Fei Yang terus memandang kearah langit, sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang sejuk, berhembus dari arah mulut gua.
Perlahan lahan Fei Yang terbayang wajah ibunya Ayahnya yang seperti sedang tersenyum menatap nya dari langit.
"Ibu Ayah,... maafkan Fei Yang, yang tidak berbakti, Fei Yang telah gagal dalam tugas, sehingga membuat kalian malu, khawatir dan sedih."
gumam Fei Yang sambil melamun sedih.
Angin yang sepoi-sepoi, perasaannya yang nyaman serta bebas, membuat Fei Yang akhirnya memejamkan matanya dan tertidur.
Saat sedang asyik tidur, Fei Yang tiba-tiba merasa ada seseorang yang sedang berdiri di sampingnya.
Fei Yang membuka matanya pelan pelan, dia melihat di hadapan nya ada seorang Kakek berwajah ramah, sedang tersenyum lembut menatap Fei Yang yang sedang berbaring di hadapannya.
Fei Yang buru buru bangun lalu berlutut di depan kakek tersebut sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
Sekilas tadi Fei Yang melihat orang tua tersebut berjenggot panjang, berpakaian putih, dengan alis jenggot juga sudah memutih.
"Maaf kek,.. nama ku Li Fei Yang maaf bila aku tidur di gua milik kakek tanpa permisi."
ucap Fei Yang dengan menundukkan kepalanya.
Fei Yang menebak kakek ini pasti pemilik gua yang dia tempati saat ini, pantas saja waktu dia menemukan gua ini, dia merasa sangat nyaman bersih dan enak di tinggali.
"Tidak apa-apa silahkan saja, aku hanya kebetulan lewat dan mampir melihat lihat tempat tinggal lama ku."
"Bila kamu menyukainya gunakan saja sesuka mu.."
"Terimakasih kek.."
ucap Fei Yang sambil bersujud membenturkan dahinya di atas tanah didepan kakek itu.
"Anak baik bangunlah ayo kita duduk duduk dan ngobrol ngobrol.."
ucap kakek itu sambil membangunkan Fei Yang untuk duduk di sebelahnya.
"Anak baik ku lihat kamu sepertinya, baru berusia 8 tahun an, kenapa kamu bisa ada di tempat ini, mana kedua orang tua mu.?"
"Ceritanya panjang kek, tapi bila kakek bersedia mendengarkan nya, aku akan menceritakan nya ke kakek.."
Kakek itu mengangguk dan berkata
"Ceritakan saja anak ku, kebetulan aku sedang tidak sibuk.."
Fei Yang tidak langsung bercerita, dia membuka bungkusan makanan ikan bakar dan roti tawar serta air minum yang dia ambil dari sungai di bawah tebing.
"Kek kita ngobrol sambil makan saja, di sini saya ada sedikit makanan sederhana, tapi cukup enak dan bisa mengenyangkan,.
"Terutama air dan ikan ini, rasanya sangat enak dan menyegarkan badan bila di makan."
Kakek itu tersenyum dan berkata,
"Baiklah nak,.. terimakasih kamu baik sekali, sayangnya orang tua miskin ini tidak punya apa-apa yang bisa di berikan pada mu.."
Fei Yang menggoyangkan kedua tangannya didepan wajahnya dan berkata,
"Ini cuma makanan sederhana, kakek jangan sungkan, ayo kita makan.."
"Terimakasih nak, kalau begitu kakek juga tidak akan sungkan lagi.."
ucap kakek itu sambil tertawa.
Kemudian dia mulai mengikuti Fei Yang mengambil roti kering dan ikan bakar untuk di makan, lalu minum dari wadah air yang sama secara bergantian.
Sambil makan Fei Yang pun menceritakan secara singkat tentang dirinya.
Kakek itu mendengarkan cerita Fei Yang sambil makan.
Setelah Fei Yang menyelesaikan ceritanya kakek itu pun berkata,
"Begitulah kekuasaan dan Politik yang di awali oleh nafsu keinginan, yang tidak pernah puas dan tiada habisnya."
"Pada akhirnya semua adalah hampa, hanya akan membawa penderitaan dan kemalangan bagi diri sendiri.."
Fei Yang menganggukkan kepalanya, meskipun, untuk anak berusia 8 tahun, ucapan seperti itu terlalu dalam maknanya dan sulit dia mengerti dan pahami.
"Kek kakek belum menceritakan tentang diri kakek, atau setidaknya perkenalkan nama kakek pada Fei Yang, agar Fei Yang bisa mengingatnya."
ucap Fei Yang sambil menatap kearah kakek itu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Fei Yang,... kakek adalah seorang pertapa di pegunungan ini, orang' orang dulu suka memanggil kakek sebagai Wu Ming Lau Jen, yang artinya orang tua tanpa nama.."
"Mungkin karena kakek sudah hidup terlalu lama, sehingga nama kakek sendiripun, kakek sudah tidak mengingatnya lagi."
"Karena tidak punya nama dan sudah tua, maka kakek paling cocok bila di panggil Wu Ming Lau Jen."
ucap kakek itu sambil tersenyum lembut.
Fei Yang menganggukkan kepalanya dan bergumam kecil menyebut nama kakek itu beberapa kali, untuk mengingatnya.
"Fei Yang pertemuan kita adalah suatu jodoh, kini tibalah saatnya kita berpisah."
Fei Yang sedikit terkejut mendengar ucapan kakek tersebut, dia pun buru-buru berkata,
"Kakek mau kemana ?"
"Bolehkah Fei Yang ikut jadi murid kakek..?"
tanya Fei Yang yang merasa cocok berdekatan dengan kakek di hadapannya ini.
Fei Yang berpikir bila bisa berpetualang bersama kakek ini dan menjadi muridnya, tentu akan sangat menyenangkan.
Dan dia tidak perlu hidup kesepian seperti dirinya saat ini.
"Fei Yang ada pertemuan tentu ada perpisahan, kelak bila berjodoh kita tentu akan bertemu kembali.."
ucap kakek itu sambil tersenyum.
Fei Yang tertunduk lesu.
"Fei Yang kakek tahu, kamu ingin ikut kakek pasti karena takut kesepian, benarkan dugaan kakek..?"
ucap kakek itu sambil tersenyum lembut dan membelai kepala Fei Yang dengan penuh kasih sayang.
Fei Yang tidak menjawab, dia hanya mengangguk lemah.
"Fei Yang bila kamu takut sepi, kenapa kamu tidak pulang saja menemui kedua orang tua mu ? dan menceritakan pada ayah mu apa yang kamu alami.."
"Aku yakin sebagai orang tua mu, mereka tentu akan memaafkan mu, lagipula kejadian itu tidak sepenuhnya adalah salah mu.."
ucap kakek itu lembut.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kek, lebih baik mereka menganggap aku telah mati sebagai ksatria yang akan di ingat sepanjang masa."
"Daripada nanti mereka mengenang ku sebagai pecundang seumur hidup."
"Ayah dan ibu tentu akan membela dan melindungi ku, tapi rakyat dan para menteri tentu akan berpikir lain."
"Aku tidak mau membuat nama baik kedua orang tua ku, tercoreng karena kegagalan ku.."
Kakek itu tersenyum sabar, mendengarkan penjelasan Fei Yang sampai selesai, baru berkata.
"Begini saja Fei Yang, di salah satu puncak pegunungan Kun Lun, ada sebuah gunung bernama Gunung Xu, "
"Di sana ada sebuah perguruan bernama Xu San Pai, kamu boleh pergi belajar ilmu di sana."
"Ketua nya Yi Han Tao Se, adalah teman ku, kamu katakan saja kamu murid ku, dia pasti akan menerima mu.."
"Tunjukkan benda ini padanya.."
ucap Wu Ming Lau Jen sambil menyerahkan sebuah medali giok berwarna hijau tua kepada Fei Yang.
Fei Yang menerimanya dengan kedua tangannya dengan penuh hormat dan berkata,
"Kakek terimakasih banyak.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 729 Episodes
Comments
zener06
ikan bakar rasa tawar, roti tawar serta air putih tawar... trus enaknya dimana 🥱😁😁
2024-05-27
0
SETAN KALAP
terlalu lebay
2023-07-23
3
MATADEWA
Lanjooottt....
2023-07-06
1