Psikopat Tampan, & Kaya Raya
...✪✪✪...
Petir terdengar begitu menggelegar. Angin dan hujan menjadi satu untuk menambah aura sangarnya alam. Kala itu di depan sebuah rumah terdapat dua orang yang baru saja keluar dari mobil. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan topi dan masker yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
Salah satu dari mereka berjalan menuju bagasi mobil. Terpampanglah sebuah kantong mayat di dalamnya. Dia pun segera membawa kantong mayat tersebut masuk ke rumah.
Dari balik pintu terdapat seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun. Dia telah lama menunggu kedatangan dua orang yang tengah membawa kantong mayat itu.
"Ayah, Ibu! kenapa lama!" ujar anak lelaki yang bernama Yudha tersebut.
"Kau pikir mudah menangkap manusia secara diam-diam?" sahut Ferdi, sang ayah sembari berjalan melingus melewati putra semata wayangnya.
"Yudha, kau sudah makan?" Rena, ibunya Yudha sengaja menjongkokkan badan untuk menyamakan tingginya dengan putranya.
"Aku hanya makan cemilan!" jawab Yudha dengan raut wajah gusarnya. Dia sebenarnya kesal terhadap perlakuan ayahnya barusan.
"Ya sudah, Ibu akan buatkan kau makanan." Rena menuntun Yudha ikut bersamanya menuju dapur. Dia segera memasukkan spageti ke dalam taflon yang berisi air agar bisa dimasak.
Rena segera membuka jaket hitamnya. Sekarang terpampanglah bercak darah dibajunya. Namun baik Rena maupun Yudha sama sekali tidak risih dengan hal tersebut.
"Rena! cepat bantu aku!" pekik Ferdi dari ruang bawah tanah. Dia sepertinya kewalahan menghadapi tawanan yang telah dibawanya.
"Iya Fer!" sahut Rena sambil mengecilkan kapasitas api di kompornya sebelum pergi. "Yud, kau selesaikan sendiri ya! campurkan saja bumbu yang sudah tersedia di dalam kulkas!" tambahnya yang sekarang berbicara kepada sang putra.
Yudha yang tengah ditinggalkan sendiri sontak merasa kesepian. Rasa penasarannya kembali memuncak. Jujur saja ia selalu ingin tahu apa yang dilakukan ayah dan ibunya terhadap tawanan. Alhasil sekarang dia berjalan menuju ruang bawah tanah.
Yudha sudah tiba di depan ruangan dimana ibu dan ayahnya berada. Dia menempelkan telinganya ke pintu, berharap bisa mendengar jawaban dari rasa penasarannya selama ini. Namun selang beberapa menit kemudian, Ferdi mendadak membuka pintunya.
Ceklek!
Tubuh Yudha yang sedang tersandar ke pintu reflek terjatuh. Bajunya sekarang mengenai linangan darah yang ada di lantai.
"Yudha!! ngapain kamu ke sini hah?!" geram Ferdi.
"Yudha! kamu tidak boleh ke sini!" Rena ikut menimpali. Dia segera memaksa Yudha berdiri dan menyeretnya menjauh dari ruangan penuh darah dan bau amis tersebut.
"Bawa dia jauh-jauh Ren! kalau perlu kurung di kamar saja!!" titah Ferdi dengan dahi berkerut.
"Ibu, kenapa aku tidak boleh tahu apa yang kalian lakukan di sana?!" tanya Yudha dengan wajah cemberutnya.
"Yudha, umurmu masih belum sesuai untuk melihatnya. Ayah dan Ibu akan memperbolehkanmu ketika kau berusia tujuh belas tahun nanti. Oke?" tutur Rena yang mencoba menenangkan putranya.
Sejak kecil Yudha sudah terbiasa menyaksikan darah, teriakan dan penyiksaan yang dilakukan oleh ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya itu memiliki ruangan khusus untuk melakukan bisnis ilegal mereka, dan sebentar lagi markas istimewa akan resmi dibangun.
Bisnis ilegal yang dilakukan oleh Ferdi dan Rena sendiri, adalah berupa pembunuhan dan juga penjualan daging manusia.
Terkadang Yudha diperbolehkan bermain-main dengan tawanan yang dibawa orang tuanya. Walaupun begitu, Ferdi dan Rena tidak pernah membiarkan Yudha tahu mengenai cara pembunuhan yang mereka lakukan.
...***...
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang Yudha telah enam belas tahun. Tepatnya dua hari lagi, dia resmi berusia tujuh belas tahun, dan Yudha sudah tidak sabar dengan berbagai pertunjukkan yang akan diberikan kedua orang tuanya.
Tak! tak! tak!
Yudha perlahan menuruni anak tangga, lalu duduk bergabung bersama Ferdi dan Rena di meja makan.
"Yah, Bu, kalian tidak lupa kan lusa aku--"
"Tujuh belas tahun!" Rena sengaja menebak lebih dahulu.
Yudha tersenyum miring dan berucap, "Bolehkah aku memilih tawananku sendiri di hari ulang tahunku nanti?"
Rena yang mendengar lantas menatap ke arah suaminya karena menuntut jawaban. Ferdi yang paham dengan arti tatapan tersebut mendengus kasar dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Silahkan!" kata Ferdi singkat, yang tentu membuat Yudha reflek untuk melakukan selebrasi kecil.
"Tapi, carilah tawanan yang tidak merepotkan. Paling tidak orang yang hidup sebatang kara." Ferdi menyarankan.
"Baik Yah! kalau teman sekolahku tidak apa-apa kan?" tanya Yudha.
"Memangnya siapa orang yang telah berani mengganggumu, sampai-sampai sepertinya kau ingin balas dendam?" Ferdi berbalik tanya.
"Eh! siapa bilang ada yang menggangguku. Cuman ada beberapa orang yang berhasil membuatku risih!" ujar Yudha. Dia berhasil menyebabkan ayah dan ibunya saling bertatapan heran.
"Sepertinya anak kita lebih psiko dari kita sayang!" ungkap Rena seraya memajukan bibir bawahnya. Yudha dan Ferdi yang mendengar pernyataan Rena hanya bisa tertawa kecil. Sungguh keluarga yang harmonis, namun pembicaraan mereka sangatlah tidak normal.
Yudha tumbuh menjadi anak yang terbilang jenius. Bukan hanya itu, ia juga rupawan dan kaya raya. Meskipun begitu, tidak ada satu orang pun yang tahu mengenai bisnis ilegal yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Ferdi dan Rena menutupi bisnis ilegal mereka dengan cara membangun usaha properti. Sehingga orang awam pasti akan mengira hasil kekayaan mereka berasal dari usaha properti tersebut. Mereka bahkan telah membentuk kelompok mafia bernama Elang Satan.
Dengan segala kelebihan yang Yudha punya, tentu saja ia menjadi lelaki yang populer dikalangan semua orang. Apalagi para kaum hawa, tidak jarang dari mereka akan berteriak histeris kala menyaksikan Yudha lewat.
Yudha sekarang berada di kantin bersama ketiga temannya.
"Yud, ada Elisha tuh! kayaknya mau kasih kamu hadiah lagi," ucap Sandi, teman Yudha yang memiliki badan gemuk.
"Lagi? bukankah dia anak panti asuhan ya? dari mana coba dia dapetin uang buat beliin orang hadiah!" komentar Ben, teman Yudha yang memiliki kumis tipis tepat di bawah hidungnya.
"Benar juga ya, sepertinya dia sangat menyukaimu Yud! haha!" Ello yang juga bagian kelompok pertemanan Yudha ikut menimpali.
"Hush! jangan menghinanya!" tegur Yudha kepada ketiga temannya.
Tidak lama kemudian, tibalah sudah Elisha di hadapan Yudha. Gadis berambut panjang itu sebenarnya cantik. Namun dari penampilannya yang terkesan biasa saja, menunjukkan bahwa ia tidak pandai bersolek.
"Yudha aku punya sesuatu untukmu." Elisha memperlihatkan hadiah yang sedari tadi berada dalam genggaman tangannya.
Yudha bangkit dari tempat duduknya dengan senyuman yang terukir diwajahnya. Dia selalu menerima hadiah dari Elisha. "Terima kasih!" ucapnya. Namun tiba-tiba atensi Yudha secara tidak sengaja tertuju pada lebam yang ada di sudut bibir Elisha.
"Wajahmu kenapa?" tanya Yudha seraya memegangi sudut bibir Elisha lembut.
Jantung Elisha sontak berdegub kencang. Matanya membulat dan terpaku kepada wajah tampan lelaki di hadapannya. Dia bahkan sudah menenggak salivanya sendiri satu kali.
Semua murid perempuan yang kebetulan menyaksikan penampakan tersebut tentu merasa iri. Sebenarnya Elisha sudah puluhan kali dibully oleh siswi lain karena terlalu nekat mendekati Yudha, namun sepertinya dia tak pernah kapok dengan berbagai ancaman yang dilayangkan kepadanya.
"Aku tidak apa-apa..." lirih Elisha yang reflek menundukkan wajahnya, lalu memegangi sudut bibirnya yang lebam.
"Kau mau ku-temani ke UKS?" tawar Yudha dengan binaran mata yang tak dapat di artikan. Dia sebenarnya selalu bersikap ramah dan baik terhadap gadis yang berusaha mendekatinya. Makanya tidak heran, penggemar Yudha akan terus bertambah seiring bergantinya hari ke hari. Padahal tingkahnya tersebut hanya tipu muslihat, agar orang-orang disekitarnya tidak mencurigainya.
"Ciee Yudha... perhatian sekali ya!"
"Senang banget pasti kamu ya El!"
Teman-teman Yudha yang merasa geli, tentu langsung mengejek Yudha dan Elisha.
Mendengar tawaran Yudha, jantung Elisha semakin berdebar tidak karuan. Dia pun akhirnya langsung beranjak pergi, karena tidak mampu menutupi pipinya yang telah memerah.
"El?!" panggil Yudha yang terheran.
"Dia nggak nolak kamu Yud, cuman sepertinya terlalu malu aja tuh!" Sandi berpendapat sambil merangkul pundak Yudha.
"Memangnya kau menyukai gadis cupu itu?" tanya Ello dengan kening yang mengernyit heran.
"Entahlah." Yudha menjawab singkat.
"Kau aneh sekali Yud! padahal Dea lebih cantik darinya!" timpal Ben, namun sama sekali tidak mendapat respon sedikit pun dari Yudha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Al Fatih
aq mampir kaka
2023-09-17
0
de~javu. {° ~ °}
mampir thor
2023-08-27
0
IG: _anipri
sangatlah tidak normal memang. agak laen emang keluarga harmonis ini
2023-02-08
0