Subuh baru juga berlalu, ibu sudah terlihat segar habis mandi. Di usia yang beranjak kepala empat, ibu masih terlihat sangat cantik. Kalau aku mengaku sebagai adiknya, mungkin orang masih percaya.
"Kenapa, mbak? Ada yang aneh dari ibu? Kok senyum - senyum sendiri gitu?" Tanya ibu.
Beliau sedang menyisir rambut sebahunya. Aku yang berdiri di ambang pintu kamar tamu, hanya tersenyum lebih lebar melihat ibu keheranan.
"Enggak kok bu. Embak cuman ngagumin aja kecantikan ibu. Anaknya aja udah segede ini, tapi kok masih cantik aja" jawabku.
"Ah, embak ngeledek. Udah keriput gini dibilang cantik" kilah ibu.
"Bener kata ayah" kataku lagi. Ibu berhenti menyapukan saput bedaknya.
"Emang ayah bilang apa?" Tanya ibu kemudian.
"Kalo cewek udah cantik dari lahir, emang suka merendah" jawabku.
"Maksudnya siapa nih? Cewek kan banyak" kilah ibu. Tapi aku bisa melihat senyum di bibirnya.
"Iya sih, tapi yang sepedahan, terus nyungsep di eek kebo, kayaknya cuma satu deh" jawabku sambil tersenyum geli.
"Embaaakk"
Ibu memekik karena kaget, ada rahasianya yang aku ketahui. Beliau buru - buru mengejarku. Aku berlari ke sofa menghindari kejaran ibu.
"Tahu dari siapa? Ayah ya? Bilang apa, ayah?" Tanya ibu.
"Hihihi" aku yang bersembunyi di sisi seberang sofa panjang hanya tertawa saja melihat ibu malu.
"Hmmm. Awas ya, mbak, kalo ketangkep" ancam ibu.
"Hihihi, ampun" jawabku.
Ibu tertawa geli sambil geleng - geleng kepala. Sejenak kemudian, beliau beranjak kembali Ke dalam kamar. Meneruskan dandan yang sempat terhenti.
"TIIING"
Sebuah suara menghentikan tawaku. Denting bel berfrekuensi tinggi cukup menggelitik di telinga. Aku melongok, melihat arah suara. Ternyata rere sudah pulang. Tadi dia ditugaskan ibu untuk berbelanja di pasar.
"IBUUUU" teriaknya dari luar.
Dia berlari masuk ke dalam rumah. Belanjaannya malah dibiarkannya masih tergantung di stang sepeda.
"Kenapa dek, dateng - dateng kok teriak?" Tanya ibu tergopoh - gopoh.
"Iya, salam dulu kek" tambahku.
"Huuuufffr.... Huuuuufffff.... Huuuuffff" dia ngos - ngosan.
"Assalamualaikum" lanjutnya.
"Waalaikum salam" jawabku dan ibu bersamaan.
"Kenapa dek?" Tanya ibu lagi.
"Mbak ida, bu. Mbak ida" jawab rere masih terengah - engah.
"Mbak ida kenapa? Kecelakaan?" Tanya ibu. Rere menggeleng.
"Keracunan" jawabnya
"Keracunan? Keracunan apa?"
"Soto, keracunan soto, bu. Itu warungnya bu ami"
"Terus, sekarang mbak idanya dimana?"
"Di bawa ke rumah sakit. Suaminya juga"
"Oh, kalo gitu, ibu ajak bapak ke rumah sakit deh. Bapak udah pulang kan?" Tanya ibu. Rere mengangguk.
"Jangan dulu" kata rere. Langkah ibu terhenti.
"Loh kenapa?"
"Warga, banyak yang kena juga. Ibu, disuruh bapak, ambil mobil bak" jawab rere.
"Waduh, banyak yang keracunan?"
"Iya, adek mau bantu tapi belum bisa nyetir"
"Oke oke. Adek masak aja buat embak. Sepedanya ibu bawa ya" perintah ibu.
"Iya" jawab rere.
Ibu langsung ke depan, tanpa melengkapi riasannya yang baru dasaran. Rere mengikuti untuk mengambil belanjanan tadi. Seketika ibu langsung mengayuh sepeda rere, menghilang di rimbunnya kebun pisang.
Rere kembali membawa sekresek ayam potong, dan bahan masakan lain. Tampak dia masih terengah - engah. Mungkin juga dia syok, melihat banyak warga keracunan.
"Dek, kamu nggak papa?" Tanyaku khawatir.
"Nggak papa, mbak. Adek cuman syok aja. Ngeliat orang keracunan sampe guling - guling gitu. Mana muntahnya busa putih gitu, kaya cucian" jawab rere. Dia mengistirahatkan tubuhnya di sofa tamu.
"Bukan cuman satu lagi, ada kali tujuh orang" lanjutnya.
"Tujuh?" Tanyaku memastikan.
"Iya, mbak"
"Aduh, mbak ida gimana ya keadaannya. Orang sini yang nganter dia, siapa dek?"
"Nggak tahu, angkot"
"Punya nomer ponsel mbak ida?"
"Nggak punya, mbak. Adek nggak akrab sama dia. Sekedar kenal aja"
"YaAlloh, semoga nggak kenapa - kenapa ya. Selamet dianya, slamet kandungannya"
"Amin" sahut rere.
"Sini, mbak bawain belanjaannya" tawarku. Dia tidak merespon.
Aku tahu dia masih syok. Jangankan dia, akupun mungkin akan bereaksi sama kalau melihat orang seperti yang dia ceritakan tadi.
"Mau masak apa ya? Semur ayam kali ya? Wiw, ada mangga harum manis. Mantaap"
Kuletakkan bahan makanan itu di meja dekat kompor.
"WAAAAA"
"Mbak, ini rere"
Aku terkejut bukan main. Saat balik kanan, ternyata rere sudah di belakangku, membawa sisa belanjaan yang belum kubawa.
"Huuuuffftt.... Hhuuuufffttt"
"Segitu kagetnya liat rere. Emang rere segitu seremnya apa, sampe mbak ketakutan" gerutunya
"Abisnya, nggak ada suaranya sama sekali. Tahu - tahu udah di belakang aja. Ya kaget lah, embak" jawabku.
Aku duduk di kursi makan, dan menyandarkan punggungku agar bisa rileks.
"Mbak, kan udah ada nasi tuh, rere gorengin ayam dulu ya. Rere masih lemes nih" kata rere.
"Iya, nggak papa. Itu aja makasih banget" jawabku sambil kuberiksan seulas senyum.
"Suer, rere masih kaget banget, mbak. Masih kebayang tadi keos banget suasananya"
"Iya, mbak aja yang cuman denger dari adek, juga kaget banget. Apalagi yang pertama adek sebut, mbak ida"
"Emang kenapa mbak? Ada sesuatu sama mbak ida? Oh iya, kemarin sempet ngobrol kan ya, di makam?"
"Itu dia, dek, yang bikin mbak kaget"
"Emang ngobrolin apa kemarin, mbak?"
"Nggak banyak sih. Cuman, ada yang buat aku agak aneh"
"Apa?"
"Dia nulis nama dia di tanah makam, tepat di samping makam ibunya" jawabku. Rere terkejut mendengar penuturanku.
"Beneran, mbak? Dia nulis namanya sendiri?"
"Iya. Ya, meski kata dia, itu hanya semacam proposal aja. Dia pengen nanti kalo berpulang, dimakamin di situ. Tapi bukannya pengen mati cepet. Bilangnya gitu"
"Tapi di sini, udah jadi mitos, mbak. Beberapa bahkan udah kejadian"
"Maksudnya?"
"Itu, yang nulis namanya di tanah makam, nggak lama lagi, bakal nempatin makam itu"
"Astaghfirulloh. Mbok ya jangan dong. Baru juga hamil, ya Alloh. Berikan mbak ida panjang umur ya Alloh" doaku.
"Amiin" sahut rere.
Dia berdiri, menuju bungkusan belanjaan tadi. Aku tahu, dia mau menggoreng ayam. Kubiarkan saja dia dengan bahan masakannya. Kumainkan ponselku, mencari berita. Barangkali ada berita dari kejadian tadi.
"Wah, udah banyak polisi, dek" seruku.
"Masuk berita ya?" Responnya.
"Iya. Langsung olah TKP"
"Dugaan adek sih, ada yang jahil" kata rere tanpa melihatku.
"Kok bisa?"
"Ya masa sih, orang dagang nyari penyakit? Nyarinya kan untung. Kalo udah begini, bukan rugi uang doang. Nama baik yang udah dibangun bertahun - tahun, runtuh" jawabnya.
"Masuk akal sih. Kita lihat aja hasil penyelidikan polisi" komentarku.
"Udah mateng, mbak. Mau langsung sarapan?" Tanya rere. Nada bicaranya masih datar.
"Embak ambil sendiri aja" jawabku.
"Adek ambilin ya, sekalian, adek numpang makan juga" katanya.
"Hahaha, ngeledek. Numpang makan. Yang masak adek, yang belanja adek, masa adek numpang"
"Hahaha, nih. Kurang nggak?"
"Udah, cukup. Makasih. Ini piring yang di sana kan?"
"Iya"
"Oh, oke"
Untuk kedua kalinya kita makan bersama. Meski dengan jarak yang berjauhan. Ya, untuk sementara waktu. Tetap nikmat walau hanya nasi anget sama ayam goreng.
Benar - benar dia masih syok. Makan saja fokusnya buyar. Fokus pada satu titik tapi kosong.
"Emang mau sekolah hari ini, dek?" Tanyaku sambil mencuci piring.
"Sekolah dong. Bolos sekolah sama aja bunuh diri" jawab rere.
"Kok gitu?"
"Wuuu, ibu kalo denger kata bolos, sensinya nggak ketulungan"
"Emang pernah bolos gitu?"
"Pernah waktu smp, kelas tiga"
"Dihukum apa sama ibu?" Tanyaku sambil tergelak.
"Wuu, di diemin dua hari penuh, dijudesin seminggu, dicuekin seminggu, kalo kurang, nambah lagi sampe sebulan penuh"
"Hahahaha" aku tak busa menahan tawaku mendengar jawaban itu.
"Tapi kan kamu lagi nggak fokus, dek"
"Biarin, daripada dijudesin ibu. Kalo ibu udah keluar judesnya, singa wonokromo juga mlipir, mbak"
"Hahahaha... Waduh, segalak itu kah?"
"Wuuu, coba aja"
"Ogah. Hahahaaha"
"Huuu, kirain berani"
"Hahaha"
Dalam keadaan syok saja, dia masih bisa membuat orang lain tertawa. Kemampuan yang tidak banyak dimiliki orang lain
"Adek pulang dulu ya, mbak" pamitnya.
"Jalan kaki?" Tanyaku memastikan.
"Ngesot" jawabnya bercanda.
"Dih"
"Ya jalan lah, adanya cuman kaki. Lagian deket ini" lanjutnya.
"Ati ati ya" pesanku.
Aku mengikutinya jalan ke pintu depan. Sekalipun ini bukan rumahku, tapi rasanya tidak sopan kalau ada tamu tidak diantar sampai depan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Tidak tega juga sebenarnya melihat dia pulang dengan berjalan kaki. Tapi apa boleh buat, aku juga datang dengan kendaraan umum.
"Semoga kamu jadi orang yang sukses, dek" gumamku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Hiatus
betul, ga mgkn org yg dagang sih yg ngeracunin..
2021-11-18
1