tubuhnya bergetar melihat betapa mengerikannya saat Jayapada mengeluarkan energinya.
Suara pekik terdengar nyaring, seekor Naga besar melesat cepat di angkasa melewati badai yang dahsyat.
Naga itu terbang begitu cepat menuju Zia, kepak sayapnya yang besar menyabet pepohonan di sana dan merobohkan sebagiannya.
Naga itu mengarah kepada Zia, diangkatnya tubuh Zia ke atas, membawa Zia terbang menjauh dan melemparkannya begitu saja.
Aaaaaaaaa...
Zia berteriak keras, dilihatnya di bawah sana bukit berjejer-jejer dan juga jurang curam yang sangat dalam.
Zia menutup matanya.
Ia pasti akan mati...
Ia pasti akan mati...
Bugh!!
Zia terjatuh.
Zia membuka matanya, dan dia ada di lantai kamarnya.
Ah ya Tuhan, apa tadi barusan. Zia mengurut pinggangnya yang sakit karena jatuh dari tempat tidur.
Pelahan Zia bangkit dan kembali ke atas tempat tidurnya.
Mimpi, ia mimpi yang tak asing.
Ya... Mimpi yang persis sama yang dulu ia juga sering memimpikannya ketika masih hamil Zizi.
Zia menghela nafas, ia kemudian berjalan ke arah kulkas di dalam kamarnya, mengambil botol air dingin dan menuangnya dalam gelas.
Kenapa mimpi itu kembali datang lagi, apa karena waktunya sudah dekat?
Batin Zia seraya meneguk air minumnya.
Zia menatap jam dinding kamarnya yang kini menunjukkan angka sebelas malam. Zia teringat Zion yang ada di Jepang.
Cepat Zia mengembalikan botol air minumnya lagi ke dalam kulkas dan menutup pintu kulkasnya, lalu mencari hp miliknya yang tadi sebelum tidur ia letakkan di tempat tidur di sampingnya.
Ada tiga panggilan tak terjawab dari Zion, suaminya memang begitu, tak pernah melewatkan satu kalipun memberi kabar ketika bepergian tanpa Zia.
Zion juga mengirim dua pesan di aplikasi chatnya.
Zia segera membukanya untuk membaca sekiranya ada yang penting.
[Sayang, kau sudah tidur? Jangan sampai telat makan]
[Peresmian hotel di Jepang berjalan lancar, tapi Ali bicara padaku di rumah lama Ayah yang sudah tak kita huni ada energi jahat yang mengganggu, Ia sejak tadi di luar dan tak juga mau masuk, aku bingung membujuknya, ia sungguh keras kepala seperti Kak Ziyan]
Tulis Zion.
Zia mengerutkan kening.
Energi jahat di rumah lama Ayah? Ah Ali tak bisa melihat bentuk mahluk itu, ia hanya bisa merasakan energinya, pasti akan sulit baginya nanti jika harus menghadapinya.
Zia segera menelfon Zion.
Tak butuh waktu lama saat kemudian Zion mengangkat panggilan sang isteri.
Zion si bucin tentu saja tak pernah membiarkan Zia menunggu terlalu lama jika menefon Zion, sesibuk apapun pasti zion akan langsung sempatkan angkat.
"Ya sayang."
Kata Zion.
"Di mana Ali?"
Tanya Zia yang langsung menanyakan Ali.
"Dia baru saja masuk kamar, aku juga baru masuk."
Kata Zion.
"Ah syukurlah."
Sahut Zia.
"Kau baru baca pesanku?"
Tanya Zion.
"Ya, aku baru terbangun, aku mimpi Nenek Retnoasih dan Nenek Bandapati."
Zion menghela nafas.
"Kamu baik-baik saja?"
Suara Zion terdengar khawatir.
"Yah, aku baik-baik saja, aku hanya merasa banyak yang hilang ketika hamil Zizi kini muncul lagi, mungkin seperti untuk aku diingatkan."
Kata Zia.
Zion terdiam saja di sana.
"Ali, jangan biarkan dia mengurus hantu seorang diri, dia belum cukup mumpuni, katakan saja itu pesan dari bibi Zia."
Ujar Zia kemudian berpesan.
"Ali hanya bisa merasakan energi tapi ia tak bisa melihat dengan jelas bentul mahluknya, akan terlalu berbahaya jika seperti itu, ia tak bisa mengukur kekuatan lawannya."
Kata Zia lagi.
"Ya, aku akan menyuruhnya pulang besok ke Kuala Lumpur, aku tak mau ada apa-apa nanti dan Kak Ziyan akan mengamuk padaku."
Ujar Zion.
"Ya, itu jauh lebih baik."
Sahut Zia setuju.
"Ini saja Zizi tidak pulang, dia menginap di hotel."
Zia bercerita.
"Benarkah?"
Zion memastikan.
"Ya, pasti ada yang terjadi di sana, tapi dia tidak berani cerita, Zizi tak mungkin tiba-tiba senang menginap di hotel jika bukan karena ada urusan hantu. Aku dari tadi menunggu Zanuba datang tapi belum juga ia terlihat, jin kecil itu belakangan jarang main ke rumah."
Kata Zia.
"Mungkin energi pusaka nenek cukup mengganggu."
"Yah sepertinya, beberapa tanaman di sekitar rumah juga kering secara mendadak, bahkan tiga hari ini aku lihat selalu ada Cicak yang jatuh dari dinding lalu mati saat melintas di depan kamar Zizi."
Cerita Zia.
"Mati?"
Tanya Zion seperti terkejut.
"Yah, aku baru menyadarinya tiga hari ini, sepertinya benar energi pusaka itu juga bercampur dengan energi kegelapan. Rumah ini juga lebih panas dari biasanya."
kata Zia.
"Kalau itu aku sudah merasakannya sejak Zizi membawa pusaka itu pulang."
Jujur Zion.
"Arya bagaimana? Dia pulang atau tidak hari ini?"
Tanya Zion pula menanyakan Arya yang ia sudah anggap macam anaknya sendiri itu.
"Ah sepertinya ia menangani kasus baru lagi, ia sangat sibuk, hari ini ia bahkan tak pulang sama sekali. Rumah benar-benar sepi sekarang, untung saja Mbak Ning tetap mau bertahan bersama Bang Dimas untuk tetap tinggal di sini, coba kalau mereka beli rumah, aku sungguh-sungguh kesepian, masa aku harus duduk ngopi dengan bodyguard di depan."
Kata Zia membuat Zion tergelak.
"Nanti kalau Zizi menikah dan memberi cucu, kamu ngga akan kesepian lagi."
Seloroh Zion di sela tawanya yang disambut tawa Zia juga.
Sementara itu, di zombie hotel, terdengar suara teriakan laki-laki dari sebuah kamar di lantai dua, kehebohan pun terjadi di tengah malam buta.
"Kuntiiiiiiii... Kuntiiiiiiiii..."
Pemuda berambut cepak bernama Andri itu lari tunggang langgang menuruni tangga dan terlihat hantu perempuan mengikutinya sambil merangkak cepat.
"Ampuuuuun.... ampuuuuuun..."
Andri yang masih memegangi kamera sampai mengompol dalam pelariannya yang menyedihkan.
Dikejar hantu perempuan yang merangkak mengikuti nya menuruni anak tangga.
Suaranya yang begitu keras membuat tamu hotel yang satu lantai dengannya keluar dari kamar, termasuk Rani dan Sasi temannya.
Zaki sendiri di kamar terduduk lemas, wajahnya pucat pasi seperti orang linglung.
**-----------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
lagian naik ke tempat tidur gak pake bersih2x dulu dan baca doa, jadinya diikutin deh tuh sama mbak Kunti😱🙏
2022-10-09
0
Ayuk Vila Desi
kaget ada penampakan...🤭
2022-07-19
0
Angraini Anggraini
hahaha kapoktu yg ketakutan
2022-04-15
0