"Fei Yang kakek yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah menjamu kakek dengan sangat baik."
ucap kakek itu sambil tersenyum lembut dan membelai kepala Fei Yang.
"Fei Yang ulurkan kedua tangan mu kemari, "
ucap kakek Wu Ming Lau Jen lembut.
Fei Yang langsung mengulurkan kedua tangannya kedepan.
Dia menatap kakek Wu Ming Lau Jen dengan penuh tanda tanya.
Wu Ming Lau Jen mengulurkan tangannya kedepan tiba-tiba di dalam genggaman tangannya, ada dua batang pedang yang kiri bersinar merah, yang kanan bersinar biru.
Sesaat kemudian kedua pedang itu berubah mengecil, hingga sebesar jari kelingking, dan berada dalam telapak tangan kanan dan kiri Wu Ming Lau Jen.
Wu Ming Lau Jen lalu menempelkan kedua telapak tangannya di atas kedua lengan bagian dalam Fei Yang..
Sesaat kemudian saat Wu Ming Lau Jen mengangkat kedua telapak tangannya dari lengan Fei Yang, di atas lengan Fei Yang kini muncul tato pedang merah di lengan kanan dan tato pedang biru dilengan kirinya.
"Kakek apa ini..?"
"Ini adalah pedang api dan pedang es, aku telah menyegelnya kedalam kedua tangan mu."
"Selain kamu tidak ada yang bisa menggunakannya."
"Bila kamu memerlukannya, cukup kamu bayangkan saja, maka kedua pedang ini akan muncul dengan sendirinya, begitu pula bila kamu ingin menyimpannya kembali."
"Tapi Fei Yang kedua pedang ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, sehingga kamu harus berhati-hati dalam penggunaan nya"
"Pedang ini juga menjadi rebutan di dalam dunia persilatan, bila kamu belum kuat dan menggunakannya, maka lebih banyak bahaya ketimbang keuntungan yang kamu dapatkan."
"Seluruh orang dunia persilatan akan mengincarmu."
"Demi untuk mendapatkan kedua pedang ini mereka tidak akan segan segan membunuh mu."
pesan Wu Ming Lau Jen sebelum dirinya menghilang dari hadapan Fei Yang.
Begitu Wu Ming Lau Jen menghilang dari hadapan nya.
Fei Yang pun terbangun dari tidur panjangnya, Fei Yang membuka matanya dan bergumam sendiri.
"Ahh ternyata cuma mimpi, mungkin karena terlalu lelah jadi mimpi aneh aneh."
Tapi saat Fei Yang bangun dari tidurnya, dia melihat di dalam telapak tangannya ada sebuah medali Giok hijau tua, sama persis dengan yang di lihatnya dalam mimpi, dia menjadi kaget dan ragu.
"Sungguhkah aku sedang bermimpi, ? "
gumam Fei Yang bingung, dia mencoba melihat kedua lengan bagian dalam nya.
Dia kembali terkejut, melihat ada dua tato pedang kecil merah dan biru di kanan kiri lengannya.
"Ini...?"
Fei Yang terlihat semakin kaget dan ragu.
Fei Yang mencoba membayangkan kedua pedang tersebut di dalam pegangan tangan nya, seperti petunjuk Wu Ming Lau Jen.
Benar saja kedua pedang yang mengeluarkan aura panas dan dingin yang menyeramkan kini ada dalam genggamannya.
Fei Yang teringat pesan Wu Ming Lau Jen yang terakhir sebelum pergi.
Dia buru-buru menyimpannya kembali, sambil celingukan melihat kesekitarnya,
Untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya barusan, saat dia mengeluarkan kedua pedang pusaka tersebut.
"Ini nyata bukan mimpi.."
pikir Fei Yang dalam hati.
Fei Yang segera berlari ke mulut gua, berlutut di sana sambil membenturkan dahinya keatas lantai Fei Yang berkata,
"Terimakasih kakek Wu Ming...! terimakasih kek..!"
Tapi suara Fei Yang hanya mendapatkan balasan suara gema nya sendiri yang membalik.
Karena merasa gerah, Fei Yang melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian melompat kedalam sungai berair jernih, dia berenang kesana kemari dengan gembira, setelah puas dia baru berendam di dalam sungai tersebut.
Fei Yang berendam hingga matahari tenggelam, dia baru menombak beberapa ekor ikan, membawanya kembali kedalam gua menyalakan api unggun.
Lalu duduk di sana membakar ikan untuk makan malamnya.
Fei Yang menghabiskan waktu 2 hari tinggal di dalam gua, di dekat pinggir sungai.
Di hari ketiga Fei Yang yang mulai bosan hidup sepi ditempat tersebut.
Memutuskan untuk melanjutkan perjalanan nya, mencari gunung Xu seperti yang di katakan oleh kakek Wu Ming padanya.
Fei Yang kembali melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan yang jelas, tanpa di sadari langkah kakinya membawa Fei Yang memasuki sebuah hutan rimba yang semakin masuk kedalam semakin gelap.
"Kemana ini..?"
gumam Fei Yang dalam hati.
"Mudah mudahan aku tidak tersesat,"
gumam Fei Yang dengan pelan.
Dia terus melanjutkan langkahnya dengan sepasang tombak di dalam genggaman tangannya.
Fei Yang pernah dengar cerita dari pamannya Li Yuan Tan, bahwa di dalam hutan Rimba yang luas, biasanya suka di huni oleh Raja Rimba pemangsa daging yang buas.
Oleh karenanya, Fei Yang sejak memasuki rimba ini, dia selalu bersikap hati-hati dan waspada.
Karena dia sendiri tidak tahu akan ada bahaya apa, ? yang bakal menantinya ditempat seperti ini.
Sesuai dugaan Fei Yang, bahaya mulai muncul.
Tiba-tiba dari arah belakang nya terdengar suara Auman dahsyat.
Rumput rumput panjang berkrosakan, tak lama kemudian dari balik hutan belantara yang gelap muncul seekor harimau yang seluruh tubuhnya di selimuti Api menyala nyala.
Fei Yang berdiri melongo menatap kearah harimau yang tingginya mencapai 2 meter itu.
Fei Yang menelan ludah nya sendiri dan berkata dalam hati,
"Hari ini kelihatannya aku akan segera berakhir di perut mahluk ini."
Fei Yang mencekal sepasang tombaknya dengan erat, telapak tangannya mulai basah oleh keringatnya sendiri.
Fei Yang menyatukan sepasang tombaknya agar menjadi tombak panjang, yang lebih efektif bila di gunakan untuk melawan mahluk buas seperti yang muncul di hadapannya.
"Wahai harimau api pergilah menjauh dari ku, kita tidak punya urusan.. atau aku terpaksa menghabisi mu.."
ucap Fei Yang sambil mengacungkan tombaknya mengancam harimau tersebut.
Harimau tersebut menjawabnya dengan gerengan keras, sebelum maju untuk menyerang Fei Yang dengan kedua cakar depannya.
Fei Yang melompat mundur menghindari sapokkan kedua kaki depan harimau api tersebut.
Harimau Api menggereng marah menebarkan ancaman, lalu sekali ini dia menerkam kearah Fei Yang.
Fei Yang kembali melompat menghindar kesamping, sambil menusukkan tombaknya kearah leher harimau itu dari samping.
"Cringgg...!!"
Terdengar bunyi seperti besi beradu, Tombak Fei Yang memang dengan tepat berhasil menusuk leher harimau tersebut.
Tapi harimau itu dilindungi oleh kulitnya yang keras seperti besi, sehingga saat berbenturan mengeluarkan bunyi seperti logam beradu.
Harimau tersebut meraung marah, dia memutar tubuhnya, lalu kembali melompat kearah Fei Yang.
Harimau itu mencoba menyerang dengan sepasang cakarnya yang memiliki kuku yang runcing panjang dan tajam seperti.mata pisau.
Fei Yang yang mencoba menangkisnya, tubuhnya langsung terpental berguling-guling, dia tidak kuat menghadapi serangan sepasang cakar harimau itu.
Sebelum Fei Yang sempat bangun berdiri,
tiba tiba harimau tersebut menyemburkan Api dari mulutnya kearah Fei Yang, mirip seekor naga api, yang bisa menyemburkan api dari mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 729 Episodes
Comments
pal ishwaroppo97@gmail.com
bagus
2024-04-06
0
Akira
terlalu kaku menggunakan kata batang untuk pedang,, udah spt pohon atau ranting aja sebatang, lbh tepat nya sepasang pedang
2023-09-30
1
MATADEWA
Berikutnya.....
2023-07-06
1