Zion dan Zia begitu pulang dari Rumah Sakit langsung menuju rumah Kemang. Hujan masih terus turun, bahkan lebih deras.
"Aku mungkin akan ke kantor sebentar, kamu tidak apa aku tinggal?"
Tanya Zion.
Zia mengangguk.
"Sudah biasa ini, pergilah, toh ada Mbak Wati."
Kata Zia.
Zion menghela nafas sambil memapah Zia menuju lift rumah untuk pergi ke lantai tiga di mana kamar keduanya berada.
Sejak pulang dari Rumah Sakit sebetulnya Zion merasa ada yang mengikuti, tapi entah siapa, jika hantu harusnya ia juga bisa lihat, meskipun jelas Zion tak ingin lihat. Hihihi...
Dan Zia...
Ah tampaknya ia juga santai saja, tak melihat atau merasakan apa-apa.
"Ada yang harus aku urus sebentar, kamu istirahatlah."
Kata Zion.
Zia mengangguk.
"Pergilah, jangan terlalu khawatir, aku baik-baik saja."
Kata Zia.
Keduanya masuk ke dalam kamar, namun saat masuk sekelebat bayangan juga seperti ikut masuk ke dalam ruangan kamar.
Zion dan Zia sejenak saling berpandangan.
"Kamu juga lihat kan Zi?"
Tanya Zion.
"Hum, sepertinya ada yang ikut kita pulang sejak dari depan Rumah Sakit."
Kata Zia.
Zion tiba-tiba merasa merinding.
"Aku tidak akan apa-apa, biar saja kalau cuma hantu."
Kata Zia.
"Bagaimana kalau dia bisa mencelakai kamu Zi."
Zia menggeleng.
"Kalau aku harus celaka, mustinya saat aku masuk ke alam siluman di hotel wisata, buatku perjalanan terberat ku selama ini adalah saat terseret ke sana dan mencarikan batu sukmaning ulo untuk ratu ular."
Ujar Zia.
Zion mengangguk.
"Ya, saat hari di mana aku rasanya hampir mati karena takut kamu tak bisa kembali."
Lirih Zion.
Zia tersenyum.
Ia menatap wajah tampan Zion lalu mengusapnya dengan lembut.
"Zi."
Panggil Zion seraya meraih tangan Zia di wajahnya.
"Saat nanti anak kita lahir, aku akan beri nama dia Zizi."
Kata Zion.
"Kenapa Zizi? Apa tidak ada nama lain?"
Zia tergugu.
"Zion dan Zia, dia adalah penyatuan kita."
Kata Zion.
Zia sejenak terdiam, dan kemudian tersenyum.
"Hmm yah, baiklah, kita akan beri nama dia Zizi."
Kata Zia setuju.
Zion tersenyum senang.
"Apa nama itu juga cocok untuk laki-laki? Kita bahkan tidak tahu apakah anaknya perempuan atau laki-laki."
Kata Zia seraya menuju tempat tidur.
"Nama itu cocok untuk laki-laki maupun perempuan."
Zion seolah memaksa.
Zia jadi tergelak.
"Iya... Iya... baiklah, aku akan pakai nama itu untuk bayi kita nanti."
Zion memeluk Zia.
"I Love u."
Kata Zion di samping telinga Zia.
"I Love u too."
Kata Zia.
Zion mengecup bibir Zia sekilas, lalu berdiri untuk bersiap ganti pakaian karena harus ke kantor.
Ada laporan terkait masalah mall yang ditangani Zion langsung.
Zia kemudian menata bantal untuk ia tiduran, saat kemudian ia merasa ada yang mengintip dari sudut rak besar yang berisi beberapa pajangan dan buku milik Zion yang cukup sering dibaca hingga sengaja tak disimpan di ruangan perpustakaan rumah.
"Siapa itu?"
Tanya Zia menatap ke arah di mana seperti ada mahluk tengah mengawasi dirinya.
Zia mengerutkan kening.
Jelas mahluk itu adalah hantu, dan Zia bisa merasakan keberadaannya dengan jelas sejak pulang dari Rumah Sakit. Anehnya Zia tak bisa menangkap jelas bentuk sosoknya, ia seolah sengaja menyembunyikan diri.
Zia mendengus.
Kesal sebetulnya Zia jika berurusan dengan hantu yang mengganggu tapi tak berani menunjukkan diri.
**-----------**
Hari telah gelap. Zia tidur sangat nyenyak sejak Zion pamit pergi.
Sayup ia mendengar suara seorang perempuan seperti bersenandung lagu semacam lagu pengantar tidur untuk anaknya.
Zia membuka matanya di mana kini kamarnya terlihat remang-remang saja karena cahaya lampu temaram dari lampu jalanan di luar sana.
Zia memaksakan diri bangun dari posisinya, mencoba mencari letak hp nya untuk melihat sudah jam berapa, tatkala sekelebat bayangan putih kembali terlihat.
Bayangan itu berkelebat tak begitu cepat.
Zia masih bisa menangkap bentuknya sesosok perempuan berambut panjang dengan daster seperti milik Rumah Sakit.
Zia baru akan turun dari tempat tidur, saat tiba-tiba dua buah tangan muncul dari kolong tempat tidur dan menangkap serta mencengkram kedua kaki Zia.
Zia segera melepaskan diri, dan sedikit melompat menjauhi tempat tidur.
"Siapa kau!!"
Bentak Zia.
"Hihihihi... Hihihihi..."
Terdengar suara cekikikan seorang perempuan.
Zia kemudian melihat sosok perempuan itu keluar pelahan dari kolong tempat tidurnya.
Ia kemudian tampak berdiri menghadapi Zia.
Perempuan berambut panjang dengan daster Rumah Sakit itu perutnya besar seperti hamil. Perempuan itu tersenyum dengan senyuman menakutkan.
"Siapa kau sebetulnya? Apa maumu?"
Tanya Zia.
Perempuan itu melayang arah Zia.
Wajahnya yang pucat pasi dengan kedua mata yang meneteskan air mata darah itu tampak menatap Zia.
"Janin itu, aku mau janin itu, aku menginginkannya, hihihihihi..."
Hantu perempuan hamil itu tampak mengulurkan tangannya yang jari-jarinya berkuku runcing.
"Berikan dia padaku, berikan dia padaku, berikan dia padakuuuuu..."
Hantu itu melompat ke arah Zia hingga Zia terdorong ke dinding dan nyaris jatuh jika saja tak ada tangan yang tiba-tiba menangkapnya.
Zia yang belum menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba lagi melihat hantu itu terpental entah kemana seolah ada yang menghajarnya.
Aroma melati tercium dengan jelas, harum seperti yang ada dalam sanggul-sanggul pengantin.
Zia yang lantas teringat perempuan di dalam mimpinya segera mencarinya ke arah hantu yang hamil tadi terpental.
Jelas pemilik aroma melati itu seperti mengejar ke arah hantu yang hamil itu.
Zia membuka pintu balkon dan lari keluar, hujan sudah reda, tapi masih ada sisa gerimis halus.
Siapa dia? Siapa dia?
Batin Zia heran.
Zia menatap langit yang masih saja mencurahkan air dari atas sana.
Jalanan komplek perumahan elite di mana Zia tinggal terlihat lengang. Seluruh jalanan basah,. begitupun dengan pohon-pohon yang banyak tumbuh di sana.
Zia menghela nafas.
Hantu hamil itu memakai baju Rumah Sakit, apa dia salah satu pasien di Rumah Sakit yang masih bernaung di yayasan milik Kakek Zion.
Apakah hantu itu pasien di sana? Kenapa dia menjadi begitu jahat? Batin Zia penasaran.
Angin berhembus lembut. Angin malam yang dingin dan lembab.
Zia yang merasakan dingin akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon kamarnya lagi.
Tampak Zia berjalan gontai untuk kemudian menyalakan lampu.
Zia baru akan masuk ke dalam kamar mandi saat Zia mendengar hp nya berdering.
Zia pun segera menuju tempat tidur nya, ia yakin saat akan tidur ia meletakkan hp nya di sana.
Zia mencoba mencari, namun anehnya suara dering hp itu justeru ada di bawah kolong tempat tidur.
Sejenak Zia terpaku.
Kenapa hp berpindah ke kolong tempat tidur sendiri? Hantu tadi kah?
Zia berjongkok lalu melongok ke kolong tempat tidur.
Hp nya benar ada di sana.
Zia meraihnya, namun saat tangan Zia akan mengambil hp itu, ia merasakan ada sesuatu di sana.
**-----------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
untung kasur q g punya kolong Yee ,,, bs" g bs tidur q tar mlm 🤣🤣🤣
2022-06-02
1
Septiani Putri
yoi mantap bener kaget iya
2022-03-21
2
Suci Amelia
semangat thorrr
2022-03-12
1