Zia berjongkok dan mendapati hp nya yang berdering kini berada di kolong tempat tidur kamarnya.
Entah siapa yang memindahkannya ke sana, karena Zia masih ingat benar jika ia sebelum tidur meletakkan hp nya persis di sebelah ia berbaring.
Zia mengulurkan tangannya masuk ke dalam kolong, mencoba meraih hp nya yang ada di sana, hingga tiba-tiba, ia merasakan sesuatu,
Zia belum sempat menarik tangannya dari dalam kolong, tatkala tangannya cengkeram dengan kuat lalu ditarik ke dalam kolong.
Zia berusaha meraih dan berpegangan pada tempat tidurnya, namun cengkraman itu begitu kuat hingga akhirnya Zia sepenuhnya bisa ditarik masuk ke dalam kolong.
Dan...
Gelap, suasana begitu gelap. Zia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sepi.
Sangat sepi.
Ah di mana ini? Batin Zia.
Hingga terasa sayup angin sepoi-sepoi berhembus dari arah depannya, menimbulkan seperti suara gemerisik dedaunan.
Zia tercekat, ia jelas-jelas tadi berada di kamar dan ditarik masuk ke dalam kolong, namun sekarang tiba-tiba ia berada di tempat mirip hutan lebat yang gelap sama sekali tak ada cahaya untuk penerangan.
Zia melangkahkan kakinya pelahan di atas jalanan tanah yang becek.
Terasa sekali bagaimana kaki Zia kimi merasakan tanah di jalan itu sudah semacam adonan coklat.
Zia baru saja berjalan beberapa langkah, tatkala ia tiba-tiba melihat kilat merah di arah depan Zia.
Bersamaan dengan itu aroma bunga melati tercium kembali. Aroma melati yang seperti ada pada sanggul para pengantin.
Zia berjalan cepat menuju tempat di mana tadi ia melihat ada cahaya kemerahan muncul, hingga kemudian Zia tiba-tiba melihat cahaya merah itu muncul lagi mengarah ke angkasa dan membentuk seperti seekor naga.
Zia menghentikkan langkahnya, menatap cahaya merah yang membentuk naga tersebut.
"Apa itu?"
Gumam Zia.
Hingga kemudian Zia melihat sekelebat bayangan melayang di atas rimbun pohon hutan yang gelap gulita itu.
Bayangan itu seolah memancarkan cahaya kehijauan, membentuk perempuan dengan pakaian jaman dulu lengkap dengan sanggulnya yang berhias bunga melati yang aromanya merebak luar biasa.
Perempuan itu melayang seraya mengacungkan pedangnya ke langit.
Suara gemuruh terdengar, kilatan-kilatan cahaya serupa petir terlihat memenuhi langit yang gelap.
Harum semerbak aroma melati melingkupi sekitar tubuh Zia berdiri, saat tubuh Zia seolah membeku tak mampu bergerak, ia menatap nanar kedatangan perempuan dengan pedang yang menyala-nyala di tangannya.
Perempuan itu semakin mendekat, wajahnya cantik namun seringainya menakutkan.
Ia mendekati Zia yang tak bisa bergerak. Ingin lari tak bisa, ingin berteriak tak mampu.
Angin kencang berhembus begitu kencang, seolah akan menerbangkan semuanya.
"Zia..."
Tiba-tiba perempuan itu memanggil dengan suaranya yang parau.
Zia dan perempuan itu bertatapan langsung.
Terlihat kedua mata perempuan itu seperti pusaran hitam yang mengerikan.
Perempuan itu semakin mendekati Zia, lalu...
"Zia... Ijinkan aku bersemayam untuk sementara waktu pada janin mu, jangan tanyakan alasannya sekarang, suatu hari kau akan tahu."
Mendengarnya Zia tercekat.
Zia tentu saja ingin menolak, tapi bagaimana bisa sedangkan bicarapun ia tak sanggup.
Aroma melati itu tercium semakin pekat, seiring dengan perempuan itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya kehijauan.
Cahaya itu seolah memaksa masuk ke dalam perut Zia.
Zia mengerang sakit. Merasa perutnya seperti dihunus sebilah pedang.
"Zia... Zia... Zia..."
Zion terbangun mendengar Zia mengerang.
Zia membuka matanya, menatap Zion yang terlihat di sampingnya.
"Ada apa?"
Tanya Zion.
Zia mengernyitkan kening, ia berusaha bangun, Zion membantunya.
"Aku ambilkan minum."
Kata Zion yang cepat turun dari tempat tidur.
Zia terdiam, ada yang hilang, tapi entah apa. Ada yang baru saja ia alami tapi entah apa. Ada yang merasukinya tapi entah apa.
Zia menatap perutnya.
Ingatan itu terhapus, padahal kejadiannya seperti baru saja.
Dan...
Zion berjalan mendekati Zia, memberikan Zia segelas air putih.
Zia menerimanya dan meneguknya hingga habis, setelah itu Zia memberikan gelas kosong itu pada Zion lagi untuk Zion letakkan di atas meja.
"Hantu perempuan, aku lihat ada hantu perempuan hamil."
Kata Zia.
Zion menatap Zia.
"Hantu perempuan hamil?"
Zion seperti mengulang. Zia menganggukkan kepalanya.
"Ya, dia memakai daster Rumah Sakit. Dia tadi di sini, tadi saat aku bangun aku melihatnya, lalu..."
Zia mencoba mengingat lagi kejadian setelah itu, namun tak bisa.
Zia memegangi kepalanya yang pusing.
"Aku tadi pulang dari kantor kamu tertidur di atas karpet, hp mu di kolong."
Kata Zion.
Zia menatap Zion.
"Aku tidur di karpet? Hp ku di kolong?"
Zia mengerutkan kening.
Zion mengangguk.
"Kamu tidur pulas sekali, sampai aku angkat saja tak bangun, aku pikir kamu lelah sekali, padahal Mbak Wati bilang kamu sama sekali belum turun atau minta dibawakan makan."
Ujar Zion.
Zia mengangguk pelan.
"Ah iya, aku belum makan sejak siang kamu pergi."
Kata Zia.
Zion menghela nafas.
"Zia... kamu mau sakit?"
Zion tampak jadi kesal.
Zia tersenyum kecil.
"Aku akan minta Mbak Wati ambilkan makan."
Kata Zion.
Zia segera menggeleng.
"Jangan, ini sudah tengah malam, besok sekalian saja."
Ujar Zia.
"Kamu ini, kamu tidak makan dari siang, dan sekarang harus menunggu besok, apa kamu tidak lapar?"
Tanya Zion benar-benar heran. Bukannya biasanya wanita hamil akan lebih mudah lapar? Batin Zion.
"Aku ngga lapar, kalau toh aku ingin makan, aku ingin batu mata merah yang basah."
Zion menatap Zia sedikit takut jadinya mendengar Zia bicara aneh begitu.
"Zi, jangan menakutiku."
Kata Zion.
"Menakuti apa? Aku hanya ingin batu bata merah."
Ujar Zia tanpa merasa itu aneh.
"Mana ada perempuan hamil nyidam makan batu bata merah, kamu ini bagaimana sih Zi? Kenapa ngidamnya yang ngga makan steak mahal saja di New York? Atau belanja di Paris? Atau beli pulau sekalian, kamu ini ngidam makan batu bata merah."
Zion mengurut kening.
Zia mendengarnya jadi cemberut.
"Memangnya apa susahnya beli bata merah, kalau kamu ngga mau beli ya udah aku minta tetangga Nenek yang lagi bangunan saja."
Kesal Zia.
Zion menghela nafasnya lagi.
"Zia... Ini bukan aku ngga mau belikan, aku cuma merasa ngidam kamu ngga wajar sayang."
"Pokoknya aku mau makan itu, meskipun cuma sehari sekali!!"
Tiba-tiba suara Zia berubah.
Zion terlonjak dari posisi duduknya.
"Zi... Zi... Kamu."
Mata Zia berkilat-kilat, lalu tiba-tiba ia melihat ke arah jendela menuju balkon, ada hantu perempuan hamil berdiri di sana.
Zia turun dari tempat tidur dan cepat membuka jendela menuju balkon itu.
"Enyahlah kau!! Aku pemilik janin ini!!"
Suara bukan Zia itu berkata dengan nada tinggi, hantu perempuan itu menatap Zia dengan ketakutan, lalu menghilang pelahan.
Zia berbalik menatap Zion.
"Selama ada aku, tak ada satupun hantu yang bisa menyentuh anakmu."
Katanya.
Setelah mengatakan itu Zia jatuh pingsan.
**------------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Ray
Semangat terus ya Outhor💪🙏😘
2022-10-01
0
Selvinahaechan
wow keren bnar" keren bngt othor yg bikin ceritanya.
semngt thor
2022-08-24
2
Mada
pusaka yang masih dicari nenek naga
2022-07-22
1