Saat Salma tiba di ruang makan tak dilihatnya Amran atau pun Nadia di sana.
"Mungkinkah keduanya sudah berangkat kerja?" gumam Salma dalam hati.
Tapi tak lama kedua orang itu pun menampakkan batang hidungnya. Keduanya tampak sangat bahagia dan memamerkan kemesraan mereka di depan Salma. Salma yang pagi-pagi sudah di suguhi adegan romantis hanya memandang mereka datar tanpa ingin membuka suara. Baginya setelah mengetahui kebusukan Nadia semalam tak ada lagi hal yang perlu ia rasa tidak enak menyinggung perasaan Nadia.
"Hari ini terakhir kamu bantu mama kan Ma?" tanya Nadia sambil tersenyum manis.
Jika saja Salma tak mendengar sendiri ucapan Nadia semalam mungkin ia akan menyangka jika senyuman yang diberikan Nadia tulus.
"Iya" jawab Salma singkat.
Lalu mereka pun melanjutkan sarapan. Seperti biasa setelah sarapan Nadia dan Amran langsung berangkat kerja bersama.
Setelah keduanya pergi Salma langsung mengambil tasnya dan segera berangkat ke tempat kerjanya. Hari ini keadaan di restoran tempat Salma bekerja sangat ramai membuat seluruh karyawan sibuk termasuk Salma. Hal ini cukup membuat fikirannya teralihkan dari masalah yang sedang dihadapinya. Tak terasa sore telah menjelang saatnya Salma untuk pulang. Hari ini kembali ia diantar oleh Rini yang sekarang menjadi sahabatnya, walau ia belum berani bercerita tentang masalah pernikahannya. Seperti biasa Rini hanya mengantar sampai depan komplek. Setelah mengucapkan terima kasih dan Rini sudah melajukan motornya Salma pun bergegas menuju rumah.
Sesampainya di rumah ia pun langsung membersihkan dirinya dan beristirahat sejenak dengan duduk di samping jendela kamarnya. Kini setelah ia tahu jika sesungguhnya Nadia tidak menyukainya Salma merasa sudah tidak bisa lagi bertahan pada pernikahannya. Tapi ia tak dapat begitu saja menggugat cerai Amran tanpa alasan yang kuat.
Malam ini Salma sama sekali tidak bisa tidur, fikirannya melayang pada kenangan masa kecilnya bersama Nadia. Dulu Nadia kecil selalu bermain dengannya dan juga kedua adiknya karena ia sering merasa kesepian di rumah sebab ia anak tunggal. Semuanya terasa normal karena mereka jarang sekali bertengkar. Namun Salma mulai ingat saat ia dan Nadia mulai masuk SMU. Entah mengapa sejak mereka beda kelas sikap Nadia mulai berubah dan sejak itu bersikap seperti tak pernah mengenalnya. Salma mencoba mengingat apa yang membuat Nadia bersikap seperti itu tapi ia tak juga dapat mengingatnya.
"Nad sebenarnya apa salahku?" gumamnya setelah lelah berfikir.
Tanpa sadar Salma pun akhirnya bisa tertidur saat menjelang pagi. Azan subuh yang berkumandang membangunkan Salma yang baru saja terlelap. Matanya masih terasa lengket karena kurang tidur, namun ia paksakan untuk bangun agar tidak terlambat untuk sholat subuh. Setelah sholat ia pun merasa lebih segar, fikirannya pun mulai jernih. Ya mulai sekarang ia harus bekerja lebih keras agar jika suatu saat suaminya menceraikannya ia sudah punya tabungan untuk biaya hidupnya nanti. Salma memang yakin entah kapan waktunya pasti Amran akan menceraikannya. Dan Nadia mungkin saja ia akan bosan dan membujuk suaminya untuk menceraikannya juga.
Selesai sarapan sengaja Salma bicara pada Nadia agar ia dapat keluar rumah dengan mudah.
"Nad mulai hari ini aku kan sudah tidak pergi ke rumah mama... bolehkan jika nanti aku keluar untuk jalan-jalan soalnya aku belum begitu kenal kota ini" bujuk Salma.
"Kalau mau pergi ya pergi saja tapi jangan harap aku kasih kamu ongkos" potong Amran tiba-tiba dengan muka merah.
"Mas ... Salma kan cuma pengen lihat-lihat kota ini iya kan Ma?" kata Nadia lembut.
"Iya..." ucap Salma sedikit menunduk karena kaget dengan perkataan Amran tadi.
"Ya sudah ga pa-pa Ma... kalau kamu mau jalan-jalan tapi jangan pulang kesorean ya" sambung Nadia.
"Iya... makasih Nad" jawab Salma.
Amran pun langsung keluar menuju mobilnya begitu ia menghabiskan sarapannya. Begitu juga dengan Nadia, namun sebelum itu ia masih sempat memberi uang satu lembar berwarna biru pada Salma.
"Ini untuk pegangan ..." kata Nadia sambil tersenyum.
Salma pun hanya bisa mengangguk sambil membalas tersenyum namun dalam hatinya ia merasa jika Nadia sedang mencemoohnya.
"Makasih Nad" ucapnya.
"Sama-sama..." kata Nadia sambil berlalu menyusul suaminya.
Digenggamnya uang pemberian dari Nadia itu lalu diremasnya. Rasanya sakit sekali mengetahui setiap kebaikan yang ditunjukkan Nadia kepadanya itu ternyata hanya kebohongan belaka. Tapi saat ini Salma tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas perbuatan kedua suami istri itu padanya. Ia hanya bisa mengikuti arus sambil mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk yaitu di depak keluar dari rumah itu tanpa membawa apa-apa.
Kemudian Salma pun bersiap-siap untuk berangkat kerja. Hari ini ia bisa bernafas lega karena punya alasan untuk keluar rumah saat Amran dan Nadia berangkat kerja tapi entah esok atau lusa. Ah biarlah esok akan ia fikirkan lagi alasan lain yang terpenting hari ini Salma bisa berangkat kerja dengan tenang. Sesampainya di restoran Salma pun langsung mengerjakan tugasnya. Hari ini seperti biasa saat jam makan siang adalah saat paling ramai. Seperti saat ini Salma dan Rini sedang sibuk membersihkan meja bekas makan pelanggan dengan tergesa sebab sudah ada pelanggan lain yang hendak menggunakannya. Selesai membersihkan keduanya pun segera kembali ke belakang untuk meletakkan piring kotor dan segera keluar kembali untuk mencatat pesanan baru.
Saat Salma sibuk mencatat pesanan pelanggan tiba-tiba matanya melihat Amran dan Nadia berjalan memasuki restoran. Dengan gugup Salma langsung menyembunyikan wajahnya dengan sedikit membungkukkan badan agar keduanya tak melihat jika Salma bekerja di sana. Selesai mencatat pesanan dengan cepat Salma masuk ke dalam untuk menyerahkan catatan pesanan sekaligus bersembunyi dari sepasang suami istri itu. Saat hendak mengantar pesanan ia terpaksa meminta bantuan Rini untuk menggantikannya.
Wajah Salma yang terlihat agak pucat membuat Rini menyangka jika sahabat barunya itu sedang tidak enak badan. Sehingga tanpa banyak bertanya ia pun langsung mau menggantikan Salma mengantarkan pesanan pelanggan. Untuk menghindari pertemuan dengan Amran dan Nadia, Salma pun terpaksa pura-pura sakit perut dan harus ke toilet yang khusus disediakan untuk karyawan restoran. Sesampainya di toilet ia pun masuk ke dalam salah satu bilik dan mengunci dirinya disana agar tak ada yang curiga.
Namun belum juga 15 menit ia berada di dalam toilet ia sudah merasa tak enak karena saat ini masih jam kerja dan tak mungkin ia tetap sembunyi di dalam toilet. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali bekerja walau dengan resiko terpergok oleh Amran dan Nadia. Tapi ternyata Tuhan sangat menyayanginya karena ketika ia kembali untuk melayani pelanggan sudah tidak dilihatnya lagi suami dan madunya itu berada di dalam restoran. Dan saat dilihatnya ke arah parkiran mobil keduanya pun sudah tak ada lagi di sana. Salma pun menghembuskan nafas lega karena hari ini kembali terselamatkan.
Karena retoran yang ramai seharian membuat pemilik restoran menutup restorannya lebih awal karena hampir semua menu yang mereka punya sudah habis. Sehingga Salma dan teman-temannya bisa pulang lebih cepat. Hal ini dimanfaatkan Salma untuk sekedar berkeliling sebentar agar jika Nadia bertanya tentang hari ini ia bisa menjelaskan walau sedikit. Lagi-lagi Rini yang mau mengantarnya. Setelah beberapa saat berkeliling keduanya pun akhirnya memilih beristirahat di taman kota sambil duduk dibangku dan bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Rini ternyata seorang janda tanpa anak yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan. Mendengar cerita Rini yang sebatang kara membuat Salma bersyukur karena setidaknya ia masih memiliki ibu dan dua orang adik yang sangat menyayanginya. Setelah Rini menceritakan hidupnya giliran Salma yang akhirnya jujur juga tentang kisahnya.
"Aku ga nyangka Ma ... dengar cerita kamu" ucap Rini setelah mendengar cerita Salma.
"Kamu jadi istri kedua?" sambungnya.
Salma pun hanya mengangguk.
"Dan itu atas permintaan sepupumu yang notabene adalah istri pertama?" tanya Rini lagi.
Salma pun lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Melihat itu Rini hanya bisa menghela nafas pelan.
"Hidupmu terlalu rumit Ma..." ucapnya kemudian sambil menatap Salma iba.
"Lalu apa kalian rukun?" tanya Rini penasaran.
"Awalnya aku merasa kami rukun walau suamiku belum mau menerimaku sebagai istrinya. Tapi..."
"Tapi apa Ma?" tanya Rini.
Akhirnya Salma pun menceritakan semuanya tentang Nadia yang telah bermuka dua dengannya.
"Jadi kau sama sekali tidak tahu alasan madumu bersikap seperti itu padamu?"
"Iya Rin.... aku sungguh tidak tahu" ucap Salma lirih.
"Sudahlah Ma... kamu yang sabar ya, suatu saat nanti Allah pasti akan membukakan segalanya tentang Nadia" ujar Rini sambil mengelus bahu Salma lembut.
Salma pun mengangguk pelan, kini hatinya sedikit lega setelah menceritakan semua pada Rini. Keduanya pun akhirnya pulang karena hari sudah semakin sore.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments