,🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Astaga!!!!" pekik Air saat ia melihat Bumi sudah duduk di sebelahnya sambil memainkan ponsel, Adik kembarnya itu hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap layar benda pipihnya
"Kamu ngapain disini?" tanya Air.
"Kakak yang ngapain disini?, istrinya kenapa di tinggal di hotel pake pergi gak bilang segala!" sentak Bumi.
"Istri?, Hotel? ya ampun Jan Hujan deres!"
Air menepak dahinya sendiri saat ingat kejadian semalam, ketika ia sudah ingin tidur tapi tak juga menemukan bantal Kesayangannya.
"Ponsel kakak mana?" tanyanya panik meraba nakas sisi tempat tidur.
"Ketinggalan apa di tinggal?" sindir Bumi.
Air mengernyitkan dahinya, satu persatu kejadian semalam berhasil ia ingat kembali.
"Kamu kenapa gak bawa bantal kakak?, kan kamu tahu kakak gak bisa tidur tanpa pisang!" sentaknya kesal mengingat ia hampir gila mencari bantalnya ke setiap sudut kamar hotel.
"Kita fokus ke acara pernikahan kakak, mana sempet aku mikirin pisang?" ucap Bumi yang tak terima di salahkan, meski pun ia memang bersalah karena lupa membawa bantal Kesayangan kakaknya.
"Papa tau gak?"
Air meringsek mendekat kearah Bumi, raut wajahnya sedikit panik bercampur takut.
"Aku harap sih gak tau" sahut si anak tengah dengan ketus.
"Yuk, balik hotel" ajak Air, tangan kanannya menarik tangan Bumi sedang tangan kirinya tetap memeluk si Pisang.
.
.
*******
Sampai di hotel Air langsung masuk kedalam kamar pengantinnya yang berbeda Lantai dengan kamar keluarganya.
Ia membuka pintu dengan sangat pelan sambil mengedarkan pandangan mencari sosok sang istri yang sudah ia tinggalkan dimalam pertama mereka
"Jan, Hujan" panggil Air.
"Hujaaaaaaaan!" teriaknya lebih keras.
"Iya, Ay" sahut Hujan.
Air membuang nafas kasar, perasannya sedikit lega saat mendengar suara istrinya.
Derap langkah kaki jelas terdengar di telinga pemuda sembilan belas tahun itu, Iapun langsung menoleh saat bahunya di sentuh.
"Jan, maaf" ucap Air dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
"Gak apa-apa, santai aja" sahut Hujan, ia ternyata tak ambil pusing tentang kejadian semalam.
"Lo gak marah gue tinggal?" tanya Air bingung dengan sikap sang istri bagai tak terjadi apa-apa.
"Enggak, kenapa harus marah?, kan Lo tidur dirumah, bukan tidur sama perempuan Laen" jawabnya dengan senyum yang ternyata mampu menghangatkan hati Air.
"Bumi gak bawa pisang" lirih Air sambil menunduk.
"Iya, gue tau. Lo gak bisa tidur kan kalo gak ada Pisang sampe harus bela-belain pulang tanpa kabarin gue dulu?"
Air mengangguk kan kepala membenarkan semua ucapan sang istri.
"Kalo ada pisang, gue gak akan ninggalin Lo lagi kok, sumpah!" janjinya dengan senyum lebar Sampai terlihat semua deretan gigi putihnya.
" Iya, nanti besok besok Pisangnya di iket ya di leher Lo biar gak ketinggalan, hahaha" kekeh Hujan kemudian ia berlalu menuju sofa.
"Ih, kok Lo ngomongnya gitu sih" dengus Air kesal tapi ia ikut mengekor di belakang Hujan dan duduk di sebelahnya.
.
.
"Ay, gue mau tanya sesuatu"
"Tanya aja" jawab Air, ia memeluk Hujan dari samping sambil menciumi pipi kiri sang istri yang menurutnya begitu kenyal.
"Kasih gue mahar banyak banget, apa itu gak berlebihan?" tanya Hujan, karna ia sama sekali tak tahu soal mahar yang akan ia dapatkan saat Akad nikah kemarin.
"Enggak, itu kan gue kasih sesuai kebutuhan Lo,Jan Hujan dereeeeeees! gue kasih Lo seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an ya gue berharap Lo jadi istri Solehah, gue kasih Lo mobil karna mobil Lo itu udah gak enak banget di pakenya, dan gue kasih Lo rumah sakit karna Lo itu calon dokter masa iya gue beliin Lo restaurant" jawabnya santai.
"Masalah Uang sih ya itu buat pegangan Lo aja" tambahnya lagi.
"Tapi kan kemarin gue cuma minta Lo ucapin kalimat Kerupuk, nyamuk dan terharu" Kata Hujan sambil mengulum senyum.
"Besok besok jangan minta itu lagi, gue sakit kepala belajar ngomong kaya gitu, untung bisa" sahutnya kesal.
"Coba sekarang ucapin lagi, gue mau denger" goda Hujan, ia begitu menikmati raut wajah kesal suaminya.
"Ogah!"
Hujan tertawa sedangkan Air hanya tersenyum.
"Semoga apa yang gue kasih itu bermanfaat dan gak sia-sia buat Lo, maaf ya adanya cuma itu" lirih Air.
Hujan langsung terdiam, kini ia mulai membalikan tubuhnya agar keduanya saling berhadapan.
"Itu udah lebih dari cukup, Ay... Macih ya suami gantengku" ujar Hujan sambil mengusap Kepala Air dengan gemas.
Air yang tercengang diperlakukan seperti itu oleh sang istri akhirnya berteriak histeris...
.
.
.
.
.
.
Ya Allah.. rambut gue yang di acak-acak
kenapa hati gue yang berantakan?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aaaaaaaahhhh... lapeeeeeeeeeeeer!
Eh salah bapeeer 🤭🤭🤭🤭🤭
cocwit banet cih si Aer comberan Sama si hujan deres.
Like komen nya yuk ramai kan ♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 423 Episodes
Comments
Lulu embul
Masa sih kak gitu aja langsung melehoyyyy... 🤭
2024-03-14
1
SR.Yuni
Keren amat sih lu Thor bikin gombalan dr mulai emak bapaknya sampe ke anak2
2023-08-24
0
MyFamily
19 thn udah jikah aja
2023-06-27
0