Lena dan putri kecilnya itu pun segera masuk dan mendekati ranjang rawat Kartina, "Ssssst Jangan ribut, nenek sedang tidur nanti nenek terganggu" ucap Lena
Gadis kecil itu pun memutuskan menutup mulutnya dengan telunjuk mungilna, dan dia mengangguk
Mereka pun mendekat dan duduk di samping Kartina, dan gadis kecil itu pun duduk di pangkuan Lena
Tidak lama Kartina pun terbangun "Armmaaann" triak Kartina yang baru bangun itu, dia pun langsung melihat kiri kanannya, namun dia tidak melihat orang yang masuk kedalam mimpinya tadi
"Mah, ada apa?, mamah mimpi buruk?" tanya Lena
"Tidak, mamah tidak mimpi buruk, mamah tadi merasa Arman ada di sini, dia tadi menjenguk mamah" ucap Kartina
Lena pun langsung melirik dan beradu pandang dengan Reno sejenak, Lena pun mendudukan Naira di ranjang rawat Kartina, dia juga duduk di ranjangnya dan menenangkan Kartina
"Mamah, dia sudah tidak ada, di luar juga hanya ada Tiara, dan beberapa pengawalnya saja, mungkin mamah bermimpi, apa mamah sudah minum obat?" ucap Lena
"Tidak, mamah tidak bermimpi, Tadi Arman kesini, mamah tidak mungkin salah, di mana dia, di mana?" Kartina terus mencari dengan pandangannya ke setiap sudut Ruangan itu
Lena pun sampai menitikan air matanya dan memeluknya dari samping "Mah, sudah mah, Lena tidak tega kalau melihat mamah seperti ini" ucap Lena
Naira pun juga memeluk neneknya seperti Lena "Iya nek jangan cari cari orang lain, cari Naila saja" ucap Naira cadel
Kartina pun langsung bisa menyetabilkan emosinya karena pelukan dua orang ini, dan dia pun balas memeluk Naira juga "Iya, maaf sayang, mungkin nenek hanya mimpi tadi" ucap Kartina
Sean memang tidak bisa melihat ke arah mereka sekarang, tapi dia masih bisa mendengarkan percakapan mereka dari dalam toilet yang tidak dia tutup Rapat, dia ingin sekali rasanya langsung ke sana dan memeluk ibunya dan Lena, namun masih ada keraguan di hatinya, dia masih tidak yakin kalau Kartina bisa langsung menerimanya, juga memeluk Lena pun dia rasa sudah tidak mungkin lagi, karena Lena sudah punya kehidupannya sendiri
"Mah,, jangan sebut nama itu lagi ya, Lena tidak kuat mendengarnya" ucap Lena yang masih memeluk Kartina
"Iya maaf, mamah belum bisa melupakannya" ucap Kartina
"Mah, Lena juga tidak mungkin melupakannya, hanya saja Lena berat jika harus terus mengingatnya" ucap Lena
Naira yang masih belum mengerti pun hanya diam dan memainkan tangan Kartina saja, dia memang tidak tau apa apa soal orang yang mereka perbincangkan
"Len, kita harus segera kembali, waktu operasi pasien akan segera tiba" ucap Reno mengingatkan
"O Iya mah, maaf Lena tidak bisa lama lama, ada pasien yang harus Lena tangani dulu, Lena titip Naira di sini dulu ya, tidak apa kan?" ucap Lena
"Tidak apa Len, biar mamah ada teman juga di sini, lagian Naira juga tidak nakal kan, Iya kan sayang?" tanya Kartina pada Naira
"Iya, Naila Anak baik" ucap Naira mengaguk nganggukan kepalanya
Lena pun melepaskan pelukannya dari Kartina dan meraih pipi Naira "Mamah tinggal dulu sebentar ya, ingat, kamu harus jaga nenek baik baik, jangan sampai kamu nakal ya" ucap Lena
"Iya, Naila Bisa jaga nenek" ucap Naira
"Mah, doakan Lena ya, semoga operasinya berjalan mulus" ucap Lena
"Tentu saja, mamah selalu mendoakan mu", ucap Kartina
Lena pun mencium tangan Kartina dan segera pamit keluar, Sean pun bisa melihat lagi sekilas Lena yang berjalan ke pintu lagi, namun segera Lena pun menghilang di balik pintu ruangan itu
Sean sekarang bingung, bagaiman caranya agar dia bisa keluar, kalau dia hanya diam di sini, dia takut ibunya juga akan ke kamar mandi nanti
Diapun melihat ke sekeliling kamar mandi itu, dan kebetulan dia memukan sebuah masker yang tergantung di sana, jadi diapun mengambilnya dan segera memakainya, setelah dia menyiapkan alibinya dia pun keluar dari kamar mandi, diapun berjalan lurus ke arah pintu keluar melewati ruangan Kartina dengan hati berdebar,
Dan tentu saja Sean bisa di lihat Kartina yang sedang bermain dengan Naira "Hey, siapa kamu, kenapa kamu keluar dari kamar mandi kamar rawat ini?" tanya Kartina heran karena tiba tiba melihat orang lain keluar dari kamar mandi pribadi rumah sakit
"Sa saya hanya petugas kebersihan bu, kebetulan barusan saya sudah membersihkan kamar mandinya, maaf saya permisi" ucap Sean Tampa menoleh
Kartina pun tertegun mendengar suara orang yang memunggungi nya itu, dia merasa seperti sangat mengenalnya, tapi entah siapa
Sean pun segera melanjutkan langkahnya lagi
"Tunggu dulu," ucap Kartina
"Ada apa Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Sean masih tampa menoleh
"Balikan badan mu, aku ingin melihat mu" ucap Kartina
"Untuk apa Bu, saya hanya petugas kebersihan saja, kebetulan seragam saya tadi terkenal air, jadi saya menjemur nya, dan hanya memakai kemeja ini sebagai gantinya, kalau tidak percaya ibu bisa hubungi pihak rumah Sakit" ucap Sean mencoba meyakinkan
"Aku percaya, tapi tolong tunjukan wajahmu dulu" ucap Kartina, dia malah semakin penasaran dengan orang yang mempunyai suara yang sangat familiar di telinganya itu
Sean pun dengan ragu ragu membalikan badannya,
"Buka maskermu" ucap Kartina
Sean juga tidak menolak, dia membuka salah satu pengait maskernya dan menundukkan pandangannya, dia merasarasa ragu Kartina bisa mengenalinya sekarang
Kartina pun sangat lekat menatap pria yang tidak jauh darinya itu, dia melihat sebagian kulit wajahnya itu sedikit belang belang karena bekas luka bakar parah yang sudah sembuh
Meski pun dia tidak yakin dengan wajah, tapi dia yakin dengan hatinya, batinya tidak pernah membohonginya, dia merasa ikatan batinya dengan pria ini sangat kuat, dan tampa sadar Air matanya pun lasung jatuh tampa di suruh
"Kamu tatap mata ibu" suruh Kartina
Sean menahan dirinya agar tetap terlihat normal meskipun hatinya sudah ingin segera lari dan mengahampiri ibunya itu, namun dia tetap merasa ragu untuk melakukan nya, diapun mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Kartina
Diapun bisa melihat kalau ibunya itu sedang menangis sekarang "Ibu kenapa menangis?" ucap Sean dengan menguatkan hatinya
"Beginikah caramu pulang, dengan hanya mencoba berpura-pura pada ibu" uacap Kartina
"Apa maksud ibu ini?, aku hanya petugas k........"
"Memangnya sejak kapan kamu bisa membohongi ibumu ini" ucap Kartina langsung memotong perkataan Sean dengan Air mata yang semakin deras
Dia pun merasa terkejut sekaligus terharu, karena dengan kondisinya yang seperti itu pun, ibunya masih dapat mengenalinya, dia masih menatap lekat wajah ibunya itu, dan tanpa dia sadari Dari pelupuk matanya juga merembes Air yang langsung melintasi pipinya
"Apa kamu hanya akan diam di situ, atau kah harus ibu yang kesana" ucap Kartina segera bergeser dari duduknya ke pinggiran, karena dia sudah tidak sabar ingin segera merangkul pria yang dia yakini kalau itu adalah putranya
Keraguan Sean pun seketika runtuh, yang ada sekarang hanya rindu yang ingin dia tumpahkan karena memang dia sudah tidak sanggup membendungnya
Jadi dia pun segera menghampiri ibunya dan lansung memeluknya "Ibu,,, maaf,,, Arman memang baru bisa pulang" ucap Sean
Ibunya pun sampai tidak bisa berkata kata dan hanya menangis sejadinya, dia serasa bermimpi bisa memeluk lagi putranya yang sudah bertahun-tahun sudah dia anggap meninggal itu, dan tiba tiba dia pun kini ada di dekatnya begitu saja seperti jatuh dari langit saja
"Nenek, kenapa nenek menangis, apa orang ini jahat?" tanya Naira yang juga ikut menangis karena dia melihat neneknya menangis, jadi Naira pun mencoba memisahkan pelukan mereka berdua, "Lepaskan neneku, lepaskan" ucap Naira
Dengan berat hati Merekapun melepas pelukan mereka karena tidak tega pada Naira
"Ade, Om bukan orang jahat, Ade pasti Putri nya dokter Lena kan?, cantik sekali" ucap Sean sambil mencoba mencubit pipinya ringan, dan menghapus Airmtanya juga
Tapi entah kenapa mendengar perkataan Sean itu Kartina semakin tersedu di tengah tangisanaya, "Di dia pu pu tri mu, da ri Ra ra ni a" ucap Kartina patah patah dan tidak jelas karena dia menangis tersedu-sedu
"Putri siapa?" tanya Sean memastikan karena dia sedikit tidak mengerti ucapan ibunya,
"Pu tri mu" ucap Kartina masih tersedu
Sean pun langsung termenung sejenak, dia tidak ingat kalau istrinya ada yang sedang hamil saat dia pergi untuk perjalan bisnis Tempo hari, "Itu tidak mungkin, seingatku tidak ada yang hamil saat aku pergi" ucap Sean
Kartina pun mencoba menenangkan dirinya dulu, dia memang tidak bisa bicara lancar sekarang
Sean pun paham dan segera memberinya segelas Air untuk membantu menenangkan nya
Perlahan Kartina pun bisa tenang, tapi dia masih terus terisak
"Dia adalah putrimu dari Rania, namanya Nayra Arfandi putri, di ambil dari nama kakeknya dan kepanjangan namamu juga, saat kamu pergi Rania sudah mengandung anakmu, hanya saja Rania juga belum sadar waktu itu, ibu yakin dia berkata jujur pada ibu" ucap Kartina
Air mata yang sempat Sean hapus dari pipinya sendiri pun seketika mengucur lebih deras lagi, ini sungguh di luar dugaannya, dia memang sudah melihat kalau wajah gadis Kecil ini mirip Rania, tapi dia tidak menyangka kalau gadis mungil dan imut ini ternyata putrinya juga, pikiranya tidak sampai kesana karena Rania sudah menikah lagi, dan juga Lena yang membawanya kemari, bukan Rania
Mungki semasa hidupnya dia hanya menangis untuk ibunya saja, dan sekarang dia menangis untuk putri yang tidak pernah dia sangka
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Thr!b!
Tiara cocok untuk Arman tuh
2023-12-09
0
Wirda Lubis
Sean sudah punya anak
2023-04-17
0
Hanan
sedih 😭😭😭😭
2022-05-03
1