Empat anak muda yang sengaja datang dari luar kota yang ceritanya tidak ingin ketinggalan jaman itu menyusuri koridor zombie hotel.
Ada manekin pocong dan kuntilanak yang berdiri di tikungan dan juga di dekat lift.
Lampu sepanjang koridor yang dibuat remang-remang seolah mereka sedang mengunjungi rumah hantu.
"Eh tadi lantai berapa?"
Tanya cowok berambut cepak.
"Lantai tiga Ndri."
Kata si cewek pada Andri cowok rambut cepak.
"Ah iya, aku terlalu fokus dengan senyuman mbak resepsionis."
Ujar Andri.
"Halah, emang otak kamu masih pentium dua."
Sahut si cewek yang agak tomboi, sebut saja namanya Rani.
Sementara cewek satunya namanya Sasi, dan cowok satunya Andri bernama Zaki.
Andri menekan tombol naik, saat tak lama pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift yang kelihatannya kosong padahal ada nenek-nenek hantu di pojokan sedang nongkrong.
Andri yang karena masuk lebih dulu, akhirnya di dalam lift berada paling belakang. Demi eksis dia pun berselfie ria di pojokan lift.
Terlalu mojok sampai tak berasa nginjak kaki si nenek hantu.
"Dasar anak muda jaman sekarang tak tahu sopan santun."
Plak!!
Hantu nenek menabok kaki Andri.
"Aduh."
Andri mengaduh seraya mengusap kakinya yang seperti ada yang menabok.
"Apaan Ndri?"
Tanya Zaki dan Rani.
"Tahu nih, kayak ada yang nabok kaki."
"Aku tadi di Resepsionis juga kayak ada yang nyundul kepala.
Ujar Zaki.
"Haiish... Si pocong itu si pocooong."
Nenek hantu nimbrung meskipun tahu keempat anak muda itu mana bisa dengar.
Tak lama lift berhenti dan pintu terbuka.
Begitu lift terbuka, langsung terlihat lorong panjang di depan mereka yang gelap.
Lampu kecil di sudut ruangan dan beberapa lampu yang dibuat berkedip-kedip.
"Gila, ini mah serem beneran."
Ujar Sasi.
Rani tertawa kecil sambil merangkul bahu Sasi keluar dari lift.
"Santai saja, bayangin aja kita lagi syuting."
Kata Rani.
"Ikh jadi kebayang film horror Ghost Mother ngga sih."
Ujar Sasi.
"Eh jangan berisik, itu suara apa?"
Tanya Andri.
Mereka mendengar suara rintihan perempuan dari sudut ruangan, dan tiba-tiba terlihat manekin perempuan berambut panjang berdiri di dekat jendela kaca besar.
"Waaaaaa... Sereeeeem."
Mereka lari kacau balau, Sasi yang harusnya lari ke arah kamar bersama teman-temannya malah lari kembali ke lift dan pintu lift menutup sendiri.
Tombol di dalam lift mengarahkan ke lantai enam.
Sasi ketakutan setengah mati, menatap angka di dalam lift yang terus bergerak.
Sasi berjongkok dan...
Aaaaaaaa...
Nenek hantu yang nongkrong di pojokan tersenyum memamerkan giginya yang ompong. Matanya bolong, sementara wajahnya yang keriput terlihat sangat pucat.
Lift berhenti di lantai enam di mana di sana merupakan atap hotel.
Sasi yang terduduk lemas di dalam lift terpaku menatap pintu lift yang terus terbuka.
Di depan sana, tampak hantu kecil tertawa menyeramkan, mulutnya penuh darah, tangannya memegang dua ekor tikus mati.
"Dia kecil tapi jahat, kau tadi salah apa sampai dia mengincarmu."
Kata nenek hantu.
Sasi tak mampu bicara, ia terlalu lemas, hingga tiba-tiba sekelebat bayangan datang menerjang tubuh hantu kecil.
Hantu kecil itu nyaris tertangkap tapi kemudian melompat dan hilang.
Seorang pemuda berambut gondrong dengan pakaian setelan jas hitam rapih menghela nafas.
Ia kemudian menatap ke arah lift di mana Sasi berada.
Pemuda bule berambut gondrong yang tak lain adalah vampire Shane itu berjalan mendekat memasuki lift.
"Hah vampire itu lagi."
Hantu nenek langsung menghilang, kabur dari pandangan Sasi.
Apa tadi nenek itu bilang? Vampire? Dia?
Sasi menatap pemuda bule ganteng di depannya, yang kini mengulurkan tangannya ke arah Sasi untuk membantunya berdiri.
"Kamu tak apa Nona?"
Tanya Shane.
Sasi mengangguk pelan.
Sasi menyambut uluran tangan Shane dan kemudian berdiri.
"Kamu tamu di lantai berapa?"
Tanya Shane.
"Ah... Aku... Aku... Lantai tiga."
Jawab Sasi gugup.
**-----------**
Sementara itu, teman-teman Sasi tampak heboh turun ke lobby dan membuat Zizi yang sebetulnya sengaja mampir ke hotel karena ingin minta Chef Rasya masak jadi terganggu.
Sejak hotel berdiri, memang chef Rasya akhirnya ditarik Zion untuk mengelola restoran hotel.
"Teman kami... teman kami hilang."
Kata Andri, Rani dan Zaki.
Mereka sangat panik karena begitu Sasi masuk lift mereka tak tahu lift itu membawa Sasi turun atau naik, karena lift yang Sasi masuki seperti error.
"Hilang apa?"
Zizi anak si pemilik hotel bertanya masih sambil membawa sendok.
"Teman kami hilang... teman kami hilang."
Andri masih saja mengulang kalimatnya hingga membuat Zizi jadi kesal.
Tung!
Zizi mentung kepala Andri pakai sendok.
"Hilang apaaaaaa."
Beberapa tamu yang kebetulan sedang makan di restoran hotel jadi ikut berdatangan melihat apa yang terjadi.
Andri dengan tergagap-gagap menceritakan apa yang terjadi.
"Hantu kecil bikin ulah lagi, sudah kubilang dia harus disingkirkan."
Sosok hantu bule melayang ke arah Zizi.
Bersamaan dengan itu, tampak satu lift pintunya terbuka dan Shane muncul dengan Sasi.
"Nah itu Sasi."
Andri, Rani dan Zaki terlihat begitu senang karena teman mereka tak jadi hilang.
"Kamu ngga kenapa-kenapa Si?"
Tanya Andri, Rani dan Zaki kompak.
Sasi menggeleng.
"Aku ngga apa, aku ketemu Tuan ini, Shane."
Kata Sasi malu-malu menunjuk Shane yang berdiri di dekatnya karena ia begitu ganteng.
Rani bahkan sampai tak berkedip karena melihat Shane yang macho dan ganteng khas bule.
"Dia terbawa ke lantai enam."
Kata Shane pada Zizi yang menatapnya seolah meminta penjelasan."
"Ulah si kecil?"
Tanya Zizi memastikan.
Shane mengangguk.
"Sepertinya ada yang sengaja melepasnya, tapi entah siapa."
Ujar Shane.
"Aku sudah capek-capek nangkap malah dilepas, jangan-jangan Ali."
Ujar hantu bule di dekat Zizi, si aunty Maria.
Zizi yang mendengar sepupunya disalahkan jelas saja tak terima.
"Haiish kenapa malah Ali yang disalahkan, dari awal justeru dia ingin menghilangkan si kecil itu."
Kata Zizi.
Andri dan teman-temannya yang sibuk bicara sendiri mendengarkan cerita versi Sasi tiba-tiba menghampiri Zizi dan Shane.
"Maaf... Tuan Shane."
Panggil Andri hati-hati.
Zizi dan Shane menoleh pada Andri.
"Ada apa?"
Tanya Shane.
"Ngg... Apa benar kau bisa terbang?"
Tanya Andri berbisik.
Zizi dan Shane berpandangan.
Zizi segera menarik Shane menjauh.
"Kenapa Kak Seng tak hilangkan ingatannya?"
Tanya Zizi berbisik.
Shane tampak nyengir.
"Maaf Nona, aku lupa."
Haiiish... Zizi mendesis.
Zizi akhirnya memberikan isyarat pada Aunty Maria.
Seketika lampu padam, beberapa orang menjerit, termasuk Sasi yang masih sedikit trauma.
Shane dalam gerakan yang sangat cepat, menghampiri Andri, Sasi, Rani dan Zaki untuk menatap mata mereka agar ingatan mereka tentang Shane terhapus.
**-----------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Wah keren, ternyata Shane bisa menghilangkan ingatan tentang kejadian yg dialami 👍😘Crazy up dan semangat💪🙏😘
2022-10-09
0
Aya Vivemyangel
apa ada cerita novel sblmy ya ,, cz msh blm paham aja tiba" byk tokoh 😅 , maap ya Thor Krn nemuy awal ini
2022-06-02
1
ayyuki tanary
jempol ana yah thooor
2022-05-10
2