Zizi, Shane, Aunty Maria dan mbak pocong yang tubuhnya tiap berdiri goyang kanan kiri menatap lukisan di depan sebuah kamar yang ada di lantai lima.
Kamar paling ujung yang kata seorang resepsionis yang anehnya selalu jadi kamar yang di booking orang yang sama.
"Aku rasa dia bukan mencari orang hamil untuk hanya jadi parasit Aunty, tapi seperti yang nenek hantu bilang, jika ia mencari tumbal entah untuk tujuan apa."
Kata Zizi.
Aunty Maria kemudian masuk ke dalam kamar yang tadi terkunci sendiri dari dalam.
Ia menembus pintu, lalu disusul oleh Mbak pocong.
"Tidak ada apa-apa di sini."
Kata mbak pocong.
Aunty Maria mengangguk.
"Ya sepertinya dia pergi dan sembunyi lagi."
"Masuk saja ke dalam lukisan."
Kata Mbak ppcong.
Aunty Maria mengangguk.
"Tumben kamu pintar, biasanya bolot."
Kata Aunty Maria yang padahal dia juga sering bolot.
"Ah aslinya aku itu cerdas, tapi aku pencitraan saja pura-pura bolot."
Maria melayang ke arah mbak pocong dan menampol kepalanya.
"Mana ada pencitraan malah merendahkan mutu, yang ada bolot pura-pura pinter."
"Ooh gitu ya."
Mbak pocong mantuk mantul.
"Biasa saja kalo ngangguk."
Kesal Maria melihat mbak pocong yang sedikit mantul-mantul.
"Aku ngga bisa ngangguk biasa, aku akan selalu mantul, itu sebabnya pocong kayak aku itu langsing, ngga ada pocong gendut."
Aunty Maria mendengus.
"Sudah, ayo keluar nemuin Zizi."
Maria menarik mbak pocong keluar.
Di sana tampak seorang staf hotel berbincang dengan Zizi.
"Jadi lukisan ini hadiah dari seorang tamu undangan?"
Tanya Zizi pada staf hotel.
"Iya Nona, kalau tidak salah namanya Nyonya Rosita."
"Nyonya Rosita."
Zizi menggumamkan nama itu.
"Apa dia teman Papa?"
Tanya Zizi.
Staf hotel itu menggeleng.
"Saya kurang tahu Nona, tapi yang jelas saya tahu beliau masuk dalam list tamu undangan saat hari peresmian."
Zizi mengerutkan kening, ia lalu menoleh pada Shane seperti mencoba bertanya pada Shane apa yang sebaiknya mereka lakukan.
Shane yang paham Zizi menatapnya bukan karena sedang mengagumi ketampanannya, maka bicara pada staf hotel sebagai bodyguard Nona Zizi.
"Apa lukisan ini Tuan Zion yang meminta digantung di sini?"
Tanya Shane.
Staf hotel tersebut sejenak terdiam, lalu ia menggeleng.
"Ada beberapa hadiah yang diterima hari itu, dan sekitar lima di antaranya adalah lukisan. Lukisan tema hantu semuanya di letakkan di lantai satu, sementara lukisan ini karena temanya biasa jadi kami letakkan di lantai lima yang memang untuk kamar-kamar bukan tema."
Zizi menatap lukisan di depannya.
"Kita masuk saja ke dalam, kita akan tahu di sana sebetulnya siapa saja yang menghuni."
Kata Aunty Maria.
Zizi sejenak menatap Aunty Maria.
"Harusnya kamu bawa pedangmu juga."
Kata Aunty Maria lagi.
Zizi mengangguk mengerti.
Zizi kemudian ke arah staf hotel.
"Katakan pada resepsionis, untuk menutup kamar ini dari pesanan tamu selama tiga hari, katakan Nona Zizi yang akan menempati."
Kata Zizi.
Staf hotel itu mengangguk.
"Dan lukisan ini aku bawa masuk kamar."
Ujar Zizi pula.
Staf hotel itupun mengangguk lagi.
**-----------**
Lukisan yang terlihat biasa saja itu kini di letakkan bersandar di badan tempat tidur kamar hotel.
Zizi, Shane, Aunty Maria dan mbak pocong kini menghadapinya.
"Aku ngga bisa masuk kalau ngga tidur dulu kan?"
Gumam Zizi.
"Kamu ambil dululah pedang milikmu, kalau di sana ada yang berbahaya apa kamu mau ambil risiko?"
Tanya Aunty Maria.
Zizi mantuk-mantuk.
"Ya besok pagi aku akan ke Bogor sebentar dengan kak Seng. Malam ini kita berjaga saja dan siaga kalau ada yang keluar atau masuk dari lukisan ini."
Ujar Zizi.
"Ah aku juga akan tanya soal Nyonya Rosita pada Papa besok, barangkali ada yang mencurigakan dengan dia."
Tambah Zizi.
Aunty Maria dan Shane mengangguk setuju.
Zizi kemudian merebahkan diri di atas karpet lantai kamar itu.
Posisi semacam itu membuat Shane di sebelahnya membuat Shane jadi gugup.
Shane yang tak ingin otaknya jadi melalang buana tak jelas akhirnya memilih berdiri dan berjalan menuju balkon.
Maria dan mbak pocong tampak mengikuti Shane dengan matanya, mereka seolah bisa ikut merasakan kegalauan Babang vampire.
"Aunty."
Panggil Zizi yang sama sekali tidak peka.
"Kira-kira kapan kita akan ke Merapi ya? Apa perlu kita ajak Ali?"
Tiba-tiba Zizi ingat tugas besarnya untuk menemui Eyang penguasa Merapi untuk meminta pembersihan pusaka leluhurnya.
"Lha katanya suruh nunggu moyangmu OTW."
Kata Aunty Maria.
Zizi mengerjapkan matanya menatap langit-langit, kedua tangannya ia lipat untuk bantalan kepalanya.
"Aku mikirin kerajaan Dalu, apa bisa kerajaan itu kembali seperti dulu? Bagaimana kira-kira Putri Arum Dalu sekarang."
Lirih Zizi.
"Kamu mau ajak Ali memangnya dia mau?"
Tanya Aunty.
"Besok Zizi telfon, dia kan nemenin Papa ke Jepang."
Kata Zizi yang kemudian memejamkan matanya.
"Zizi ngantuk, gantian jaga ya."
Kata Zizi.
Mbak pocong tampak ikut berbaring di sebelah Zizi.
"Aku juga mau tidur sebentar, pinggangku encok."
Kata mbak pocong.
Haiiish... Maria mendesis.
Sejenak Maria melihat ke arah shane yang duduk di teralis besi balkon sambil menatap bulan.
Kasihan vampire itu, Maria tahu perasaan dia tulus pada Zizi, sayangnya Zizi terlalu dodol untuk memahami perasaan orang lain.
**-------------**
🎶Ana Kidung Rumekso Inge Wengi
Teguh Hayu Luputa Ing Lara
Luputa Bilahi Kabeh
Jin, Setan Datan Purun
Paneluhan Lan Ana Wani
Niwah Panggawe Ala
Gunaning Wong Luput
Geni Atemahin Tirta
Maling Adoh Lan Ana Ngerah Ing Mami
Guna Duduk Pan Sirno
Sakehing Lara Pan Samya Bali
Apen Sarira Ayu Ingideran Kang Widadari
Sakeh Agama Pan Sami Miroda Welas Asih Pandulune
Sakehing Braja Luput Kadi Kapuk Tibaning Wesi
Sakehing Wisa Tawa
Sato Galak Tutut
Kayu Aeng Lemah Sangar
Sanging Landhak, Guwaning Wong, Lemah Miring
Myang Pakopaning Merak
Nadyan Arca Myang Segara Asat
Temahan Rahayu Kabeh🎶
Suara itu merdu mendayu terbawa angin semilir, seiring dengan gemerisik dedaunan dari pohon-pohon jati yang banyak tumbuh di hutan nan sunyi.
Terlihat seekor Rusa betina melompat dari semak belukar, berlari menjauhi Zia yang berjalan menyusuri jalan setapak.
Kidung itu terus terdengar, Zia mencari sumber suara itu berasal.
Suara seorang perempuan yang Zia merasa tak asing, suara yang bukan hanya kali ini saja Zia dengar.
Angin berhembus lagi dengan lembut, semerbak aroma kembang melati kini mulai ikut tercium.
Zia meneruskan langkahnya, hingga saat kemudian ia melihat sebuah pedang tertancap di sebuah pohon jati tua yang besar, di sana berdiri seorang perempuan yang tengah berusaha menarik lepas pedang itu.
Lalu...
Begitu pedang itu ditarik lepas, perempuan tersebut justeru menghunuskan pedangnya ke tubuhnya.
Zia berlari ke arah perempuan itu untuk menolong, namun perempuan itu bukannya mati malah berubah menjadi cahaya kehijauan, dan pedang itu membentuk seperti api yang menyala-nyala di tengah cahaya kehijauan itu.
"Kami harus menyatu agar tak ada kejahatan manusia, jin, setan dapat berkuasa untuk berbuat kerusakan menggunakan Jayapada."
**------------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Zia bermimpi lagi, dan apa yg akan terjadi setelah mimpi itu Outhor🤔🙏
Lanjut baca biar gak penasaran🙏😘
2022-10-09
0
Ayuk Vila Desi
aku baca kidung ini berada kayak gimana gitu...rada2 serem
2022-07-19
0
Ragil Nisha23
shine tulus bgt sama zizi,,, zizinya ajj yg dodol
2022-01-28
1