Robert, Leon dan Liam kembali menjelang petang membawa hasil buruan. Mereka memasang beberapa jebakan di pagi hari lalu mencari sumber makanan lain di tempat lain lagi.
Liam membawa sesuatu yang hijau yang dirangkai dengan batang pinus. Robert dan Leon membawa lainnya di tangan mereka.
"Ini kelinci dan asparagus yang kami dapatkan sore ini."
Leon menyerahkan semua yang mereka dapat pada Widuri dan Laras.
Ketiga pria itu duduk menghangatkan diri dekat api. Niken mengambil minuman hangat untuk ketiganya.
"Semua kelinci itu sudah dibersihkan. Dan ini kulitnya, mungkin bisa dijadikan sesuatu yang berguna untuk kita," Robert menyerahkan bawaannya. Marianne mengambilnya.
"Ini masih harus disikat lagi dan dijemur baru bisa digunakan. Besok akan saya coba membersihkannya. Tapi menjemurnya mungkin akan butuh waktu karena udara seperti ini mengandung air. Itu hanya akan membuatnya lembab," terang Marianne.
Robert menggangguk lalu membantu memotong daging kelinci dengan pisaunya.
Laras menyiapkan nampan dan menyusun potongan kelinci di atasnya. Mengiris sekotak kecil mentega dan meletakkannya di atas potongan daging untuk memberi rasa. Potongan asparagus disusun di pinggir nampan agar bisa matang sekaligus.
Widuri sudah menyiapkan tungku api dengan menyusun beberapa balok kayu sebagai penyangga nampan. Dibawahnya ada cukup banyak bara untuk mematangkan masakan di atas nampan.
Di sebelahnya kayu bakar kembali ditambah untuk mempertahankan api agar ruangan tetap hangat. Salju juga sudah disiapkan Niken untuk memasak air minum.
Michael, Gilang, Alex dan Toni masuk ke ruangan setelah selesai memperkuat dinding. Mereka menambah kayu, daun pinus dan menumpuk salju lebih tebal dan tinggi dari sebelumnya. Langit mulai memerah, semua orang masuk dan menutup pintu perlindungan dengan kayu dan daun pinus.
Semua duduk melingkar mengelilingi api untuk menghangatkan diri. Mereka ngobrol sambil menunggu makanan matang.
Alan berbincang dengan Leon dan Liam tentang perburuan mereka hari itu. Semua mendengarkan. Itu adalah hal menarik bagi sebagian orang. Tak banyak orang bisa berburu atau menjebak hewan buruan seperti yang Robert ajarkan pada Liam dan Leon hari itu. Mereka merasa seperti hidup di jaman batu dimana orang harus bisa berburu untuk bertahan hidup. Alan sangat tertarik dan berharap dia segera mendapat giliran untuk ikut berburu.
Makanan siap. Masing-masing mendapatkan jatahnya. Meski tidak cukup banyak, tapi mereka bersyukur bisa melewatkan malam tanpa rasa lapar.
Mereka masih ngobrol usai makan malam hingga lolongan serigala mulai terdengar di kejauhan.
"Sudah waktunya kita beristirahat. Alan, bisakah kau bergantian jaga denganku?" tanya Robert.
"Tentu, Aku akan bergantian jaga." Alan merapikan tumpukan daun pinus untuk alas duduk.
Yang lain kembali ke kabin dan beristirahat. Tapi Sunil, Widuri, Laras dan Marianne masih di luar. Marianne masih menjahit sarung tangan. Sudah 8 pasang sarung tangan yang mereka selesaikan hari itu. Marianne menyerahkan masing-masing sepasang untuk Robert, Alan dan Sunil.
Sementara Widuri dan Laras masih membersihkan peralatan bekas masak dan makan. Mereka menyekanya dengan salju agar tidak ada bekas bau daging yang mungkin akan terendus binatang buas di luar.
"Apa aku boleh ikut bergantian jaga di sini?" tanya Sunil pada Robert.
"Tentu saja. Makin banyak yang jaga, makin baik."
Robert tersenyum ramah. Dia sudah mendengar dari Niken apa yang terjadi siang tadi. Jadi dia bisa memahami perasaan Sunil saat ini.
Sunil mengangguk dan berterimakasih dengan matanya.
Widuri dan Laras masuk kabin setelah membersihkan semua peralatan kotor. Marianne menyusul masuk saat jahitannya selesai. Mereka harus segera mengistirahatkan tubuh agar terkumpul tenaga baru untuk pekerjaan selanjutnya besok.
Malam ini pintu kabin tidak ditutup, agar cahaya api dan kehangatannya bisa dirasakan di dalam kabin. Kabin tidak lagi gelap gulita. Sunil akhirnya memindahkan api lebih dekat ke pintu kabin.
"Dean, Indra dan dokter Chandra tidak ada malam ini. Kemana mereka?" tanya Sunil.
"Mereka adalah tim ekspedisi yang memeriksa, mencari jalan dan menyiapkan shelter untuk kita pindah nanti," jawab Robert.
"Siapa yang ingin duluan jaga?" sambungnya lagi.
"Biar saya yang pertama jaga. Saya belum bisa tidur sekarang," kata Sunil.
Sunil masih membereskan lubang di lantai bekas perapian sebelumnya. Lubang itu ditimbun dengan salju bekas Widuri dan Laras membersihkan peralatan makan. Lalu ditambahkan salju lain dan diinjak-injak agar padat dan rata dengan permukaan lantai lainnya. Pekerjaan itu selesai. Tak kan ada yang berjalan dan tersandung karena permukaan lantai yang tidak rata.
"Baik, bangunkan saya jam 11. Kita bergantian setiap 3 jam."
Robert melihat jam tangannya. Sunil mengangguk setuju.
Alan tidur di dipan salju sementara Robert tidur dekat perapian. Sunil duduk diam di sisi lain perapian sambil memandang api yang menari-nari memakan kayu. Seolah itu adalah pertunjukan yang sangat menarik. Lolongan serigala menyadarkannya kembali. Sunil menghela nafas. Dadanya masih terasa sesak.
Sunil memejamkan mata. Bayangan istrinya terlintas dalam pikirannya. Teringat kedua anaknya yang entah kapan bisa ditemui lagi. Malam ini dia merasakan kesedihan dan keresahan menyergap. Kedua anaknya belum selesai kuliah. Entah bagaimana kehidupan mereka selanjutnya.
Meski dia pengusaha yang cukup sukses, tapi anak-anaknya belum ada yang ikut bekerja di perusahaan. Sunil tak dapat membayangkan kesulitan mereka saat dia tak ada. Sunil sangat ingin bisa segera keluar dari hutan ini dan menemukan desa agar bisa mengabari keluarganya.
Robert tidur dengan cepat malam ini. Dia kelelahan. Timnya berjalan cukup jauh sedari pagi. Selain mencari makanan, Robert juga sekalian memeriksa jalan lain yang mungkin bisa mereka lalui menuju desa terdekat. Tapi Robert belum menemukan apapun.
Malam berlalu cukup tenang tanpa gangguan berarti. Beberapa serigala masih datang dan mencoba menggali salju dekat dinding kayu tapi tidak berhasil. Dinding sudah diperkuat dan tumpukan salju dibuat lebih tebal.
Waktu berlalu dan Robert menggantikan Sunil. Dia menghabiskan waktu berjaganya dengan kembali membuat tombak kayu. Menurut Robert, semua orang harus punya senjata untuk melindungi dirinya sendiri.
Saat Alan menggantikan Robert, Dia sudah menyelesaikan 7 tombak kayu yang sangat runcing.
Hujan salju turun menjelang pagi saat Alan berjaga. Itu mengusir para serigala pergi. Mereka tak mendapatkan apapun disitu. Meski mencium bau manusia, tapi tempat perlindungan itu terlalu kuat untuk ditembus. Lebih baik mereka mencari mangsa di tempat lain.
Hujan salju masih turun saat Robert terjaga jam 5 pagi. Alan diminta kembali tidur sebentar untuk menyegarkan diri.
Saat langit mulai terang, Gilang dan Michael keluar dari kabin dan segera menghangatkan diri dekat perapian. Menyusul Widuri dan Marianne.
Robert mengajak Michael dan Gilang ke hutan setelah mengisi perut dengan air hangat di teko. Robert ingin memeriksa jebakan. Ketiganya keluar sambil membawa tombak.
Widuri mengajak Marianne mengambil salju untuk membuat air minum. Mereka tak punya makanan pagi ini.
Widuri sangat berharap Robert membawa hasil saat kembali nanti. Dia juga berharap Dean dan timnya dalam keadaan baik dan tidak kelaparan.
Jam 8 Robert, Michael dan Gilang kembali dengan sesuatu di tangan Robert. Tapi Michael berjalan terseok-seok disangga Gilang. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Apa yang terjadi?" Silvia membantu Michael duduk.
"Dia terperosok dalam lubang yang tertutup salju. Mungkin itu lubang kelinci atau lainnya. Tapi itu bikin kakinya terkilir. Bisakah kau obati?" tanya Gilang pada Silvia.
"Hei, aku cuma mahasiswa kedokteran tahun kedua, belum mengambil spesialisasi tulang dan ortopedi," tukas Silvi menggelengkan kepala.
"Kalau sekedar luka, aku masih bisa mengatasi." Sambungnya lagi. Gilang tersenyum canggung.
"Coba ku lihat." Sunil mendekat memeriksa kaki Michael.
"Matamu melihat kemana tadi? Apa kau melamun merindukan kekasihmu?" tanya Sunil.
Michael bengong tak mengerti tapi sebelum dia protes, tiba-tiba...
"Aaahhh!"
Teriakan Michael mengejutkan semua orang. Sunil tiba-tiba menggeser letak kakinya yang terkilir tanpa pemberitahuan.
"Apa yang kau lakukan! Tiba-tiba meremas kakiku."
Michael bicara sengit dengan wajah memerah dan berkeringat menahan rasa sakit.
"Coba berdiri. Mestinya sudah tidak apa-apa," jawab Sunil sambil tersenyum.
"Maaf mengagetkanmu."
Semua lega ketika melihat Michael bisa berdiri dengan kakinya.
"Itu bagus sekali jika ada yang bisa mengatasi kaki atau tangan terkilir." ucap yang lainnya.
Sementara Widuri, Laras dan Angelina sedang memasak kelinci hasil tangkapan pagi ini. Mereka membuat sate kelinci. Menusuknya dengan bilah-bilah kayu yang dibuat Robert dan memangganggang di dekat api lalu dicelupkan ke kecap.
Wangi sate yang harum di pagi yang dingin itu benar-benar menggugah rasa lapar. Mereka berterimakasih pada Robert untuk keahliannya memasang jebakan hingga mereka tidak sampai kelaparan.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 426 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
tidak bisa dikeringkan sebagai api unggun ya?
2024-02-03
0
Le min hoo
Diajak ngobrol untuk mengalihkan perhatian. Hebat sunil
2022-11-21
4
Le min hoo
That's survival
2022-11-21
3