Setelah mengunjungi Rumah Rania, Sean pun langsung kembali ke Rumah Sakit, dan segera kembali ke ruang rawat ibunya Lagi
Sean membuka pintu Ruangan dan langsung di sambut oleh tatapan Kartina, Sean pun segera menghampiri nya lagi,
"Bu" sapa Sean
Kartina pun langsung mendudukan dirinya lagi dan langsung meraih wajah putranya itu dan mengecup keningnya "Jangan pergi dari ibu lagi Arman" ucap Kartina
"Tidak, tidak akan lagi, ibu tenang saja" ucap Sean
"Setelah kecelakaan itu, sebenarnya kamu di mana selama beberapa tahun ini? kenapa tidak menghubungi ibu" tanya Kartina menatap lurus mata putranya itu
"Aku terdampar di pulau BB bu, aku kehilangan seluruh ingatanku di sana, dan aku sekarang baru mendapatkan kembali ingatanku" ucap Sean
"Bagaiman kamu bisa kembali ke kota ini lagi?" tanya Kartina
"Aku kembali bersama Tiara, tadinya Arman sempat berpikir kalau ibu tidak akan menerima Arman dengan kondisiku seperti ini" ucap Sean tersenyum
"Anak bodoh, mana mungkin ibu tidak menerimamu, seperti apapun kamu, kamu tetap putra ibu," ucap Kartina
"Iya, maaf" ucap Sean
"Kapan kapan kamu ajak Tiara makan di rumah," ucap Kartina
"Iya, nati kalau ibu sudah pulang," ucap Sean
"Ya, Ibu juga sudah tidak sabar untuk pulang, ibu sudah ingin berkumpul lagi dengan kalian" ucap Kartina
"Arman juga ingin seperti itu,,, bu, apa menurut ibu wajahku benar benar bisa kembali seperti semula?" tanya Sean
"Mungkin tidak akan Seratus persen seperti kamu yang dulu, tapi setidaknya bisa lebih baik dari sekarang,, tapi sebenarnya mau bagaiman pun kamu, ibu tidak akan mempermasalahkan itu" ucal Kartina
"Bukan untuk ibu, tapi ini untuk Lena" ucap Sean
"Apa kamu hanya berniat kembali pada Lena saja?" tanya Kartina
"Memangnya harus kembali pada siapa lagi, ya tentu hanya Lena bu, tidak mungkin aku membawa kembali Rania juga kan" ucap Sean
"Ya, mungkin kamu Benar" ucap Kartina dengan wajah kecewa, karena dia sedikit banyak memang berharap keadanya akan seperti sedia kala,
Saat mereka sedang hangat hangatnya mengobrol, pintu Ruang rawat itu pun tiba-tiba terbuka,
Sean sontak kaget, karena dia mengira itu Lena yang masuk, dia memakai masker nya lagi dan segera berdiri dari duduknya, dia mundur kebelakang dan berdiri tegak di sana seperti halnya seorang pengawal
Sean pu menundukan pandangannya, dia tidak berusaha melihat ke Arah wanita yang baru masuk itu, Sean hanya bisa mendengar suara hils yang menyentuh lantai Rumah sakit yang perlahan mendekat ke arahnya
"Ra, Rania?" ucap Kartina sedikit kaget
"Bu" Rania pun langsung menyalami Kartina
"Tumben kamu jenguk ibu sore sore Ran" ucap Kartina
"Iya, aku tadi mendadak kepikiran Ibu, jadi aku langsung kemari, soalnya tadi aku melihat ada mobil anak buah Agam di depan Rumah, kukira mereka akan menyampaikan kabar dari ibu, tapi pas aku samperin, mobilnya sudah tidak ada" ucap Rania
Seketika Sean pun langsung mencuri pandang pada Rania yang memunggungi nya sekarang, dia tidak menyangka kalau Rania bisa hapal mobil anak buah Agam yang di tumpangi nya tadi, padahal kalau di pikir yang pakai mobil berjenis itu banyak di luaran sana
Rania sekarang menggunakan long Coat berwarna navyblue yang elegt, dengan balutan hijab hitam di kepalanya, meskipun Sean hanya melihat Rania dari belakang sekarang, tapi Sean masih bisa melihat ke Anggunan Rania itu
Rania pun langsung menoleh kebelakang, Karena instingnya mengatakan kalau ada mata yang sedang memperhatikan nya dari belakang
Dan tentu saja Sean pun langsung menundukan pandangannya ke lantai lagi,
"Mah siapa dia" tanya Rania sedikit Heran, meskipun dari sikap sudah menunjukan kalau dia pengawal Kartina, tapi Rania merasa ada yang Ganjil sekarang
"Dia dia, membantu ibu ambilkan Air barusan" ucap Kartina
Rania masih memperhatikan Sean dengan sangat teliti, "Apa kamu anak buah Agam?" tanya Rania
Sean pun langsung mengangguk
"Aku rasanya tidak pernah melihat mu sebelumnya" ucap Rania
"Dia dia anggota baru" ucap Kartina
Rania pun menoleh pada Kartina lagi, dia merasa ada kegugupan dari perkataannya, dan dia yakin Kartina tidak berkata yang sebenarnya, Rania sedikit pandai dalam hal menebak ekspresi orang
"Oh" meskipun Rania sdikit curiga ada yang di sembunyikan, tapi dia tidak terlalu menunjukanya
Sean pun langsung membungkuk dan bergegas pergi keluar, sementara Kartina terus menatap ke arah perginya Sean itu
"Bu, ada apa?" tanya Rania
"Hah?, tidak, tidak ada apa apa Ran" ucap Kartina
Rania pun berpikir kalau memang ada yang janggal di sini, logikanya mulai bekerja dan mengaitkannya dengan pesan yang di terima nya tadi, dan jadi lah sebuah kesimpulan di hatinya, tapi dia yakin sekarang Kartina tidak akan bilang meskipun dia bertanya, karena Rania sudah merasakannya dari awal
"O ya mah, aku keluar dulu sebentar ya, ada yang lupa", ucap Rania
"Oh, iya" ucap Kartina
Rania pun segera bergegas ke keluar pintu ruangan, pandangannya pun langsung mencari sosok yang tadi ada di dalam, dan diapun langsung melihat pria tadi duduk di kursi tunggu
meskipun Sean memakai kemeja hitam dan senada dengan yang lainya, tapi Rania tetap mudah untuk membedakanya, Karena ketiga penjaga lain tidak menggunakan masker, dan hanya Sean saja yang menggunakannya
"Bu", ketiga anak buah Agam langsung menyapa Rania yang keluar lagi
Sean pun langsung berdiri dari duduknya, dia masih berperan sebagai pengawal, dan harusnya dia tidak duduk, Sean langsung mengangguk pada Rania
Rania pun langsung menghampiri Sean "Kamu Ikut saya dulu sebentar" ucap Rania
Sean pun menggelengkan kepalanya dan menunjuk penjaga lain dengan ibu jarinya,
Meski Rania paham, tapi dia tidak bermaksud membutuhkan pengawalan sekarang "Aku tidak mengerti, apa kamu bisa bicara?" tanya Rania
Sean pun menggelengkan kepalanya lagi
"Kalau kamu memang bisu, tolong jelaskan dengan isyarat kenapa kamu menolak permintaan ku,?" ucap Rania
Sean pun langsung terbengong, mana dia paham bahas isyarat yang lebih dari pada tunjuk tangan, Sean pun sadar kalau Rania memang curiga dan sengaja mempersulitnya,
"Tidak bisa menjelaskan?, itu artinya kamu tidak punya alasan untuk menolak, jadi ikut aku sekarang!" ucap Rania
Sean pun hanya mengangguk dan mengikuti Rania yang mulai berjalan, dia pikir selama dia tidak bicara Rania tidak akan mengenalinya
Sean pun mengikuti Rania sampai ke dalam mobilnya, meskipun dia tidak ingin mengusik ketenangan rumah tangga Rania sekarang, bukan berarti Sean juga tidak ingin dekat dengannya, hati kecilnya masih berharap kalau Rania masih bisa bersamanya seperti dulu
Rania pun menoleh ke arah Sean yang duduk di samping kirinya di dalam mobil
"Tolong katakan sesuatu" ucap Rania
Sean hanya terus menggelengkan kepalanya sambil menundukan pandangan matanya
"Aku yakin pasti kamu juga yang mengirimi ku kata kata, dan kamu juga yang berhenti di depan Rumah ku tadi, iya kan?" ucap Rania menebak
Sean sedikit kaget karena tebakan Rania ternyata bisa se akurat itu 'Bagaimana Rania bisa menebaknya, apa mata batin Rania juga terbuka' gumam hatinya
Sean tidak tau kalau Rania pandai mengait ngaitkan masalah dengan logikanya, dan perkiraannya itu hampir tidak pernah meleset
"Jawablah, jangan terus berpura-pura seperti ini padaku" ucap Rania
"Memangnya kamu butuh jawaban seperti apa" tanya Sean
Rania pun semakin yakin dengan dugaanya setelah mendengar suara itu, dia pun langsung menjatuhkan Air matanya sambil menatap Sean dengan sangat lekat
Sean yang tidak mendengar Rania bicara lagi pun langsung menoleh kepadanya "Kenapa Anda menangis?" ucap Sean
"Tega yah kamu bersikap seperti ini padaku, apa aku semudah itu kamu lupakan?" tanya Rania
Sean pun merasa kalau Rania sudah mengenalinya sekarang, jadi Sean pun membuka maskernya dan tidak berniat menyembunyikannya lagi
"Aku juga tidak mau seperti ini Ran" ucap Sean tidak berani membalas pandangan Rania
Rania pun bisa melihat kondisi wajah Sean sekarang, "Jadi hanya karena ini kamu tidak kembali selama ini, apa kamu tau, aku menantimu sampai hampir putus asa rasanya, sampai aku berpikir ingin menyusulmu jika kamu benar benar telah pergi, dan kamu menyembunyikan diri hanya karena lukamu ini?, kamu benar-benar Egois" ucap Rania yang sampai tersedu sedu mengatakan nya
"Tidak sesederhana itu,,,,,, aku kehilangan ingatanku selama beberapa tahun ini,, dan baru kembali karena aku baru mengingatnya Ran" ucap Sean
Rania pun tidak menjawab Sean lagi, dia hanya terus menangis di tempat nya sekarang
"Ran, mungkin Tuhan tau kalau kamu wanita yang sangat baik, dan mungkn takdir inilah yang terbaik untuk kita sekarang, karena kamu memang lebih pantas bahagia dengan seseorang yang hatinya hanya untukmu saja" ucap Sean
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Arkan Arsyad
aku terharu thor😥😥😥
2023-01-23
2
Wandi
mantap
2022-06-05
0
Bagas Adiyasaputra
up
2021-11-21
1