Fei Yang yang meneruskan langkahnya seorang diri, tanpa sadar membawa langkah nya menuju sebuah aliran sungai yang dangkal tapi berair sangat jernih.
Air sungai ini berasal dari sumber mata air di pegunungan Kun Lun yang masih sangat murni dan alami.
Melihat air yang begitu jernih, Fei Yang yang sedang kehausan sangat gembira.
Tanpa banyak pikir lagi, dia segera berlari menghampiri aliran sungai yang sangat jernih tersebut.
Fei Yang berlutut di tepi sungai, menggunakan kedua tangannya, untuk menangkup air buat di bawa ke mulutnya untuk di minum.
Setelah meminum beberapa teguk, Fei Yang merasa tubuhnya sangat segar, sebagian besar tenaganya berhasil di pulihkan kembali.
Fei Yang kemudian kembali mengambil air tersebut untuk membasuh mukanya, ternyata air tersebut sangat ajaib.
Berbeda dengan air biasa yang bila mengenai luka di kulit, akan terasa perih, terkadang malah membawa infeksi.
Tapi air ini berbeda, saat air ini di basuhkan kewajah Fei Yang, yang banyak luka lecetnya,
Fei Yang merasa lukanya sangat adem dan nyaman, tidak ada rasa perih sama sekali.
Merasakan keadaan yang sangat nyaman itu, Fei Yang jadi tertarik ingin mandi dan membersihkan luka luka di tubuhnya, yang mulai mengering.
Fei Yang melepaskan seluruh pakaiannya, lalu dia perlahan-lahan melangkah masuk kedalam sungai berair jernih tersebut.
Fei Yang merasakan kenyamanan yang luar biasa, saat dia berendam dalam air sungai yang jernih dan manis rasa airnya itu.
Awalnya cuma berendam tapi karena sangat nyaman, Fei Yang melepaskan ikatan rambutnya, lalu dia mencuci rambutnya sekalian di sungai tersebut.
Karena merasa rambut panjangnya sangat ribet harus di sanggul dan diikat, Fei Yang lalu menggunakan Mata tombaknya yang tajam memotongnya menjadi lebih pendek.
Dari yang panjangnya hingga mencapai bokongnya, kini di pangkas Fei Yang tinggal sebahu saja.
Sehingga kedepannya dia tidak perlu lagi menyanggul atau mengikatnya, dia cukup biarkan terurai begitu saja, lebih praktis dan tidak ribet pikir Fei Yang yang ingin hidup bebas.
Fei Yang sudah bosan dengan kehidupan istana yang penuh tata tertib dan aturan.
Penampilan di luar tertib di dalam nya busuk.
Sama seperti saudara kakak sepupu nya, yang munafik dan menikamnya dari belakang.
Batin Fei Yang yang semakin memandang rendah tata tertib aturan dan penampilan luar.
Fei Yang membersihkan luka nya dengan hati-hati, tapi anehnya setelah berendam beberapa saat luka luka kecil di tubuh Fei Yang pulih tanpa bekas.
Kini hanya tinggal luka parah di bagian dada kirinya, yang tembus hingga ke punggung yang belum pulih.
Tapi lukanya sudah jauh lebih merapat di banding sebelumnya.
Melihat hal ini, Fei Yang memutuskan untuk sementara waktu, dia akan mencari tempat berteduh di pinggir sungai ini.
Fei Yang akan tinggal sementara di sini hingga lukanya pulih.
Untuk makanan pun Fei Yang tak perlu khawatir, karena di sungai ini banyak sekali ikan, yang berseliweran dengan jinak di dekatnya.
Dengan sepasang tombaknya, Fei Yang berusaha menombak ikan ikan tersebut.
Tapi setelah mencoba hingga puluhan kali, Fei Yang selalu gagal.
Karena pergerakan ikan itu selalu lebih cepat dari pergerakan tombaknya, saat di tusuk kedalam air.
Tapi Fei Yang tidak putus asa, dengan sabar dia memperhatikan pergerakan ikan itu saat di tombak.
Dan mencoba menombak nya dengan berganti ganti cara dan tempat.
Akhirnya kegigihan Fei Yang membuahkan hasil, sambil tertawa senang, Fei Yang mencobanya dan mencobanya beberapa kali.
Hasilnya kini Fei Yang selalu berhasil menombak ikan ikan itu dengan sangat mudah.
Karena Fei Yang sudah menemukan titik yang tepat saat dia menombak.
Dengan gembira Fei Yang, segera mengumpulkan daun dan ranting kering, untuk membuat api unggun agar bisa bakar ikan.tangkapannya.
Setelah iklan bakarnya matang, Fei Yang pun makan dengan sangat lahap, hingga menghabiskan 4 ekor ikan hasil tangkapan nya sendiri.
Sehabis makan, Fei Yang mulai mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk berteduh saat malam tiba.
Akhirnya Fei Yang berhasil menemukan sebuah gua yang terletak di tebing tepi sungai, karena posisi gua tersebut cukup tinggi, dari permukaan air sungai.
Untuk bisa mencapai nya Fei Yang harus memanjat tebing batu yang licin dengan hati-hati, baru bisa mencapai gua tersebut.
Meski gua itu tidak terlalu besar dan dalam, tapi Fei Yang menemukan gua itu cukup bersih dan layak untuk di gunakan sebagai tempat tinggal.
Hanya kini Fei Yang harus memikirkan cara untuk membawa ranting kering kedalam gua tersebut, agar bisa membuat api menghangatkan badan saat malam tiba.
Fei Yang sambil berpikir, dia mulai mengumpulkan ranting kering setelah merasa cukup.
Fei Yang lalu mengikatnya menjadi tiga ikat besar, Fei Yang lalu mengikatnya ketombak pendek miliknya.
Kemudian coba di lempar keatas, untuk melihat seberapa tinggi, ? dia bisa melempar tombak yang di ikat keranting kering yang dia kumpulkan.
Setelah mencobanya dua kali Fei Yang tersenyum puas, Fei Yang mulai membawa ranting kering yang diikat ketombak.
Lalu Fei Yang mulai bergerak menyeberangi sungai yang dalamnya hanya setinggi perut, tapi arus nya cukup kuat bila tidak hati hati bisa terseret arus.
Saat tiba di bawah tebing di mana gua itu berada, Fei Yang mengambil ancang-ancang, kemudian melempar tombaknya ke dalam gua yang terletak di atas tebing.
Tombak melayang masuk kedalam gua membawa 1 ikat ranting, Fei Yang kembali melemparkan tombak kedua nya.
Setelah itu Fei Yang baru dengan hati-hati memanjat masuk kedalam gua di atas tebing.
Setelah mengambil kembali kedua tombaknya, Fei Yang langsung melompat dari mulut gua , yang berjarak 3 meter dari anak sungai di bawah.
'Byuurr...!"
Air sungai muncrat keatas, saat tubuh Fei Yang mendarat kedalam sungai tersebut, Fei Yang sedikit gelagapan terseret arus.
Tapi dia berhasil menstabilkan posisinya, lalu kembali kepinggir sungai, Fei Yang melihat Ranting yang di kumpulkan nya cuma sisa 1 ikat sedangkan tombaknya ada dua.
Merasa tanggung, Fei Yang kembali mengumpulkan satu ikat lagi ranting kering tambahan.
Baru membawanya kembali kedalam gua seperti caranya tadi.
Setelah berhasil mengumpulkan persediaan ranting kering, Fei Yang pun bisa berbaring santai di dalam gua melepas lelah.
Fei Yang yang berbaring di mulut gua, bisa melihat langit biru, awan putih yang seperti kapas putih yang berarak di langit, dengan berbagai bentuk ada yang menyerupai kelinci, naga, tikus, kerbau, bunga.
Di angkasa biru juga ada seekor burung Rajawali yang sedang terbang berputaran diudara.
Sesekali dia mengeluarkan pekik nyaringnya di udara.
Seolah-olah memperingati mahluk di bawah sana, Wahai kalian lihatlah aku si perkasa penguasa udara sedang terbang bebas berhati-hati lah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 729 Episodes
Comments
Akira
berarti sejak bayi sampai umur 8 tahun, itu rambut gak pernah di potong yak 😁
2023-09-30
1
MATADEWA
Berikutnya.....
2023-07-06
1
Dawa Sunata
lanjuut wae
👍❤😎
2023-05-08
1