Mereka berbincang sampai beberapa saat kemudian.
"Robert, bisakah kamu mencoba berburu atau mencari sumber makanan lain? Kamu bisa bawa Leon dan Liam untuk membantu," ujar Dean.
Robert mengangguk dan berjalan ke dalam mengambil kayu-kayu yang dia runcingkan tadi malam.
Robert membagikan kayu-kayu itu pada 2 pria lainnya untuk digunakan sebagai senjata. Mereka berjalan ke arah hutan.
Kini tinggal Dean, Indra dan dokter Chandra. Mereka menantikan tugas apa yang harus mereka lakukan.
"Saya ingin mencoba mencari jalan keluar dari hutan dan melihat situasi. Apa kalian bersedia menjadi tim ekpedisi bersama saya?"
Pertanyaan Dean segera dibalas dengan anggukan pasti keduanya.
"Baik, mari kita jalan, agar bisa kembali secepatnya. Rencana akan saya jelaskan sambil jalan saja," kata Dean.
Mereka melangkah ke tempat perlindungan. Dean mengambil 2 nampan gosong dan kotor yang sebelumnya dipakai Robert mengeruk salju untuk menguburkan jenazah. Disitu juga ada sekop lipat kecil untuk berkebun yang sudah disiapkan Widuri sesuai permintaan Dean tadi.
Indra mengambil 3 batang kayu runcing yang ada di situ. Dokter Chandra membawa nampan yang diberikan Dean. Mereka berjalan beriringan ke dalam hutan.
Dean ingat saat menemukan Widuri, tempat itu lebih rendah dari lokasi runtuhan pesawat. Jadi mestinya ke arah sana kemungkinan adalah jalan menuju kaki gunung.
Mereka terus berjalan menerobos hutan pinus yang lebat. Sesekali Dean mematahkan ranting pinus dan menusukkannya di salju begitu rupa sebagai penanda jalan mereka kembali nanti.
Indra dan dokter Chandra memperhatikan dengan kagum. Bagaimana Dean bisa teliti dan melakukan hal-hal seperti itu? Dia terlihat mahir dan tak ada keraguan dalam bertindak.
"Kau berasal dari mana Dean? Sepertinya kau terbiasa menembus hutan," tanya dokter Chandra sambil terus berjalan diikuti Indra.
"Haha..," Dean tertawa kecil.
"Aku dari Kanada. Aku suka dengan alam. Mendaki gunung, kemping di hutan, di tengah musim salju dan sebagainya."
Dean bercerita sedikit.
"Sejak kecil ayahku mengajarkan semua keterampilan yang dibutuhkan saat kami berada di alam liar. Jadi, aku dan adikku Jeannete tertular hobby yang sama," jelas Dean sambil terus berjalan dan memperhatikan sekitar.
"Tapi pergi kemping dengan terdampar itu berbeda, saya juga pernah kemping saat kegiatan pramuka sekolah," tukas Indra dari belakang.
"Benar. Ini sangat berbeda, karena kita tidak ada persiapan alat, perlengkapan, makanan dan medan yang tidak dikenal. Jadi saat ini kita benar-benar harus berjuang untuk bertahan hidup dengan mandiri," jawab Dean.
"Jadi apa rencanamu sekarang? Tidakkah mereka disana akan mencari- cari kita?" tanya Indra lagi antusias.
"Tidak. Aku sudah bicara dengan Robert soal ini. Dia setuju, karena membawa sekaligus semua orang ke dalam hutan penuh binatang buas tanpa persiapan adalah hal yang sangat berbahaya." Dean menjelaskan.
"Kita adalah tim ekspedisi. Harus membuka jalan dan mempersiapkan shelter sementara di perjalanan menuju kaki gunung. Nanti kita lihat dimana tempat yang cocok untuk membangun shelter."
Mereka terus berjalan hingga matahari terasa diatas kepala. Dean melihat jam tangannya.
"Ini sudah jam 11 siang., saya rasa kita harus buat shelter pertama di sekitar sini."
Dean mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Dia berjalan ke arah 3 batang pohon yang berdiri tidak terlalu jauh satu sama lain membentuk segitiga.
Dean mulai mengarahkan untuk mengeruk salju di tengah-tengah ketiga pohon itu berdiri. Dengan 2 nampan dan sekop kecil, mereka bergerak cepat mengeruk salju. Hingga terbentuklah lubang salju segitiga. Mereka meninggikan sedikit 2 sisi sementara 1 sisi lainnya dibuatkan tangga dari salju yang dipadatkan dan dipotong Dean dengan sekop. Dean meminta kedua rekannya untuk merendahkan lantai salju sedikit lagi untuk tempat api unggun.
Dean keluar mencari beberapa batang pohon tumbang. Mengumpulkan daun-daun pinus dan ranting-ranting kering untuk membuat api.
Di tengah shelter yang baru setengah selesai, Dean membuat api. Mereka sudah lelah jadi lebih baik istirahat dulu. Mereka duduk di bangku salju, beristirahat dan menghangatkan jari-jari yang sudah kedinginan.
Dean mengeluarkan sebatang coklat, menghangatkannya sebentar di dekat api lalu membaginya 3.
"Ini diberikan Widuri tadi pagi saat aku mengatakan rencanaku. Jadi, inilah makan siang kita," kata Dean sambil membagi potongan coklat itu pada Indra dan dokter Chandra.
Mereka berdua mengangguk senang lalu dengan cepat memasukkannya ke mulut. Coklat itu tidak bisa dikunyah karena masih cukup keras. Jadi biarkan saja lumer di mulut, apa bedanya.
"Apa kita perlu mencari kayu juga untuk dinding shelter Dean?" tanya dokter Chandra.
"Ya, lebih baik ini cepat kita selesaikan, kita juga masih harus menyiapkan atapnya," Dean segera bangkit dan naik tangga ke luar lubang.
Mereka bertiga mencari lebih banyak lagi kayu di sekitar situ. Dean mencoba melenturkan dengan api ranting pinus muda untuk digunakan sebagai pengikat kayu.
Dean menancapkan ke salju satu ujung batang pohon mati berjarak sekitar 1 meter di salah satu dari ketiga pohon. Ujung lainnya dibuat menyilang di batang pohon setinggi kepala Dean dan diikat dengan tali yang tadi dilenturkan di api. Mereka melakukan hal yang sama pada pohon lainnya. Sekarang mereka sudah bisa meletakkan kayu-kayu untuk penyangga atap shelter.
"Dinding shelter bagaimana Dean?" tanya Indra.
"Kita buat dinding salju saja. Begini...."
Dean memberi contoh. Mengambil nampan dan memotong salju berbentuk balok dan meletakkannya di sisi dinding shelter.
Indra adalah pembelajar yang cepat. Dia segera membuat balok salju lainnya dengan antusias. Dokter Chandra bergantian dengan Dean mengangkat dan menyusun dinding salju. Ketika rangka atap shelter bisa dijangkau, mereka segera memasang kayu-kayu penyangga dan daun-daun pinus.
"Waahhh tempat ini jadi seperti gua," kata Indra memberi komentar dari dalam shelter.
"Tambahkan kayu agar apinya tetap menyala!" seru dokter Chandra.
Dia segera mengikuti Indra masuk ke dalam untuk menghangatkan diri.
Dean melanjutkan memasang balok salju untuk menutupi dinding. Indra membantu mengangkat balok-balok salju yang sudah dipotongnya ke arah Dean. Tak lama pekerjaan mereka selesai. Mereka memandangi dengan puas. tempat ini cukup hangat dan terlindung.
Setelah beristirahat, mematikan api dan menutup pintu shelter dengan batang-batang kayu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke arah bawah dari tempat semula. Tempat itu makin menurun dan bersalju tebal.
"Aahhh..!"
Dokter Chandra terkejut karena terperosok ke tempat berair. Kedua rekannya segera menolong. Sepatu dan kakinya basah. Air disini pasti sangat dingin. Suhu air seperti itu bisa berbahaya.
Dean memperhatikan sekitarnya. Tempat mereka berdiri adalah yang paling rendah. Ada gunung yang tadi mereka lalui di sebelah belakang dan bukit kecil di seberangnya. Kemungkinan mereka berdiri di atas sungai yang membeku. Dean melihat jam tangannya. Sudah lewat jam 3 sore.
"Sudah sore, kita cari tempat untuk membuat shelter," kata Dean mengajak keduanya naik ke sisi yang lebih tinggi. Dean berhenti di tempat yang dirasanya cocok. Lalu meminta Indra mencari kayu bakar. Sementara dokter Chandra diminta melepas sepatu dan kaus kakinya. Indra segera kembali dan menyalakan api untuk menghangatkan kaki dokter Chandra.
Sementara itu Dean sudah menentukan titik untuk membuat shelter lagi. Dia menghampiri Indra dan dokter Chandra lalu ikut menghangatkan diri.
"Indra, dokter Chandra sementara ini tidak bisa membantu, jadi kita berdua harus membuat shelter untuk tempat kita menginap malam ini."
"Ya. Dimana kita bangun?" Indra menjawab bersemangat.
"Ayo." Dean kembali berdiri dan berjalan.
"Di sini saja," tunjuk Dean pada tumpukan salju tebal di lereng gunung.
Dean menunjukkan caranya serta beberapa instruksi, Indra dengan cepat mengerti dan segera mengerjakannya.
"Saya cari kayu bakar dulu dok," kata Dean pada dokter Chandra.
"Biar saya bantu," sela dokter Chandra.
"Tidak! Tugas anda kali ini adalah menyelamatkan kaki anda dengan menghangatkannya. Biarkan kami melakukan sisanya," tukas Dean tak mau dibantah.
Dean mengumpulkan lebih banyak kayu bakar, batang pohon dan daun-daun pinus untuk alas duduk mereka. Sementara Indra terus menggali dengan nampan di tangan.
Kemudian Dean kembali ke sungai. Dia berjalan hati-hati agar tidak memecahkan permukaan sungai. Disingkirkannya tumpukan halus salju dari permukaan air yang membeku seperti kaca.
Permukaan es yang pecah membawa oksigen masuk ke dalam air sungai yang dingin. Beberapa ikan berenang di sekitar lubang tempat dokter Chandra terperosok tadi.
Dean mengulurkan tangannya masuk ke air untuk menangkap ikan itu. Perlu 2 kali usaha baru bisa menangkap seekor ikan. Tapi Dean sangat senang, karena akhinya mereka punya makan malam.
Satu jam kemudian Dean sudah mengumpulkan 10 ekor ikan yang cukup besar. Dia membersihkannya di sungai, memperlebar lubang es di sungai dan segera kembali. Indra dan dokter Chandra sedang menunggu sambil menghangatkan diri. Mereka terlonjak gembira melihat ikan-ikan yang dibawa Dean.
"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Indra keheranan.
Mereka tidak membawa alat pancing kan?
"Tangkap pakai tangan," ujar Dean meringis.
Diserahkannya ikan pada dokter Chandra. Dean segera mengulurkan kedua tangannya ke arah api. Tangannya nyaris mati rasa karena terlalu dingin.
Dean menghembuskan nafas lega saat bisa merasakan hangatnya api pada kedua telapak tangannya.
******
Salah satu contoh shelter di bawah pohon dengan dinding salju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 426 Episodes
Comments
Dhewa Shaied
gw suka banget cerita survival gini.. keren thor
2025-02-10
1
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
Dean sangat berpengalaman nampak nya
2024-02-03
0
ukhty fulanah
gimana ngga, dia asalnya canada, as we know kalau negara canada memang identik dgn pegunungan es, alam dan salju
2023-10-11
1