" JANGAN, diangkat, " bisik Keenan, seolah tahu siapa si Penelepon itu. Please tetep di sini"
Dering Ponsel Naura belum juga berhenti. Dia tampak sedang menimbang sesuatu. Dan, sebelum dering itu benar-benar berakhir, Naura memutuskan untuk mengangkatnya
" Halo, Ra, Aku udah sampai di depan rumah kamu,"
" Sorry, Arsen Kita Perginya lain kali aja, ya"
" Loh, kenapa"
" Aku kurang enak badan. Mau istirahat," kata Naura beralasan
" Kamu sakit ? Mau aku antar ke dokter, ? suara Arsen di seberang sana terdengar sangat cemas
" Nggak usah, nggak apa-apa. Aku cuma butuh istirahat aja kok, " sahut Naura dengan cepat
" Ya Udah, kamu istirahat ya, Semoga kamu cepat sembuh,biar kita bisa ketemu di sekolah besok, bye,"
" Bye, " Naura menutup telepon, kemudian menyimpan Ponsel ke sakunya
Naura memaksa untuk bergerak. Dia tidak mungkin membiarkan Keenan tetap dalam Posisi seperti ini. Naura berbalik sambil menahan tubuh Keenan yang tidak bisa berdiri tegap.Tubuh berat cowok itu hampir saja membuatnya ikut ambruk apabila Naura tidak sigap bersandar di Pintu
Naura memapah Keenan hingga berbaring di sofa ruang tamu. Dia baru bisa melihat wajah Pucat cowok itu dalam jarak sedekat ini. Dia semakin bisa merasakan suhu tubuh Keenan dengan hangat ketika memapahnya tadi
" Kenapa Lo nggak ke dokter aja, sih, " keluh Naura
" Makasih ya, "
Naura mengerutkan keningnya karena mendengar ucapan Keenan yang sama sekali bukan jawaban dari Pertanyaannya
" Makasih Karena nggak Pergi dan lebih Pilih temenin gue di sini, " lanjut keenan dengan suara lemah
Naura memutar bola matanya dengan malas, " Jangan ke ger-er dulu deh. Gue di sini cuma mau Pastiin Lo nggak akan jadi mayat. karena gue nggak mau dituduh jadi tersangka cuma gara-gara gue yang kali terakhir komunikasi sama Lo "
Keenan tersenyum dengan susah Payah. Naura memang sangat lucu Cewek itu bahkan sama sekali tidak mengurangi kadar keangkuhannya dalam keadaan Keenan yang tidak berdaya seperti saat ini
" Gue Panggilin taksi buat antar Lo ke dokter ya !" seru Naura sambil meraih Ponsel di sakunya. Namun dengan cepat, Keenan meraih sebelah tangannya hingga Naura mengurungkan niatnya
" Gue Cuma butuh lo di sini. lo itu obat yang Paling manjur buat gue saat ini"
Naura membebaskan tangannya dari Cekalan Naura dengan mudah," Lagi sakit masih aja Lo masih ngombal," ejeknya
Naura kemudian membuka rantang dari Bunda untuk Keenan Bubur ayam
" Lo Pasti belum makan, kan ? ini Bunda masakin Bubur ayam buat Lo, "
Keenan memperhatikan Naura dalam diam selagi cewek itu menyendokkan bubur ke mangkuk kecil. Dia seperti melihat Moza yang berada di dekatnya saat ini, Adik manisnya yang selalu memperhatikannya ketika sakit
" Lo bisa makan sendiri, kan "
Bayangan Keenan akan sosok Moza seketika buyar. Keenan Kembali ke alam nyata bahwa sudah tidak ada lagi Moza. Yang ada di depannya saat ini adalah Naura
" Menurut Lo Gue bisa makan sendiri dengan keadaan lemas gue kayak gini," Dengan suara lemah, Keenan malah balik bertanya
Naura berdecak sekali, Kemudian meraih mangkuk kecil berisi bubur yang tadi dia letakkan di meja dekat sofa
" Buka mulut Lo, " Perintah Naura pada keenan, " Gue akan bikin bubur ini habis dalam tiga suapan besar,"
Tawa Keenan terdengar seperti batuk yang tertahan. Dia sungguh tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan Naura barusan. Dia yakin, Cewek itu hanya sedang berusaha menutupi Perhatiannya
Keenan menyambut suapan pertama dari Naura, Seulas senyum tidak Pernah sirna dari Wajahnya. sedangkan Naura, sejak awal berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Keenan
" Dia memang kelihatannya aja Jutek dan galak. Tapi, sebenarnya Naura itu orangnya baik dan nggak tegaan. Dia bisa berubah menjadi malaikat pada suatu waktu tanpa Pernah lo duga "
Sekarang Keenan benar-benar memercayai ucapan Ethan beberapa waktu yang lalu, Bahkan baginya Naura bagaikan malaikat setiap hari.
Naura membantu Keenan minum setelah menyuapinya beberapa sendok kemudian, membantu Cowok itu untuk berbaring dengan nyaman
Keenan bergerak berkali-kali, membuat Naura bertanya
" Kenapa ? Nggak nyaman tidur di sofa, ya, " tanya Naura , " Gue bantu Lo Pindah ke kamar Lo aja,ya. " Dia meletakkan mangkuk di atas meja dan berniat membantu Keenan untuk Pindah. Namun jawaban Keenan membuatnya urung seketika
" Nggak usah di kamar malah lebih Canggung,"
Wajah Naura langsung memerah tanpa bisa dia Cegah. Buru-buru dia meraih kembali mangkuk bubur dan Pura-pura sibuk mengaduknya walau bubur itu sudah tidak Panas sekali. Perkataan keenan barusan jutsru membuat Naura mendadak Canggung dan salah tingkah
Keenan hampir saja tertawa keras melihat tingkah Naura yang lucu kalau saja dia tidak ingat sedang sakit. Berbicara saja sulit, apalagi tertawa, Energinya akan banyak terkuras
" Keenan, "
Naura dan Keenan kompak menoleh ke sumber suara yang berasal dari luar rumah. Naura melirik jendela yang tirainya sedikit terbuka, Matanya langsung membulat ketika tahu siapa yang datang
" Gawat Santi datang Pasti dia mau jenguk Lo, "kata Naura dengan nada panik, " Gue harus sembunyi dulu," Dia bergegas pergi, tetapi dengan cepat Keenan menahan tangannya
" Kenapa harus sembunyi, " tanya keenan heran
" Bisa Gawat kalau Santi lihat gue di sini karena, dia itu suka sama Lo Keenan Dan dia Pikir, Lo juga suka sama dia," Naura kembali melakukan usahanya untuk, bangkit, tetapi Cengkeraman tidak Keenan kali ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
" Keenan!" suara Santi terdengar semakin dekat. kali ini Naura yakin, Santi sudah berada tepat di balik Pintu utama
" Biarin aja dia lihat Lo di sini. Biar dia jadi tahu, kalau gue itu suka sama Lo bukan sama dia," Cegah Keenan. Dia sama sekali tidak membiarkan Naura Pergi
" Keenan ini, Gue Santi, " kata Santi sambil mengetuk pintu utama, " Gue mau jengukin Lo"
Naura sudah tidak ada harapan untuk bersembunyi. Keenan sama sekali tidak melepaskan tangannya, Dan ketika Naura melihat Pintu itu terbuka,dia hanya mampu bergeming di tempat
" Keenan gue masuk, ya, " kata Santi suara yang semakin jelas terdengar. Dia membuka lebar Pintu utama dengan eskpresi ceria di wajahnya sambil memeluk buah-buahan dalam keranjang yang sudah dikemas sangat cantik
Santi dan Naura saling Pandang. kemudian mata Santi beralih menatap Keenan yang terbaring di sofa. keceriaan di wajahnya mendadak sirna ketika melihat Keenan sedang menggenggam tangan Naura dengan erat sekali
Naura buru-buru membebaskan tangannya dengan sekuat tenaga karena keenan seolah tidak ingin melepaskannya
" Hai Santi, " Naura bangkit dari duduknya dan berusaha menyapa Santi sealami mungkin
" Lo kenapa bisa ada di sini, " tanya Santi heran
" Gue ... " Naura tampak berpikir, " Gue, kan udah Pernah Cerita ke Lo kalau gue Udah Pindah rumah Dan, kebetulan rumah gue dekat sama keenan jadi, tadi gue ke sini buat anterin bubur titipkan Bunda,"
Keenan memaksakan diri untuk mengubah Posisinya menjadi duduk di sofa. Dia memejamkan matanya beberapa detik untuk sekedar menyesuaikan diri dengan sakit di kepalanya
" Ada Perlu apa Lo ke sini, " tanya keenan pada Santi
" Oh, gue Cuma mau nengokin keadaan Lo," kata Santi sambil berjalan mendekat," Sekalian bawa ini buat Lo," Dia meletakkan buah-buahan yang dibawanya di atas meja
" Udah ada Santi Gue balik, ya, " Naura berjalan melewati Keenan menuju pintu utama. Namun, sebuah tangan yang menariknya membuatnya jatuh terduduk tepat di sebelah Keenan
" Gue maunya Lo yang temenin gue di sini, " kata keenan sambil mempererat genggamannya di tangan Naura
kata-kata Keenan itu membuat Santi mengerti situasi yang ada, " Oh kalau gitu gue Pamit sekarang, Cepet sembuh ya Keenan, " Santi berbalik,lalu keluar dari keenan
" Santi, " Panggil Naura percuma. Usahanya untuk menyusul Santi masih tertahan oleh Keenan
Seberapa keras Pun Naura mencoba membebaskan tangannya Nyatanya Keenan semakin erat menahannya
" Lo itu emang nggak Pernah bisa ngertiin Perasaan Perempuan, " kesal Naura yang masih duduk di sebelah Keenan
Jadi kapan Lo mau ngajarin gue pelajaran itu, " tanya Keenan sambil menatap Naura lekat-lekat
Naura mengempaskan tangannya kuat-kuat. Kali ini dia berhasil membebaskan tangannya. " Cowok Playboy kayak Lo selamanya nggak akan bisa ngerti !" Naura bangkit, kemudian berlari cepat keluar rumah Dia berharap masih sempat menyusul Santi
Keenan hanya bisa menatap kepergian Naura sambil menghela nafas berat," Hati Lo terlalu baik Ra, Lo terlalu Peduli sama Perasaan orang lain. Gue jadi merasa seperti orang jahat,"
Hari ini Keenan sudah masuk ke sekolah dan kembali ke rutinitasnya bersama teman-temannya untuk mengisi waktu istirahat mereka. Teman-temannya menyadari sesuatu, Keenan berubah menjadi sedikit Pendiam sejak sakit
" Kita maklumin aja Nyawanya belum ngumpul semua, mungkin, " sahut Miko ketika Ethan menyinggung Perubahan sikap Keenan
Mereka kembali Pada kegiatannya masing-masing, sampai kemudian Pertanyaan Ethan membuat Perhatian mereka terpusat kembali
" Sat, Lo sama Diana udah jadian, "
Satya menghentikan gerakan jari-jari tangannya yg sedang menciptakan nada-nada Pelan dari senar gitar di Pangkuannya. Miko juga melakukan gal serupa menghentikan kegiatannya
" Masih gitu-gitu aja," jawab Satya tanpa menoleh
" Kenapa ? Udah bosen ngejar Dia," tanya Ethan lagi
Satya meletakkan gitar di samping tempat duduknya, " Belum sreg aja buat nembak dia,"
" Kalau Lo nggak serius, mending lepasin deh," Miko akhirnya ikut bersuara. semenjak Satya dekat dengan Diana dia mencoba mengalah dan tidak ingin bersaing dengan sahabatnya
" Kenapa, Sat ? Masih kebayang sama adik kelas yang Lo suka itu ya, " tebak Ethan," Siapa tuh, namanya ?" Dia mencoba berpikir, tetapi dia gagal, " Aduh gue lupa namanya Yang Pernah ikut klub renang"
Satya berdecak kesal, " Nggak usah di ingetin itu sudah masa lalu "
Ethan terbahak-bahak, " Tuh Cewek juga Udah nggak keliatan lagi, Ya, " Dia jadi bertanya sendiri
" Mungkin udah lanjut ke SMA lain "sahut Satya
" Adik kelas ? suara Keenan akhirnya terdengar juga ia tidak tahan untuk tidak menyahut ketika penasaran dengan kata-kata Ethan
" Iya, Waktu kelas X Satya sempat suka sama adik kelas yang masih duduk di kelas 2 SMP" jelas Ethan
" Siapa, " desak Keenan tanpa sadar
" Lo nggak kenal, Keenan, " Satya menyahut cepat, dia lalu bangkit dari tempat duduknya, " Balik ke kelas yuk. sebentar lagi bel masuk"
" Ngeles aja Lo biasanya, Sat," goda Ethan
" Lo sendiri udah move on belum," tuding Satya Pada Ethan yang masih menertawakannya
Tawa Ethan seketika mereda. Dengan cepat dia bangkit lalu mengapit leher Satya dengan tangannya, " Yuk, balik ke kelas !" ajaknya mengalihkan Perhatian yang lain
Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Ethan dan Satya berjalan lebih dahulu menuju kelas, Kemudian diikuti Miko dan Johan
Keenan satu-satunya yang masih bertahan di tempatnya. Dia semakin bingung. apa yang sebenarnya terjadi dua tahun yang lalu ? seberapa erat kaitannya teman-temannya dengan kasus Moza Dia merasa kurang bila hanya mencurigai Ethan dan Arsen Nyatanya Satya juga sangat mencurigakan
" Lagian Lo jadi Cewek baperan banget sih Santi, Udah tahu dari awal Keenan itu sukanya sama Naura,malah Lo yang Baper,"
Santi hanya bisa mengaduk-aduk Mie ayam di hadapannya dengan tidak berselera.
" Kalau udah gini, siapa yang salah coba ? Nggak enak kan, musuhan sama sahabatnya sendiri," Loli jadi kesal sendiri melihat tingkah Santi yang mogok berbicara dengan Naura
" Santi maafin ... "
" Gue yang salah, " Santi memotong cepat ucapan Naura, Dia menghentikan kegiatan mengaduk, kemudian menatap Naura yang duduk tepat di seberangnya," Gue yang salah, Ra, " ulang Santi, " Gue yang ke- geran yang jelas-jelas Keenan suka sama Lo Malah gue yang Baper,"
" jadi Lo nggak marah lagi sama gue, kan Santi, " tanya Naura memastikan Dia sungguh merasa bersalah, walau kenyataannya ini sama sekali bukan kesalahannya
" Maafin gue, Ra " sahut Santi, " ini salah gue tapi malah lo yang minta maaf Nggak heran memang kalau banyak yang suka Lo karena hati Lo baik banget"
Naura tersenyum lega, " Lo juga baik Santi, " Dia menyentuh tangan Santi di atas meja kantin yang di balas Santi dengan genggaman Pula keduanya saling melempar senyum, begitu pula Loli yang lega melihat sahabatnya akur kembali
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Rio Rahmad
Naura
2022-01-31
0