Sudah seminggu setelah peristiwa dimana Zen membantai beberapa pihak sudah berlalu, saat dirinya membantu Angel untuk terlepas dari jeratan orang-orang bejad. Saat ini hubungan mereka bisa dibilang akrab, walaupun sifat Zen yang pemalas akan selalu menghalangi interaksi mereka.
Saat ini Zen masih menjalani kegiatannya seperti biasa, dalam melayani beberapa pelanggan yang sedang membeli sesuatu pada mini market tempatnya bekerja. Sama seperti biasanya, selalu saja banyak wanita mencoba mendapatkan nomor ponselnya namun selalu ditolak oleh Zen.
“Cih... dasar kegatelan.” Begitulah gumam seorang wanita yang berada disebelah Zen melihat kejadian dimana Zen dimintai nomor kontaknya oleh seorang wanita.
“Wajar saja, bukankah aku sangat tampan” balas Zen santai lalu mulai kembali menyandarkan kepalanya pada meja kasirnya.
Memang berbeda dengan reaksi Angel dahulu yang merasa kegiatan para wanita itu wajar. Saat ini dia merasakan sedikit terganggu jika melihat beberapa wanita mencoba merayu Zen. Jadi dia sedikit kesal jika dirinya melihat adegan tersebut terulang kembali.
“Ya... ya... Kakak memang tampan.” Balas Angel yang mulai duduk pada bangkunya sambil menunggu pelanggan yang akan datang ketempat ini.
Namun saat sedang bersantai, sebuah notif suara ponsel mulai terdengar. Tentu saja Angel yang mendengar hal tersebut langsung mengambil ponsel miliknya dan mulai membaca pesan yang dia terima.
“AHHHHHHHHHHHHH!!!!!”
Tentu saja teriakan Angel membuat Zen yang sedang bermalasan mulai terganggu dan langsung duduk dengan tegak dan menatap Angel yang saat ini sepertinya sedang senang, setelah selesai membaca pesan yang baru saja dia terima.
“Kak... aku diterima!” katanya dengan nada gembira sambil menunjukan layar ponselnya kepada Zen.
Tentu Zen mulai melihat isi pesan yang tertera pada ponsel milik Angel, dan menemukan bahwa Angel diterima disebuah universitas ternama dengan beasiswa penuh.
“Hm... selamat” balas Zen datar dan kembali mendaratkan kepalanya pada meja kasir miliknya.
Memang jawaban Zen seperti itu tidak menyinggung Angel, karena reaksi Zen seperti itu sudah biasa baginya. Tetapi tetap saja Angel sangat senang, karena dia berhasil mendapatkan sebuah beasiswa dari sebuah Universitas ternama.
“Kalau begitu, apakah Kak Zen akan mentraktirku?” tanya Angel kepada Zen yang berharap Kakaknya itu akan menerima permintaannya.
“Heh... tapi aku akan sibuk setelah pulang kerja” balas Zen.
“Cih... bilang saja Kakak tidak mau mentraktirku” gumam Angel yang mendelik lalu kembali melihat pesan dirinya diterima di Universitas sekali lagi sambil tersenyum.
Waktu kerja dari Zen akhirnya berakhir. Setelah berpisah dengan Angel yang kembali menuju kediamannya, Zen akhirnya berjalan menuju kesebuah tempat karena dirinya ingin bertemu dengan seseorang.
Ditempat lain, seseorang pria tampan bersama istrinya saat ini selesai menyelesaikan urusannya di Negara ini. Pasangan yang serasi itu, saat ini sedang berjalan berdampingan dan sedang dituntun menuju kesebuah tempat.
“Ah... maafkan aku tuan Bram, tetapi bisakah aku menggunakan salah satu ruanganmu pada kantormu ini untuk bertemu dengan kenalanku” kata pria tampan itu.
Memang saat ini dirinya sedang berada disebuah gedung dari sebuah perusahaan tambang untuk melakukan kerja sama. Dan setelah mengetahui bahwa Kakak sepupunya berada dinegara ini dan ingin bertemu dengannya, pria itu akhirnya sekalian saja bertemu dengannya sebelum kembali menuju kenegaranya.
“Tentu saja tuan Uriel, saya akan menyediakan ruangan untuk anda.” Balas pria tersebut dan langsung memanggil bawahannya untuk menyiapkan permintaan dari pria yang bernama Uriel itu.
“Siapa yang akan kita temui sayang?” tanya wanita yang berada disebelah Uriel, karena memang dirinya tidak mengetahui tentang suaminya yang sudah membuat janji temu.
“Seorang kenalan. Nanti juga kamu akan tahu” balas Uriel sambil tersenyum kepada istrinya, walaupun didalam benaknya dia sedikit takut menunjukan istrinya kepada kenalannya itu.
Namun sebelum mereka beranjak dari sana, ponsel milik Uriel mulai berbunyi menandakan bahwa ada seseorang sedang mencoba menghubunginya. Setelah melihat nama yang tertera pada ponselnya tentu saja dirinya langsung mengangkatnya.
“Uriel, aku sudah digedung tempat dirimu berada. Tetapi aku tidak diperbolehkan masuk” balas orang dari ujung telfon yang diterima oleh Uriel, padahal dirinya belum berkata satu katapun.
“Baiklah Kak, aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu” Balas Uriel yang langsung menutup panggilannya.
Diluar gedung tempat dimana Uriel berada, seorang pria yang tangannya sedang diataruh didalam kantong jaketnya, saat ini sedang dihadang oleh beberapa satpam saat dirinya hendak memasuki gedung tersebut.
“Lihatlah, aku sudah menelponnya dan sebentar lagi aku akan masuk” Balas Zen yang mulai bosan meladeni para satpam yang berada disana.
“Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Tuan Uriel adalah salah satu bangsawan kerajaan Vatikan dan mengangkat telfon dari rakyat jelata sepertimu?” balas salah satu satpam yang berada disana.
“Ho... dia seorang bangsawan. Aku baru tahu” balas Zen yang baru menyadari adiknya merupakan seorang bangsawan terkenal.
“Cih... sudah ratusan orang sepertimu membuat alasan yang sama dengan mengatakan berkenalan dengan Tuan Uriel. Tapi baru kali ini kami melihat seseorang yang menggunakan pakaian yang sangat biasa” balas salah satu satpam lagi.
Memang kedatangan Uriel di Negara ini sangat heboh karena memang dirinya sangat seterkenal itu. Jadi beberapa pihak mencoba mencari alasan untuk sekedar bertemu dengannya, bahkan Presiden saja harus benar-benar membuat janji untuk bertemu dengannya.
“Sudah seret saja orang ini pergi seperti yang lainnya” kata pemimpin dari para satpam yang berada disana.
Beberapa orang satpam mulai mendekati Zen dan akan menyeretnya untuk pergi dari sana. Namun Zen yang melihat itu hanya mulai tenang dan membiarkan para satpam itu mendatangi dirinya.
Para satpam itu mulai mencoba menyeret Zen, namun entah mengapa tubuh Zen tetap tidak bergeming saat dirinya sudah mulai ditarik oleh tiga orang yang akan menyeret dirinya.
“Hahh... mengapa kalian masih belum mengerti” gumam Zen malas dan membiarkan saja orang-orang itu melakukan apapun yang mereka mau.
“Apa yang kalian lakukan, cepat seret dia keluar!” teriak pemimpin mereka karena melihat Zen masih berdiri tenang pada tempatnya.
“Apa yang kalian lakukan!”
Namun tiba-tiba saja, CEO mereka sudah berada di lobby perusahaannya dan saat ini sedang melihat pemandangan dimana beberapa orang berusaha menyeret seseorang yang terlihat tidak berdaya.
“Maafkan kami Tuan Bram, tapi orang ini merupakan salah satu orang yang mengaku-ngaku berkenalan dengan Tuan Uriel” kata pemimpin satpam dari gedung tersebut.
“Apa yang kalian lakukan, cepat lepaskan dirinya” kata pria bernama Bram itu dan menyuruh bawahannya melepaskan Zen.
“Maafkan tindakan karyawanku Tuan, apakah Tuan yang bernama Tuan Zen?” tanya Bram yang merupakan CEO dari perusahan tempat Zen berada dengan nada yang sangat sopan.
“Ho... kamu mengenalku?” balas Zen yang dimana tubuhnya sudah terbebas dari genggaman beberapa orang yang hendak menyeretnya tadi.
“Ah.. Tuan Uriel menyuruh saya untuk mengantarkan anda untuk bertemu dengannya” Balas Bram kembali.
“Oh... Uriel yang menyuruhmu. Kalau begitu ayo temui dia” Balas Zen sambil tersenyum
Tentu saja mendengar Zen memanggil seseorang yang sangat berpengaruh di dunia ini tanpa sebutan penghormatan, membuat Bram sedikit terkejut namun tetap menuntun Zen menuju ketempat dimana Uriel sedang menunggunya.
“Kalau begitu, biarkan saya mengantarkan anda Tuan Zen”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 451 Episodes
Comments
delete account
?????
2022-11-23
1
XiaoYan
kenapa gak langsung nama asli yang berguman itu daripada guman seorang wanita dan hanya akan menambah banyak perkataan kan bisa di ubah jadi kelanjutannya gitu
2022-05-14
0
Darman Driver
lanjut
2022-02-22
1